KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 11


Aby mulai kesulitan membagi waktunya antara Anisa dan Jelita.


Namun sebisa mungkin ia berlaku adil.


Hingga suatu sore Aby sengaja mengunjungi mertuanya. Ia datang hanya sendirian saja.


"Sendirian, By...?"


"Iya, Bah, saya kesini langsung dari kantor."


Kyai Romli mengamati wajah menantunya yang terlihat lelah seperti menanggung sebuah beban berat.


"Ada sesuatu yang perlu kau bagi dengan Abah?" ucap orang bijak itu lagi.


Aby tertunduk.


Ingin sekali ia mengatakan apa yang terjadi, tapi lidahnya kelu, ia tak tau harus memulai darimana.


"Mungkin saat ini kau masih ragu untuk membaginya, tidak apa-apa. Kau boleh mengatakannya kalau kau sudah siap.


Asal kau ingat, kalau masalahnya menyangkut Arini, Abah tidak akan menempatkan diri sebagai orang tuanya. Melainkan penengah di antara kalian. Jadi kau tidak usah merasa rahu." ucap kyai Romli lagi.


Aby masih diam.


"Abah.. Saya minta maaf, saya sudah gagal menjadi imam dan pendamping yang baik untuk putri Abah. Saya tidak berdaya.." ucap Aby lirih.


kyai Romli mengamati wajah menantunya yang begitu memelas.


"Abah tidak tau apa problem di antara kalian, Abah juga tidak memaksa untuk tau sebelum kalian memutuskan memberitau. Kalau bisa selesaikanlah dengan baik-baik. Bicara! Kejujuran kadang memang terasa pahit. Tapi itu jauh lebih baik ketimbang kita memendam sesuatu dan akan berlarut-larut . Ibarat menyimpan bangkai baunya akan tercium juga."


"Abah benar.. Tapi Aby tidak sanggup Bah.!"


Ucap Aby lagi dengan suara berat.


"Kuatkan hatimu, yakin lah kalau kau berniat baik, kebaikan pula yang akan kau petik. begitu juga sebaliknya."


Akhirnya sampai pamit pulang, Aby tidak bisa berkata apapun pada mertuanya. Namun Kata-kata mertuanya memberinya keberanian.


"Aku harus bicara..! Apapun resikonya aku harus jujur pada Anisa. Aku tidak sanggup menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi."


Aby bertekad untuk bicara jujur malam itu.


Aby teringat pesan Anisa untuk menjemput Al di tempat les nya.


"Hampir saja lupa, Al pasti sudah menunggu ku." ucapnya merasa bersalah


Namun saat menuju tempat les, , panggilan dari Jelita mengganggunya.


"Mas, Zahra muntah-muntah terus. Dia tidak mau minum susu.." suara Jelita terdengar panik.


"Ok, kamu jangan panik dulu. Baluri perutnya dengan minyak telon. Saya segera datang."


Aby memutar balik arah mobilnya.


Sampai di tempat Jelita, ia melihat bayi Zahra sudah terlihat lemas.


"Ayo cepat kita bawa kerumah sakit!"


Aby ikut panik oleh keadaan bayi merah itu.


Ia sampai lupa kalau Al sedang menunggunya.


Di tempat les nya.


"Al, kenapa ayah atau bunda belum datang menjemput, Nak?" tanya seorang guru wanita.


Al menggeleng.


Hari hampir gelap. Semua anak sudah di jemput orang tuanya masing-masing, tapi


Al masih termangu sendirian. Ia sangat yakin kalau ayah atau bundanya akan segera datang.


"Ibu Kenal bundanya Al, biar Bu guru antar pulang, ya..!" tawar gurunya.


Al menggeleng keras.


Wanita anggun Itu mendesah pelan. Ia juga bingung karna Anisa tidak bisa di hubungi.


Aby meletakkan tas keperluan Zahra di meja.


"Syukurlah dia tidak apa-apa." ucap Aby Lega.


"Iya, ini karna mas Aby cepat tanggap." jawab Jelita tersenyum.


Tiba-tiba Aby teringat akan Al yang menunggunya di tempat Les.


"Astagfirullah, saya lupa kalau Al sedang menunggu saya di tempat les." Bi menepuk jidatnya dengan panik.


Ia baru sadar untuk memeriksa ponselnya.


Panggilan tak terjawab sebanyak sepuluh kali dari Anisa.


"Saya harus segera pulang." ucapnya sambil berlari ke mobilnya.


Jelita memandang Aby dengan perasaan tak menentu.


Ia tidak tau sampai kapan akan terjadi seperti itu terus.


Walaupun mereka berstatus sebagai suami istri yang sah secara agama, tapi Aby tidak pernah mau tidur sekamar dengannya.


Pernah terjadi baby Zahra sedang demam tinggi dan Aby tidak tega meninggalkannya, Aby menginap, tapi ia rela tidur di sofa.


Walaupun Jelita dan ibunya berusaha membujuk, Aby tetap bertahan.


Ia meminta maaf dengan mata polosnya.


Sepanjang perjalanan hatinya di penuhi rasa bersalah. Ia sudah membuat jagoan kecilnya menunggu, bahkan sampai hari gelap.


Aby bertambah was-was karna Anisa tidak mau mengangkat panggilannya.


Benar saja, tepat les sudah sepi.


Aby mengacak rambutnya sendiri.


"Assalamualaikum..!"


