KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 38


Selama mengajar di kelas, Anisa merasa tidak sabar untuk memberi kabar kehamilannya pada Yahya. Ia berharap jam pulang segera tiba.


Sementara itu, Al bersama teman dan beberapa guru sedang dalam perjalanan ke kebun binatang. Mereka bersuka ria di dalam bis.


Namun tiba-tiba bis yang mereka tumpangi mogok.


Para penumpang di minta turun, sementara bis di perbaiki, para Siswa di persilahkan istirahat di sebuah musholla.


Cukup lama mereka menunggu.


"Anak-anak, sementara menunggu pak sopir memperbaiki bis nya, kalian bisa buka bekal masing-masing." seru seorang guru.


Di tengah riuh nya anak- anak itu, Seorang anak yang terkenal nakal tengah mengerjai seorang pria yang berjalan pincang karna memakai tongkat.


"Om, udah besar kok pake tongkat?" ledeknya sambil merampas tongkat itu.


"Ayo, Nak, kembalikan tingkat itu. Om bisa terjatuh." ucapnya memohon.


Si anak nakal malah mendorongnya hingga ia terjatuh.


Dengan susah payah ia bangkit.


Seorang guru mendekati mereka dan memberikan tongkat nya.


Al yang kebetulan melihat kejadian itu dari tempat cukup jauh berlari mendekati lokasi.


Ia merasa kaget karna orang yang sedang di kerjai temannya itu mirip ayahnya.


Namun sayang, karena keributan itu para siswa yang lain ikut berhamburan mendekat. Al tidak bisa menembus kerumunan.


Ia mencoba berteriak memanggil orang itu.


"Ayaaah..! Ayah!!" namun pria yang di anggapnya Aby itu sudah tidak ada lagi.


Al terduduk di rerumputan. Ia merasa sangat yakin kalau yang di lihatnya barusan adalah ayahnya.


Seorang guru mendekatinya.


"Al, kenapa? Memangnya pak Yahya ikut?" selidik si guru sambil ikut mencari sana sini.


Al menggeleng. percuma juga bilang pada guru itu, toh dia tidak akan mengerti.


"Bu, guru.. Boleh pinjam handphone nya?" ucapnya memberanikan diri.


"Boleh, mau telpon siapa? Al yang hafal Nomor bundanya dengan cekatan menelpon.


"Bunda... "


Anisa terkesiap mendengar suara Al yang seperti orang menangis.


"Ada apa, Nak? Katakan!"


"Al melihat ayah.. Tapi saat aku kejar dia menghilang." ucapnya sambi menahan Isak tangis.


Anisa kaget mendengar pengakuan Al.


"Maksud, Al. ayah Yahya, kan?" Anisa menegaskan. Ia berharap Al akan bilang, iya.


Tapi...


"Ayah Aby...!" ucapan Al yang sangat lirih itu justru membuat gendang telinganya seperti hendak pecah.


"Al, Al pasti salah lihat, Nak!" bujuk Anisa dari ujung sambungan.


"Tidak, Bunda. Al yakin itu Ayah Aby." Al kekeuh dengan pendapatnya.


Al menutup telpon dengan cepat.


Ia kecewa karna Bundanya sendiri tidak percaya dengan ceritanya.


Sepanjang perjalanan Al terus murung, ia sama sekali tidak menikmati acara itu. pikirannya terus pada pria gondrong bertongkat yang iya yakini adalah ayahnya.


Anisa menyempatkan diri menjemput Al dari sekolah.


Wajah Al terus terlihat murung.


"Al, dimana lihat ayah!" tanya Anisa hati-hati.


"Dekat musholla itu, dia.. memakai tongkat dan jalannya pincang. Tapi Al sangat yakin kalau itu ayah."


Hati Anisa kembali bimbang. Disaat hatinya ingin membuka lembaran baru bersama Yahya dan calon anak mereka, kabar dari Al mengganggu pikirannya.


"Benarkah itu, Mas Aby? Ya Allah... Kenapa begitu rumit kisah yang harus ku jalani..." ucapnya dalam hati.


"Jika mungkin, saat ini hamba memilih lebih baik jauhkan Mas Aby dari hidup kami. Berikan dia kebahagiaan di tempat lain..."


Yahya yang baru datang merasa heran melihat wajah anak dan istrinya yang sedih.


"Al, sudah pulang? Gimana jalan-jalan nya?"


Ia mencoba berbasa basi.


Al tidak menjawab. Ia malah meraih tasnya dan masuk kamar.


Yahya mencari tau lewat Anisa.


"Dia cerita sudah melihat ayahnya..." ucap Anisa lirih.


"Al melihat pak Aby? Dimana?" Yahya terlihat antusias.


Anisa memandangnya heran. bukannya merasa sedih atau khawatir, mendengar nama Aby, Yahya malah terlihat bersemangat.


'Aku akan tanyakan pada gurunya.."


Sementara Anisa lupa akan niatnya mengabari. Yahya tentang kehamilannya.


Yahya merasa gelisah sekaligus lega.


"Mungkin memang sudah takdirnya Anisa berkumpul lagi dengan Aby." ucap Yahya dalam hati.


"Kak... Apa yang kau pikirkan?" Yahya kaget saat Anisa menepuk bahunya.


"Nisa, ayo duduk." Yahya menggeser duduknya.


"Aku sedang memikirkan cerita Al...." ucapnya lirih.


"Menurutmu bagaimana?" Yahya balik bertanya.


"Menurut ku, Al bisa saja berhalusinasi. Kalau memang Mas Aby masih ada bahkan masih di bilang dekat dengan kita. Kenapa dia tidak menenui kami?"


