
Saat yang di tunggu Anisa pun tiba.
Aby terlihat keluar dari kantor bersama Imran dan yang lainnya.
Mobil Aby mulai meninggalkan basemen kantornya.
Anisa minta sopir taksi mengikutinya dari jarak yang jauh saja, ia tidak ingin Aby merasa di ikuti.
Semula mobil itu meluncur menuju jalan pulang, Anisa sempat merasa sedikit lega. Tapi saat tiba di sebuah pertigaan, mobil Aby berbelok. Hati Anisa kembali berdesir.
Mobil Aby terus menuju sebuah kompleks perumahan yang lumayan bagus.
Hati Anisa semakin tidak karuan.
Mobil Aby memasuki halaman salah satu rumah.
"Berhenti disini, pak!" Anisa memperhatikan Aby yang keluar dari mobil.
Ia melihat seorang wanita menyambutnya di depan pintu sambil menggendong bayi.
Wanita itu mencium tangan Aby, lalu Aby mencium bayi kecil dalam gendongan sang wanita.
Anisa tidak sanggup lagi melihatnya.
Rasa marah, benci dan muak bercampur menjadi satu..
Ia tak menyangka, suami yang selama ini di hormatinya begitu rupa tega melakukan ini semua. Pandangannya mulai kabur oleh air mata yang merembes tak bisa di tahannya.
"Kita pergi dari sini, Bu?" sapa sopir taksi karna melihat Anisa yang begitu shock.
"Ia Pak, kita pulang." ucap Anisa dengan suara bergetar.
Sampai dirumah, Anisa membayar taksi. Ia masuk kerumah lalu bersimpuh di depan pintu. Air matanya luruh bersama dadanya yang terguncang menahan sesak.
Anisa menjemput Al untuk pulang. Ia berusaha bersikap biasa di depan anaknya.
"Sekarang, lalu Al mandi, setelah itu belajar di kamar, ya...!" ucap Anisa pada putranya.
Setelah anak tak terlihat lagi. Anisa mempersiapkan hatinya untuk menghadapi Aby.
Suara mobil Aby memasuki halaman rumah.
Dada Anisa kembali bergejolak.
Lamat-lamat ia mendengar Aby mengucap salam dan memanggil Al.
"Al.. Lihat ayah bawa apa?"
Aby masuk sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.
"Al..!" Aby menghentikan langkahnya saat melihat Arini yang berbeda. Matanya terlihat sembab habis menangis.
"Nisa..?" Aby melepaskan bungkusan di tangannya dan hendak mendekati istrinya.
"Stop di situ, Mas!"
Aby memandang istrinya dengan bingung.
"Apa ini?" Anisa melemparkan tumpukan kertas ke wajah Aby.
Aby terkesiap. Ia mengira Anisa pasti sudah tau kebohongannya.
Aby mengamati kertas yang bertebaran di depannya.
Sangat jelas terlihat itu struk belanja, kwitansi pembayaran rumah dan lain-lainnya.
"Untuk siapa semua itu? Jawab Mas! Untuk siapa?" ucap Anisa dengan nada tertahan.
Aby berdiri mematung. Ia tidak bisa memulai dari mana untuk menjelaskannya pada Anisa.
"Rupanya selama ini aku sudah kau bodohi, dan naifnya, aku tidak tau." Anisa menutup wajahnya sambil menangis tersedu.
"Maaf, Anisa. Mas mengaku bersalah. Hukum lah aku, tapi tolong dengarkan dulu penjelasan ku." ratap Aby.
Aby mulai menceritakan kisahnya secara ringkas. Termasuk keinginannya untuk berterus terang yang terus tertunda.
Mendengar pengakuan Aby, membuat Anisa kalap. Ia menyapu semua yang ada di atas meja hinga jatuh berantakan.
"Aku sungguh tidak menyangka, kau mampu mengkhianati ku..."
"Kalau aku banyak kekurangan, kenapa kau tidak bilang, Mas?"
"Tidak, kau tidak ada kekurangan, kau istri yang hampir sempurna, buat Mas Aby lah yang yang tidak pantas untuk kalian."
"Lalu kenapa ada wanita itu di antara kita? Aku bisa menerima kecurangan mu yang lain, tapi tidak dengan yang ini!"
Anisa meraih koper di atas lemari.
Ia mengemas beberapa barangnya.
"Nisa, kau jangan pergi, kalau kau tidak bisa memaafkan ku, aku terima. Tapi jangan pergi dari rumah ini. Biar aku saja yang pergi.
Dada Anisa terguncang hebat.
Aby berbalik hendak pergi, tapi Al sudah berdiri depannya.
"Ayah tidak boleh pergi!" ucapnya keras.
Aby berjongkok dan memeluk putranya erat.
Hati Anisa teriris menyaksikannya
"Ayah harus pergi, Al jaga Bunda baik-baik, ya!" Aby menciumi putranya.
Aby melangkah gontai meninggalkan rumahnya, rumah impiannya bersama Anisa, rumah yang selama ini menjadi surga buatnya. Ia tak menyangka, sore itu adalah sore terakhir buatnya pulang kesana.
