
Dari tempat Jelita, Aby langsung ke kantor.
Imran menyambutnya dengan wajah penasaran.
"Kau pasti dari tempat Jelita, kan?" tebak Imran langsung, Aby cepat-cepat menutup mulut Imran dengan tangannya.
"Sst... ! Jangan sembarangan bicara di kantor ini, dinding juga punya mata dan telinga." bisik Aby sambil menarik tangan Imran kedalam.
"Berita ini kalau sampai tersebar, bisa menjadi fitnah. apalagi bagi orang yang tidak mengetahui cerita yang sebenarnya."
"Aku hanya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Anisa saat tau suami yang begitu di sanjungnya ternyata...?"
"Karna itu aku mohon dengan sangat, jaga rahasia ini. Kalau Anisa sampai tau sebelum aku memberi taunya, berarti kau harus bertanggung jawab." ancam Aby.
"Lalu sampai kapan aku harus melindungi kebohongan mu ini?"
"Sampai aku punya waktu yang tepat untuk mengatakannya."
Imran mengangkat bahu.
"Nanti sore temani aku ke kontrakannya..!"
"Jelita?" Imran melotot.
"Siapa lagi? Aku tidak enak kesana sendirian."
"Tidak! Jangan kau libatkan aku terlalu jauh. Lagian masa aku mau kau jadikan obat nyamuk. Kalian, kan pengantin baru..!" tolak Imran.
Aby tersenyum kecut.
"Untuk hal itu, aku tidak memikirkannya. Bahkan aku tidak yakin mampu memenuhi kewajiban yang satu itu.
Niat pertamaku hanyalah menolongnya dari penderitaan." ucap Aby pelan.
Ia menelan ludah yang terasa pahit.
"Dengar, Im. Aku bukannya bahagia dapat menikah dengannya, tapi justru ini menjadi beban berat buatku, tapi kalau aku tidak mengambil tindakan ini saat itu, Jelita dan ibunya akan di amuk warga. Kenapa kau berpikiran bahwa aku senang, aku sangat mencintai istriku, aku juga berusaha menjaga pandanganku selama ini, itu karna apa? Karna aku sangat mencintainya."
"Seharusnya kau cuekin saja suara hatimu yang ingin menolongnya. Apa gunanya menolong orang kalau keluarga sendiri akhirnya tersakiti." ucap Imran menyalahkan keputusan sahabatnya.
"Kau tau? dia bahkan mengancam akan membunuh anak tak berdosa dalam kandungannya, Karna dia tidak sanggup hidup dalam hinaan karena membesarkan anak haram." sambung Aby lagi.
Imran terdiam.
"Niatmu memang mulya, tapi kalau aku ada di posisimu, kayaknya belum sanggup melakukan seperti apa yang kau lakukan. Kau sudah mempertaruhkan kebahagiaan keluargamu"
Aby terpekur menutupi wajahnya.
Ia beristigfar dalam hati, sungguh keadaan ini tidak di harapkannya. Tapi janji sudah terucap , Aby harus memenuhi tanggung jawabnya sebisa mungkin.
Di tempat lain, Jelita dan ibunya sedang merapikan barang mereka yang tidak seberapa.
"Bu, apakah aku salah sudah menerima pernikahan ini? Walaupun hanya nikah siri, aku merasa berdosa telah berada di tengah-tengah mas Aby dan isterinya yang bahkan sampai saat ini aku belum tau wujudnya." suara Jelita sendu.
"Ibu juga tidak tau, kita hanya tau kalau Nak Aby itu orang baik yang di kirim Allah untuk menolong kita." wanita tua itu membelai rambut Jelita. gadis malang itu sudah dia anggap seperti putrina sendiri.
Mereka sudah bersama sejak di panti tempat Jelita besar.
"Justru karna dia orang baik, makanya Lita merasa berdosa."
"Sudahlah, Nduk. kita jalani saja sesuai kehendaknya. Kita hanya bisa berdoa semoga ini yang terbaik buat semuanya " jawab Bu Sari bijak.
Mereka saling berpandangan saat terdengar ketukan di pintu.
Jelita dan Bu Sari ketakutan,
Mereka terlalu sering mengalami teror yang sangat menakutkan. dimana ada orang yang mengetuk pintu, tapi saat di buka tidak ada siapapun.
"Bu, kita sudah pindah dari kampung itu, kenapa teror ini masih saja mengikuti kita?" rintih Jelita pelan.
"Andai saja di antara kita ada laki-lakinya, andai saja kau punya suami yang siap melindungi mu, tidak ada yang akan memandang mu dengan sebelah mata lagi, tidak akan ada yang berani meneror kita lagi." suara Bu Sari gemetar menahan amarah.
Ketukan kembali terdengar.
"Assalamualaikum..!" Jelita menarik nafas lega saat mendengar salam.
"Itu pasti Mas Aby.." matanya menyiratkan kebahagiaan.
