KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 42


Anisa terkesiap saat perawat dan dokter berlarian ke ruangan Aby.


"Apa yang terjadi?" jantung Anisa berdegup lebih kencang. Bayangan buruk menghampiri nya.


Saat ia mendekat, ia melihat beberapa perawat memompa jantungnya.


"Mas, Aby..?"


Anisa terus dan terus berdoa agar Aby mendapatkan mukjizat.


Beberapa saat kemudian keadaanya normal kembali walaupun ia belum sadarkan diri.


Yahya, Imran dan pak Ali juga berada di sana.


Mereka mengucap syukur saat hal yang menegangkan itu lewat.


Yahya sendiri merasa gelisah, haruskah ia membongkar semuanya sekarang?


Imran yang melihatnya langsung mendekati nya.


"Ada apa, Mas? sepertinya kau sangat tertekan."


"Saya bingung dan merasa bersalah. Saya sudah terjebak dalam situasi yang sulit ini,


Pak Aby meminta saya merahasiakan semuanya, saya tidak sanggup menanggungnya lebih lama lagi. Saya juga sangat takut dengan tanggapan Anisa. apalagi setelah melihat keadaan pak Aby seperti ini, saya berpikir mungkin ini waktu yang tepat untuk bercerita."


Imran ikut berpikir keras. ia merasa ikut bertanggung jawab atas kerumitan yang terjadi di antara mereka.. Karena ia tau keadaan yang sebenarnya.


"Sebenarnya, kapanpun kau sampaikan cerita itu, tetap akan beresiko. Tidak mudah baginya menerima kebenaran ini. Atau mungkin juga dia merasa sudah kita bohongi selama ini. ada baiknya kau katakan sekarang saja. Karna melihat keadaan Aby yang seperti itu."


Yahya menguatkan hatinya.


Ia menghampiri Anisa yang duduk diam di depan ruangan Aby.


Yahya memegang bahunya pelan. Anisa langsung mendongak.


Yahya merasa sedih melihat mata itu terlihat redup dan sembab karna menahan kesedihannya.


"Aku mau bicara sesuatu.."


"Sekarang? Tapi..." Anisa menunjuk Aby yang terbaring diam.


"Sebentar saja. Biar Pak Imran yang menunggu disini."


Anisa menatap Imran.


"Pergilah...!" ucap Imran sambil mengangguk.


"Aku titip dia, Mas Imran...!"


Ucapnya sambil mengikuti langkah Yahya.


"Ada apa kak?" tanya Anisa sembari duduk di dekat Yahya.


Yahya termenung sejenak.


Suasana malam yang dingin menambah gemetar seluruh badannya.


"Sebelumnya aku minta maaf, walaupun mungkin menurutmu aku tidak pantas di maafkan." Yahya menarik nafas.


Anisa semakin penasaran. Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa wajah kak Yahya terlihat begitu tertekan?


"Pak Aby menjual sebelah ginjalnya untuk membiayai pengobatan mu waktu itu...." sontak Anisa memutar wajahnya, kini ia menatap mata Yahya. Ia merasa Yahya harus mengulangi ucapannya barusan.


"Coba katakan sekali lagi, kak. Aku kurang jelas mendengarnya."


"Pak Aby, rela hidup dengan sebelah ginjalnya dan menjauh dari kalian. dia hidup dengan keterbatasannya. Ia sangat menyesal karena tellah mengecewakanmu. Karna itu, di beranggapan dengan berkorban dan menjauh dari hidup kalian akan mengurangi rasa penyesalannya..."


Yahya menarik nafas sebentar.


Dada Anisa bergemuruh, ia ingin berteriak dan menghujat.. Tapi pada siapa? Semua sudah terjadi.


Ia tidak mampu berkata, hanya kedua matanya mulai memanas.


"Pak Aby memintaku berjanji bahkan bersumpah untuk tidak mengatakannya padamu. Tentang pernikahan kita, juga atas amanat dia."


Anisa mulai terisak. Bingung benci muak menjadi satu.


"Aku benar-benar minta maaf, Anisa.. Aku yang salah karna dengan bodohnya telah mengikuti permintaan tololnya itu."


"Dan apa gunanya kau katakan sekarang, kak?" ucap Anisa tanpa ekspresi.


Anisa bangkit dan meninggalkan Yahya begitu saja.


Batinnya menjerit, kenapa takdir begitu kejam padanya.


Ia berdiri di depan ruangan Aby. Tanpa bicara, hanya air matanya yang mewakili perasaanya.


"Pria itu? Yang bukan suamiku lagi, dia sudah menyerahkan hidupnya untuk ku.. Kenapa dia melakukan ini semua?"


"Dokter, apa bisa saya masuk untuk melihat pasien?"


"Boleh, ajaklah berinteraksi agar kesadarannya cepat kembali.'


Anisa memasuki ruangan itu setelah mengenakan pakaian khusus


Ia pandangi wajah yang hampir saja tidak di kenalinya.


