
Anisa selalu berusaha mendekatkan Aby dengan Jelita dengan berbagai cara. namun Aby masih belum bisa juga.
Anisa sadar, Aby belum bisa membuka hati sepenuhnya pada Jelita karena dirinya.
"Mas Aby.. Bukannya aku mengusir mu, dari kamar kita, tapi .. Bagaimanapun, Jelita adalah istrimu juga. Dia berhak atas dirimu." kata Anisa suatu malam.
Aby termenung sejenak.
Ia menarik Anisa dalam rangkulannya.
"Mas Aby sadar itu, tapi Mas minta waktu." ucapnya lirih.
"Aku tidak mau jadi penghalang kedekatan kalian, karna ini bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis saja, tapi ini menyangkut hak dan kewajiban. Aku tidak bisa menutup mata dengan semua ini, karna itu aku mengingatkan mu."
Aby menatap mata Anisa dalam-dalam.
Ada keteduhan yang dia dapatkan disana.
"Hatimu sangat luas Anisa, dan terbuat dari apa? Tidak sakit kah hati mu melihatku dengan wanita lain? Atau mungkinkah sudah tidak ada cinta lagi untuk ku sehingga begitu tenangnya kau berkata agar suami mu melewatkan malam dengan wanita lain?" ucap Aby dalam hati.
"Kenapa, Mas?"
Aby mendesah panjang.
"Aku takut kehilangan cintamu." jawab Aby pelan.
"Itu salah. Aku tetap mencintaimu, tapi keadaan sudah berbeda, sehingga cara mencintai pun berbeda. Aku hanya belajar untuk ikhlas terhadap realita, Mas."
Perbincangan mereka tak sengaja terdengar oleh Jelita yang kebetulan sedang lewat di depan kamar Anisa.
Jelita berlari ke kamarnya. ia bersender di belakang pintu.
Dadanya naik turun menahan tangisnya.
"Begitu berat kah Mas Aby membuka hatinya untuk ku? Atau mungkin memang aku tidak pantas berada di tengah-tengah mereka." Jelita mengusap air matanya.
"Lita, kau di dalam? Tolong buka pintunya sebentar!" Anisa yang tau kalau Jelita sempat mendengar obrolannya, langsung menghampirinya.
Jelita membenarkan hijabnya lalu membuka pintu kamarnya.
"Iya, Mbak?"
Ayo kita sholat isya berjamaah, Mas Aby sudah menunggu."
Jelita mengangguk tanpa kata.
"Tunggu dulu, kau menangis?" selidik Anisa.
"Tidak, Mbak. Aku hanya kelilipan." elak Jelita beralasan.
"Saya tau, semua ini berat untuk mu, untuk ku dan Mas Aby juga. Tapi aku mohon bersabarlah. Aku janji akan memberikan hak mu sebagai istrinya Mas Aby sebagaimana mestinya." Anisa menatap mata Jelita yang basah.
"Bersabarlah.. Hanya itu yang bisa aku katakan."
"Mbak, mungkin aku yang tidak pantas berada di antara kalian. Ini salah!"
"Sstt.. Jangan pernah berkata begitu. kau sudah menganggap aku sebagai kakakmu, kan?" Jelita mengangguk.
"Percayalah pada kakakmu!" Anisa menggenggam tangan Jelita.
"Ayo kita sholat bareng."
Jelita tersenyum dan mereka beriringan menuju ke tempat di mana Aby sudah menunggunya.
"Mas, sudah beberapa Minggu ini aku tidak menjenguk Abah. Aku minta ijin untuk menginap barang dua malam, aku yakin Abah pasti senang melihat Al." kata Anisa pagi itu saat mereka sarapan bareng.
Aby terdiam, matanya mengisyaratkan tidak setuju. tapi akhirnya ia mengangguk.
"Obat-obatan mu sudah aku kasi tau Jelita, dia sudah tau yang mana dan kapan harus di konsumsi." mata Anisa menyambar Jelita.
Jelita mengangguk sopan.
"Tapi kenapa harus menginap? Dari pagi sampai sore, kan juga bisa." akhirnya Aby bersuara juga.
"Bisa, sih. Tapi nanggung mau pulang." jawab Anisa.
"Mas Aby jangan khawatir, ada Jelita yang akan mengurus semuanya selama aku tidak ada."
