
Arini tidak mengerti, tidak ada angin atau hujan, cermin di kamarnya tiba-tiba pecah. Seperti sebuah firasat buruk.
Ia juga semakin bingung karna airmatanya tak berhenti keluar padahal dia tidak sedang menangis.
"Apa mungkin ini bawaan hamil? Ah, tidak mungkin!" ia mencoba menenangkan hati walaupun rasa cemas itu tetap ada karna Aby belum bisa di hubungi.
Sampai lepas Maghrib, Anisa yang gelisah menunggu di teras merasa lega karna mobil Aby sudah memasuki halaman rumahnya.
ia sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk suaminya itu.
Namun hatinya berdesir saat mengetahui bukan Aby yang duduk di belakang setir.
Imran keluar dari mobil.
"Apa yang terjadi?" tanya Anisa dengan panik.
"Tenang dulu, Nisa, kau 'siapkan teh hangat atau apa untuknya." kata Imran.
"Mana bisa aku tenang?" sergah Anisa yang semakin khawatir melihat wajah Aby yang pucat dan terlihat lemas.
"Mas Aby tidak apa-apa Nis, hanya merasa kurang enak badan, makanya mas minta Imran untuk menyetir.." terang Aby.
"Kau sakit?" Anisa meraba kening suaminya, memang terasa panas.
Setelah itu dia menyiapkan tempat tidur untuk Aby.
"Sebentar, ya.. Aku siapkan teh hangat." Anisa bergegas ke belakang.
Imran mendekati Aby dan berbisik.
"Kau yakin tidak mau menceritakan yang sebenarnya? Kalau Anisa sampai tau dari orang lain kelak, dia akan merasa di khianati."
"Aku tau itu. Tapi aku juga belum siap melihatnya hancur saat ini. Dia sedang hamil..
Aku takut terjadi apa-apa dengannya dan kehamilannya." keluh Aby dengan wajah pucatnya.
Anisa datang tergopoh membawa dua cangkir teh hangat di tangannya.
"Kalian lagi membahas apa? Pakai bisik-bisik segala." kata Anisa sambil membenarkan selimut Aby.
"Ini, aku hanya bilang, apa Aby tidak ingin melaporkan orang yang tadi menodongnya ke polisi?" kata Imran mencari alasan.
Aby melotot ke arahnya. Imran telah menciptakan kebohongan yang lain lagi untuknya.
"Jadi mas Aby di todong preman? Kenapa tidak cerita dari tadi?" Anisa memeriksa bagian tubuh suaminya.
"Mas tidak sempat di apa-apakan, Nis. Hanya ponsel dan dompet sempat mereka pegang. Karna itu mas tidak bisa menghubungimu."
Anisa terhenyak memandang wajah Aby yang pucat.
Ia menarik nafas lega.
"Syukurlah kau selamat, Mas." Anisa memeluk Aby yang berkeringat dingin karena mulai berbohong pertama kalinya pada istri Sholehah nya itu.
Aby melototi Imran yang membuatnya harus terjebak dalam sandiwara penodongan.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Tugasku. Sudah selesai mengantar mu dengan aman sampai rumah." ucap Imran bercanda. Ia tidak mau lebih lama terlibat dalam keadaan itu. Takutnya Anisa akan bertanya ini itu, apa yang akan dia jawab.
"Terimakasih, mas Imran, minum dulu tehnya!" " ucap Anisa santun.
"Tidak usah, Nis. Lisa pasti sudah menungguku, kau jaga saja suami mu itu baik-baik."
Anisa mengangguk pasti.
"Dan kalau besok masih tidak enak badan, kau istirahat saja. Jangan masuk kerja dulu." imbuh Imran sebelum akhirnya. menghilang di balik pintu.
Sepeninggal Imran.
Aby menarik tangan Anisa lebih mendekat.
"Nis, mas Aby mohon maaf karna tidak bisa mengabari mu apa yang terjadi..." ucap Aby pelan. Ia merasa sangat bersalah telah mengkhianati istrinya, di tambah dia juga tidak bisa segera berterus terang.
"Kenapa harus minta maaf, situasi yang menempatkan mu pada kejadian itu, aku tau itu semua di luar rencana kita. Aku juga yakin, walau mas Aby pegang ponsel sekalipun pasti tidak akan mengabari ku, karna Mas Aby sangat menjaga perasaanku, Mas, tidak mau membuatku dan calon anak kita stress dan cemas, bukan?" tebak Anisa dengan tenang.
Aby tercengang, ia memegang dan memandangi wajah istrinya. Dari kata-katanya seakan Anisa tau apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan perasaan bersalah yang membuncah, ia memeluk Anisa, Aby menangis.
"Kenapa, Mas? Apa yang sudah terjadi sampai kau sesedih ini?" Anisa merasa heran.
