
Aby cepat-cepat bersiap saat menerima telpon dari Bu Sari bahwa Jelita mengurung diri dalam kamar semalaman.
"Mas sarapannya..!" ujar Anisa saat melihat Aby tergesa.
"Tidak keburu Nis, ada telpon mendadak dari kantor." kata Aby sambil mengemasi tas kantornya.
"Ayah, Al punya gambar baru, tolong lihat!"
anak kecil itu datang sambil mendekap kertas di dadanya.
"Maaf, sayang. Ayah lagi buru-buru. Ayah janji, nanti sore ayah temani menggambar, ya!" ucap Aby sambil mengusap rambut putranya.
Anisa yang menyiapkan rantang bekalnya pun di tinggal begitu saja.
"Nanti Mas sarapan di kantin saja " teriaknya seraya menghidupkan mobilnya.
Sebelum berangkat ke sekolah, Anisa berpikir mampir ke kantor Aby untuk memberikan bekalnya.
"Masih ada waktu, kita mampir ke kantor ayah, ya Al!"
Al tertawa senang. sudah lama sejak terakhir ayahnya membawanya ke kantor.
"Hore... Al mau lihat kantor ayah.." ucapnya girang.
Sampai di kantor, Anisa ragu hendak mencari Aby di ruangannya.
Seorang satpam yang di kenalnya datang mendekat.
"Ibu Anisa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Eeeah.. Ini, saya mau nitip ini untuk pak Aby."
"Boleh, Bu. Apa tidak masuk dulu lihat pak Aby?"
"Tidak usah, pak. Saya sudah kesiangan."
Jawab Anisa.
Setelah menitipkan rantang bekal untuk suaminya, Anisa berangkat ke sekolah tempatnya mengajar, tapi di jalan masuk menuju kantor ia berpapasan dengan mobil Aby.
Aby sendiri tidak memperhatikannya.
"Tadi itu kayak mobil Mas Aby..? Apa Aku yang salah lihat?" Anisa merasa heran. Kenapa Aby baru sampai di kantornya? padahal dia berangkat pagi sekali.
Karena memikirkan tentang kejadian barusan. Anisa kehilangan fokus dalam mengendarai motornya.
Ia kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan.
Ia tidak bisa melihat apapun, hanya terdengar suara lamat-lamat di telinganya.
"Bunda, bundaa..!"
Anisa membuka matanya, ia heran melihat ruangan yang serba putih. Ia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi.
"Al ...!" pekiknya saat ingat putranya.
Aby menggenggam tangannya erat.
"Tenang Nis, Al tidak apa-apa." Aby menguatkan istrinya yang terbaring lemas di berankar rumah sakit.
Perasaan Anisa semakin tak enak saat melihat mata Aby yang memerah habis menangis.
"Apa yang sudah terjadi Mas Aby?" ucapnya panik.
"Aku hanya ingat, aku dan Al sedang menuju sekolah dari kantor dan.." Anisa tak sanggup mengingatnya. Ia berteriak histeris.
Ia meringis saat merasakan nyeri di daerah perutnya.
Anisa meraba perutnya yang sudah rata.
"Anak kita?" tanyanya kaget dan panik.
Aby mengangguk sambil menyeka airmatanya.
"Anak ku....!"
Aby memeluk tubuh istrinya yang diam mematung. Hanya air matanya saja mengalir dengan deras.
Aby menceritakan kalau mereka kecelakaan. Al hanya mengalami luka memar di lengan kanannya. Sedangkan Anisa mengalami benturan hebat di perut yang membuatnya pendarahan hebat hingga harus kehilangan calon anak mereka.
Anisa menangis sejadinya ketika suaranya sudah mulai kembali.
Aby terus memberinya kekuatan.
Aby menyesali dirinya, ia merasa punya andil dalam kecelakaan Anisa hingga harus kehilangan anak mereka.
Sebulan sudah kejadian itu berlalu, namun Anisa belum bisa melupakan duka kehilangan anaknya.
Walau sebisa mungkin Aby menghiburnya, Anisa tetap menyalahkan dirinya sendiri.
Aby mulai merasa kehilangan sosok Anisa yang manis dan periang.
Anisa lebih banyak murung dan berdiam diri. Walaupun tugas sebagai istri dan ibu masih tetap ia penuhi.
Aby tidak menyerah memberi dukungan pada istrinya itu.
Ia merasa harus memberi perhatian lebih Anisa.
Di sisi lain, Jelita dengan perut yang kian membesar semakin membutuhkan perhatian dari Aby sebagai suaminya.
(Mas, aku pingin makan di luar..) pesan dari Jelita membuat Aby menarik nafas panjang.
"Ada apa, Mas?" Anisa yang sedang menemani Al belajar, tak sengaja melihat raut wajah malas dari suaminya.
"Imran, dia ngajak minum kopi bersama.. tapi Mas bilang sedang menemani kalian." jawab Aby beralasan.