"Kenapa kau hanya diam? kau menang, dengan diam mu itu, kau bebas dari beban yang ku rasakan saat ini.." Anisa menyeka air matanya.


"Buka matamu, Mas! lihat aku sekarang, aku tak ubahnya seperti mayat hidup. Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang membuatku kehilangan pegangan hidup."


Yahya dan Imran ikut terharu melihat Anisa.


Anisa meraih tangan Aby yang kurus, Mengamati jari jemarinya. tangan itu yang dulu selalu siaga saat dirinya butuh dukungan.


"Kau harus bangun..! Walaupun tidak demi aku, tapi ingatlah anakmu, dia sangat merindukanmu."


Anisa mendekap tangan Aby di dadanya. Ia terus memohon agar Aby membuka matanya.


Sebutir air bening muncul dari ujung mata Aby. Ya, dia menangis. Dia bisa mendengar apa yang Anisa bicarakan.


Aby benar-benar membuka matanya, Anisa begitu gembira melihatnya.


Ia berseri memanggil Dokter jaga.


Semua mengucap syukur.


Namun ada yang ada yang aneh padanya.


Ia tidak mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


Kini Aby sudah di pindahkan keruang perawatan.


"Anisa...!" ucapnya lirih.


Anisa merasa canggung menemuinya, ia merasa sudah bukan istri Aby lagi. Karenanya saat Aby sudah lewat dari masa kritisnya, dia memilih pulang.


Hanya Imran dan pak Ali yang menungguinya


"Sus, tolong panggilkan istri saya!" ucap Aby pada suster jaga.


"Pak Aby minta istrinya untuk masuk..."


Imran merasa heran,


Ia langsung masuk menemui Aby.


"By, syukurlah kau sudah sadar..."


"Imran.. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini? Dan apa ini aku di infus, aku sakit apa?"


Imran teringat kata dokter tempo hari. Ada kemungkinan Aby akan kehilangan penggalan


memory nya.


"Oh, iya.. Kau mengalami kecelakaan dan mengakibatkan cedera di kepala bagian belakang."


Aby terlihat berpikir.


"Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun? Lalu di mana Anisa? Apa dia tidak tau kalau aku kecelakaan dan di rawat disini?" tanyanya penuh heran.


Imran terkesiap. Apakah Aby lupa juga kalau Anisa bukan lagi istrinya?


"By, kau tidak ingat apa-apa? Maksudku tentang Anisa?"


Aby mencoba mengingat sesuatu, tapi ia meringis memegangi kepalanya.


"Sudah, sudah! Jangan di pakai berpikir lagi."


Bujuk Imran.


"Im, Anisa mana? Mana ponselku, aku akan menghubunginya. Dia pasti marah karna kau tidak mengabarinya." Aby terus meraba-raba untuk mencari ponselnya, namun tidak ada.


"By, lupakan Anisa! fokus pada kesembuhanmu dulu!" ucap Imran dengan suara keras.


Walaupun Aby tidak mengerti, ia berusaha menurut.


"Im, bagaimana keadaan kantor? Pak Irwan pasti marah-marah lagi padaku kalau lama cutinya..." Aby tersenyum di akhir kalimatnya.


Imran terenyuh mendengarnya. Aby benar-benar lupa kalau sudah menceraikan Anisa. Sekarang masih bisa di atasi, tapi kalau sampai dia mencari Anisa lagi, apa yang harus ia katakan? Berterus terang kalau Anisa sudah menikah dengan Yahya? Hal itu pasti akan memperburuk keadaan Aby.


Sampai dirumahnya, Anisa langsung mengurung diri di kamar. Ia sama sekali tidak mau bicara pada Yahya. Ia sangat menyesalkan kenapa bisa menyimpan kebohongan sebesar itu?


Dan Aby? Kenapa dia tega melakukan ini semua.


Badan Anisa menggigil hebat. Ia mengalami demam yang cukup tinggi. Dengan telaten, Yahya mengompresnya.


Anisa sampai mengigau karna panasnya.


"Mas, kau tega sekali padaku! Aku tidak mau melihatmu lagi, kalian semua pembohong!" teriak Anisa."Nis... !" Yahya mengusap rambutnya pelan. Panasnya masih tinggi.


Rosma yang sudah mengetahui yang terjadi dari Yahya sendiri merasa ikut pusing.


"Apa yang Bibi khawatir kan akhirnya terjadi. Lalu apa yang akan kau lakukan?"


"Aku belum bisa berpikir tenang, Bi. Aku akan menunggu Anisa sembuh dulu baru akan memikirkan langkah kami selanjutnya."


"Ingat, ada anak dalam kandungan Anisa. Dia anakmu! Jangan sekali-kali kau melepaskannya." pesan Rosma.


Yahya termenung sendiri di malam yang dingin itu. kalau mau egois. Ia membetulkan ucapan Rosma. tapi ia tidak mau egois. Walau cintanya begitu besar pada Anisa, ia akan menyerahkan keputusan sepenuhnya pada wanita itu. Dan kalaupun akhirnya Anisa memilih Aby, ia akan ikhlas melepasnya.