
Yahya terus melajukan motornya menembus jalanan yang cukup ramai di sertai hujan rintik yang mulai turun. Ia tidak perduli lagi dengan rasa dingin yang menyergapnya.
Jaket yang semula di pakainya sudah ia berikan pada Anisa. Wanita itu menggigil di belakangnya. Yahya bisa merasakan dari getaran tubuhnya.
"Kau mau kita berhenti dulu sejenak? Kau menggigil kedinginan?" tanya Yahya. Ia tidak tega melihat calon ibu dari anaknya itu menggigil seperti itu.
Anisa menggeleng cepat.
"Aku masih kuat, kak. aku ingin cepat sampai di rumah sakit." ucapnya memohon.
Yahya hanya mengangguk, , Lalu kembali membelah jalanan dan menembus rintik hujan.
Anisa mencoba mengurangi rasa dingin dengan merangkul pinggang Yahya. Ada rasa hangat perlahan menjalar di tubuhnya. Begitupun yang di rasakan Yahya.
Anisa sadar sudah sangat egois pada pria di depannya itu. Tapi apa daya, ia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya, ia hanya ingin memastikan apa penyebab Aby menceraikannya. Meninggalkan dirinya bersama buah hati mereka.
Ia bisa memakluminya kalau Aby sudah bahagia dengan wanita lain, tapi kalau dia sendiri menderita seperti keadaan yang sempat di lihatnya. Anisa tidak tau apa yang akan di lakukannya. Ia merasa telah mengkhianati mantan suaminya itu.
Sekalipun begitu, Ia mau berharap terlalu jauh, walaupun hatinya tidak bisa di bohongi kalau masih dan masih sangat mencintai Aby.
Tapi di sisi lain ada hati yang akan tersakiti, juga tidak mungkin meninggalkan pria yang menurutnya sudah berkorban begitu banyak untuknya, yaitu Yahya.
Anisa berada dalam dilema yang besar, antara cinta dan pengorbanan. Manakah yang harus di pilihnya?
Ia menghirup nafas dalam-dalam. Ia berharap bisa melonggarkan dadanya yang begitu sesak saat ini.
Yahya menepikan motornya di parkiran.
Sedangkan Anisa sudah terlebih dulu berlari ke resepsionis.
"Pasien atas nama Aby dia korban tabrak lari." ucap ya terengah.
"Masih ditangani, Bu. silahkan di tunggu."
Anisa duduk di depan ruang IGD.
Disana sudah duduk pak Ali, pemilik warung makan tempat Aby bekerja.
Anisa duduk dengan gelisah. Sesekali ia menyeka sisa air hujan yang membasahi wajahnya. Luka di pelipisnya sendiri masih masih basah, terkadang ia meringis menahan perih di luka itu.
Ia menanti dengan harap-harap cemas.
"Anak ini siapa, ya?" sapa pak Ali yang sedang duduk menunggui Aby juga.
"Saya, saya... "
"Kami keluarganya, pak!" Yahya yang sudah tiba di tempat itu menjawab cepat.
Pak Ali mengangguk.
"Sangat di sayangkan orang sebaik Nak Aby mendapatkan musibah ini." ucapnya dengan suara bergetar.
"Bapak kenal baik? Maksud saya dengan Mas Aby?"
Anisa merasa penasaran, karena dari caranya berbicara seolah orang tua itu kenal begitu dekat dengan Aby.
Mata tua itu menyipit.
Ia mengangguk.
"Kisah hidupnya penuh lika liku, namu banyak pelajaran yang bisa di petik darinya."
Anisa semakin penasaran.
Dari ucapannya, sangat kentara kalau orang tua itu bersimpati pada Aby.
"Apa benar Mas Aby sebaik itu dimatanya?" tanya Anisa dalam hati.
Lalau Anisa kembali bertanya.
Yahya datang menyodorkan nasi bungkus dan sebotol minuman.
"Apakah dia pernah bercerita tentang keluarganya, pak?" korek Anisa lagi.
Bapak tua itu menggeleng.
Yahya duduk dengan gelisah di dekat Anisa.
Seorang pria berpakaian putih keluar dari pintu.
"Keluarga dari pasien Aby.."
Pak Ali langsung berdiri.
"Saya, Pak dokter.." jawabnya dengan berani.
Tanda tangani surat persetujuan operasi. Keadaannya sangat kritis."
Pak Ali duduk lunglai di tempatnya.
"Dokter, Selamatkan nyawa pasien! Itu adalah sumpah kelian.cspa gunanya uang kalau akhirnya pasien tidak bisa di selamatkan?" ucap Anisa emosi.
"Sabar, Nis." Yahya menenangkannya.
"Tapi ini prosedur, Bu. Lengkapi administrasi baru kami ambil tindakan." dokter itu masih kukuh.
