KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 60


Lyra di rundung penyesalan yang dalam.


Dari kelalaiannya dia harus kehilangan kehormatannya.


Ia merasa tidak punya muka lagi untuk menemui Aby, walau hatinya sangat ingin.


Sedang Rosma, ia merasa penasaran. Semenjak ia memberi cara padanya untuk mendapatkan Aby, gadis itu tidak pernah muncul lagi.


"Ada apa dengan gadis itu, kalau dia tidak datang lagi. Anisa bisa leluasa mendekati Aby..." keluhnya dalam hati.


"Aku tidak mau keadaan yang sudah tenang ini kembali seperti dulu." keluhnya lagi.


Yahya sudah mulai membuka counter kecil di depan rumah, dan tak disangka lumayan ramai. Hal itu membuat Rosma bernafas lega.


"Akhirnya, dia bisa bangkit dan melupakan keadaannya." ucap Rosma terharu.


Anisa juga ikut merasa senang dengan kenyataan itu. Walaupun di hatinya masih tersimpan kegelisahan yang dalam tentang kelanjutan hubungannya kelak dengan Yahya.


Di bagian hatinya yang lain merasa lega karna Lyra tidak pernah lagi datang untuk mengantar Aby.


Sikapnya yang kembali menghangat membuat Aby sedikit heran.


"Ceria sekali lagi ini?" sapa Aby saat berpapasan dengan Anisa yang sedang menggendong anaknya berjalan-jalan.


 Karena hari Minggu ia memutuskan keluar jalan-jalan sehabis sholat subuh.


"Mas Aby... Sudah lama disitu?"


Aby menggeleng.


"Dedek KHaliza, mau sama ayah Aby? Aby mengulurkan tangannya pada bayi delapan bulan itu.


"Kau sangat cantik, cantik seperti ibumu.


Kau juga harus ibumu, kuat dan tegar."


Anisa hanya tersenyum mendengar sanjungan Aby.


"Oh, ya..Al dimana?"


"Dia memilih jalan bersama temannya, maklumlah bocah sudah hampir remaja " jawab Anisa.


"Iya, tidak terasa, Al sudah berusia sebelas tahun." timpal Aby. Matanya menerawang ke masa lampau saat Anisa mau melahirkan.


Semua terasa indah.


"Semua begitu cepat berlalu, Aku masih ingat saat kau berteriak karna takut akan sakitnya melahirkan. Tapi saat anaknya lahir kau malah tertawa-tawa..." Aby tertawa kecil mengingat moment lucu itu.


"Iya, dan kau juga ikut menangis saat aku menangis, iya kan?" Anisa ikut tertawa.


Suasana kembali canggung saat tawa mereka berhenti.


"Mas, apakah kita tidak bisa mengulang itu lagi?" pancing Anisa.


Aby hanya tersenyum kecil.


Ia menatap dalam ke mata Anisa. Ia berharap Anisa mengerti apa yang ada di hatinya saat ini. Ia pun rindu akan hal itu. Tapi sungguh dirinya tak kuasa melawan takdir.


"Oh, ya Mas. Aku sempat mendengar cerita kak Yahya dan Bibinya tentang janji kak Yahya pada Mas Aby, janji apa itu?"


Aby duduk di bangku yang tersedia, Anisa ikut duduk namun agak berjarak.


"Janji?"


"Iya.."


"Waktu itu di rumah sakit. Yahya dan aku..."


"Anisa..! Aduh di cari kemana-mana, malah disini. Cepetan pulang, Yahya harus bersiap buka counter nya, sebagai istri yang baik. temani dia sarapan atau apa kek?"


"Sudah aku siapkan di meja." jawab Anisa ketus.


"Tapi temani sana!"


Dengan kasar Rosma mengambil paksa Khaliza dari tangan Aby.


"Lepasin cucu ku!" ucapnya sinis.


"Bi, bisa ngga bicara lebih sopan? Apa reaksi Bibi kalau aku bilang Bibi tidak boleh menyentuh anakku?"


"Ya, tidak mungkinlah. orang aku ini keluarganya Yahya. Jadi, Bibi juga berhak atas anak ini. Sedangkan dia? Dia siapa? "


Aby hanya terdiam saat Rosma menyudutkannya.


"Aku minta maaf kalau perbuatan ku selama ini tidak pantas menurut Bibi. Bi Rosma benar, Nisa. Aku bukan siapa-siapa mu lagi." jawabnya mengalah.


Rosma tersenyum penuh kemenangan. Rencananya mencegah Aby bercerita tentang janji Yahya padanya berhasil dengan mulus.


"Susah, ya bicara pada orang kaku seperti Bibi." Anisa menghentak kakinya dan langsung pergi dari hadapan Aby.


"Aby, sebenarnya kamu itu maunya apa? Kau tidak sadar kalau perbuatanmu sudah membuat anak saya kecewa? Yahya harus merasakan sakit hati karena Anisa yang belum bisa menerimanya sepenuhnya. Dan itu gara-gara kau!"


