
Rosma terus saja menyalahkan Anisa atas apa yang menimpa Yahya.
Yahya yang merasa hanya punya Bibinya, tidak bisa banyak membantah. Ia khawatir setelah bercerai dengan Anisa, Rosma ajan meninggalkannya pula.
"Bi, Aku akan merawat suamiku, juga Mas Aby." Rosma langsung memandangnya dengan sinis.
"Mas Aby tidak punya siapa-siapa lagi, Bi. Mengertilah sedikit saja."
"Kau sangat aneh, minta Bibi mengerti sesuatu yang... Bibi tidak bisa pahami."
"Merawat mantan suami? Apa kau tidak pikirkan bagaimana perasaan Yahya? dia sakit, dia menderita. Apalagi sekarang dengan kehilangan sebelah kakinya, itu membuat dia depresi dan kehilangan kepercayaan dirinya." ucap Rosma sengit.
Anisa terdiam.Ia tidak menyangkal apa yang di katakan Rosma.
Memang benar, dengan kondisinya yang sekarang. Yahya semakin tidak percaya diri.
Ia terlihat sering melamun sendiri.
"Apa pun kata Bibi, aku akan tetap merawat kak Yahya dan juga Mas Aby."
" Terserahlah, dasar keras kepala!" omelnya sembari meninggalkan Anisa.
"Kak, biar aku antar keluar, kau bisa menghirup udara segar di luar. Besok, kan sudah boleh pulang."
Sapa Anisa pelan
Yahya terdiam. Ia tau Anisa sedang menghiburnya saja. Ia merasa hanya jadi beban buat wanita itu.
"Aku malas, Nis. Nanti saja, ya..?" jawabnya beralasan.
"tapi kalau anaknya yang minta, tidak nolak kan?" ia masih berusaha.
Aby melihat perut Anisa yang mulai terlihat besar
"Iya, anaknya yang minta, katanya ia ingin melihat ayahnya tertawa lagi"
Yahya tersenyum. Berapa bahagianya andai apa yang Anisa ucapkan pada saat keadaannya belum seperti sekarang.
'Ayolah, kak. Apa kau tidak ingin menyapa anakmu?" Yahya hanya tersenyum.
Saat itu Aby masuk bersama Imran.
Ia sempat melihat Anisa yang sedang membujuk Yahya. Hatinya berdesir aneh. Ada rasa tidak rela melihatnya. tapi cepat-cepat dia mengalihkan perasaannya.
Ia berusaha mengukir senyuman di bibirnya.
"Bagaimana keadaanya sekarang?"
Yahya mengangguk tersenyum.
"Sudah baikan, pak Aby."
"Syukurlah.. " ucapnya sambil terus berlalu ke ranjangnya sendiri.
Anisa bisa merasakan apa yang Aby rasakan. Tapi apalah daya nya, keadaan yang memaksanya untuk tega.
Yahya berusaha mengayuh kursinya. Ia terlihat masih kesulitan memakainya.
"Mau kemana, kak? Biar aku bantu."
"Aku ingin ke kamar kecil." jawabnya ragu.
Sebenarnya, Anisa merasa sungkan. tapi demi menjaga perasaan Yahya, ia memutuskan untuk membuang rasa itu.
"Tapi, tidak usah, kau sedang mengandung. biar pak Imran yang mendorongku. Selebihnya aku bisa sendiri."
Anisa tersenyum ragu
Ia merasa Yahya mulai sungkan pada dirinya.
Imran mengangguk dengan senang hati dan membantu Yahya.
Anisa beralih ke ranjang Aby.
Mas, kau akan pulang ketempat Abah, disana aku bisa sering datang untuk merawat mu."
"Tidak, aku tidak mau merepotkan mu lagi.
Jangan pikirkan aku, Nis. Pikirkan tentang keluargamu." ucap Aby.
"Jangan sampai karena kedekatan kita, keluargamu jadi berantakan. Aku tidak mau itu terjadi."
"Aku memikirkan keluargaku, Mas. dan siapa bilang kau bukan keluargaku? kau ayahnya Al. Jadi, kami berkewajiban merawat mu.."
"Tenang saja, kita tidak akan tinggal serumah, hanya saja aku bisa melihat mu setiap saat."
Aby terdiam. mau menolak juga dia bingung mau tinggal dimana.
"Terserah kau, lah. yang jelas harus ada ijin dari suamimu. dulu." jawab Aby.
"Tentu, aku sudah minta ijin kak Yahya, kok. dia tidak keberatan."
***
Anisa merasa lega, hari ini Aby dan Yahya di perbolehkan pulang. Imran ikut mengantar Aby kerumah lama Anisa.
Sedangkan Rosma berkeras membawa Yahya langsung pulang kerumah mereka.
"Tidak perlu. Kau urus saja mantanmu itu. Yahya aman bersamaku." ucapnya dan masuk ke taksi yang di pesannya.
