
Hanya seminggu Yahya dan Bibinya ditahan.
Mereka terbukti tidak ikut terlibat, mereka hanyalah korban penipuan.
Yahya menerima kabar itu dengan wajah datar. Ia merasa, pulang ataupun di tahan sama saja. Dua perempuan yang sangat di cintainya sudah tidak ada di sampingnya.
"Tuh, kan. Apa ku bilang? Kita tidak bersalah. Mereka saja yang asal tangkap..." gerutu Rosma. Namun Yahya tidak menggubrisnya.
Dia melangkah gontai.
Rosma mengekor di belakangnya.
"Yahya, jangan diam terus, Bibi jadi sedih karna kau diamkan."
Yahya masih tetap bungkam.
Ia menyetop sebuah taksi tanpa perduli rengekan Bibinya.
"Kemana, Pak?" tanya sopir taksi saat mereka sudah duduk di dalam.
Yahya membisik kan sesuatu. pak sopir mengangguk dan mulai menyalakan mobilnya.
Rosma bertanya-tanya dalam hati.
Kenapa Yahya sangat aneh, dan kemana sebenarnya mereka akan pergi.
"Yahya, bicaralah sesuatu biar Bibi tenang." Rosma mengguncang tangan Yahya.
"Diam lah Bi.. Aku juga sedang pusing." hanya itu yang keluar dari mulut Yahya.
Rosma semakin penasaran karena Yahya terus diam dan jalan yang mereka lewati jelas tidak menuju pulang ke rumah Anisa seperti dugaannya.
"Kita kemana sebenarnya?" matanya memohon pada Yahya.
"Ketempat dimana Bibi bisa lebih tenang." jawab Yahya sambil menggenggam tangan Bibinya.
"Apa maksudmu?"
"Bibi akan lihat sebentar lagi."
Rosma terdiam menunggu kejutan apa kira-kira yang di berikan Yahya padanya.
"Aku yakin Yahya menyesal karena sudah menyalahkan ku semalam. Sekarang dia sadar dan memberiku kejutan." bibirnya tersenyum penuh harap.
Taksi berhenti di halaman sebuah bangunan.
Yahya menelpon seseorang.
Sedang Rosma turun dengan wajah bingung.
"Dimana ini?" dia menatap sekeliling.
Dia sudah membayangkan akan di ajak kesebuah pusat perbelanjaan atau semacamnya. Tapi ia terbelalak saat pandangannya menangkap papan nama terpampang di depan gerbang.
"Yayasan panti jompo?"
Dia cepat menghampiri Yahya.
"Kita salah alamat, ya?" tanyanya cengengesan.
Yahya menggeleng.
"Ayo kita masuk dulu, Bibi akan tau nanti di dalam."
Dengan hati cemas, Rosma mengikuti langkah Yahya.
Mereka di sambut mesra oleh seorang wanita paro baya yaitu Bu Fatma. Dia adalah pengurus panti jompo itu.
"Selamat datang pak Yahya.."
"Iya, Bu Fatma. Bi, ini Bu Fatma pengurus tempat ini." Yahya mengenalkan mereka.
"Saya Rosma, Bibinya Yahya." dia masih percaya diri dengan keadaannya.
"Ponakan saya memang orangnya sangat dermawan. Dia sering beramal dan semacamnya seperti yang dia lakukan saat ini." ucap Rosma angkuh.
Yahya menggeleng melihatnya.
"Kita kesini bukan untuk beramal, Bi. Tapi Bibi akan tinggal di sini sementara waktu." suara Yahya memaksa Rosma memutar tubuhnya dan menatap Yahya tak percaya.
"Jangan bercanda, ini bukan waktunya." ucapnya tegas.
"Justru aku yang harus bicara begitu. Berhentilah bermain-main, Bi. ini sudah waktunya Bibi bertobat dan merenungi semua yang terjadi."
Rosma terhenyak.
"Bibi tidak mau tinggal disini. Bibi belum setua itu untuk menjadi penghuni tempat ini."
Rosma menggeleng keras.
"Tidak ada pilihan lain, Bi. Ini hanya sementara saja. aku janji, begitu punya penghidupan yang lebih layak, aku akan menjemput Bibi disini." jelas Yahya.
Rosma memegangi tangan Yahya.
"Jangan tinggalkan Bibi disini, Bibi janji tidak akan menjadi beban buatmu. Tapi jangan tinggalkan Bibi disini."
Airmata Rosma sudah menganak sungai.
Yahya mengalihkan pandangannya.
Ia paling tidak tahan kalau melihat wanita menangis.
"Aku tidak akan luluh Bi. Ini sudah keputusan ku." Yahya melangkah keluar dengan kruk nya.
Rosma meronta dalam pegangan Bu Fatma.
"Yahya, Bibi minta maaf kalau ada salah. Tapi Bibi mohon jangan buang Bibi mu disini...!" teriaknya dengan mata berlinang.
Rosma terduduk lemas. Ia tak menyangka, di usia tuanya harus terdampar di tempat ini.