"WAalaikum salam.." Jelita bergegas membuka pintu.
"Kalian tidak apa-apa? Kenapa terlihat ketakutan seperti itu?"
Bu Sari menceritakan apa yang terjadi.
"Andai saja di rumah ini ada pria nya. Kami tidak akan ketakutan lagi."
Ucapan Bu Sari membuat Aby merasa bersalah.
"Saya tau maksud ibu, tapi saya mohon maaf pada ibu, khususnya Jelita. Saya belum bisa memenuhi tanggung jawab itu. Kalian pasti tau, semua yang terjadi ini sangat tiba-tiba. Karna itu saya belum bisa berterus terang pada istri saya tentang pernikahan ini."
seumur hidup,baru kali ini aku merasa di hargai. Terimakasih..!" ucap Jelita sambil berlinang air mata.
Imran hanya diam saja menyaksikan adegan itu.
"Saya akan minta satpam untuk mengawasi tempat ini. Kalian tidak usah takut lagi, kalau ada sesuatu segera kabari saya...!"
Jelita berulang kali mengucapkan terimakasih.
Aby dan Imran mohon diri.
"Kelihatannya dia gadis baik-baik.. " celetuk Imran saat mereka sudah di dalam mobil.
Aby terdiam.
"Dia juga terlihat manis, apa kau tidak tertarik melihatnya? Apalagi kalian sudah sah secara agama." Imran melirik reaksi sahabatnya itu.
"Aku tidak berpikir sampai disitu." jawab Aby singkat.
"Itu kau, lalu bagaimana dengan dia? Bagaimana kalau dia mengharapkannya darimu? apa kau tidak mau memberikan hak nya?"
Aby mendesah panjang.
"Jangan bahas itu lagi, kepalaku pusing." keluhnya Aby.
Ia meraba ponselnya saat ada notifikasi masuk.
(Kau sudah jalan pulang, kan? Abah kumat lagi. Aku mau minta ijin menginap di rumah Abah. Boleh, kan?) Aby langsung membalas pesan istrinya.
(Tentu, Nis.. Apa perlu mas Aby ikut nyusul sekarang?)
(Tidak perlu, kau pasti capek. Kalau mau nengok Abah, besok saja. Makanan sudah aku siapkan, tinggal di hangatkan saja )
Tanpa sadar Aby tersenyum membaca pesan dari istrinya itu.
Aby memang selalu di manjakan oleh perhatian dari istrinya itu. tanpa sadar bibirnya tersenyum.
"Anisa apa Jelita?" tanya Imran tidak suka.
"Anisa, dia mau menginap di rumah Abah. Katanya Abah kumat lagi." jelas Aby.
"Hati-hati dengan permainan yang sedang kau lakukan. Bisa-bisa kau kehilangan perhatian itu selamanya." sindir Imran
"Berdoa itu yang baik-baik..." tegas Aby jengah.
Mereka sampai di tempat Imran menitipkan mobilnya.
"Terimakasih IM.. Kau sudah menemaniku dalam situasi sulit ini."
"Tapi jangan lama-lama.. Jangan salahkan aku kalau sampai memberi tau istri mu, Aku tidak sanggup berbohong pada Anisa."
Aby mengangguk.
Malam itu Aby hanya sendirian dirumahnya. Ia merasa sepi tanpa Anisa dan Al putranya.
sambil bersandar di tempat tidur, ia menelpon Anisa.
"Tidak di angkat, apa sudah tidur, ya? Mada jam segini sudah tidur." keluh Aby sendiri.
"Ternyata tidak enak hidup jauh dari anak dan istri.." ucapnya lagi.
Aby mencoba memejamkan matanya, mencoba merangkai kembali kejadian demi kejadian yang di alaminya.
Ia di kagetkan oleh panggilan dari Jelita di ponselnya.
Dengan ragu ia mengangkatnya.
"Halo..!" Aby mencoba menyapa.
Namun yang terdengar hanya isakan.
"Halo, ada apa?" Aby mulai cemas.
"Halo Nak Aby, bisa datang kesini, sekarang? Jelita terpeleset dan kalinya keseleo. Kayaknya perlu di bawa berobat. Ini sudah malam.. kami tidak berani keluar rumah." suara Bu Sari yang terdengar.
"Baik lah, Bu.. Saya akan datang..!" tanpa berpikir lagi. Aby menyambar kunci mobil dan pergi ketempat Jelita
Di tempat Abahnya, Anisa yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum mendapati panggilan dari suaminya. "Mas Aby . Mas Aby... Baru juga di tinggal sebentar." Anisa menelpon balik Aby.
Tapi Aby yang sedang fokus menyetir tidak menyadarinya.
"Masa sudah tidur, sih?" Akhirnya Anisa mengirim pesan.
( Selamat malam Mas Aby... Mimpi yang indah, ya..!)
Anisa mendoakan suaminya sebelum akhirnya tertidur pulas.
'