
Anisa mengajak Ningsih ke kafe yang bersebrangan dengan gudang pak Sofyan.
Aby mengikuti mereka dari belakang.
"Nah sekarang kita bebas bicara." ucap Anisa sambil membenarkan duduknya.
Ningsih terlihat kaku, apalagi setiap tatapannya beradu dengan Anisa yang tegas.
Anisa memberi tanda pada Aby untuk bicara.
"Ningsih, sebelumnya aku minta maaf atas apa yang terjadi semalam itu."
Aby menarik nafas panjang.
Ningsih masih diam menunggu.
Semua yang aku lakukan dan ucapkan hanyalah spontan. Aku tidak bisa melihat kekerasan terjadi di depan mataku. Jadi, sekali lagi, maaf. Aku tidak bisa menikah denganmu seperti yang telah ku ucapkan."
Ningsih mendongak dengan kaget.
"Tapi, tidak bisa begitu, Mas. Aku sudah terlanjur bicara pada ayahku." airmata nya mulai mengembun.
"Ningsih, Mas Aby itu orangnya sangat, perasa. Ia tidak bisa melihat kedzaliman di depannya. Dia melakukan itu karena untuk menghindarkan mu dari pria kejam itu." Anisa angkat bicara.
"Kau harus bisa mengerti. Apa lagi kami sedang mempersiapkan pernikahan kami."
Ningsih menatap Anisa dan Aby bergantian.
Ia menggeleng keras.
"Tapi aku sudah terlanjur menceritakan nya pada keluargaku, apa kata mereka nantinya?" tatapan. Ningsih memelas kearah Anisa.
"Sekali lagi aku mohon maaf." Aby Meraih tangan Anisa menggenggam nya.
Ningsih memalingkan pandangannya.
"Selain aku harus menghadapi kekecewaan keluargaku, aku Juga harus menerima kemarahan Dodi. Hiks hiks..."
"Pertemukan aku dengan pria yang bernama Dodi itu." pinta Anisa.
"Tidak mungkin, dia sangat kasar. kau bisa celaka di buatnya."
"Tidak apa-apa, aku siap menerima resikonya. Lagi pula kenapa kita harus takut, kalau memang dia mengancam jiwamu, lapor saja ke polisi." saran Anisa.
Wajah Ningsih memucat mendengar kata polisi.
"Benar, kami akan bicara baik-baik. Dia pasti menerima." Aby ikut meyakinkannya.
"Tapi, seandainya kalian bisa meyakinkan Dodi, Lalu bagaimana dengan keluargaku? Mereka masih mengharap.
Ponselnm
Ningsih berbunyi.
"Ini ayahku, Mas. Aku harus bilang apa padanya?"
Ningsih belum berani mengangkatnya.
Wajahnya sangat ketakutan.
"Angkat dan katakan apa yang sebenarnya terjadi." perintah Aby.
"Aku tidak berani, Mas."
Aby mengambil alih ponsel itu.
"Assalamualaikum, pak." sapa Aby dengan sopan.
Lawan bicaranya menjawab salam dan langsung bertanya.
"Kau siapa? Dimana Ningsih. Katanya mau mengenalkan calon suaminya?"
"Ini dia Ningsih.." Aby memberikan ponselnya.
"Halo, Ayah.." suara Ningsih bergetar.
"Mana calon suami yang katanya mau kau kenalkan?"
"Dia, dia.. Nanti saja aku ceritakan dirumah, Yah." seru Ningsih.
"Memangnya ada masalah apa?"
Ningsih menutup telponnya.
"Lalu sekarang bagaimana? " sela Anisa
"Kau sudah tau yang sebenarnya, kalau Mas Aby sudah punya anak. Dan kami akan segera menikah."
Ningsih menatap Aby. Ia seakan tidak rela kalau Aby membatalkan janjinya.
"Mas, aku mau jadi yang kedua..!"
Anisa dan Aby terperanjat.
Ia tidak percaya dengan apa yang barusan di ucapkan Ningsih.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" Aby menggeleng heran. Begitupun Anisa.
"Tidak, Mas. Kalian tidak salah dengar. Daripada aku menanggung malu di keluarga besar ku, daripada aku di siksa lagi oleh Dodi. Aku mau jadi yang kedua." ucap Ningsih mantap.
Aby dan Anisa saling pandang.
Ia tidak menyangka masalahnya menjadi serumit itu.
"Bagaimana ini, Nis?" Aby terlihat bingung.
"Kau temui orang tuanya Ningsih, jelaskan semuanya."
"Tidak! jangan, aku sudah bersedia menjadi madumu, Mba. Apa lagi? Aku rela tidak di beri nafkah asal Mas Aby memberi status padaku." Ningsih bersimpuh di kaki Aby.
"Ningsih, sebenarnya apa yang kau lihat dariku? Aku tidak percaya kau ngotot seperti ini hanya karna masalah semalam."
"Aku akui, aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, Mas. Kau lain dari yang lain. Kau dewasa, baik, perduli pada orang lain."
Anisa membuang muka.
"Kau pikirkan dulu keputusanmu itu, aku juga akan memikirkannya dulu." Aby ingin segera mengakhiri pembicaraan yang tanpa ujung.
Ningsih kembali ke tempat kerja dengan wajah muram.
"Kalau kayak gini caranya aku menyerah, Mas. Kalaupun masalah Ningsih bisa teratasi, akan banyak bermunculan Ningsih-Ningsih yang lain." omel Anisa.
"Lalu dimana letak kesalahanku?" Aby menghiba.
"Kesalahan mu adalah kau terlalu baik, terlalu perduli pada orang lain. Bisa tidak kau acuhkan keadaan sekeliling mu sekali saja."
