
Yahya pulang dari tempat itu dengan dada penuh sesak.
"Bagaimana Aby bisa melakukan ini?
Aku... Aku yang selama ini merasa selalu ada buat Anisa, aku yang selalu berkorban untuknya dengan mengatas namakan cinta, tapi apa yang di lakukan pria itu? bahkan dia rela menyerahkan hidupnya demi orang yang di cintainya, dan itupun tidak ingin di ketahui Anisa..."
Yahya mengusap matanya.
Saat itu sudah hampir sampai di rumah. Ia tidak mau Anisa memergokinya sedang menangis.
Ia mendapati wanita itu sedang duduk di teras.
Yahya tau, Anisa sangat berharap mendapat kabar tentang Aby.
Yahya menjadi bimbang, akankah ia memberi tau Anisa tentang apa yang terjadi pada Aby?
Sedangkan Aby sendiri melarangnya dengan keras. Bahkan pria itu meminta nya bersumpah.
"Bagaimana, kak? Ada kabar?" tanya Anisa penuh harap.
Yahya menggeleng.
"Belum, aku cari ke kantornya, katanya dia sudah lama tidak ngantor lagi." Yahya memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Anisa membaca kebohongannya.
Anisa tampak termenung.
Kini Yahya ingin mengubur harapannya untuk memiliki Anisa. Ia merasa Aby lah pria yang berhak atas cinta Anisa.
Lain halnya dengan Anisa sendiri.
Ia menyadari perasaan ustadz Yahya padanya. Ia merasa inilah saatnya membalas semua kebaikan pria itu selama ini.
Toh mengharapkan Aby juga percuma.
Anisa juga sudah mencoba menanyakan pada Imran. Tapi sahabat Aby itu tetap bungkam.
"Sudahlah, mungkin memang dia sudah tidak ingin menjalin hubungan dengan kita lagi." ucap Anisa menyembunyikan kekecewaannya.
Yahya menatapnya iba.
Mulai saat itu, Anisa berjanji dalam hati akan berusaha melupakan Aby. kepada Al, ia juga menanamkan bahwa ustadz Yahya lah orang terdekat mereka saat ini. walaupun tidak menegaskan kalau anaknya itu harus menerima Yahya sebagai pengganti Aby. perlahan tapi pasti, Al bisa menerima kehadiran Yahya sebagai sosok ayah menggantikan Aby.
Anisa terharu menyadari hal itu.
Walaupun cinta untuk pria itu belum hadir di hatinya. , Anisa berpikir apa salahnya memberinya kesempatan? Toh cinta bisa muncul kemudian.
Yahya sendiri merasa terbebani dengan kenyataan itu. Diam diam ia menemui Aby.
itu kali kedua ia menemuinya, harapannya tetap sama, yaitu agar Aby mau bertemu anak dan istrinya.
"Kenapa kau lakukan ini? ijinkan aku mengatakan yang sebenarnya, Anisa dan Al berhak tau yang sebenarnya."
Aby menggeleng.
"Aku tidak akan merusak masa depan mereka.
Ginjalku yang tinggal sebelah ini sudah terinfeksi parah.
Apa yang bisa di harapkan dari suami penyakitan seperti aku?
Apa yang bisa di banggakan dari seorang ayah seperti aku? Yang ada mereka akan kecewa dan malu. Aku hanya akan menjadi beban buat mereka. Aku tidak mau itu!"
"Apakah pak Aby tidak merindukan mereka?"
Aby menarik nafas berat.
"Jangan tanyakan itu? Bahkan aku tidak sanggup untuk tidak mengingat mereka beberapa saat saja."
Butiran bening menetes dari sudut matanya yang layu.
Yahya percaya kalau Aby sangat merindukan istri dan anaknya. Di lihat dari lukisan tangan yang di buatnya semua gambar tentang Anisa dan Albany.
"Aku percaya padamu, kau akan menjaga mereka. Menjaga orang -orang yang aku sayangi."
"Menikahlah dengan Anisa! aku merestui kalian."
Yahya terkejut, ia tidak menyangka Aby meminta hal yang satu itu.
"Bersumpah lah untuk merahasiakan ini pada mereka. Usiaku mungkin tidak lama lagi. aku ingin mereka melanjutkan hidup."
Yahya pulang dengan tangan hampa.
Ia belum berhasil membujuk Aby.
Tapi Aby malah meminta sesuatu yang sangat mustahil.
Setahun berlalu.
Kabar tentang Aby belum juga di dapatnya. Anisa memutuskan meresmikan hubungannya dengan Yahya.
"Halalkan aku, kak! Aku ingin Al punya keluarga yang utuh." ucap Anisa suatu hari.
Ia merasa lelah dengan penantiannya terhadap Aby yang tanpa kepastian.
Yahya tercengang mendengar permintaan Anisa.
Bukannya dia menolak karna tidak suka. Bahkan seumur hidup pun dia akan setia menunggu cinta wanita itu. Tapi sekarang, setelah mengetahui Keadaan Aby. Hatinya bimbang.
"Kau tidak mau?" tanya Anisa ragu. Ia melihat Yahya hanya bengong di depannya.
"Bukan begitu, Nis. Aku sangat bahagia, terkejut, juga iya, belum siap saja..."
