KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 13


Sudah seminggu Aby tidak pulang kerumah.


wajahnya terlihat lelah karena beban yang di tanggung nya, juga karna tidurnya tidak teratur.


Imran sangat prihatin melihat keadaannya.


"Apa Anisa sudah tidak bisa merubah keputusannya?"


"Aku tidak pantas menanyakan itu, aku sangat paham dengan kondisinya sekarang ini" jawab Aby pelan.


"Kalau begitu, tinggalkan Jelita. hanya itu jalan itu satu-satunya untuk mengembalikan keutuhan keluargamu." usul Imran.


Aby menggeleng.


"Aku akan mengulangi kesalahan yang sama dengan menyakiti satu lagi hati seorang wanita."


Imran tidak memahami jalan pikiran sahabatnya itu. ia sangat menderita, tapi dia juga tidak mau melepas sumber penderitaannya.


"Aku sudah berjanji dengan nama Allah, bahwa aku akan menjaga ikatan pernikahan.


Baik dengan Anisa maupun Jelita. Itu tidak main-main, Im. Apa yang ku alami sekarang ini adalah konsekuensi dari perbuatan ku sendiri." jelas Aby.


"Terus apa yang akan kau dapatkan? Kau kehilangan Anisa, tapi kau tidak menerima Jelita seutuhnya?"


Aby terdiam, ia tidak bisa menjelaskan pada Imran bahwa ia menikahi Jelita bukan karna nafsunya sebagai seorang pria. Ia hanya ingin memberi keluarga yang utuh pada Zahra, Zahra harus tumbuh dengan kasih sayang dengan orang tua yang lengkap. Ia tidak mau bayi malang itu seperti dirinya yang harus tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Aby memutuskan untuk melupakan ayahnya saat menyaksikan bagaimana ibunya selalu di siksa setiap hari oleh ayahnya.


karenanya ia tidak ingin melihat Aby Aby yang lain lagi.


"Kalau begitu, kau tinggal menunggu keajaiban agar Anisa memaafkan mu."


"Itulah harapanku, aku tidak ingin putraku tumbuh tanpa sosok ayah di sampingnya. Tapi untuk minta Anisa memaafkan ku, rasanya sangat egois."


"Kalau begitu, temui mertuamu, siapa tau dia jalan keluar dari masalahmu ini." usul Imran yang di balas anggukan oleh Aby.


Di rumahnya, Anisa sedang bingung. Al demam tinggi dan selalu memanggil-manggil ayahnya.


"Apakah aku harus mengabari Mas Aby?" batin Anisa bergejolak.


Namun akhirnya ia menyadari Al merindukan ayahnya. Bagaimanapun sakit hatinya setiap mengingat Aby, Al tetap lah putranya. Ia merasa tidak berhak menghalangi hubungan ayah dan anak itu.


(Mas, Al demam dan selalu memanggilmu)


Hanya itu isi pesan Anisa.


Aby yang menerima pesan itu langsung meluncur ketempat Anisa.


Dengan wajah cemas dan rindu yang memenuhi dadanya, Aby tak sabar bertemu Al.


"Assalamualaikum.." ucapnya berusaha menata debaran jantungnya.


Anisa membukakan pintu.


"WAalaikum salam." jawab Anisa dingin.


"Al bagaimana? Mas boleh masuk melihatnya?"


Anisa mengangguk dan membiarkan Aby ke kamar Al.


Aby memeluk Al sambil memejamkan mata.


"Ayah, kenapa lama sekali datangnya?" ucap Al dengan mata satunya.


"Maafkan, Ayah.. Sekarang ayah sudah disini, kita bisa main sepuasnya. Aby kembali memeluk Al dengan hati perih.


Anisa yang diam-diam menyaksikan adegan itu berlari ke kamarnya dan menangis tersedu.


Ia masih terbayang wajah Al yang lesu dengan bibir keringnya.


"Bunda, kenapa ayah tidak pulang-pulang juga? Memangnya ayah tugasnya jauh, ya?"


Hati ibu mana yang tak teriris mendapat pertanyaan itu dari buah hatinya.


Anisa membiarkan Ayah dan anak itu bermain dan bercanda sepuasnya.


"Al sudah minum obat, datang?"


"Al sudah sembuh, yah." anak itu meraba keningnya sendiri.


"Bunda, bunda.. Al sudah tidak panas lagi badannya." teriaknya dengan riang.


Sangat mengherankan, Al yang demam tinggi bisa turun panasnya secara drastis.


mungkin karna kehadiran ayahnya berpengaruh juga.


Aby menatap Anisa. Seolah minta ijin untuk lebih lama disana.


Anisa mendesah panjang.


"Tinggallah sama kau mau."


Hari sudah hampir sore saat Al tertidur karna kelelahan.


Aby berjalan keluar perlahan.


Ia melihat Anisa duduk diam di kursi.