Anisa terduduk di lantai. Hati ya benar'-benar sakit oleh penghianatan Aby.
Anisa memeluk putra semata wayangnya.
"Bunda jangan menangis.. Al ikut sedih."
Al mengusap air mata yang tak bisa berhenti keluar.
Al sayang, bunda, kan? Tidurlah, besok Al harus sekolah." bujuk Anisa.
Al mengangguk patuh. Anisa tau, hatinya sangat terluka melihat pertengkaran orang tuanya. Hal tidak pernah ia alami selama ini.
Setelah Al pergi ke kamarnya, Anisa merenungi kembali apa yang sudah terjadi
Sakit, memang.. Bahkan rasanya ia tak bisa bernafas karena sesak di dadanya. Tapi ia ingat wejangan Abahnya.
"Jika kau sedang gundah, mengadu lah padanya." Anisa bangkit dan mengambil air wudhu. Setelah itu dia menyerahkan diri dan tenggelam dalam doa yang panjang.
Di tempat lain, Aby datang ketempat Jelita.
Ia menceritakan bahwa Anisa sudah tau yang sebenarnya.
"Mas, di usir dari rumah?" tanya Jelita.
"Tidak, Sebenarnya Anisa yang mau pergi dari rumah. Tapi aku pikir aku lah yang harus keluar."
Ada rona gembira di wajah Bu Sari saat mendengar berita itu.
"Nak Aby sudah tepat datang kesini. Kalau Anisa tidak menghendaki mu lagi, Jelita selalu siap menunggumu. iya, kan Lit?"
Jelita mengangguk.
" Aku tidak akan tidur disini." jawab Aby cepat.
"Lalu kau mau kemana, Mas? Ini sudah malam." tanya Jelita cemas.
"Aku akan tidur di kantor."
Bu Sari dan Jelita tidak berhasil menghalangi Aby. Untuk pergi.
Malam itu, Aby pergi ke kantor. Ia minta ijin pada pak Amin untuk tidur di kantor satpam.
Malam itu Aby tidak bisa tidur, ia terus terbayang air mata Anisa dan tatapan sedih Al.
sampai pukul 3:00 pagi, ia belum juga bisa memejamkan matanya.
Ia bangkit dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat sunat.vseyelah itu dia bersimpuh dengan khusyuk.
"Ya Allah... jika ini memang jalan yang kau pilih untuk ku, jadikanlah ini yang terbaik.
mudahkanlah semuanya.
Pagi harinya, Anisa bangun seperti biasa. Ia meraba ke sebelahnya seperti kebiasaanya membangunkan Aby.
Biasanya Aby langsung terjaga oleh sentuhannya. Lalu suaminya itu merangkulnya erat sebelum mereka bangkit dan melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah.
Anisa terkesiap saat menyadari Aby sudah tidak ada di sampingnya.
Hatinya kembali terusik pilu saat mengingat yang terjadi semalam.
"Buat apa aku mikirin dia, dia pasti sudah senang dengan anak dan istri barunya." ucap Anisa dengan geram. Walau berat hati. Anisa tetap menjalankan aktifitas seperti biasa.
Sepulang mengajar ia dapatkan ketempat Abahnya.
...Dengan tersedu ia mengadukan masalahnya....
"Sebenarnya Abah sudah curiga, tempo hari dia datang tapi tidak bicara apapun. Tapi wajahnya terlihat sangat lelah."
"Bagaimana menurut Abah?"
"Maksudmu, Nduk?"
"Kelanjutan hubungan ku dengan Ma Aby..."
"Astagfirullah.. Jangan terburu-buru. Saat ini hatimu sedang kalut, tidak bisa berfikir dengan tenang. jangan terburu mengambil keputusan apalagi menyangkut perpisahan, Abah tidak suka."
"Jadi Abah mendukung perbuatan Mas Aby?"
Mata Anisa berkaca-kaca.
"Bukan, kau salah sangka, Nduk. Abah tidak pernah mendukung yang namanya poligami. Tapi Abah juga tida bisa menentangnya. Semua sudah di atur dalam agama."
"Apa yang di lakukan Aby tidak melanggar hukum agama, hanya saja caranya yang tidak di benarkan.
Anisa masih terdiam mendengarkan.
"Abah tidak menyalahkan reaksimu, siapa pun yang ada di posisimu pasti bereaksi yang sama denganmu. Tapi ingat Nduk, asih ada Al yang membutuhkan kalian berdua. Bukan hanya kau, atau Aby saja. Tapi kalian berdua!"bersih
"Tapi, Bah.. Nisa belum bisa memaafkan pengkhianatannya, di tambah dia tidak mau berterus terang, itu yang sangat menyakitkan, Bah."
"Abah mengerti, sangat mengerti. Tapi seandainya saja kau bisa sedikit ikhlas, batin mu tidak akan sesakit itu, Nduk. Percayalah!"
alam itu Anisa menginap di rumah Abahnya.
Banyak wejangan yang di dapatnya dari sang Abah. Hal itu membuat batinnya sedikit tenang.
Komen dan like nya dong!