Aby tau maksud dan tujuan Anisa, ia sengaja memberinya waktu berduaan dengan Jelita agar dirinya bisa melaksanakan tugas sebagai suami seutuhnya.
"Dek Zahra kita bawa saja, Bunda..!" celetuk Al tiba-tiba.
"Tidak, tidak. Nanti bunda kerepotan disana." tentang Aby cepat.
"Benar kata, Al. Zahra aku bawa, ya! Disana banyak orang yang akan membantu menjaganya itu pun kalau kalian percaya pada ku. Bagaimana Lita?"
 Sebenarnya Jelita masih tercengang. Tapi ia tidak mau membuat Anisa tersinggung.
"Terserah Mas Aby saja, Mbak.kalu aku tidak apa-apa, aku percaya penuh pada Mbak Anisa."
Sabtu sore itu Anisa berangkat ketempat Abahnya dengan membawa Al dan Zahra ikut serta.
"Bismillah.. Semoga engkau meridhoi niat ku ya Allah." bisik Anisa sebelum taksi yang membawa mereka bergerak perlahan.
Sebutir air bening tiba-tiba muncul membuat pandangannya sedikit kabur. Bagaimana tidak perih meninggalkan suami dengan wanita lain? itupun dengan tujuan agar mereka bisa bersama.
Anisa berusaha tersenyum.
"Tenang Nis, ini adalah pilihanmu. Mudah-mudahan ini akan menjadi ladang amal mu untuk bisa meraih Jannah." Anisa menghibur dirinya sendiri.
Ia memandangi bayi Zahra yang tertidur nyenyak dalam pangkuannya
"Bayi yang manis.. Bayi yang tidak berdosa. Ia tidak pantas menerima kebencian dari siapapun." pikir Anisa lagi.
Malam harinya, tak urung Anisa merasa gelisah juga. Ia terus membayangkan bagaimana Aby dan Jelita yang hanya berdua di rumah.
Sedangkan yang terjadi sangat jauh dari dugaan Anisa.
Aby tetap berada di kamar Anisa. Tak sedikitpun ua keluar kamar itu. semua aktivitas seperti sholat dan memeriksa pekerjaannya ia lakukan di kamar itu.
Aby memang sudah pulih, namun pihak perusahaan memberinya cuti lebih panjang dari yang seharusnya. Karna itu ia melakukan sebagian pekerjaannya dari rumah.
Jelita merasa gelisah karna Aby tidak pernah,rumah keluar kamar.
Ia menyiapkan makan malam seperti biasa Anisa lakukan. menunya pun sama.
"Apa aku panggil saja, ya?"
"Ah, tidak. aku malu, apa yang dia pikirkan nantinya..." ia bergulat dengan pikirannya sendiri.
Waktu sholat isya sudah tiba, Aby belum juga keluar dari kamar.
Jelita memberanikan diri mengetuk pintu.
"Mas, makan malam sudah siap, obatnya juga harus di minum.' suara Jelita begitu pelan dan sopan.
"Iya, aku segera keluar." jawaban Aby membuat Jelita sedikit tenang.
Ia menunggu dengan sabar. Tapi Aby tak kunjung muncul juga.
Karna bingung dan kesal ia menelpon ibunya.
Jelita menceritakan apa yang terjadi.
Jelita tampak ragu saat Bu Sari memberinya ide.
Namun karna tidak ada jalan lain akhirnya dia mencoba jurus dari ibunya.
Jelita tidak lagi meminta Aby keluar. tapi ia sengaja menjatuhkan piring kelantai hingga suaranya terdengar ke kamar Aby.
"Apa yang di lakukan Jelita? " semula Aby merasa acuh, namun sekian lama tidak alda suara susulan dpa pun. Ia jadi penasaran.
"Aby membuka pintu kamarnya. Ia melihat makanan serta obatnya tertata rapi di meja makan. Tapi ada satu piring yang berserakan di lantai. Aby terkesiap. "Di mana dia?"
Aby mulai mencari di kamarnya.
Kamar Jelita sedikit terbuka, Aby membukanya perlahan. Ia melihat Jelita tengah mengemas beberapa barangnya sambil menangis.
"Jelita, kau mau kemana?"
"Makan malam sudah aku siapkan,Mas. Obat mu juga. Aku mau mau pergi. " ucapnya sambil terus mengemas.