'Kenapa saat ucapan yang di tunggunya bertahun-tahun itu tiba, kenyatannya berbeda. Kenapa Aby tidak terus saja bersama Jelita, atau Aby terus menyakiti Anisa. Itu akan menjadi alasan kuat baginya untuk menerima tawaran Anisa.
***
Kondisi kesehatan Anisa semakin membaik.
Hari itu ia sedang berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Bersama Yahya dan Al bany, dia sedang mencari perlengkapan untuk acara pernikahannya dengan Yahya yang tinggal beberapa hari lagi.
Tak sengaja ia melihat Jelita.
Penampilannya tak ubahnya nyonya besar.
Yang di kenakan nya juga barang branded semua.
Lalu dengan pongahnya ia mendekati Anisa.
"Mbak, ternyata kau cerdik juga, ya. Minta pisah dari Mas Aby hanya untuk bisa bersama pria itu." ucapnya dengan menunjuk ustadz Yahya yang sedang bersama Al.
"Jaga ucapan mu, kita sudah tidak punya hubungan apapun, jadi silahkan pergi dari hadapanku!" seru Anisa
"Owh berani bicara keras sekarang, ya? Nyalimu besar juga mbak."
"Dari dulu aku tidak pernah takut padamu, aku hanya kasihan. Aku juga rela berbagi suami denganmu karna aku iba, tidak ada yang mau mengangkat derajat mu selain suamiku."
Kata Anisa dengan tenang.
Jelita menggeram sambil mengatupkan bibirnya.
"Jaga bicaramu, Mbak. Kau belum tau siapa aku sekarang?"
"Tentu saja aku tau, kau bisa berpenampilan seperti ini pasti karena belas kasihan seorang wanita juga, atau kalau tidak, kau pasti dapat mencuri hak wanita lain. apalagi keahlianmu selain itu?"
"Sudah hampir meninggal saja masih bisa sombong!" jawab Jelita dengan sinis
Anisa teringat sesuatu.
"Eh, Jelita, kau sembunyikan dimana Mas Aby?"
Jelita tertawa.
"Kau bertanya atau meledek ku? Aku pikir kau yang menyembunyikan suamiku itu."
"Aku tidak bercanda, kasi tau dimana Mas Aby sekarang. Aku tidak akan mengambilnya dari mu, percayalah. aku hanya ingin tau dimana dia?" bisik Anisa. Ia khawatir Yahya mendengar percakapan mereka.
Belum sempat Jelita menjawab, seorang pria menghampiri mereka.
"Sudah, belanjanya sayang? Ayo kita pergi."
Jelita tersenyum pada pria itu, lalu meninggalkan Anisa begitu saja.
Anisa mendesah pelan.
Tak di sangka, Jelita terjebak dalam dunia hitam, ia menjadi simpanan Om-om nakal.
Lalu kau dimana, Mas Aby...?
Hari pernikahannya dengan Yahya tinggal menghitung hari. Namun hati Anisa masih gamang saja memikirkan Aby.
"Ada apa?" Yahya mendekatinya.
"Tidak ada, kak." Anisa tidak mau merusak hari bahagia mereka karna harus menceritakan pertemuannya dengan Jelita. Hati pria itu akan terluka kalau tau dia masih berusaha mencari kabar tentang Aby.
Sementara itu, Jelita masih memikirkan perkataan Anisa.
"Mbak Anisa sepertinya serius tidak tau tentang Mas Aby. Lalu dimana kau sebenarnya, Mas?" rintihnya dalam hati.
Dari semua pria yang di kencaninya, hanya Aby lah satu-satunya pria yang bisa menghargainya.
Setelah kepergian Aby saat itu, Jelita kehilangan kontak dengannya.
Kehidupannya yang terlilit utang membuatnya kembali pada kehidupannya yang dulu. Hidup miskin di gubuk reyot.
Pernah merasakan hidup nyaman membuatnya tidak betah. Ia mulai memberanikan diri menjajagi dunia malam. Pria-pria kaya menjadi incarannya. hingga ia kembali merasakan hidup mewah hasilnya berbuat maksiat.
Bu Sari ikut menikmati hasil jerih payah anaknya menjual diri.
Zahra tumbuh di bawah asuhan Jelita yang urakan. Ia sering mendapati ibunya pulang dalam keadaan mabuk.
Sedang Bu Sari ha ya sibuk menghitung pundi -pundi uangnya dari Jelita.
"Kenapa tidak mau makan, hah? Ibu lelah, siang malam banting tulang untuk siapa lagi kalau bukan untuk kami!"
Jelita membentak Zahra yang tidak mau makan. Anak kecil itu ngambek karna ibunya tidak pernah ada waktu buatnya.
"Tapi Zahra mau Ibu.." ucapnya dengan terisak.
"Ni anak.. Udah lahir tanpa di minta, masih menuntut juga. Lalu gimana kita bisa makan kalau ibu tidak cari uang?" ia memandang putrinya dengan gusar.
"Ya sudah. kalau tidak mau makan, ibu mau tidur, capek!" Jelita meninggalkan anaknya begitu saja.
Seorang tetangga mereka menghampiri anak malang itu.
"Ayo sini, sama Mbah saja. Mbah punya makanan buat Zahra!"
Gadis kecil itu beringsut mengikuti wanita tua yang di panggilnya Mbah.
Bersambung!!