Hati Rosma tercabik, Dia sudah di tolak anak dan menantu kandungnya, Yahya lah satu-satunya tujuannya di kota ini. Tapi kini Yahya juga membuangnya.
Rosma kembali meratapi nasib buruknya.
"Pak Yahya tidak membuang Bu Rosma. dia hanya menitipkan ibu sementara waktu. dia bilang akan datang bila sudah punya kehidupan yang lebih baik.'" suara Bu Fatma mengejutkan Rosma.
"Ibu masih beruntung, pak Yahya mengantar dan menyerahkan ibu di sini dengan menyesal. Lihat mereka!" Bu Fatma menunjuk tiga lansia yang sedang duduk menatap gerbang.
"Mereka akan betah duduk berjam jam disana. Bu Rosma tau karena apa? mereka mengharap anak menantu dan cucunya akan datang menjemput mereka.
Namun sampai bertahun-tahun berlalu, anaknya tidak pernah muncul disana untuk menjenguknya. Tapi mereka tetap saja melakukan hal yang sama setiap harinya.
Kalau bisa di bilang, mereka hidup karena harapan itu. Padahal anaknya sudah melupakan mereka."
Bu Fatma mengusap airmata nya.
"Lalau apa yang harus saya lakukan disini?" tanya Rosma bingung.
"Banyak, banyak sekali yang bisa ibu lakukan. Tunjuk kan pada keluarga bahwa Bu Rosma bisa."
Rosma termenung
"Benar kata wanita ini. Aku harus mengiyakan semua ucapannya." batin Rosma.
Rosma menatap para lansia itu dengan sinis.
"Baiklah, aku akan terima kenyataan ini dengan lapang dada tapi... aku juga tidak akan tinggal diam. Tunggu saja .!" geramnya.
***
Di tempat Anisa
"Bunda, kenapa kita tinggal disini? kita pindah ketempat ayah Aby saja." ujar Al protes.
Anisa menempati rumah dinas guru yang sudah agak berantakan.
"Kita tidak boleh ngeluh sayang... Begini saja kita harus tetap bersyukur. Ada lho orang-orang yang terpaksa harus tidur di kolong jembatan."
"Tapi, kenapa kita harus pindah dari rumah ayah Yahya?" tanya Al lagi.
"Sementara kita akan tinggal bertiga dulu, ya. Ngga papa, kan tinggal sama Bunda sama dedek Liza juga?"
"Kita pindah pasti karena nenek marahin Bunda, ya?" wajah polos Al terlihat iba pada Bundanya.
"Eeum..tidak, kok. Walaupun nenek suka marah, tapi Bunda tidak pernah kok ikut marah juga. kita kesini karena memang Bunda sama ayah Yahya sudah tidak boleh tinggal satu rumah lagi."
Al terdiam, walaupun banyak pertanyaan yang menggelayut di kepalanya.
"Sudah, yang penting Al rajin belajar dan jagain dedek Liza, sanggup?"
Al mengangguk. Anisa mengusap rambut putranya.
"Kenapa Ayah belum datang juga?" gumam Al gelisah.
Anisa memperhatikannya.
"Kenapa, sayang?"
"Al telpon ayah, ya?" tebak Anisa. Al memang kadang memakai ponselnya untuk menghubungi ayahnya.
Al hanya nyengir mendapat pertanyaan Bundanya.
Benar saja, ada suara yang memberi salam di depan pintu.
"Ayah?" ucap Al tertawa.
Anisa menggeleng melihat tingkahnya.
"Ayah.." Al langsung memeluk ayahnya.
"Ada apa minta ayah segera datang, katanya di suruh Bunda."
"Mas, baru datang?" sapa Anisa ikut keluar.
"Iya, Nis. Al menelpon tadi, dia menyuruhku cepat datang katanya Bunda yang nyuruh."
Anisa menatap Al bingung.
"Maaf, Bund.. Al sudah bohong sama ayah."
"Maaf, Mas. Kau pasti meninggalkan pekerjaanmu gara-gara telpon dari Al." sesal Anisa.
"Tidak, Nis. Kebetulan sudah selesai juga."
Anisa mengangguk. Ada rasa canggung di antara mereka.
"Kalau kau merasa terganggu, biar aku pulang saja.." suara Aby terdengar ragu.
"Owh, tidak kok. Aku tidak terganggu." sepi kembali.
Al yang memperhatikan itu merasa heran.
"Ayah dan Bunda jadi aneh. Kenapa diam-diaman begitu?"
Aby dan Anisa semakin salah tingkah.
Al sengaja menggoda kedua orang tuanya yang terlihat canggung.
"Dimana Liza, bobok, ya?" Aby sengaja mengalihkan pertanyaan.
"He..e"
"Bobok apa tidak? Kok jawabnya begitu?"
"Kan, Mas Aby yang nanya sekaligus menjawab sendiri." jawab Anisa tertawa kecil.
'Syukurlah.." gumam Aby pelan.
"Apa, Mas? Kau bilang sesuatu?"
"Aku bersyukur, kau bisa ceria lagi. bisa tertawa lagi seperti ini." ucap Aby membuat Anisa tersipu.
"