
Acara akad nikah itu cukup membuat Aby dan Anisa kelelahan..
Para kerabat dan teman mereka sudah pada pulang. tinggal beberapa orang tetangga yang masih diam membereskan meja dan kursi yang berantakan.
Aby duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
Ia melihat Anisa yang hendak masuk ke kamarnya.
"Nis.." Aby membernya i isyarat agar mendekat.
Masih dengan kebaya putihnya, Anisa mendekatinya.
"Iya, Mas. Kau butuh sesuatu?"
"Aku butuh kau disini sebentar."
"Tapi masih ada orang.."
"Memangnya kita mau ngapain?"
Anisa tersenyum. " sebentar, ya.. aku ganti baju dulu."
"Justru aku ingin memanggilmu karena masih memakai pakaian itu."
"Terus...?" ucapnya setelah duduk di depan suaminya itu.
"Aku ingat beberapa tahun silam saat kita ada di titik ini juga."
Anisa memegang tangan Aby.
"Semua yang sudah kita lewati, biarlah menjadi pelajaran. Kita petik hikmahnya saja."
Aby menarik kepala Anisa dalam dadanya.
"Semoga tidak ada lagi cobaan dalam rumah tangga kita kali ini." Anisa merasa tenang dalam dekapan Aby. Hal yang sudah sangat lama dia rindukan.
Mereka tenggelam dalam suasana haru penuh kebahagiaan.
"Ayah, malam ini ayah menginap, kan?" suara Al Mengagetkan mereka.
Anisa menarik dirinya dengan cepat.
Mereka jadi salah tingkah.
"Tentu saja, mulai sekarang, Ayah akan selalu bersama kalian. Kita akan menjaga Bunda dan adik Liza sama-sama."
Anisa terharu.
Al memeluk ayahnya dengan gembira.
Hari semakin larut.. Para tetangga yang membantu sudah pulang.
Aby dan Anisa menemani Al dan khaliza di ranjang yang sempit itu, Aby di sisi kanan dan Anisa di sisi kiri, sampai akhirnya kedua anak itu tertidur.
Kini tinggal mereka berdua.
Aby menatap Istrinya begitu dalam tatapan mereka beradu hingga Anisa tersipu.
Ranjang yang sempit tidak memungkinkan mereka untuk tidur berempat.
...Sebenarnya seorang teman Anisa sudah menawarkan untuk membawa Khaliza barang satu malam. Tapi Aby menolak....
"Tidak usah, kami ingin menikmati kebersamaan bersama anak-anak."
Anisa terharu dengan pengertian Aby.
"Nis, kayaknya ranjang ini tidak muat buat kita berempat.." ucap Aby tersenyum penuh arti.
Anisa berpikir sejenak.
"Lalu bagaimana, dong?"
"Kamu ada tikar, kan?"
Anisa mengangguk. Dia segera mengambil tikar dan memberikan nya kepada Aby.
Dengan cekatan, Aby menggelar tikar itu di depan tv ruang tengah.
"Ranjang sederhana yang antik sudah jadi." ujarnya sambil tersenyum kearah Anisa.
"Ayo kita istirahat..!" ucapnnya lagi sambil merebahkan tubuhnya di atas tikar.
"Benar tidak apa-apa, Mas?" tanya Anisa khawatir.
"Kenapa? Kok kamu khawatir begitu?"
"Mas Aby punya riwayat penyakit.. Takutnya akan berpengaruh karena harus tidur di lantai."
Aby tertawa kecil. Ia menuntun istrinya untuk ikut duduk di tikar itu.
"Jangan khawatir, Aku merasa begitu sehat saat ini. Selama kau ada di sampingku, tidak akan ada sesuatu pun yang akan terjadi padaku." sambil berkata begitu, Aby membuka hijab yang di pakai Anisa.
"Sekarang aku sudah boleh lagi memandang rambutmu yang panjang ini." Anisa menahan nafas.
Perlahan, Aby merebahkan Anisa ke atas tikar.
Dia mencium keningnya dengan penuh perasaan. Anisa hanya bisa memejamkan matanya. ia menikmati setiap detik momen kebersamaan itu. Ia juga merasakan sesuatu yang lain saat bersama Aby. Rasa yang tidak pernah bisa muncul saat ia bersama orang lain.
Setelah mencium keningnya, Aby beralih mengecup kedua matanya bergantian. Saat akan beralih ke bibir Anisa,
dia berbisik lembut.
"Kau sudah siap menerimaku lahir bathin?"
Anisa tidak sanggup menjawabnya. Ia hanya mengangguk penuh kepasrahan.
"Aku akan pelan-pelan, kalau kau merasa kesakitan bilang saja.." Kentara kalau Aby sangat menjaga perasaan istrinya.
Di bawah temaram lampu, mereka melaksanakan salah satu kewajiban dalam pernikahan mereka.
Malam yang bisu menjadi saksi bersatunya kembali dua jiwa yang saling merindukan.
***
Pukul tiga dini hari, Anisa terjaga. Setelah mengecek kondisi anak-anak nya, dia kembali menghampiri Aby yang tertidur pulas dengan dengkuran halusnya.
