KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 68


(Assalamualaikum.. Nisa, Al mau pulang ke tempatmu, Aku: yang antar atau kau yang jemput? Aku merasa tidak enak pada Yahya dan Bu Rosma muncul lagi disana) pesan Aby masuk saat Anisa masih memandikan anaknya. Rosma yang kebetulan duduk dan melihat pesan itu iseng membukanya.


Timbul niat buruknya.


Lalu dia membalas pesan itu.


(Aku tidak enak badan, Mas. Kau saja yang antar Al kesini)


Rosma langsung menghapus pesan itu sebelum Anisa sempat membacanya.


Sampai selesai memandikan Khaliza, bahkan sampai anaknya tertidur sore itu, pesan atau telpon dari Aby belum juga masuk.


Saat dia mengambil ponsel hendak menelpon dan menanyakannya,


"Yaah baterai nya habis." ucapnya kesal.


"Mudahan Mas Aby mau mengantar Al pulang, besok, kan dia harus sekolah." ia bergumam sendiri.


Anisa terpaksa menunggu dan berharap Aby datang mengantar anaknya.


Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi mengundang kantuk nya. ia ketiduran sambil duduk di teras depan.


Sedangkan Rosma mendekati Yahya.


"Yahya, tolong belikan Bibi obat sakit gigi di apotik, ya..! Ini nama obat nya, dan jangan pulang sebelum kau dapatkan obat itu!"


"Memang Bibi sakit gigi, ya?" Yahya merasa Bibinya tidak seperti orang sakit gigi.


"Iya, lihat gusi Bibi bengkak." ia memasang wajah kesakitan sambil menunjuk gigi dan mulutnya


"Coba cari dulu di kotak obat, Bi. biasanya Anisa selalu menyediakan semua jenis obat obatan."


"Tidak ada, sudah Bibi cari, kok."


Dengan berat hati, Yahya pergi mencari obatnya.


Rosma sendiri pergi ke tetangganya yang terkenal suka bergosip.


Di tempat Aby. Dia merasa sedikit khawatir karna Anisa bilang kurang enak badan.


"Al, ayah saja yang antar pulang. Bunda mu kurang enak badan katanya."


"Ngga papa Yah. Ayo kita berangkat." ajak Al dengan bersemangat.


Di tengah perjalanan Aby berhenti sejenak.


"Kita beli martabak dulu ya, nanti bisa Al makan bareng-bareng di rumah."


Setelah itu, dengan gembira ayah dan anak itu menuju rumah Anisa.


"Kok sepi?" pikir Aby saat mendapati rumah yang sepi.


"Assalamualaikum...! " tidak ada yang menjawab salamnya.


"Itu Bunda, Yah...!" Al menunjuk Anisa yang ketiduran sambil duduk di kursi teras.


Karena sebelumnya dia sudah membaca pesan bahwa Anisa kurang sehat, membuat Aby merasa panik.


"Yahya dan bu Rosma dimana, ya? Kenapa Anisa di biarkan tidur di luar padahal dia sedang tidak enak badan.." gumam Aby prihatin.


"Ayo kita bangunkan Bunda biar pindah kedalam."


"Nisa, Nis...!" Aby memanggilnya pelan.


Mungkin karena capek membuat Anisa tidur begitu pulas walau sambil duduk dengan menopang wajahnya.


"Kok tidak bangun juga..." pikir Aby.


Dengan ragu dia meraba kening Anisa.


Tapi tiba-tiba teriakan Rosma mengagetkan Aby termasuk juga Anisa.


"Tunggu!" Rosma datang tergopoh sambil menuding wajah Aby.


  "Aku baru paham dengan niat licik mu, mengajak Al menginap di tempat mu hanya kedok. Itu hanya alasan agar kalian bisa bertemu . Iya, kan?"


Aby terkejut dan beristigfar.


"Ada apa, Mas?" Anisa yang baru terjaga merasa heran karena ribut-ribut yang terjadi.


Beberapa Ibu ibu tetangga sudah berkumpul juga di belakang Rosma.


"Tenang, ibu-ibu. Biar saya jelaskan yang sebenarnya terjadi." kata Aby berusaha meredam kegaduhan itu.


Di saat yang sama, Yahya muncul dengan wajah lelah, dia berkeliling mencari obat pesanan Rosma. Tentu saja tidak dia temukan karena memang nama obat yang di tulis Rosma hanya asal saja. Niatnya hanya ingin mengulur waktunya sampai Aby datang.


dan Yahya bisa melihat yang terjadi.


"Ada apa, Bi?" Yahya terlihat bingung.


"Kedua orang ini tertangkap basah. Disaat suami tidak ada, rumah pun dalam keadaan sepi. Dengan sengaja mereka berjanji untuk bertemu, dengan alasan anak. mereka tega membohongi kita."


"Bibi salah sangka..!" ucap Anisa berusaha meluruskan yang terjadi.


"Anisa, tidak ada gunanya kau membela diri.. Semua orang sudah ikut menyaksikan yang terjadi." potong Yahya cepat dengan wajah kecewa.


"Kita memang akan bercerai.. Tapi apa begitu tidak sabarnya kau kembali pada pak Aby hingga harus melakukan ini?" suara Yahya terdengar kecewa.


Anisa menyuruh Al masuk kedalam.