Yahya angkat bicara.
"Tidak apa-apa, Nis. kau antar pak Aby dulu sekalian melihat keadaan Al. Biar aku pulang bersama Bibi..." ucapnya bijak.
Anisa tidak bisa menolak lagi.
Al begitu gembira melihat kepulangan ayahnya.
Ia langsung memeluknya.
"Eh, sayang.. Ayah masih sakit lehernya. hati-hati ya?" Anisa mengingatkan.
"Ya Allah.. Terima kasih kau sudah mengembalikan ayah Aby pada kami, aku berharap semoga Bunda tidak sedih lagi, aku ingin berkumpul bersama Ayah, Bunda dan adek bayi. Amiiin."
Anisa dan Aby begitu terharu mendengar doa anak mereka. Begitu juga Imran.
Aby menyusut ujung matanya.
Ia mengusap kepala Al.
"Kita akan tetap bersama, Nak. Ayah janji." ucapnya dengan senyum haru.
Anisa memalingkan wajahnya.
Apa yang menjadi impian Al, adalah impiannya juga. Tapi mana mungkin? Selain ia sudah sah menjadi istrinya Yahya, dia juga punya tanggung jawab terhadapnya.
"Kalau begitu, Bunda mau kerumah ayah Yahya, dulu. Ya! Jaga ayah Aby baik-baik."
Pesannya pada Al.
"Kenapa harus kembali kesana, Bund.. Jangan pergi, ayah sudah kembali, kenapa Bunda yang mau pergi? Aku mau ayah dan Bunda. Aku tidak mau hanya ayah atau hanya Bunda saja,"
Cukup lama Anisa harus membujuk putranya itu hingga akhirnya Al bisa mengerti dan mengijinkannya pergi.
Sampai di depan rumah, dia heran mendapati banyak orang berkerumun.
Beberapa orang sedang mengeluarkan barang-barang mereka dari dalam rumah.
"Ada apa ini? Eh apa yang kalian lakukan? kenapa barang-barang kami di lempar keluar?"
Rosma terlihat menekuk wajahnya. Begitu pula Yahya.
"Bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?" tanyanya pada Yahya dan Rosma.
"Bibi sudah menjual rumah ini untuk biaya perawatan ku Nis." ucap Yahya dengan wajah kuyu.
"Apa?" Anisa terbelalak kaget.
"Jangan pandangi aku seperti itu. Kau pikir Bibi dapat uang darimana sebanyak itu? Jatuh dari langit? Dapat nuyul? Karna yang ada hanya rumah ini, kenapa tidak?" jawabnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Antara gemas dan kesal Anisa menarik nafas panjang.
Anisa merasa heran pada wanita itu. Ia berkeras menanggung sendiri biaya pengobatan keponakannya. Padahal dia tidak pegang uang. Dan dengan enteng nya dia bilang tidak ada jalan lain?
"Aku tidak mau berdebat, Bi. Sekarang kita sudah tidak punya rumah. Mau tidak mau aku harus membawa suamiku ke rumah Abah." mata Anisa melirik ke Yahya.
Pria itu terlihat pasrah. hatinya menolak untuk satu rumah dengan Aby. Ia takut akan merasakan perih karena setiap hari melihat kebersamaan keluarga kecil itu.
Tapi kalau tidak menurut, ia akan tinggal dimana? Rumah satu satunya yang iya miliki sudah di jual oleh Bibinya.
"Bapak-bapak... Boleh kami minta waktu mengosongkan rumah ini sampai besok? Saya janji akan menepati janji."
Pihak pembeli setuju dan percaya pada Anisa.
"Kau mau, kan kak?" bujuknya.
Yahya mengangguk pasrah.
Saat Anisa sudah mendorong Yahya ke taksi.
Tiba-tiba Rosma menangis.
"Yahya, jangan tinggalkan Bibi. Bibi akan tinggal dimana?"
Yahya menoleh, hatinya tersentuh juga.
Bagaimanapun, Rosma adalah keluarga satu satunya yang masih ada.
"Nis, aku mohon maafkan Bibi. ijinnkan dia ikut kita." Yahya memohon.
"Aku juga tidak tega, kak. kalau dia mau, boleh ikut dengan kita." jawab Anisa.
Dengan gembira Yahya memanggilnya.
"Bi, kau boleh ikut bersama kami..,!" teriak Yahya dari dalam taksi.
Rosma masih berdiam diri. Ia berharap Anisa sendiri yang menawarinya.
"Kau boleh ikut kok, Bi. Tapi harus maklum, disana ada Mas Aby juga." sindir Anita.
"Sebenarnya Bibi ogah mau ikut kalian, tapi karena terpaksa saja." sungutnya sambil naik kedalam taksi.
"Bi Rosma. Bi Rosma... Gengsi kok di gedein.." ucap Anisa menyembunyikan senyumnya.