"Tidak apa, pergi saja. Mas Aby juga perlu refreshing, di rumah terus akan membuat sumpek dan pikiran buntu." ucap Anisa.
"Tidak, ah.. Mas ingin bersama kalian saja." tukas Aby sambil memeluk Al.
"Mas.. Pergilah, jangan biarkan Imran menunggu." Anisa meyakinkan.
Aby termenung.
Disana jelita pasti sedang berharap dapat keluar bersamanya, dan disini Anisa dan Al juga sangat membutuhkan kehadiran dirinya.
Aby bimbang harus memilih yang mana.
pesan dari Jelita kembali masuk.
"Tuh, Mas Imran pasti tidak sabar menunggu " ujar Anisa.
"Maafkan aku istri ku, aku terpaksa berbohong lagi." rintih Aby dalam hati.
"Jadi, Mas pergi nih..?"
Anisa mengangguk pasti.
Dengan berat hati, Aby pergi juga.
Ia langsung menuju kerumah Jelita dengan hati gundah.
"Sampai kapan hamba harus menghadapi dilema ini ya Allah...?" rintihnya dalam hati.
Aby tertegun saat melihat Jelita sudah menunggu nya di teras.
"Terima kasih, Mas. Kau mengabulkan permintaanku." Jelita mengusap perutnya yang besar.
Aby hanya tersenyum. Saat hendak naik mobil, tiba-tiba Jelita menjerit tertahan.
"kenapa?" tanya Aby panik.
"Aku idak tau, Mas. Perutku sakit sekali. Aduh..! Mungkin sudah saatnya aku lebih lahiran." ucap Jelita meringis.
Tanpa pikir panjang, Aby membawa Jelita kerumah sakit. Peluh membasahi wajah Aby saat menunggu Jelita berjuang untuk melahirkan anaknya, Aby ingat saat Anisa melahirkan Al- Bany putra mereka.
Jelita melahirkan seorang putri yang cantik.
Dengan tangan gemetar Aby mengadzan kan bayi merah itu.
"Putri mu sangat cantik..." puji Aby pada Jelita terlihat lemas.
'Terima kasih, mas. Karna dukungan mu aku bisa melahirkan bayi itu." Jelita memandang Aby dengan senyum tulus.
"Aku ingin kau yang memberi nama padanya, seperti kau memberi kesempatan hidup untuknya."
'Allah sang maha pemberi kehidupan, kau jangan lupa itu.
Karna kau memberi kehormatan padaku untuk memberinya nama, aku namai dia 'Fatimah Az-Zahra' mudahan dia tumbuh menjadi wanita yang cantik dan berakhlak mulya seperti putri rosulullah."
Jelita mengangguk setuju.
"Nama yang indah... aku suka." pujian Jelita.
Sejak itu, Aby semakin sering bertandang ke tempat Jelita.
Jelita pun semakin tergantung kepada Aby.
(Mas, susunya Zahra habis) pesan dari Jelita di tanggapi oleh Aby.
(Baiklah, saya akan segera belikan)
Aby selalu sigap tentang sesuatu yang menyangkut Zahra.
"Nak, Aby.. Sepertinya Jelita kerepotan mengurus bayinya sendirian. Bagaimana kalau Nak Aby memakai jasa baby sitter saja?" usul Bu Sari.
Aby terdiam. Anisa saja yang istri sah dan bekerja tidak pernah meminta memakai jasa baby sitter.
"Tapi bukankah masih ada ibu?" Aby menatap Bu Lastri.
"Iya, memang benar. tapi ibu sudah tua, tidak bisa membantu banyak." jawabnya masih kukuh.
"Baiklah, akan saya coba carikan." janji Aby.
Bu Sari tersenyum senang. kenyamanan hidup yang di dapatnya kini membuatnya terlena dan lupa siapa badan dari mana dirinya berasal. Ia menjadi serakah.
"Anak cantik.. Ayah pergi dulu,nya!" Aby mencium Zahra yang ada di pangkuan Jelita.
"Hati-hati ,Mas." ucap Jelita dengan senyum mengembang.
Sampai dirumah, ia mendapati Anisa yang ketiduran di meja makan.
Aby memandangi istrinya dengan perasaan bersalah. Andai saja saat itu dia tidak menolong Jelita, kemelut ini tidak akan terjadi. Andai saja dia sanggup berterus terang, mungkin masalahnya tidak akan serumit ini.
"Maafkan aku, istri ku...!" ucap nya pelan. Lalu
ia memindahkan istrinya ke kamar.
Setelah itu ia melihat kamar putra nya. Ia
merasa iba saat melihat Al yang tertidur pulas sambil memeluk kertas hasil coretannya, Al pasti menunggunya untuk memperlihatkan hasil gambarannya.
Ia merasa sangat bersalah karna banyak kehilangan waktu bersama Al.
Tak terasa air bening sudah membasahi pelupuk matanya. ternyata sangat mahal harga yang harus di bayarnya dari satu kekhilafan yang dia lakukan.