
Suasana sangat mencekam di rasakan Yahya,
Ia terkesiap saat Dokter Ratna memanggilnya.
"Tidak bisa di tunda lagi, pasien harus segera di bawa ke Singapura. Mas Yahya tinggal setuju dan siapkan biaya nya. saya bantu urus keberangkatan termasuk membuat janji dengan pihak dokter di sana."
Yahya terdiam.
"Berapa kira-kira nominal biaya nya, Dok?"
"Dari operasi, kemo, dan akomodasi, mungkin berkisar tiga ratus juta, itu belum termasuk paspor dan visa nya."
Yahya lemas di tempat.
dia minta ijin untuk memikirkannya sejenak.
Yahya melangkah gontai ke arah Aby yang bersandar di pintu ICU.
"Pak Aby, saya ingin bicara."
Mereka duduk di sebuah bangku di pojokan.
Yahya merasa berat mengatakan maksudnya.
"Ada apa ustadz, kalau ini menyangkut Anisa, katakan!" ucapnya tak sabar.
Dengan terbata, Yahya menceritakan apa yang barusan ia bicarakan dengan dokter Ratna.
Aby ikut tertunduk. Sekarang dia tidak punya apa apa lagi, surat rumah sudah tergadai. Hanya mobil yang dia punyai. harga mobil juga tidak seberapa. ia masih punya deposit di bank mungkin kalau di total jumlahnya juga masih jauh dari cukup.
"Barang kali Pak Aby punya jalan keluarnya.
Aset Anisa memang ada tapi sangat tidak mencukupi. Apalagi untuk di uang kan Juga butuh waktu. Kondisi Anisa tidak bisa menunggu lagi." ucap Yahya dengan mata yang mulai memerah.
Aby memandangnya.
"Begitu perhatiannya pria ini pada Anisa, entah ada hubungan apa di antara mereka. Ah, itu tidak penting saat ini. keselamatan Anisa di atas segalanya." Aby menepis pikiran buruknya.
"Kalau aku ceritakan keadaanku sekarang juga tidak lebih dari kalian. Rumah dan aset yang lain sudah di kuasai Jelita. ini memang salahku, aku sudah memelihara ular di rumahku." kata Aby menyesali diri.
"Astagfirullah... saya ikut prihatin, Pak Aby."
Aby hanya mengumbar senyum tipis. Tiba-tiba Aby teringat dengan perbincangannya dengan Imran kemarin kantor.
"Ustadz, tolong berangkatlah, bawa Anisa berobat, aku akan mengusahakan biayanya.."
Yahya menangkap keseriusan di wajah Aby.
"Tapi, pak Aby adalah suaminya. Ya g lebih pantas mendampinginya adalah pak Aby.."
"Ini sifatnya darurat, lagi pula kau tau sendiri bagaimana Anisa membenci ku." Aby menelan ludah.
"Cepatlah urus keberangkatannya, tidak ada waktu untuk berpikir lagi. Oh, ya? Al dimana?"
Aby tiba-tiba teringat putranya.
"Dia aman bersama Bu Dhe saya di pesantren."
Aby menarik nafas lega.
Setelah Yahya berlalu dari hadapan ya, ia bergegas menelpon Imran.
"Im, aku sangat butuh bantuan mu. Beri aku nomor milyuner yang sedang mencari pendonor ginjal itu."
"Kau gila, Bi. Jangan bilang kau akan mendonorkan ginjal mu." suara Imran di iringi tawa.
Aby tak menggubrisnya. Dia harus menyelamatkan Anisa, apa pun caranya. Bukannya dia tidak tau akibat dari seseorang yang hidup dengan satu ginjal. tapi tidak ada pilihan lain lagi.
"Halo, By.. Kau masih disana?" suara Imran mengagetkannya. Imran memang belum tau keadaan Anisa. Dan Aby juga tidak berniat memberi taunya. Ia tau sendiri bagaimana kondisi keuangan Imran.
Setelah mendapatkan kontak dan alamat yang jelas. Aby memantapkan diri menemuinya.
"Kau yakin dengan niatmu itu anak muda?"
"Saya sangat yakin." jawab Aby pasti
"Berapa uang yang jau minta untuk imbalannya?"
"Empat ratus juta, pak. Ginjal saya bagus, saya sehat.' kata Aby
Pria kaya di depannya itu memandangnya serius.
"Baiklah, kita akan melakukan serangkaian tes terlebih dahulu."
Aby terdiam, pria itu menatapnya heran.
"Bukannya saya lancang dan menyalahi prosedur, tapi saya sangat membutuhkan uang itu segera. Tidak bisa menunggu lama. bolehkah saya meminta bayarannya terlebih dulu? Nyawa seseorang sedang menunggu uang itu, Pak."
Aby menghiba sambil menangis.
Pria itu setuju. Dengan syarat Aby tidak boleh kemana-kemana.
Dengan senang hati Aby menyanggupinya.