"Kau ikut-ikutan menuduhku, kak?" mata Anisa memerah karena kecewa pada Yahya


"Sudahlah.. Jangan bersandiwara.. Sudah ketangkap basah juga masih membela diri." teriak seorang ibu.


"Astagfirullah... Aku akan jelaskan semua..!" ucap Aby pada Yahya.


"Tidak ada gunanya, Pak. Apa yang bapak jelaskan tentunya sama saja dengan apa yang yang di katakan Anisa.


aku tidak menyangka, ya.. Pak Aby yang aku kenal selama ini adalah orang baik. Tapi tega sekali melakukan ini. Anisa masih sah istri saya. Kami juga sudah punya seorang anak.!"


Ucap Yahya dengan mata berkaca-kaca.


"Kau salah paham.." jawab Aby tapi Yahya terlanjur kecewa.


Anisa menggeleng tak percaya dengan ucapan Yahya.


"Benar sekali. kalau Aby merasa ada hak pada Anisa karena ada Al. Yahya juga punya hak yang lebih besar." ucap Rosma.


Aby mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudah, Mas. Kau pergi saja.. Tidak usah meladeni orang-orang ini." ucap Anisa pelan.


"Tidak bisa begitu.. Masalah ini harus di bawa ke pak lurah, biar kalian di adili." sergah Rosma sengaja memperuncing keadaan.


"Iya, betul banget. Biar tidak ada lagi kejadian seperti ini di kemudian hari." teriak warga yang lain.


"Lagian, Mba Anisa ini, kan putri seorang kyai kondang. kok bisa-bisanya melakukan hal yang memalukan seperti ini, apa tidak cukup dengan satu suami?" imbuh yang lainnya.


Hati Anisa begitu perih mendengar sindiran itu.


Dia tidak tahan lagi. Dengan sengaja ia meraih tangan Aby dan menghampiri para ibu-ibu yang sedang berkerumun di bawah hasutan Rosma.


"Kalian dengar, ya ibu-ibu.. pria ini memang benar sudah bukan suamiku lagi. Tapi apa kalian tau? Aku bisa hidup dan berdiri di sini selain karena kehendak Allah, juga karena dia..!"


Anisa menunjuk Aby dengan wajah emosi.


"Dia? Pria yang kalian tuduh ingin berbuat yang tidak-tidak. Dia yang sudah memberiku hidup baru dengan merelakan sebelah ginjalnya untuk ku. Apakah aku salah kalau ingin balas budi walau hanya dengan menjaga silaturrahmi dengannya. Salah? Di mata kalian itu salah?


Dan dia datang kesini hanya untuk mengantar anak kami. tidak ada yang lain."


Para warga yang berkerumun itu tertunduk. Termasuk Yahya. Ia tidak berani menatap mata Anisa.


"Kalian jangan menghakimi sesuatu yang kalian tidak tau persis kebenarannya.


Dan aku juga masih ingat siapa Abah ku. Ajarannya juga masih aku bawa sampai sekarang.


Jadi, jika suatu saat kalian mendengar aku dan ustadz Yahya berpisah, itu bukan karena pria ini. Sama sekali tidak.Tapi karena di antara aku dan ustadz Yahya sudah tidak kecocokan lagi. Tolong jangan hujat kami dengan tuduhan yang tidak beralasan..." Anisa menangkupkan kedua tangannya sambil ber urai air mata.


Satu persatu para warga beringsut pergi.


Yang tinggal hanya Rosma Yahya Aby dan Anisa.


Yahya masuk dengan wajah marah, sangat jelas terlihat dia belum bisa menerima penjelasan Anisa.


Rosma mengikuti Yahya sambil menggerutu tidak karuan.


"Mas, aku minta maaf atas ketidak nyamanan ini..." ucap Anisa menyesal.


"Kenapa kau harus minta maaf, kau juga korban Nisa. Tapi.. tadi kau sempat menyinggung masalah perpisahan, itu benar?"


"Iya, Mas. Aku sudah menggugat kak Yahya. sidang nya tinggal sekali lagi, kalau semua lancar insya Allah aku bisa bercerai darinya."


Aby menatap Anisa tak percaya.


"Kenapa kau lakukan ini? Kasihan anak kalian yang masih kecil. Perpisahan itu sangat menyakitkan, Nisa. Pikirkan lagi."


Anisa menghela nafas.


"Kadang ada hal yang di luar kehendak kita, dan itu yang sedang terjadi. Mungkin ini kehendak Allah. Aku tidak sejalan lagi dengannya. setiap hari kami harus melewati


 ketegangan demi ketegangan. Apakah menurut Mas Aby itu baik untuk pertumbuhan mental anak-anak?"


Aby tidak bisa bicara lagi. Ia minta ijin untuk pulang.


"Aku hanya bisa berharap ini yang terbaik buat semuanya..." ucapnya tersenyum. Tatapannya begitu teduh di rasakan oleh Anisa.


"Semoga, Mas..!"


Anisa menatap punggung Aby sampai motornya menghilang dari pandangannya.


"Semoga ini yang terbaik, buatku buat kak Yahya, anak-anak dan tentunya buatmu juga, Amiin"


💞Apakah kita satukan Anisa lagi dengan Aby? Atau kita carikan pasangan lain buat Aby.. komen ya!👇