"Ayah, anterin Al ketempat kemarin itu." Al tiba-tiba saja muncul di antara mereka.


Anisa kembali gagal memberi tau Yahya tentang kehamilannya.


Yahya menatap Al tersenyum.


"Boleh, kapan?"


"Bunda rasa Al salah lihat, kemarin." Anisa menyela.


"Tapi Al, sangat yakin Bund."


Anak usia sembilan tahun tidak mungkin mengada-ada ataupun berhalusinasi." pikir Yahya.


"Tidak apa-apa, aku akan mengantarnya." ucap Yahya


Al berlalu untuk bersiap-siap.


"Kak, kenapa kau setuju dengan Al? Lalu kalaupun itu benar, dan kalian menemukan Ma Aby, apa yang akan kau lakukan?"


Yahya tertunduk. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Anisa.


"Aku sedang hamil...!"


Yahya yang hendak beranjak keluar tiba-tiba berdiri kaku seperti patung.


Ia menarik badannya perlahan.


Ia mendapati Anisa masih menatapnya.


"Ha- hamil?" tanyanya dengan gugup.


Anisa mengangguk.


Yahya tertunduk. Lutut dan persendiannya terasa lemas. Air mata tiba-tiba saja membasahi pipinya.


"Kakak tidak suka mendengar kabar ini?" tanya Anisa. Dia tidak mengerti dengan respon dari Yahya. Semua pria yang sudah menikah pasti mendambakan hadirnya si buah hati. Tapi yang di lihatnya sekarang, Yahya sedang duduk lunglai dengan air mata di pipinya. Anisa sulit mengartikannya


Air mata bahagia kah, atau sebaliknya?"


"Tentu saja aku bahagia, sangat bahagia. Al akan punya seorang adik. Tapi aku juga sedih... Anugrah ini datang tanpa di rencanakan. Dia hadir karena ketidak kesengajaan. Itu yang ku sesali." ucap Yahya lirih.


"Apapun prosesnya, dia datang sebagai berkah. Kita patut menerimanya."


Yahya mengangguk. Kenapa di saat ia ingin membunuh perasaannya pada wanita itu, di malah hamil? Yahya mengutuk malam penuh gairah itu.


"Kenapa Kak Yahya seperti tidak suka dengan kehamilanku? Ah biarlah, mungkin ini reaksi karna dia tidak menyangka akan punya seorang anak." pikir Anisa.


Rosma menghampiri Anisa saat Yahya sudah pergi ke kamar Al.


"Bagus, Anisa. Bibi kagum padamu." wanita itu mengacungkan jempolnya.


Setelah itu ia menyusul Al


"Eeh, kalian mau kemana? Rapi amat?"


Al saling pandang dengan Yahya.


"Al mau cari ayah Aby, nek." jawab Al jujur.


"Jangan!' teriak wanita itu spontan.


Al sampai kaget.


"Bibi.. Apa maksudnya? Lihat, Al jadi ketakutan."


"Owh bukan begitu maksud Nenek sayang..


Nenek cuma mau kasi kabar gembira buat Al."


Al menyimak dengan antusias.


"Al akan punya seorang adik..!"


Mata Al melebar tak percaya.


"Benar, Yah?" tatapannya beralih ke Yahya.


Yahya mengangguk ragu .


"Karna itu, tidak usah cari ayah Aby lagi. Nanti kalau ayah ketemu, terus balik sama Bunda, Al tidak jadi punya adik." ancam Rosma.


Tanpa aba-aba anak itu sudah berlari ke kamar Bundanya untuk memastikan kabar itu.


"Apa maksud kata-kata Bibi?" Yahya terlihat tidak suka.


"Ini untuk kebaikanmu! Ngapain kau ikut mencari si Aby, kau tau akibatnya kalau sampai dia muncul?"


"Bibi tidak mengerti dan tidak akan pernah bisa mengerti." Yahya menekuk mukanya.


"Ini masalah kelangsungan keluarga kita. kalau istrimu masih berharap pada mantan suaminya, buat apa kau bertahan? Cari wanita lain yang masih single dan mencintaimu setulus hati."


Yahya menarik Rosma kedalam sebuah kamar. Ia khawatir Anisa atau Al mendengar perdebatan itu.


Tapi terlambat. Anisa terlanjur mendengar semuanya.


Air matanya luruh. Kenapa di saat ia ingin mengabdikan hidupnya pada Yahya, ada orang yang meragukannya. Di tambah lagi dengan rumor kemunculan Aby, membuat kepalanya bertambah pusing.


Sementara itu, Aby sedang merintih kesakitan, seorang bapak-bapak sedang mengurut kakinya yang terkilir.


"Kenapa bisa sampai seperti ini, Mas? Lihat! Sangat bengkak dan membiru." ujar si bapak.


"Biasa, Pak. Ada anak-anak jail yang merampas tongkat saya. saya terjatuh dan beginilah.."


"Mas, tidak memberi pelajaran pada anak itu?"


Aby menggeleng.


Ia masih bisa tersenyum mengenang kejadian itu.


"Anak itu seusia Al putra saya... Saya tidak bisa marah padanya." ucapnya mengenang si buah hatinya.


"Seperti apa dia sekarang?" ucapnya lagi.


"Dimana anak Mas, sekarang?"


"Jauh, pak.. Saya tidak bisa menggapainya. Saya cukup merasa bahagia melihat mereka bahagia. Dan saya sangat yakin mereka bahagia karna ada di tangan yang tepat."