KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 37


"Bunda, ini ada surat dari sekolah." Al menyodorkan amplop yang berisi surat permohonan ijin untuk pergi ke kebun binatang.


"Boleh, ya bund?"


"Boleh.. Tapi jangan nakal, ya. Baru pertama kali ini Al pergi tanpa Bunda atau ayah."


Tiba-tiba wajah Al berubah mendung.


Anisa mengerti, anak itu pasti teringat ayahnya yang begitu lama menghilang dari hidupnya.


Anisa juga merasakan hal yang sama.


Apapun kegiatan Al di sekolahnya, salah satu dari mereka harus ikut untuk menemaninya.


"Tenang saja, kalau Al, mau, ayah bisa temani." Yahya tiba-tiba saja muncul di ruang makan itu.


"Tidak usah, yah. Wali murid yang lain juga tidak ada yang ikut."


"Tapi kenapa wajah Al murung begitu?" Yahya masih mencoba menghibur anak sambungnya itu.


"Al, teringat ayah Aby...!" ucapnya lirih.


Anisa menghentikan gerakannya. Ia memperhatikan wajah Al yang terlihat begitu sedih.


Ia merangkul bahu putranya.


Mencoba memberi penjelasan, namun hatinya sendiri bingung minta penjelasan atas apa yang sudah terjadi.


 "Kita berdoa saja, dimanapun ayah Aby berada semoga baik-baik saja. Dan cepat pulang menemui Al." hibur Yahya.


Ada rasa cemas dalam hatinya, apa tanggapan Al dan Anisa terhadapnya kalau sampai semua terungkap.


Yahya mengusap keringat yang muncul di dahinya.


"Ya, sudah ayah tunggu di depan, ya!"


Yahya berlalu kedepan.


Tapi di depan pintu tangannya di cekal seseorang.


"Bibi...?"


"Ada yang kau sembunyikan dari Bibi,? Dari mereka?" Yahya menarik nafas. Ia jengah melihat wajah Bibinya yang seperti menginterogasinya.


"Tidak ada, Bi" Yahya menghempas tangan Rosma pelan lalu beranjak kedepan.


"Semua kacau setelah kedatangan Bibi... Aku terpaksa harus melanggar janji ku untuk tidak menyentuh Anisa sebelum ia benar-benar siap. Dan aku sangat yakin kalau saat ini dia belum siap." keluhnya dalam hati.


Sorenya, Anisa sedang berada di dapur bersama Rosma. Mereka sedang memasak untuk makan malam.


Saat melihat ikan yang sedang di gorengnya. Tiba-tiba perutnya mual. Anisa berpikir mungkin ia sedang masuk angin saja. Ia tidak menghiraukan keadaan itu.


tapi semakin kesini ke k semakin menjadi mualnya.


Ia berlari ke kamar kecil.


Disana dia mengeluarkan semua isi perutnya.


Hati Anisa terkesiap saat mengingat tamu bulanan ya belum datang juga.


"Jangan-jangan aku...? apa mungkin kejadian malam itu yang membuatku hamil?"


Anisa menutupi wajahnya. jika memang benar dirinya hamil, bukannya ia tidak suka. Tapi kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya?


Rosma terus memperhatikan gerak gerik Anisa.


"Kenapa Nis?"


"Tidak ada , Bi. Hanya masuk angin biasa." jawab Anisa.


Saat berangkat ke sekolah, ia sempatkan mampir ke apotik untuk membeli test pack.


Siang harinya, Ia merasakan kepalanya sedikit pusing. "Aku harus memastikan keadaanku, kalau boleh hamba meminta, tolong jangan sekarang ya Allah...." ucapnya lirih. sejujurnya dia belum siap kalau harus hamil sekarang, apalagi di saat ia belum bisa melupakan Aby seutuhnya.


Setelah mengucapkan salam, ia langsung pergi ke kamar.


Rosma terus mengawasinya.


"Yahya, istrimu kenapa? Pulang dari mengajar dia langsung mengunci diri di kamarnya."


Yahya yang baru pulang juga dari mengajar di pesantren ikut merasa heran.


"Perasaan tadi pagi baik-baik, saja Bi."


"Tanya sana!" perintah Rosma.


Yahya berlalu ke kamarnya.


Ia melihat Anisa sedang tidur dengan menyelimuti tubuhnya.


"Nisa, kau sakit?" tanya Yahya sambil memegang dahi Anisa.


"Tidak, kak...:aku hanya masuk angin biasa."


"Tapi badanmu panas.. Tunggu sebentar!"


Yahya berlalu kedapur, saat kembali di tangannya sudah ada lap dan air hangat.


"Biar aku kompres!"


Dengan cekatan ia mengompres dahi Anisa


Bukannya turun, suhu badan Anisa justru semakin tinggi.


Yahya sampai panik di buatnya.


Anisa mengigau dalam tidurnya.


"Mas..! Mas Aby, Kita akan punya anak lagi, kau senang? Ini adalah impian kita, Mas...


Jangan! Kau jangan pergi lagi! Kasihani aku dan Al, Mas .. Al, Al .." lalu tertidur lagi.


Ia menggenggam tangan Anisa.


"Maafkan aku, Nisa.. Tidak seharusnya aku hadir di tengah-tengah kalian." Yahya mencium tangannya sambil menangis.


