KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
Bab 46


Aby masih memikirkan cerita anaknya.


ia berusaha mengingat urutan peristiwa dalam hidupnya.


Namu tiap kali berusaha mengingat, kepalanya seperti di tusuk ratusan jarum, sangat menyakitkan.


"Kenap aku tidak bisa mengingat apapun selama dua tahun ini?" ucapnya sedih.


Tanpa sadar ia berteriak karna kesakitan saat memaksakan diri untuk mengingatnya.


"Kenapa, Mas?" Anisa datang tergopoh saat mendengarnya tengah berteriak.


"Aku berusaha mengingat sesuatu, tapi kepalaku sakit sekali."


"Kata dokter jangan di paksakan, Mas. Pelan-pelan saja..." hibur Anisa.


Saat itu Imran datang keruangan itu.


"Eh, ada Anisa juga, kelihatannya kondisi Aby semakin membaik." ucapnya berbasa basi.


"Iya, Mas. Alhamdulillah.." jawab Anisa.


'"Aku sangat berterima kasih padamu, kau memang sahabat sejati ku, tetap ada dalam suka, maupun duka ku." ucap Aby memandang Imran.


"Aku senang, kalau mulai berpuisi, berarti kau hampir pulih..." gurau Imran.


Mereka tertawa bersama.


"Nis, Aku mau ke kamar kecil.." pinta Aby. Memang selang alat untuk buang air kecilnya sudah di lepas oleh perawat.


Anisa dan Imran saling berpandangan.


Aby tidak menyadari itu semua. Ia meraih tangan Anisa untuk membatunya berdiri.


"By, biar sama aku saja...!" Imran menawarkan diri, ia tau posisi Anisa saat itu.


Aby tertegun, ia merasa aneh, kenapa sepertinya Anisa segan mengantar ya kekamar mandi? malu kah iya? tapi kita suami-suami, hal yang sangat lebih dari biru sudah lumrah kami lakukan..


Walau merasa heran, Aby tersenyum dan mengangguk.


"Tentu saja, Anisa tidak kuat menopang tubuhmu.." ledek Imran untuk menghilangkan ketegangan.


"Sampai kapan aku harus menyembunyikan kebenaran ini dari Mas Aby..?" keluh Anisa.


Sore harinya, Yahya datang lagi menjemput Anisa.


"Mas Imran, tolong jagain Mas Aby, ya? aku pulang dulu, mungkin besok sore baru bisa kesini lagi." Imran mengangguk.


"Aku ingin segera pulang, buat tidak merepotkan kalian..." ucap Aby.


"Berdoa saja, semoga dokter cepat memberi mu ijin pulang." timpal Imran.


Ada rasa cemas di hati Anisa, bagaimana kalau Aby minta pulang kerumah mereka yang dulu? Maka semuanya akan terbongkar.


"Ya, sudah kalau begitu, aku pulang dulu.." Anisabsudah hendak berbalik saat Aby memanggilnya.


"Nis, kenapa kau selalu melupakan sesuatu?"


Anisa berbalik dan merasa tidak enak.


Ia harus mencium tangan Aby, padahal Yahya sedang mengawasi mereka dari luar.


Aby mengecup keningnya seperti kebiasaanya dulu. Ada sesak di dadanya saat melepas Anisa pulang sore itu.


"Kau baik-baik saja?" suara Imran terdengar khawatir."


"Sekarang kasi tau aku, dari mana kau dapatkan biaya perawatan ku selama disini?"


Imran tercekat. Kenapa Aby terlihat aneh? Apakah sebenarnya dia sudah mengingat sesuatu?


"By, kau?" Aby mengangguk


"Jadi, aku minta bantuan pihak kantor untuk biaya perawatan mu, walaupun tidak semua, tujuh persen di tanggung oleh kantor. Sisanya swadaya dari teman-teman kita.


Aku tidak menyangka kau sudah mengingat


Semuanya.


"Aku baru mengingatnya tadi siang. Memang dari awal aku sudah merasakan hal ganjil. Anisa yang selalu menjaga jarak denganku semakin memaksaku untuk berusaha mengembalikan ingatanku."


Imran masih terdiam mendengarkan.


"Ya, aku sudah mengingat semuanya. Mengingat bagaiman penghianat ku dengan menikahi wanita ****** itu, tentang Aku yang sudah menceraikan Anisa dan membuatnya menikah dengan ustadz Yahya...."


"Lalu kenapa kau bersikap seolah belum mengingatnya?" Imran tak mengerti.


"Aku sengaja agar Anisa tidak mengalami dilema. aku sangat kasihan padanya, aku yang telah menciptakan keadaan ini. Aku pula yang harus mengakhiri."


"Apa rencanamu selanjutnya?"


