
Paginya, Anisa bersiap kesekolah. Yahya yang siaga di depan pintu cepat-cepat menyapanya.
"Kau mau kemana? kondisimu belum sehat betul." ujarnya sambil terus mengikuti Anisa.
"Apa perduli mu, kak. Bukannya kau anggap aku tidak punya hati, iya, kan?"
"Anisa, aku tidak pernah bermaksud membohongi mu, tapi karna aku terikat sumpah makanya..."
"Makanya dengan senang hati menerima saat aku minta kita menikah, Kau mengiyakan begitu saja." potong Anisa cepat.
Yahya menggeleng.
"Seakan memang itu sudah kau rancang. kau tau, kak? Aku minta kita menikah bukan karna aku mencintaimu, tapi karna aku merasa berhutang Budi padamu, juga tidak tahan dengan omongan orang, kita dekat, tapi tanpa ikatan.
Hati Yahya terasa perih saat Anisa bilang kalau dia tidak mencintainya.
Memang dari awal Yahya tau kalau hati Anisa hanya untuk Aby, tapi apa harus, dia mengatakannya dengan gamblang seperti itu? Ada luka yang tak berdarah ia sembunyikan di lubuk hati.
"Dan mulai saat itu aku berusaha membuka hati ku untukmu. Tapi apa kenyataan yang kau berikan? "
Anisa masih bicara tanpa menatap mata Yahya.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku ini?"
Tidak ada..! Semua sudah terlambat." ucap Anisa ketus.
Saat yang sama,i ponsel Anisa menyala.
Ia mengangkatnya di depan Yahya.
"ada apa Mas Imran? Mas Aby sudah baik-baik saja, kan?" tegas Anisa.
"Tentu, Nisa. Aby sudah melewati masa kritisnya walaupun kondisinya tidak jauh berubah dari sebelumnya."
"Apa maksud Mas Imran?"
"Sebelah ginjalnya yang terinfeksi semakin parah. Dan..."
"Dan apa, Mas?"
"Aby lupa beberapa kejadian dalam hidupnya, yang dia ingat, kalian masih suami istri."
Anisa menghela menghela nafas berat.
"Dia terus mencari mu, juga Al. Apa yang harus aku katakan. Sedangkan kalau dia memaksakan diri mengingat sesuatu, kepalanya kembali sakit."
"Kau bisa menjenguknya sekarang?
Anisa masih terpaku di tempat.
Di saat itu, Rosma yang mengetahui masalahnya, langsung merebut ponsel itu dari tangan Anisa.
"Anisa tidak bisa pergi! Dia sedang mengandung anaknya Yahya."
Imran terkejut mendengar suara Rosma..
"Bi.. Kembalikan ponsel itu pada Anisa." ia memohon pada Rosma.
"Boleh.. Asal dia mau berjanji untuk tidak pergi kemana-mana." jawab Rosma tegas.
Yahya begitu gusar oleh tingkah bibinya.
"Tolonglah, Bi. Aku pergi bukan untuk berbuat yang aneh-aneh." ucap Anisa.
"Tidak... Kau tidak boleh pergi, titik!"
Rosma meninggalkan pasangan itu.
Yahya merasa bersalah atas tingkah Bibinya.
"Maaf, Nis. Jangan dengerin Bibi. Pergilah, temui pak Aby."
Anisa menatap Yahya dengan curiga.
Ia khawatir jangan-jangan ini bagian dari rencana pria itu juga.
Yahya tertunduk.
"Aku tidak akan pergi, tapi tolong antarkan Al menemui Ayahnya.
Setelah Yahya pergi mengantar Al.
Rosma mendekati Anisa yang sedang bersiap pergi mengajar.
"Bibi, tenang saja, aku tidak akan pergi menemui Mas Aby."
"Bagus! Itu yang Bibi harapkan. lagian kau itu wanita berpendidikan. Masa tidak bisa membedakan mana suami dan mana mantan suami." ucapan Rosma begitu menusuk batin Anisa.
"Aby tidak berhak lagi atas dirimu. Tapi Yahya, dia adalah suami mu yang sah saat ini. Apa kau tidak memikirkan perasaannya sedikitpun?"
"Cukup, Bi.. Berhenti mengingatkan aku tentang kewajibanku pada kak Yahya. aku sadar selama ini dia memang baik padaku, juga pada anakku. Tapi apa Bibi juga tau tentang kebohongan yang telah dia sembunyikan selama ini? Tidak kan?"
"Bibi tidak mau tau, dan tidak perlu tau. Yang terpenting saat ini kau sedang mengandung anak nya Yahya. Cam, kan Itu!"