Setelah transaksi terjadi. Abi langsung mentransfer uang itu kepada Yahya. Semuanya, tanpa sisa. Ia berharap uang itu akan bermanfaat untuk kesembuhan Anisa.
Yahya bersyukur sekaligus terkejut menerima uang dari Aby.
"Darimana pak Aby mendapatkan uang sebanyak ini?" gumamnya.
Yahya sudah terbang ke Singapura membawa Anisa. Dengan bantuan dokter Ratna, Anisa mendapatkan penanganan dengan cepat.
Operasi pengangkatan sel-sel kanker berlangsung cukup menegangkan. Setidaknya itu yang di rasakan Yahya.
Bersamaan dengan berjalannya operasi Anisa, Aby pun menjalani serangkaian operasi untuk mengangkat sebelah ginjalnya.
Ia tersenyum lega saat menyadari dirinya berada di sebuah ruangan dengan kondisi kaku tidak bisa bergerak.
Tidak ada keluarga atau sanak famili yang menemaninya.
"Mudah mudahan pengorbananku tidak sia-sia. Kau harus melanjutkan hidupmu, Nisa. kau harus bahagia sekalipun pilihanmu adalah ustadz Yahya, kali ini aku yakin dia adalah pria yang baik." ada butiran bening mengalir dari sudut mata nya.
***
Di Singapura, Yahya merasa lega karna operasi Anisa berjalan lancar.
Ia tak henti mengucap syukur. "Mudah-mudahan pengobatan selanjutnya juga lancar.." doanya dalam hati.
Yahya teringat untuk mengabari Aby.
"Pak Aby... operasinya berjalan lancar. Mudah mudahan selanjutnya juga seperti itu."
Aby berusaha tersenyum dengan susah payah.
"Syukurlah.. Itu yang aku harapkan." jawab Aby sambil meringis. Luka bekas operasinya masih terasa nyeri. Namun itu tidak seberapa di bandingkan dengan kabar keberhasilan operasi Anisa.
"Sebaiknya pak Aby menyusul kesini, Anisa akan sangat bahagia saat membuka matanya nanti, yang pertama kali di lihatnya adalah Pak Aby."
Aby menghapus air matanya,
"Aku sangat ingin, tapi untuk saat ini belum bisa. Aku minta tolong kau jaga Anisa baik-baik."
Yahya sedikit merasa aneh.
"Kenapa suaranya seperti orang yang sedang menahan sakit? Terus darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu? Bukankah dia bercerita kalau Jelita sudah merampas semuanya?" banyak pertanyaan di benak Yahya.
Aby masih dirumah sakit, ia menjalani perawatan paska pengangkatan ginjalnya.
Imran yang sedang menemaninya. Memandangnya tak mengerti.
"Dulu, sat kau menikahi Jelita, aku merasa bingung dengan keputusanmu. Sekarang aku lebih bingung lagi, hubunganmu dengan Anisa tidak baik. Tapi kau rela mengorbankan diri mu untuk dia, kau tau apa yang di alami oleh orang yang terpaksa harus hidup dengan satu ginjal?"
Aby tersenyum.
"Bisa tidur tenang, karna mengurangi rasa bersalah. Apa yang lebih baik dari itu?" jawab Aby tersenyum.
"Jangan mulai lagi berpilsafat, itu buka bidangku, jadi aku tidak mengerti jalan pikiranmu yang penuh dengan pilsafat hidup." ketus Imran.
"Kalau menemaniku disini, jangan mengomel terus. Aku jadi pusing."
"Pusing yang kau buat sendiri, mendingan kayak aku, hidup itu simpel, jangan di buat ribet."
"Aku memang salah, Im. Sudah salah menilai karakter seseorang."
"Sudahlah, kau istirahat saja" Imran tidak mau menambah beban Aby lagi dengan mengingat Jelita.
Imran memikirkan bagaimana memikirkan pekerjaan Aby kedepannya? selama ini ia ada karyawan teladan di kantor mereka, jabatannya pun terus menanjak. tapi dengan tubuh yang hanya di topang satu ginjal apakah dia masih bisa beraktivitas seperti biasa?
Intuk sementara waktu, Aby pulang ketempat Imran di mana dia menitipkan Zahra.
"By, kenapa kau harus menambah bebanmu lagi dengan membawa Zahra? Bukannya aku keberatan kau disini, lho. Jangan salah paham!"
"Mungkin memang sebaiknya aku kembalikan dia ke ibunya, dengan keadaanku saat ini, rasanya kerepotan mengurus anak kecil."
"Kau benar, Jelita adalah ibu kandungnya.. Sejahat apapun dia, tidak mungkin akan membahayakan anaknya sendiri."
Aby mengangguk, ia mencerna nasehat Imran. Aby begitu kecewa pada wanita itu. Bagaimana ia telah mengangkatnya dari kubangan hina tapi Jelita memberikan balasan yang sangat pedih.