Aby membisik kan sesuatu di telinga Imran.


"Kau mau berjanji?"


"Tidak, By. Aku tidak setuju." jawab Imran.


"Tolong lah aku sekali lagi...."


Akhirnya Imran mengangguk terpaksa.


***


Di tempat lain, Anisa baru turun dari boncengan. Rosma menghadangnya di depan pintu. Rasa sakit hati yang di pendamnya dari rumah sakit masih ia rasakan.


"Syukurlah masih ingat pulang.." tegurnya dengan wajah sinis.


"Ya, aku pulang lah, Bi. Disini rumahku." jawab Anisa masih berusaha menahan emosinya.


Yahya menengahi.


"Kalau ingat disini rumahmu, harusnya ingat juga dong siapa suami mu.."


Anisa meninggalkan Rosma dengan hati kesal.


Malam harinya, Anisa menerima telpon dari Imran bahwa Aby menghilang dari rumah sakit.


"Kok bisa?" tanya Anisa tak mengerti.


"Dia meninggalkan sebuah surat, Nus. Dan sepertinya itu untukmu."


Anisa tidak bisa menunggu sampai esok harinya.


Tanpa menjelaskan apa pun ia pergi sendiri kerumah sakit.


Yahya ikut bingung oleh sikap Anisa. tak terkecuali Rosma.


Ia langsung naik di belakang Yahya.


"Bibi tidak usah ikut!"


"Bibi ingin tau apa yang sebenarnya terjadi." ucap ya berkeras.


"Tapi aku tidak mau tahu, Bibi tidak boleh menambah masalah di sana."


"Iya, iya... Kayak Bibi mu ini biang kerok saja " sungut Rosma.


Anisa langsung menuju ruangan Aby, beberapa perawat sedang berkumpul membahas yang sudah terjadi.


"Nisa, ini surat ya..'


Anisa merebut kertas itu dari tangan Imran.


Baru setengah, ia sudah tidak sanggup membacanya.


"Kenapa dia membuat masalah semakin rumit saja..." ucapnya gelisah.


"Apa isinya?"


Anisa tidak menjawab. ia malah memberikan kertas itu pada Imran.


"Kemana dia dalam keadaan sakit seperti itu? Kondisi ginjalnya belum pulih.." keluh Imran.


Di tengah perjalanan. Rosma sempat melihat sosok tertatih-tatih trotoar.


"Itu seperti Aby, mau kemana dia?"


Rosma sengaja tidak memberi tau Yahya.


Mereka tiba di rumah sakit.


Keadaan yang tegang membuat Yahya menduga duga.


Di lihatnya Anisa sedang tertunduk sambil memegangi kepalanya.


"Aby menghilang.." ucap Imran padanya.


Yahya tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.


Tapi diam-diam Rosma keluar dan mencari taksi.


Ia bermaksud mengejar sosok pria yang di duganya adalah Aby. Tapi sialnya Anisa Yahya dan Imran pun ikut mencari kearah yang sama.


Di sebuah lampu merah mereka turun untuk berpencar.


Anisa terus menangis membayangkan hal buruk akan terjadi pada Aby.


Di tempat agak remang Anisa melihat sosok Aby sedang berjalan sambil memegangi pinggangnya.


Anisa berusaha mendekatinya, tapi dari arah yang berlawanan datang sebuah mobil yang melaju begitu kencang. Mobil itu jelas ingin menabrak Aby.


Detik kemudian...


Anisa memejamkan matanya. Ia sudah bisa membayangkan yang terjadi pada Aby.


Ia membuka mata saat mendengar suara mengerang kesakitan.


Ia tak percaya dengan apa yang di saksikan nya.


Aby dan Yahya terkapar di tengah jalan.


Orang-orang mulai ribut menolongnya. Anisa tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Ia terpaku. Aby dan Yahya, dua pria yang berkaitan dengan hidupnya di bawa ambulance kerumah sakit.


pada akhirnya ia menangis meraung sejadi-jadinya. Kenapa musibah beruntun datang kepadanya.


"Apa dosaku di masa lalu hingga harus menerima karma seberat ini." ucapnya di sela tangisnya.


Imran mengantar kedua orang itu keruang UGD.


"Yang tabah, ya Nisa..." u


Ia memegang bahu Anisa.


Saat Dokter keluar, Anisa langsung menyambutnya.


"Bagaimana keadaan mereka, Dok?"


"Mohon maaf sekali, keadaan mereka cukup parah. Yang satu patah tulang leher karna benturan di aspal. Dan yang satunya, mohon maaf harus menyampaikan berita ini. Sebelah kaki kanannya harus di amputasi."


Anisa jatuh tak tak sadarkan diri. Untung Imran menangkap tubuhnya.


Jelas Anisa tidak kuat menerima berita itu.