"WAalaikum salam... Mas kemana saja? telpon tidak di angkat?" ia di serbu pertanyaan oleh istrinya.


"Maaf, Mas minta maaf sekali."


"Semua tidak akan kembali semula hanya dengan kata maaf, Mas!"


Aby terpekur memandangi Al yang berbaring di pangkuan Anisa.


"Mas, tau? Dia menunggu sampai hari gelap. Dia tidak mau di antar pulang oleh gurunya. Karna dia sangat yakin ayahnya akan segera datang."


"Kalau memang tidak bisa, bilang sama aku


Aku tidak keberatan meninggalkan keperluanku yang lain... kau sudah melukai hatinya, Mas."


Aby membelai rambut Al. anak kecil itu hanya diam tanpa reaksi.


"Maafkan ayah sayang...!" ucapnya dengan suara serak.


"Biarkan dia istirahat, dengan susah payah aku menenangkannya." ucap Anisa.


"Sebaiknya kau mandi dan cepatlah sholat..!"


Ucap Anisa, Aby menangkap sorot kekecewaan di mata Anisa. Hal yang baru kali ini di lihatnya.


Setelah suasana agak tenang. Aby mendekati Anisa yang sedang melipat pakaian.


"Nis, Mas minta maaf, apa kau bisa memaafkan ku kali ini?"


"Kau tidak bersalah padaku, Mas. Tapi pada Al..! Sekarang aku mau tanya, kenapa kau terlambat menjemputnya? Kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku?" mata Anisa tajam menelisik mata Aby. Seolah sedang menanti kejujuran.,


Aby terdiam.


"Mungkin ini saatnya aku berterus terang." bathin Aby.


"Sebenarnya tadi sore..."


Kalimat Aby di hentikan oleh suara ponsel Anisa.


"Dari Abah." ucap Anisa sambil memberi isyarat agar Aby diam sejenak.


"Anisa, apa suamimu sudah sampai rumah? Bilang padanya, tas kerjanya ketinggalan di tempat Abah."


Anisa berbasa basi sebentar dengan Abahnya.


Aby menunggu dengan gelisah.


"Kenapa kau tidak bilang sudah ketempat Abah..?" suara Anisa terdengar sedikit melunak


"Mas Aby mau bicara.. !"


Anisa mengangguk mendengarkan. Tapi lagi lagi suara Al menghalangi niatnya.


"Bundaa...!"


"Bentar ya, Mas. Kayaknya Al butuh sesuatu."


Anisa bangkit dan menuju kamar anaknya.


Aby termenung sendiri.


"Aku harus mengakhiri semua ini, Anisa harus segera tau yang sebenarnya. Apa pun resikonya aku harus terima..." gumamnya dengan yakin.


Namun setelah menunggu cukup lama Anisa tak jua keluar dari kamar Al.


Saat Aby melihatnya, Anisa sudah ketiduran sambil memeluk Al.


"Gagal lagi niatku.." ucapnya kecewa.


Begitupun pagi harinya. Anisa terlihat begitu sibuk. Saat Aby minta waktunya dia malah menjawab,


"Nanti pulang kantor saja, Mas."


Aby terpaksa menunda lagi niatnya berterus terang.


Ketika Aby sudah berangkat, Anisa yang sengaja minta ijin tidak masuk karna Al masih ngambek. Ia memilih beres-beres rumah.


Dia mulai dari kamar mereka.


Ia tertegun saat menemukan struk belanja yang begitu panjang di saku celana Aby.


Ia menahan nafas saat mengetahui jenis belanjaan yang tertera.


Ada popok bayi, dan segala pernak pernik bayi.


"Ini.. ? Apa benar punya Mas Aby? Ah ini pasti punya Mas Imran. Tapi kenapa ada di saku Mas Aby?" Anisa terhenyak di tempat tidur.


Berbagai bayangan mengerikan menari di benaknya.


"Astagfirullah.. Apa yang aku pikirkan? Aku tidak patut mencurigai Mas Aby, dia suami yang setia dan bertanggung jawab. Tidak mungkin!" ia membantah sendiri.


Tapi mengingat kelakuan Aby yang tidak biasa akhir-akhir ini, membuat jantungnya berdenyut nyeri. Kebiasaan pulang terlambat, waktu untuk anak mereka berkurang, dan.. Kepergian Aby kerumah Abahnya untuk apa?


"Ya, Allah Rob ku, apa ada sesuatu yang sudah terjadi yang belum ku ketahui?"


Anisa terus mencari-cari sesuatu yang mendukung bukti di tangannya.


Tangannya gemetar saat menemukan bukti-bukti yang lainnya.


"Mas Aby.....!" ucapnya lirih. Persendiannya terasa tidak mampu lagi menopang tubuhnya.


"Tapi aku harus mencari bukti yang lebih kuat. Aku akan membuntuti Mas Aby pulang kantor. mungkin aku keterlaluan menguntit suami sendiri, tapi ini demi menjelaskan semuanya, Mas.." ucapnya sambil meremas kertas di tangannya.


Sore harinya, Anisa sengaja menitipkan Al pada seorang tetangganya untuk bermain disana. Ia langsung memesan taksi dan menunggu di depan kantor Aby.


Ia berusaha menenangkan dadanya yang bergemuruh tidak karuan. "Aku harap semua kecurigaan ku salah!" ucapnya sendiri.


Mohon dukungannya say...