Dia menggigit bibirnya saat mengingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
Anisa memutuskan untuk mandi. Dia memandangi wajah Aby sekali lagi. Tiba-tiba wajahnya terasa menghangat. Ia merasa malu sendiri. Saat hendak bangkit, tangan Aby menahannya.
"Kau masih belum puas memandang wajah suamimu, ya? Apakah ada yang beda dari beberapa tahun yang lalu?" ucapnya seperti mengigau.
"Mas, kau bicara apa?"
"Aku tau, kau memandangku sedari tadi..." ucapnya seperti mengerang sambil menarik tubuh Anisa kembali.
"Mas, aku mau mandi dulu.." elak Anisa merasa malu.
"Nanti saja, kita mandi bareng. Aku mau kita habiskan sisa malam ini.." bisiknya parau.
"Kau tidak keberatan, kan?" tanyanya lagi.
Itulah Aby. Dalam keadaan apapun dia akan minta persetujuan Anisa terlebih dulu. suatu perhargaan yang sangat di sukai Anisa.
Tentu saja dia tidak keberatan, dia hanya merasa heran karna Aby begitu perkasa. Mereka sudah melewatkan tiga ronde dan sekarang masih ingin lagi?
"Ah, Mas.. Apa kau yakin mau lagi? Aku khawatir dengan kesehatanmu.." bisik Anisa ragu.
"Kau heran, ya..? Aku baik-baik saja." bisik Aby lagi sambil melancarkan aksinya.
Anisa menggeleng.
"Aku bisa seperti ini hanya saat bersamamu. Entah kau percaya atau tidak."
Permainan mereka berakhir setelah keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama.
Aby membelai wajah Anisa.
"Terima kasih atas semuanya,." ucapnya dengan nafas yang memburu.
Anisa minta ijin untuk mandi terlebih dulu.
Ia membiarkan suaminya itu tergeletak kelelahan.
Pagi harinya, Anisa dan beberapa ibu sedang memilih sayuran di Abang-abang sayuran yang lewat.
"Neng, wajahnya segar banget, pasti karena semalam, iya, kan?"; goda seorang ibu.
"Habis berapa ronde, Neng?" timpal yang lain.
Mereka hanya tertawa melihat wajah Anisa yang memerah. Setelah membayar barang belanjaannya. ia buru-buru pergi.
"saya duluan ya bu ibu...!"
Mereka tertawa melihat tingkah pengantin baru itu.
Sampai di rumah, ia melihat Aby sedang memangku Khaliza.
"Eeh, adik udah bangun, ya?"
Gadis kecil itu hanya tersenyum di sapa oleh bundanya.
"Abang, mana? Belum bangun, ya?"
"Dia sedang mandi." tutur Aby.
Anisa memasak di temani Aby sambil menggendong Khaliza.
"Nisa, apa bisa nanti sore kita pindah kerumah baru?"
"Memang, resikonya kau akan lebih jauh dari sekolah."
"Tidak apa-apa, Mas. Nanti Liza bisa aku bawa serta. "
"Jangan, kita sewa pengasuh anak saja biar dia tidak ikut kesana kemari, kasihan nanti masuk angin."
"Gimana baiknya menurut mas Aby saja. Aku nurut."
Aby tersenyum kearah Anisa.
"Inilah surga yang sesungguhnya aku rindukan.. Walaupun tidak bergelimang harta, tapi dalam ikatan kami ada rasa saling percaya dan mengerti., Saling mendukung dan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing..." ucap Anisa dalam hati.
Ia menarik nafas lega.
Tiba-tiba terlintas wajah Yahya di benaknya.
Sedang apakah pria itu?
Anisa berharap Yahya segera menemukan kebahagiaan sebagaimana yang dia rasakan.
Dia selalu berharap yang terbaik untuk ayah dari khaliza itu.
Anisa terus memandang Aby yang tengah bercengkrama dengan dua anaknya.
Anisa merasa belum percaya kalau Allah mengganti semua yang sempat hilang dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.
"Kenapa senyum -senyum sendiri?" Aby menepuk pundaknya lembut.
'Kau masih ingat peristiwa semalam?" tebak Aby dengan wajah lucu.
Anisa terkekeh.
"Ohya, aku ingin Khaliza segera punya adik." ucap Aby serius.
"Mas..?" Anisa menatapnya tak percaya.
Aby mengangguk.
"Dengan tiga anak rasanya cukuplah... bayangkan saja, nanti kalau Al dewasa dan menikah, tinggal Khaliza, Lalau Liza juga menikah, kita akan kesepian." ucapnya memelas.
"Tapi Liza baru dua tahun, Mas.." jawab Anisa sambil tertawa.
"Dua tahun sekarang, kalau adiknya lahir dia sudah tiga tahun. Benar, kan?" bujuk Aby.
Anisa hanya membalasnya dengan tersenyum.
Cita-cita Aby hal yang wajar menurutnya. Kenapa tidak kalau Allah' meridhoi nya.