
Malam terasa begitu lama berlalu bagi Anisa khususnya. ia tidak sabar menunggu pagi dan menemui Ningsih untuk meluruskan semuanya.
Ia ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi malam itu.
Pagi harinya..
Anisa baru saja mau kedapur saat pesan dari Aby masuk.
(Nisa, aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal semalam. Aku menyesal. dan aku ingin semuanya cepat selesai)
(Apa lagi Ningsih bilang ingin bertemu aku, apa yang harus aku katakan? )
Anisa sengaja membiarkannya tanpa membalasnya.
Pesan Aby masuk lagi
(Nis, kau masih marah? Kau masih belum percaya dengan penjelasanku?)
(Baiklah, aku segera datang. Kau bersiap saja. Kita jadi pergi menemui Ningsih.) ketik Aby lagi.
Anisa tersenyum geli.
"Rasain kau, Mas. baik, sih baik. tapi karena terlalu baiknya makanya orang lain memanfaatkan mu" omelnya kesal.
Ia memang sengaja membuat Aby merasa bersalah. padahal Anisa sendiri yakin kalau yang di lakukan Aby itu spontan dan hanya sekedar untuk menolong Ningsih. Tapi yang iya takutkan justru Ningsih. Bisa saja gadis itu salah paham dan menuntut janji Aby.
Tak berapa lama, Aby datang tergopoh
Ia merasa gelisah karna mengira Anisa benar-benar marah. Setelah mengucap salam, ia langsung mengajak Anisa duduk di depan.
"Anak-anak belum bangun, ya?" selidiknya sambil melirik kedalam.
"Belum, apa perlu aku bangunin?"
"Ah, tidak.. Biarkan saja, mungkin mereka kelelahan bermain." kilahnya.
Wajah Aby terlihat gelisah.
Dia meraih kedua tangan Anisa. Dan memohon dengan memelas.
"Nisa, tolong percayalah padaku. aku tidak mau terlibat masalah dengan Ningsih.."
"Tapi kau sendiri yang sudah menciptakan masalah, Mas." " ketus Anisa.
"Aku sadar ini salahku,tapi bisakah kau bantu mencari jalan keluarnya?"
"Apa yang bisa ku lakukan?" tantang Anisa.
"Banyak, asal kau mau."
Anisa menarik nafas panjang. Diam-diam dia mengamati wajah Aby yang sedang bingung. Tetap menarik walaupun sedang di tekuk.
Pantas saja kalau para wanita itu tak bisa lepas dari pesonanya. Anisa baru sadar kalau mantan suaminya itu memiliki daya tarik tersendiri. Selain postur tubuhnya yang bagus, di tambah wajahnya yang selalu di hiasi senyuman. Rasanya memang pantas saja dia di gandrungi para kaum hawa.
Anisa salah tingkah saat Aby memergoki dirinya sedang mencuri pandang kearahnya.
"Nis, masa kau tega membiarkan aku dalam kesulitan seperti ini?"
Anisa menyembunyikan senyumnya.
"Baiklah, biar kau lebih yakin lagi. Sekarang kita temui Ningsih, terus kita pergi ke penghulu. Kita langsung menikah saja, aku tidak mau ada masalah lagi yang akan menghalangi rencana kita." ucap Aby serius.
"Aku bersiap dulu..!" Anisa bangkit hendak masuk, tapi telinganya mendengar sesuatu.
"Mas, kau lapar?"
Aby tersipu sambil memegangi perutnya.
"Masalah ini sangat menguras emosiku. Aku tidak sempat makan." ucapnya jujur.
Anisa menggeleng heran sambil menatapnya.
"Mas, Mas... kau terlalu polos. Kau selalu memikirkan kepentingan orang lain. Tapi kepentingan mu sendiri kau abaikan. jangan lupa kalau ginjalmu yang hanya sebelah itu bermasalah, kalau telat makan bisa memicu mag. Dan kalau kau sakit, akan mempengaruhi ginjalmu." jelas Anisa panjang lebar.
Aby tertunduk.
"Justru karena itu lah, aku ingin ada orang yang mengingatkanku saat aku lupa. Menemaniku di saat aku sendiri."
"Kau bandel, sih Mas. Ayo masuk dan sarapan dulu." perintah Anisa.
Aby sempat ragu. Ia takut omongan orang kalau mereka belum resmi tapi sudah bebas keluar masuk di rumah Anisa.
"Kau jangan khawatir, sementara kau sarapan, aku akan menyapu halaman depan ini sebentar."
Aby mengangguk senang.
Sementara Aby sarapan, Anisa tertegun melihat ponsel Aby yang tergeletak di meja teras itu bergetar.
Dengan ragu dia mendekat. Dia melihat ada panggilan dari nomor yang tidak ada namanya.
"Angkat, tidak, ya?" ia mengurungkan niatnya.
"Mungkin juga urusan pekerjaan.." gumamnya dan langsung menyapu lagi.
Aby sudah selesai, dia mengangkat ponselnya yang terus berbunyi.
"Halo, dengan siapa, ya?"
'Ini aku, Mas. Ningsih. aku tau kau tidak akan mau angkat kalau pake nomorku, karena itu aku sengaja pinjam nomor temanku."