Anisa menutup kedua telinganya. Ia tidak sanggup mendengar perkataan wanita itu lebih banyak lagi.
Anisa menyesali dirinya.
"Kenapa tidak ada yang bisa mengerti keadaanku? Mas Aby butuh seseorang di dekatnya saat ini. Apakah aku salah menaruh perhatian padanya? Dia adalah ayah dari anakku."
Ia meraba perutnya.
"Maafkan ibu, bukan ibu membencimu. Tapi kau hadir dalam keadaan yang sangat rumit ini...."
Anisa sempat mengutuk malam itu. Malam dimana ia dan Yahya melakukannya.
***
Yahya sampai dirumah sakit. Ia langsung di sambut oleh Imran.
"Mana Anisa? Kita harus jawab apa kalau dia menanyakannya?" seru Imran panik.
"Ayah, dimana Ayah Aby?" Al mengguncang lengan Yahya.
Imran menuntun anak itu keruangan Aby.
Sejenak, Al terpaku menatap wujud ayahnya.
Lalu ia menghambur mendekatinya.
"Ayah...!"
Aby menyambutnya dengan senyum lebar.
"Putraku.. Berapa lama kita tidak bertemu, kau sudah besar, tinggi mu hampir menyamai ayah." Aby berusaha mengurai kesedihan di antara mereka.
"Ayah... Jangan pernah tinggalkan kami lagi.
Al dan Bunda sangat merindukan ayah .." Al merangkul tubuh kurus ayahnya yang masih terbaring dengan beberapa alat medis melekat di tubuhnya.
Mata sayu Aby memandang ke arah pintu. Ia seperti menunggu seseorang.
"Mana, Bunda, Nak?"
Al memandang kearah Yahya.
"Owh... Anisa masih ada urusan sedikit, kalau sudah selesai dia pasti cepat datang kesini."
Aby mendesah kecewa.
"Apa ada urusan yang lebih penting dari menjenguk suaminya?" gumam Aby seolah pada dirinya sendiri.
Yahya tak sanggup menahan air matanya.
Apakah ia tega membiarkan pria yang hampir sekarat itu merana dengan kesendiriannya? tidak! Dia bertekad akan membawa Anisa kehadapan Aby apapun caranya.
Al berbincang banyak dengan ayahnya, ada rona bahagia di mata Aby saat bisa bercengkrama dengan putranya. Hanya saja, matanya tak berhenti menatap kearah pintu.
Sangat jelas dia mengharapkan sosok istrinya muncul dari sana.
"Apa yang sudah Ayah lakukan? Sepertinya Bundamu marah hingga tidak mau melihat Ayah disini..." rintih Aby.
"Tidak, Yah.. Bunda tidak pernah marah pada siapapun. bahkan waktu ibu Jelita jahat padanya, dia tidak pernah membalasnya." ucap Al dengan polosnya.
"Jelita? Siapa dia? dan apa yang sudah di lakukannya pada Bunda?"
Al terlihat bingung.
"Itu, lho Yah. Ibu Jelita istrinya ayah dan ibunya dek Zahra.."
Aby tersenyum mengusap rambut tebal anaknya. Ia berpikir kalau Al sedang bercanda.
Imran tidak mau percakapan itu berlarut larut.
"By, Al harus pulang, dulu. Waktu jenguknya sudah habis."
"Om, boleh nggak, aku temenin ayah disini? sorot mata Al begitu memohon.
"Untuk sekarang, belum bisa, Nak. kalau ayah sudah di pindahkan keruang rawat. Boleh, deh."
Al mengangguk.
"Anak pintar... sama pamit sama ayah dulu!"
Sekali lagi, Al memeluk sosok yang selama ini amat di rindukannya itu.
"Cepat sembuh, ya Ayah...,!" bisiknya sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu. Aby hanya bisa mengantar kepergian Al dengan tatapan matanya.
Ia harus kembali masuk ruang ICU karena ginjalnya yang bermasalah.
"Tolong ijinkan Anisa menemuinya sekali saja. Aku tidak tega melihat keadaannya yang semakin parah, kita tidak tau apa yang akan terjadi, memang umur itu ada di tangan Allah. Tapi setidaknya, bila itu harus terjadi. Dia bisa melihat Anisa yang terakhir kali." bisik Imran di telinga Yahya.
Yahya hanya bisa mengangguk, tapi dalam hati ia berjanji dan menyanggupi membawa Anisa kepada Aby.
Yahya pulang dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.
Kali ini ia tidak akan mendengarkan Bibi Rosma lagi.
.