"Kenapa kau harus pergi, Anisa sedang tidak ada dirumah. Apa yang harus aku katakan nanti?"
"Mas Aby tidak perlu bilang apa-apa. lebih baik aku pergi, bukannya Mas Aby tidak mau melihatku disini?"
"Aku juga tau diri, Mas. Aku bukanlah siapa-siapa bagimu, aku hanya istri figuran yang terpaksa kau nikahi karena belas kasihan saja."
Jelita menyeret kopernya.
Aby menangkap tangannya.
"Jangan pergi dari sini, Allah akan melaknat ku karna membiarkan kau pergi dalam keadaan seperti ini."
'Lalu siapa aku hingga masih pantas tinggal disini? Siapa Mas?"
Aby terdiam. Ia mengusap wajahnya yang berkeringat.
"kau istriku!" jawab Aby pelan.
"Istri di atas kertas? itu maksud Mas Aby? Aku tau, kau tidak pernah bisa membuka hatimu untukku. Lalu buat apa aku bertahan.
Lepaskan aku, Mas! Aku sudah cukup berterima kasih karena kau sudah mengangkat kehidupanku. Memberiku kepercayaan diri lagi. Tapi aku tidak mau menjadi bebanmu selamanya. Aku mau mandiri bersama anak ku"
Aby melepas koper dari tangan Jelita.
"Kau tidak boleh pergi dari sini. Aku yang salah, aku minta maaf...! Aku tidak memberimu hak sebagaimana mestinya.
Aby meraih tubuh Jelita dan merangkulnya.
"Kita akan mulai dari awal, kita bertiga sama-sama belajar untuk saling menerima kekurangan fan kelebihan kita. Apa kau bersedia hidup denganku yang tidak sendiri lagi? Mungkin aku tidak bisa memberimu seutuhnya, tapi aku akan berusaha seadil adilnya.
Jelita terisak di dada Aby.
Ia mengangguk pelan.
"Aku bersedia, Mas. Karna aku mencintaimu. Entahlah sejak kapan rasa sayang itu muncul. Yang jelas aku ingin melihat Mas Aby bahagia. Sekalipun kebahagiaanmu mengharuskan aku pergi, aku rela."
Aby semakin mengeratkan pelukannya. antara sedih terharu dan tanggung jawab, membuat Aby larut dalam keadaan.
Di tempat lain, Anisa tidak bisa memejamkan matanya. Ia gelisah membayangkan apa yang terjadi antara Aby dan Jelita.
Pukul lima pagi, Anisa terbangun oleh suara tangisan Zahra.
"Kenapa sayang.. Kau pup ya?"
Anisa memeriksanya ternyata tidak, apa yang membuat Zahra menangis kencang.
"Mungkin rindu Tante Lita, Bund." kata Al mengingatkan.
"Bisa jadi dia rindu ibunya. Ikatan batin seorang ibu dan anaknya, kan sangat kuat." gumam Anisa.
Ia berinisiatif untuk video call dengan Jelita.
"Sebentar, ya? Bunda telponin ibumu sebentar..."
Jelita mengangkat panggilannya.
Namun ada sesuatu yang membuat Anisa salah fokus.
rambut Jelita masih terbungkus handuk.
Di belakangnya terlihat sepasang kaki yang sedang telentang di ranjang.
"Iya, Mbak. Zahra kenapa?" tanya Jelita, tapi kemudian ia sadar apa yang terjadi. Ia melihat Anisa menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Jelita menoleh kebelakang ya. Ia baru sadar bahwa Aby tertidur pulas di kamarnya setelah semalam melewatkan malam panjang bersamanya.
"Aku mohon maaf, Mbak. Aku tidak bermaksud..." ucap Jelita gugup.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menelpon mu karna Zahra menangis terus. Aku pikir setelah melihat mu dia akan diam." suara Anisa bergetar. Ia hampir tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
"Iya sudah, sampai jumpa nanti dirumah. Assalamualaikum.." Anisa langsung mematikan panggilannya itu.
Ponselnya jatuh ke kasur. Tubuhnya terasa ringan melayang seperti kapas.
"Kenapa aku seperti ini? Bukankah aku yang merencanakan semua ini?"
Air matanya luruh namu tidak ada Isak sedikitpun.
"Aku kuat! Aku kuat!" bisiknya menenangkan diri.