"Owh, Ningsih, ada apa, ya?" tanyanya berlagak pikun. Aby sengaja mengeraskan suaranya agar Anisa ikut mendengar.
"Kok nanya ada apa? Mas Aby lupa atau pura-pura lupa? sumpah, Mas. Kalau kau tidak merealisasikan ucapanmu di depan Dodi, dia menganggap kita telah mempermainkannya. Dia akan membunuhku."
Aby menatap Anisa.
Anisa mengambil alih ponsel itu.
"Assalamualaikum.. Mba Ningsih?"
Hening sejenak, mungkin Ningsih heran karena yang bicara bukan lagi Aby, tapi suara perempuan.
"Owh.. Iya, saya Ningsih. Ini siapa, dan Mas Aby mana?"
"Aku Anisa. ibu dari anaknya mas Aby, sekaligus calon istrinya!" suara Anisa begitu tegas membuat Ningsih terdiam.
"Tapi, Mas Aby sudah berjanji untuk menikah denganku.."
Suara Ningsih terbata.
"Begini saja, bisa kita ketemu? Bar aku jelaskan semuanya."
Semula Ningsih menolak, tapi saat Anisa mendesak,dia tidak bisa mengelak.
"Ini ponselnya!" Anisa menyodorkan ponsel itu.
"Sudah? Lalu bagaimana selanjutnya?"
Aby berubah seperti orang linglung yang tidak tau apa yang harus di lakukannya.
"Kita akan temui dia." jawab Anisa datar.
"Anak-anak bagaimana?"
"Al harus sekolah, Khaliza biar aku titipkan di tetangga sebelah.
Aby mengangguk pasrah.
Setelah mengantar Al, mereka menuju
ke tempat Ningsih bekerja.
"Nis, sebaiknya kita harus bersikap agak romantis di depan Ningsih, biar lebih meyakinkan..." usul Aby dari atas motor.
"Tidak usah, Mas. Malu, ah. Kita sudah tidak remaja lagi."
"Lho, siapa bilang romantis untuk anak remaja saja, lagi pula kita belum tua-tua amat." ucap Aby yang disambut gelak tawa oleh Anisa.
"Iya, jiwamu yang masih muda, makanya banyak wanita yang ingin mendekatimu."
"Masa iya, sih? Menurutmu sendiri, aku bagaimana? Sejak Al belum lahir, sampai saat ini kau belum pernah sekalipun memuji ku, sekarang aku ingin dengar." teriak Aby.
"Apaan sih, Mas. Kau ada-ada saja."
"Aku serius, Nis. Jangan kau anggap main-main." Aby menghentikan laju motornya.
"Sekarang jujurlah padaku. biar saja andai kau mengolok ku kekanak-kanakan. tapi aku ingin sekali mendengarnya." matanya terlihat serius.
"Yang paling aku suka darimu, hatimu, Mas. Kau selalu tulus dalam melakukan sesuatu.
Hatimu jauh dari rasa dengki." Anisa memalingkan wajahnya saat mengucapkan itu.
"Hanya itu?" ia seolah belum puas.
Anisa mengangguk.
Aby mendesah kecewa.
"Aku pikir, kau akan bilang kalau aku baik hati , penyayang dan gagah.." ucap Aby pelan.
Tawa Anisa meledak.
"Aku jujur, apa aneh?" Aby tak terima di tertawakan.
"Kau gagah luar dalam." ucap Anisa cepat.
Mata Aby melebar.
"Terimakasih, karena kau sudah jujur."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sampai disana, Ningsih ternyata belum datang.
Aby mengajak Anisa menunggunya di bangku panjang yang di sediakan untuk para karyawan beristirahat.
Beberapa orang mengangguk ramah pada Aby.
"Besar juga usaha pak Sofyan?" gumam Anisa kagum.
"Dia supplier Mall dan pusat-pusat perbelanjaan besar." jawab Aby.
"Pantas saja..." ucap Anisa lagi
Setengah jam an menunggu akhirnya motor Ningsih muncul di parkiran.
Aby langsung berdiri hendak menghampirinya.
Anisa menahan tangannya.
"Tenang dulu, Mas. Biar kan dia masuk."
Aby kembali duduk.
"Mas Aby..!" Ningsih begitu gembira melihat Aby hadir di sana
Gadis itu terlihat ceria, walaupun di beberapa bagian wajahnya terlihat lebam. meskipun di tutupi make up cukup tebal, masih terlihat jelas.
"Kita harus bicara..!"
"Tentu, Mas. Itu yang ku harapkan. Dimana? Masa disini?" tanyanya lagi. Ia seolah tidak terpengaruh oleh kejadian yang menimpanya kemarin.
"Di kafe depan itu..." tiba-tiba Anisa muncul dari belakang tubuh Aby.
Ningsih sempat gugup. Namun dengan cepat dia bisa menguasai keadaan.
"Ini? Mba Anisa, yang bicara di telpon tadi, kan?" tanyanya dengan ramah.
"Benar, seperti yang aku bilang tadi. Kita bicara disana, yuk!"
Ningsih tidak bisa mengelak. Ia terpaksa mengangguk.