"Tapi dimana Aby sekarang? Aku akan memperbaiki keadaan ini, aku akan membawamu ke Aby. Aku janji." Isak Yahya.


Tanpa di sadarinya, Rosma sedang mengawasinya sedari tadi.


"Bibi susah tau masalahnya." ucapnya mengagetkan Yahya.


Yahya mengajak Bi Rosma ke kamar yang lainnya, lalu menceritakan semuanya, tanpa ada yang di tutup tutupi.


"Apa yang Bibi dengar itu benar adanya, Bi. Aku bingung harus bagaimana? tolong beri aku jalan keluarnya, Bi." Yahya terpekur sambil menunduk.


"Kalau menurut Bibi, kau tidak salah. Siapa pun yang ada di posisimu pasti akan melakukan hal yang sama. Jadi, kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri"


Yahya terdiam, ia kembali duduk menunggu Anisa terbangun.


Setelah setengah jam dahinya di kompres. Panasnya mulai mereda.


Yahya begitu bahagia saat Anisa membuka matanya.


"Kak...!" Anisa meringis saat mencoba untuk bangkit. Ia merasa kepalanya begitu berat.


"Berbaring saja, kalau butuh sesuatu biar Kakak ambilkan!"


Anisa melirik baskom dan kain lap bekas kompres.


Betapa baiknya pria ini... Ia selalu siaga saat dirinya butuh bantuan. Ia merasa sangat berdosa kalau sampai membuat hati ya terluka.


Anisa memegang tangan Yahya yang hendak bangkit.


"Kak, terimakasih, ya!" ucap,nya dengan tatapan tulus.


Yahya mengangguk sambil tersenyum getir.


"Kakak akan kembali." Yahya terus saja keluar dari kamar itu dengan hati hancur. baru saja ia mengetahui kenyataan kalau Anisa sama sekali belum bisa melupakan Aby. Lalu apa guna dirinya selama ini? Batinnya terluka saat mengingat betapa tersiksanya hati Anisa yang terpaksa harus berpura-pura bahagia.


Malam itu, Yahya sengaja mengerjakan tugas di depan tv sampai larut malam.


Ia membiarkan Anisa beristirahat di kamarnya.


Anisa terbangun pagi sekali. Ia merasa heran karna Yahya tidak ada di sampingnya seperti biasa.


Lalu ia mengambil test pack yang di belinya kemarin.


Dengan hati berdebar ia menunggu hasilnya.


Ia sangat berharap kalau hasilnya negatif.


Anisa memejamkan mata sesaat sebelum melihat hasilnya.


"Bismillah..."


Jantungnya langsung berdetak kencang.


Hasilnya positif, ada dua garis merah tergambar jelas.


Anisa luruh ke lantai kamar mandi.


Air matanya tak terbendung lagi.


"Apakah aku harus bahagia dengan kehamilan ini?"


Ia terbayang wajah Aby yang begitu memelas dan menghakiminya.


"Maaf, Mas.. Ini bukan yang ku mau. tapi ini juga kehendaknya yang tidak bisa kita tolak.


Anak ini tidak berdosa. Ya.. aku akan menyambutnya dengan suka cita."


Anisa keluar dari kamar mandi. ia menyiapkan sarapan seperti biasanya.


Tapi ia bertanya-tanya saat melihat Yahya tertidur di depan tv.


"Kak.. Bangun! Sudah sholat subuh?"


Yahya menggeliat malas.


"Kau sudah bangun rupanya, maaf, aku ketiduran disini." ucapnya tersipu.


Yahya melihat mata Anisa yang sedikit sembab.


Sarapan pagi itu berjalan seperti biasa.


Hanya saja Anisa maupun Yahya lebih banyak terdiam.


Rosma yang menyadari hal itu merasa harus turun tangan. Ia mencari kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Anisa.


"Kak, bisa tolong anterin Al kesekolah? Kalau nunggu aku takutnya dia ketinggalan."


"Tentu saja. jagoan ayah ini tidak boleh ketinggalan apapun!" gurau Yahya.


Al sudah berangkat di antar Yahya. Saat itu di gunakan Rosma untuk berbicara pada Anisa.


"Anisa, Bibi sudah mendengar dari Yahya tentang semua yang kalian alami. Memang rumit. Tapi kalau boleh Bibi sarankan. Fokus lah pada hidupmu yang sekarang, jangan menoleh lagi kebelakang. Kau tidak akan pernah bisa maju kalau masih di hantui masa lalu. tolong.. Jaga perasaan Yahya. dia begitu tulus mencintaimu. Tulus menerima Al sebagai anaknya. Lalu apa yang kau berikan padanya? Kesedihan? Air mata? Itu tidak adil buatnya.'


Anisa hanya terdiam. Tapi air matanya mewakili perasaanya.


"Bibi, benar. Aku hanya bisa memberinya luka.


Aku janji, akan berusaha membuatnya tersenyum, Bi. Aku akan berusaha. Kali ini garis bisa!" Anisa menggenggam tangan Rosma.


"Kasi aku kesempatan sekali lagi. Bisa, kan?" ucapnya memohon.


Wanita itu mengangguk.


Anisa berangkat kesekolah dengan satu tekad. Ia akan berubah. ia juga akan memberi kabar kehamilannya dengan caranya sendiri.


Mas Aby? Biarlah ia menjadi penggalan masa lalu yang hanya bisa dikenang.