"Lagi pula, kalau sudah bercerai, apalagi sudah tau kalau Anisa ada suami. Bukannya menjauh malah selalu bikin alasan agar bisa dekat lagi dengannya."


Rosma masih mengomel.


Aby meyakinkan namun perempuan itu tidak percaya.


"Begini saja, aku lihat siapa itu gadis ya g sering mengantarmu itu? Kau teruskan saja hubunganmu dengannya, kalau perlu cepat menikah. Dengan begitu rumah tangga Yahya akan tentram."


Rosma meninggalkan Aby yang menarik nafas panjang.


Sampai dia malah menemui Yahya yang sedang membuka counter kecilnya.


"Yahya.."


..."Iya, Bi.. Aku mau mulai buka counter ku. Nisa ngga kita bicara ya nanti saja?" tanya Yahya sambil terus beraktivitas."Ini penting banget!" ucapnya sewot karena Yahya sepertinya...


Kurang merespon ucapannya.


"Ada apa? Sekarang aku sudah duduk.."


"Kau pasti tidak tau kalau Anisa dan Aby sedang mengobrol di taman."


"Terus, yang anehnya dimana?"


"Dasar lemot. Kamu pikir saja, kalau mereka sampai dekat lagi dan Aby menceritakan tentang janjimu padanya? Kau pikir Anisa akan diam saja?"


Yahya terdiam.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Tegur dia, tunjuk kan padanya bahwa kau adalah suami yang harus dia hargai."


Yahya mengangguk mengerti.


Rosma segera menyelinap pergi saat melihat Anisa datang.


"Anisa..!" Yahya memanggilnya dengan tegas.


"Iya, kak."


"Kamu darimana saja? Ketemu pak Aby, kan?"


Todong nya dengan wajah serius.


"Lho, Kaka tau dari mana? Pasti dari Bibi?"


"Jangan biasakan bawa-bawa Bibi. Kau jawab dulu kenapa ketemu pak Aby?"


Anisa menatap Yahya dengan heran.


Yang dihadapannya ini bukanlah Yahya yang di kenalnya. Dia jelas sudah berubah.


"Kak, sejak kapan aku harus bilang dulu padamu kalau mau ketemu seseorang?"


"Jangan salah paham, Nisa. Yang ku maksud dengan pak Aby, bukan dengan orang-orang." tegas Yahya.


"Lalu kenapa kalau Mas Aby? Dia adalah ayahnya anak ku juga." ucap Anisa.


"Tapi kau sudah punya suami, harusnya kau bisa membatasi diri."


"Sejak kapan Kaka harus mengurusi diriku, tentang apa yang menurut Kaka baik, belum tentu buat aku. Begitu juga sebaliknya."


"Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku


sebagai suami mu, kalau kau tidak terima, ya terserah." Yahya meninggalkan Anisa yang kebingungan. Kenapa pria itu begitu cepat berubah.


Memang sejak usah yang dirintisnya mulai ramai, Yahya banyak berubah, dia seperti ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak menumpang lagi. Karenanya ia gampang tersinggung dan sebagainya. Aby yang jadi sasaran kemarahan Yahya dan Bibinya hanya diam pasrah.


Anisa semakin jengah ketika malamnya Yahya seperti minta jatahnya sebagai seorang suami.


Anisa ketakutan dan gugup. Bagaimana caranya ia menghindarinya.


"Nisa, usia Lisa sudah berapa bulan, ya?"


"Delapan bulan jalan, kak. Kenapa?"


"Berarti selama itu pula ranjang kita selalu sepi."


Anisa terkesiap. Ia takut kalau Yahya benar-benar meminta haknya malam itu, sebagai istri buang sah dia tidak bisa menolak, tapi batinnya meronta.


"Nisa, apakah kau tidak merasakan kehampaan yang aku rasakan?" ia bicara begitu romantis. Semua kecanggungan yang selama ini di perlihatkannya hilang seketika. Yang ada di hadapan Anisa adalah pria agresif yang sedang mengharap sesuatu.


"Kak, apa maksudmu?" Anisa pura-pura belum mengerti


"Aku tidak percaya kau tidak mengerti, justru kau yang lebih berpengalaman dari aku." jawabnya asal.


wajah Anisa langsung merasa panas karena merasa malu.


"Kak, sadarlah.. Apa yang terjadi padamu?" Anisa mencoba menyadarkan Yahya.


"Memang aku kenapa? Salah, ya kalau seorang menginginkan itu pada istrinya?" ucapnya mulai meracau.


"Kak, aku yakin ini bukan dirimu yang sebenarnya. Ayo katakan!"


Sebelum bisa bicara apa pun Yahya terkulai di atas kursinya.


Guys tolong bantu ramaikan karya receh ku ini, ya..