"Mas pergi dulu.. Al sudah tertidur." ucap Aby canggung.


Anisa hanya terdiam mematung.


Sebenarnya ia sangat rindu dengan tawa riang istrinya itu, rindu dengan omelan Omelan manjanya.


Aby kembali di dera rasa bersalah.


Ia mengucapkan salam dan melangkah keluar.


"Kau boleh menemui Al kapan saja, tapi harus sepengetahuanku."


Aby menghentikan langkahnya dan menghadap Anisa.


"Terimakasih, Nisa.." ucapnya bahagia.


Anisa tidak menoleh sedikitpun. baru setelah Abi melewati pintu. Ia memperhatikan punggung pria yang sudah delapan tahun bersamanya itu. semua duka dan suka cita pernah mereka lewati bersama.


Ada iba di hati Anisa saat melihat punggung Aby.


"Kau terlihat kurus dan tidak terurus, Mas...!" desahnya sambil mendesah panjang.


Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, Aby selalu mengunjungi Al. baik di sekolah maupun di rumah. Tentu saja dengan ijin Anisa.


Aby juga berkunjung ke tempat mertuanya. kyai Romli sama sekali tidak memojok kan Aby.


Bahkan ia melarang meninggalkan Jelita seperti saran Imran padanya.


"Abah yakin, hati Anisa akan mencair. Dia wanita yang kuat dan berperasaan halus. Kau sabar saja menunggu saat itu." nasehat mertuanya membuat harapan Aby muncul lagi.


Seiring berjalannya waktu. Anisa merasa lebih tenang. Ia lebih bisa berpikir jernih.


Apalagi saat melihat keceriaan putranya bila bertemu ayahnya.


"Sakit memang, tapi demi Al, sepertinya aku harus rela berkorban perasaan..." ucapnya sendiri. saat itu ia sedang menemani Al bermain di sebuah taman yang kebetulan tempatnya bersebelahan dengan rumah sakit.


Matanya tak sengaja menangkap sosok Aby yang sedang menggendong seorang bayi.


Bayi itu terus menangis, Aby dan Jelita tidak bisa mendiamkannya.


Mereka terlihat putus asa.


Disaat sama Aby pun melihat kearahnya.


Aby terlihat salah tingkah karena keberadaan Anisa disana.


Al yang melihat Aby langsung menghambur kearahnya, Anisa tidak sempat melarangnya.


"Ayah...!"


"Al main disini?" Aby meraih Al dan menggendongnya.


Sedangkan bayi Zahra ia serahkan pada Jelita.


"Siapa dedek bayi itu, yah? Dan siapa Tante itu?" per,tanyakan polos Al membuat Aby, Anisa dan Jelita terdiam.


Zahra masih terus menangis dalam pangkuan Jelita.


Tanpa berkata apapun, Anisa mengambil bayi itu dan mendiamkannya.


Sangat aneh, dalam dekapan Anisa, bayi itu terdiam dan tidur pulas.


Anisa memberikannya lagi pada Jelita,


"Terimakasih, mbak Anisa. Aku, aku..."


"Kau memberi ku terima kasih, sedangkan kau mengambil begitu banyak dari kami, simpan saja terima kasih itu. Siapa tau berguna suatu saat nanti.!" potong Anisa cepat. Aby dan Jelita terdiam.


"Ayo, Al kita pulang, sudah sore..!"


"Tapi bunda..." Al menatap sang ayah.


"Al pulang dulu, besok kita main lagi. Ayah akan bawakan alat menggambar yang bagus buat Al." janji Aby sambil berjongkok di depan anaknya.


Bocah itu menurut.


Tapi setelah beberapa langkah, ia menoleh lagi kearah ayahnya.


"Kenapa Ayah tidak pulang saja bersama kami?" tanyanya polos.


Aby memandang wajah Anisa yang terlihat kaku.


"Ada sesuatu hal yang kadang Al belum siap untuk mengetahuinya, karna itu Al harus menunggu saat itu, nantinya juga akan mengerti." Anisa membujuk putranya.


Al menuruti perintah Bundanya.


Aby memandangi kedua orang yang sangat di sayanginya dalam hidupnya itu.


"Mas, aku minta maaf atas keadaan yang sudah kau hadapi saat ini.." suara Jelita mengagetkannya.


"Sudahlah, ayo aku antar pulang."


Sepanjang perjalanan, Aby hanya terdiam


Jelita yang duduk di sampingnya tidak berani menegurnya.


Sampai di rumah Jelita, Aby mohon diri langsung kekantor.


"Mas, sebaiknya malam ini kau tidur disini saja. Aku paham keadaanya. Aku janji tidak akan mengganggumu atau berbuat yang tidak kau sukai." mata Jelita terlihat memelas.


Aby tidak tega menolaknya. Akhirnya untuk pertama kali, Aby menginap di tempat Jelita.


💞Dukungannya