Anisa semakin geram, ia sudah sering sekali mendengar kejadian serupa. Dimana seorang dokter lebih mendahulukan uang ketimbang nyawa si pasien itu sendiri. Lalu apa gunanya uang kalau pasiennya tidak tertolong?
"Dokter, saya seorang pendidik. Dan dari sekian banyak murid saya cita-citanya adalah menjadi seorang Dokter. Karena di mata mereka seorang dokter adalah seorang malaikat penolong. Saya tidak tau, apakah masih ada anak yang mengagumi profesi seorang dokter kalau tau yang sebenarnya." ucap Anisa kecewa.
Ia mengeluarkan ponselnya, ia hendak menghubungi seseorang. Tapi dokter itu terlihat khawatir.
'Bu, kau mau menelpon siapa?" tanya dokter itu terlihat cemas.
Anisa merasa ada Kesempatan untuk menjatuhkan sang dokter.
"Saya menghubungi seorang teman, dia jurnalis di sebuah surat kabar ternama. Saya mau nanya, apa memang begitu prosedurnya di setiap rumah sakit?"
"Ah, Bu. Tidak usah. Khusus untuk ibu kami akan bertindak cepat." ia memberi aba-aba pada rekan-rekannya.
"Siapkan ruang operasi, segera!"
Beberapa detik kemudian kesibukan terlihat.
Mereka berlalu lalang menyiapkan operasi untuk Aby.
Anisa terkesiap saat berangkat yang membawa Aby lewat di depannya.
hanya wajahnya yang bisa di lihat Anisa. Walaupun cekung dan terlihat tidak terurus. Namun wajah itu terlihat begitu tenang.
"Mas Aby...! Anisa menutup mulutnya.
Aby mengalami luka parah di bagian belakang kepalanya. Banyak sisa darah berceceran di sekitar wajahnya. Hati Anisa seperti teriris menyaksikannya.
kalau memang dia sudah berkeluarga lagi, kenapa keadaanya sampai seperti itu? Lalu dimana keluarganya?" Anisa tidak habis pikir.
"Kita doakan semoga pak Aby baik-baik saja." ucap Yahya menenangkan istrinya.
Tiba-tiba datang Imran dengan tergopoh.
"Bagaimana keadaannya?" suara Imran begitu khawatir.
"Di harus di operasi, pak Imran." ucap Yahya.
Imran melipat tangannya di dada. Ia menengadah ke langit ruangan, seolah berusaha menahan air matanya yang hampir saja tumpah
Sepi, hening di antara mereka. Semua larut dalam doa yang panjang agar Aby selamat.
Dua jam kemudian, Dokter yang menangani Aby keluar. Wajah nya terlihat tegang.
Anisa merasa begitu khawatir.
"Bagaimana, Dok?" Imran maju kedepan dan bertanya.
"Walaupun cukup kesulitan, operasi berhasil.
Tapi pasien masih kritis.
kenapa kalian tidak bercerita tentang riwayat pasien yang hanya memiliki satu ginjal?"
Anisa badan pak Ali begitu kaget. Sedangkan Imran dan Yahya hanya bisa terdiam.
"Sebentar, Dok.. Hanya satu ginjal?" ulang Anisa.
Dokter itu mengangguk.
"Hanya satu ginjal, itupun kondisi ginjalnya terinfeksi cukup parah.
Belum hilang rasa kaget Anisa.Dokter itu sudah menambahkan.
"Dan kemungkinan juga pasien tidak bisa mengingat peristiwa yang sudah lewat Tapi itu tidak permanen. suatu saat seiiring waktu ingatannya akan kembali."
"Mas Aby hanya punya satu ginjal?" Anisa mengerti betapa sulitnya harus hidup dengan satu ginjal.
Sebentar kemudian, Aby di dorong keruang ICU. Disana tubuhnya di penuhi banyak peralatan.
Imran dan pak Ali pergi untuk mengurus administrasinya.
"Anisa, apa tidak sebaiknya kau pulang dulu? Al pasti cemas menunggu mu. Kau harus istirahat. Biar aku yang menunggu pak Aby disini." Anisa menggeleng.
"Aku tidak tegaembiarkannya sendiri, kak. Tanpa keluarga, sanak famili? Dia sedang berjuang antara hidup dan mati." Anisa tergugu.
Ia mengawasi Aby dari lobang kecil. Ingin rasanya ia memberi dukungan pada pria itu. Membisik kan sesuatu di telinganya. Bahwa dia harus hidup, harus!
Yahya menyerah. Ia mengalah dengan menelpon Rosma agar tidak khawatir.
Anisa terus berdiri di depan ruangan Aby. Kenyataan Aby harus hidup dengan satu ginjal membuatnya merasa bersalah telah berprasangka buruk selama ini padanya.