"Mas hanya terharu dan bahagia karna memilikimu dalam hidup ini." ucap Aby meyakinkan Anisa dengan senyum manisnya.
"Itu? Aku juga bersyukur sekali di kasi jodoh yang seperti Mas Aby oleh Allah. Abah tidak salah memilih mu" balas Anisa dengan senyuman merekah.
Aby meraba perut Anisa,
"Lihatlah, Nak.. Betapa orang tuamu saling menyayangi, ayah harap ini jadi contoh buatmu kelak." bisik Aby di perut istrinya.
"Aku siapkan makan malam dulu, ya! Kau pasti belum makan?" tebak Anisa.
Aby mengangguk lemah.
"Mana bisa aku makan sementara beban tanggung jawab yang menghimpit ku begitu berat, Nisa..." bathin Aby.
Aby menggigil mengingat semua yang sudah terjadi hari ini.
Ia sudah mengambil keputusan yang begitu besar tanpa berpikir panjang.
Tapi keadaan tidak memberinya waktu untuk berpikir lagi.
Jelita, si gadis yatim piatu yang malang itu memang pantas di tolong.
"Tapi..." Aby mendesah panjang.
Saat itu Anisa sudah memanggilnya untuk ke meja makan.
"Al kapan pulangnya? Betah sekali dia di tempat kakeknya." Suara Aby memecah kesunyian.
"Besok aku jemput, besok dia juga harus sekolah, kan?"
"Mas, merasa ada yang kurang kalau tidak ada dia saat pulang kerumah." ucap Aby.
Anisa hanya tersenyum menanggapinya.
Ia begitu bangga punya suami seperti Aby, pria yang begitu kharismatik, tampan, pengertian dan jujur. Itulah bayangan yang ada dalam benak Anisa saat itu.
Keesokan harinya.
"Mas, kalau masih kurang fit, istirahat saja dulu." saran Anisa sambil membersihkan tempat tidur.
"Pekerjaan sedang menumpuk, Mas Aby tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Lagian Mas, sudah tidak apa-apa kok."
Anisa menghadap wajah suaminya.
"Yakin?"
Aby mengangguk.
Anisa menatap wajah rupawan yang terlihat polos itu.
Tidak pernah ia mendapati wajah itu cemberut atau masam di depannya.
"Ya, sudah. Tapi janji, kalau merasa tidak enak badan, cepat pulang, ya!"
Aby mengangguk dan mencium kening istrinya.
Di tengah jalan Aby berubah pikiran.
Ia membelokkan mobilnya kearah tempat Jelita.
"Saya mohon maaf karna sudah menciptakan keadaan yang rumit ini." ucap Aby pada Jelita dan ibu angkatnya
"Tidak, sampean tidak salah kok. Malah keluhuran budi sampean sudah menolong kami, khususnya Jelita."
Jelita hanya tertunduk di hadapan Aby.
"Saya tidak tau harus berterimakasih atau tidak, Mas. untuk saya, menikah atau tidak menikah sama saja."
"Kenapa kau berkata begitu?"
"sama saja, Mas. Mas menikahi saya karna ingin menolong saya, sedangkan ada keluarga mas Aby yang akan tersakiti.
dan saya, walaupun saya berstatus menikah, tapi tetap saja akan membesarkan anak haram dalam perut saya." Jelita memandang dedaunan yang bergoyang di luar jendela.
Apa tidak sebaiknya kita akhiri saja pernikahan pura-pura ini?" ucap Jelita tiba-tiba.
Aby menoleh kaget.
"Apa maksudmu?"
"Jatuhkan talak pada saya!" ucap Jelita tanpa ekspresi.
"Tidak! Kau pikir pernikahan hal yang main-main?" sergah Aby tidak suka.
Jelita menarik nafas panjang.
"Saya tidak mau menjadi duri dalam pernikahan mas Aby." ucapnya lirih.
"Saya tau, semua ini berat bagi kita, saya, kamu, dan juga istri saya. Tapi perceraian adalah hal yang di benci dalam ajaran agama kita."
Jelita masih terdiam.
"Saya minta waktu untuk mencari jalan keluarnya, saya harap kamu juga ikhlas kalau saya belum bisa memenuhi tanggung jawab seorang suami seutuhnya."
"Saya akan berusaha memperbaiki keadaan ini secepatnya."
Aby meminta nomor kontak Jelita.
"Saya sudah mendapatkan rumah kontrakan untuk kalian. Kalian harus pindah, apalagi kau sedang hamil, kau butuh tempat yang lebih nyaman."
Setelah menjelaskan segala sesuatunya, Aby pamit pulang.
Sebelumnya dia meninggalkan sejumlah uang untuk keperluan Jelita dan ibunya.
MINTA DUKUNGANYA DONG!