"Atau, apa sebaiknya aku permak saja wajahmu menjadi lebih menyeramkan, ya!" ucap Anisa gemas.
"Kau ada-ada saja. Kita lagi serius, jangan bercanda, dong."
"Habisnya, setiap wanita yang dekat padamu
selalu berakhir seperti ini." omelnya lagi.
"Lalu apa salahku kalau mereka suka padaku?" Aby membela diri.
"Salah, harusnya kau agak jutek, cuek dan penampilanmu di buat agak berantakan. Aku jamin tidak ada lagi Ningsih-Ningsih berdatangan."
Aby melotot ke arahnya.
"Lalu kau juga akan menjauhiku, begitu, kan maksudmu?" Aby berdiri menatapnya dengan garang. Ia berlagak marah.
"Maaf, Mas. Habisnya aku gerah karena harus menghadapi masalah yang sama terus menerus."
Aby memegang pundak Anisa.
"Kita cari jalan keluarnya, ya..! Jangan biarkan aku sendirian. di saat seperti ini aku sangat butuh dukunganmu." tatapan mata Aby begitu teduh. Seakan tidak akan ada satupun masalah yang akan bisa menggoyahkan ikatan perasaan mereka.
Anisa mengangguk.
"Aku siap mendukungmu selagi kau masih pada pendirian mu saat ini."
"Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali." Aby menggeleng pasti.
"Terimakasih karna kau masih membuat ku percaya, Mas."
"Ayo kita pulang. Kita pikirkan masalah Ningsih di rumah saja.
Anisa mengangguk setuju.
Mereka pulang dengan hati lega. setidaknya tidak ada kesalahpahaman di antara mereka lagi. Mereka akan mencari jalan keluar dari masalah Ningsih bersama-sama.
"Nis, aku lapar. Kita mampir makan dulu, ya..? Mungkin dengan perut terisi kita bisa berpikir kebuh jernih."
Anisa setuju.
Mereka duduk di warung makan tepi jalan.
"Tidak apa, kan aku ajak makan disini? Aku tidak bisa lagi mengajak mu makan di restoran mewah seperti dulu." ucap Aby merasa bersalah.
"Apa bedanya, Mas? Malah aku merasa. disini lebih aman." jawab Anisa tersenyum.
"Aman? Maksudmu?"
"Dengan dirimu yang sekarang, aku merasa lebih tenang. Memang sih masih ada beberapa wanita yang mengincar mu. Tapi tidak kebayang kalau kau masih di posisi yang dulu .." canda Anisa. Mereka bisa melupakan sejenak masalah Ningsih.
'Kau bisa saja. Tapi kau juga harus akui dan syukuri. Bahwa aku pria idaman." balas Aby.
"Iih.. Mas Aby kok jadi sombong."
"Bukan sombong, Nis. Tapi kenyataannya begitu, kan?" Aby tersenyum menggodanya.
"Ngomong-ngomong aku ingin tau alasanmu tidak menerima Ningsih, padahal bisa saja kau memanfaatkan keadaan. Ningsih masih muda, gadis dan cantik..."
Seorang wanita menyajikan pesanan mereka.
"Kalau alasanku yang kau tanyakan,
Hati, Nis. Hati tidak bisa di bohongi. Hatiku sudah memilihmu.. Apapun adanya dirimu, aku tidak bisa mengkhianati hatiku."
Seperti mendapat aliran sungai dari gunung, begitu sejuk di hatinya.
"Kau sendiri? Kenapa masih mau menerimaku? padahal kau tau, aku bulan Aby yang dulu lagi. Sekarang aku miskin, penyakitan dan..." Anisa meletakkan telunjuknya di bibir pria itu.
"Karena hati juga, Mas. Bahkan kalau di pikir-pikir, aku lebih mencintaimu sekarang, ketimbang dulu."
"Benarkah?"
Anisa mengangguk sambil menyuap makanannya.
Mereka tersenyum bahagia. Aby yakin, apapun masalahnya akan bisa di atasi asalkan mereka kompak dan akur.
Saat mereka menikmati makan siangnya,
"Pak, minta sedekahnya.. Bu.. saya lapar."
Seorang anak usia lima tahunan mendekati mereka.
Wajah anak itu terlihat kusam dan dekil. tampak sekali dia tidak terurus.
Anisa begitu iba melihatnya. "Siapa namamu, Nak? Orang tuamu dimana"
Anisa berjongkok di depan gadis kecil itu.
Dia tidak menjawab pertanyaan Anisa. Justru malah menjilat bibirnya saat melihat hidangan di meja.
"Kau mau makan?" tawar Anisa.
"Mau ..!" jawab anak itu
Anisa memesan kan si anak makanan dan memesankan minuman untuknya.
"Ayo duduk disini..."
"Tidak Tante, nanti pak amat marah kalau saya masuk." jawabnya polos.
Anisa memesankan makanan i untuk anak itu.
"Belum sempat menyantap makanannya. tiba-tiba datang seorang nenek-nenek menggamit lengannya.
"Ayo pulang! "
"Tapi aku belum makan, Nek." ucap nya polos
Wanita itu tidak perduli ia menarik tangan cucunya sembari menyembunyikan wajahnya.
"Tidak ada waktu, ayo pulang!" wanita itu menyeret tangan cucunya.
Aby dengan sigap menentang tangan si nenek.
"Maaf, anak ini masih makan. kenapa kau memaksanya pergi?"
"Itu bukan urusanmu tuan..! Jawab wanita itu ketus.
Aby sudah hendak berdiri saat Anisa menahannya.
"Ingat janjinya, barusan?*
..