
"Kak, kenapa aku merasa kau menjaga jarak denganku?" ucap Anisa saat mereka tengah berbincang di siang menjelang sore itu.
"Itu hanya perasaanmu saja..." Yahya mengelak.
"Syukurlah kalau itu hanya perasaan ku saja." gumam Anisa lega.
Yahya kembali fokus pada pekerjaannya.
Dalam hati ia merasa bersalah karna memang sengaja menjaga jarak dengannya. Yahya takut suatu saat nasib mempertemukan mereka dengan Aby, walaupun sangat berat dan menyakitkan baginya, dia harus membiasakan diri tanpa wanita itu dari sekarang.
Bukan tidak mungkin juga Anisa akan membencinya bila tau keadaan yang sebenarnya.
Rosma menyadari diantara Anisa dan Yahya semakin ada jarak. Ia juga tau yang menciptakan jarak itu adalah keponakannya sendiri. Karna itu ia mencari jalan agar mereka kembali seperti semula.
"Yahya... Ini, kan hari minggu. Bawa Anisa jalan-jalan, calon anak kalian juga pasti suntuk dirumah terus." ucapnya pada Yahya.
Yahya merasa segan menolak di depan Anisa.
"Tapi Al, masih belum pulang.." ucapnya beralasan. Anisa membenarkan nya.
"Tidak masalah... Kalian pergi saja, Al, biar Bibi yang urus. Paling juga pulang les ini dia pergi main bola bersama-sama teman-teman nya, biasa laah." kata Rosma lagi.
"Yahya menatap Anisa, meyakinkan apakah wanita anggun itu mau pergi dengannya.
Anisa mengangguk padanya.
"kita langsung ini?"
"Sebentar, kak.. aku ngambil tas dulu." Anisa berlalu ke kamarnya. Sebentar kemudian dia keluar lagi dengan penampilan berbeda.
Ia terlihat segar dengan gamis warna biru yang senada dengan hijabnya.
Rosma menepuk Yahya yang menatap Anisa tanpa berkedip.
"Apa kau rela menyerahkannya pada pria lain?" bisiknya pelan di telinga Yahya.
"Ayo kak...!"
Yahya tersadar dan bergegas meraih kunci motornya.
Anisa duduk diam duduk di belakangnya.
Entah kenapa, Yahya merasa canggung. Entah apa sebabnya.
Begitupun dengan Anisa, ia merasa sikap Yahya berubah kaku, tidak seramah dulu lagi.
"Eeeumm. Kita kemana, Nisa?" tanya Yahya, karna memang dia tidak tau mau kemana.
"Terserah kakak, saja." jawab Anisa singkat.
Yahya terpikir mengajak Anisa ketempat di mana saat itu Al, melihat sang ayah. Tanpa memberitau Anisa, ia melajukan motornya kesana.
Walau sempat merasa heran, Anisa tidak bertanya kemana tujuan Yahya sebenarnya.
Namun akhirnya ia bertanya juga karena merasa perjalanan mereka cukup lumayan jauh.
"Sebenarnya kita mau kemana, kak?"
"Kita mau ke suatu tempat yang mungkin belum pernah kau datangi." jawab Yahya setengah berteriak.
Anisa terdiam.cia menurut saja bahkan saat Yahya tiba-tiba berhenti di tepi jalan.
"Kita berhenti sejenak, kita numpang sebentar di musholla itu." ucap Yahya sambil menunjuk sebuah musholla yang cukup usang. Itu terlihat dari bangunannya yang sudah rusak di beberapa bagian. Namun begitu, tempat itu terlihat bersih dan sering di pergunakan.
"Sebenar benarnya tujuan kita kemana? Aku belum pernah masuk ke daerah ini.." ucap Anisa sambil mengawasi keadaan sekitarnya.
Mereka melakukan sholat asar di sana.
Yahya berharap Abu akan muncul saat itu. Tapi ia kecewa karna yang di tunggunya tak kunjung tiba. Ia terlihat gelisah.
"Ayo kita pergi.." ucapnya sambil bangkit .
Sebenarnya Anisa merasa penasaran.
"Apa yang sedang di tunggu kak Yahya, dia terlihat gelisah."
Motor Yahya bergerak perlahan meninggalkan halaman musholla kecil itu.
Namun baru saja hendak meninggalkan tempat itu, seorang bapak-bapak memanggil mereka. Rupanya dompet Yahya terjatuh di musholla, bapak itu memberikannya pada Yahya. Di saat Yahya sedang mengobrol tentang dompet itu dengan si bapak.
Mata Anisa menangkap sosok pria yang melangkah terseok dengan tongkatnya dari jarak seratus meteran dari tempat Anisa.
Walaupun penampilannya sudah jauh berubah, Anisa tidak akan pernah bisa lupa siapa dia sebenarnya.
Ia menutup mulutnya dan hampir saja berteriak. Kenangan indah masalalunya bersama pria itu berputar di kepalanya.
"Mas Aby....!" pekiknya lirih.
Yahya tidak memperhatikannya ke arna sibuk bicara dengan dengan si bapak.
Anisa begitu hanyut dalam perasaan yang mengharu biru, sampai ia tidak sadar Yahya sudah menghidupkan motornya. Anisa yang tidak siap langsung terjungkal ke belakang.
Detik kemudian beberapa orang sudah mengerumuni mereka. Yahya membawa Anisa ke klinik terdekat dari tempat itu. Anisa banyak mengeluarkan darah.
Karna kelalaiannya anak dan wanita yang sangat di cintainya itu kini terbaring tak sadarkan diri. Ia terus memegang tangan Anisa dengan mata memerah.
Sedangkan Aby, ia hanya bisa merutuki pengendara motor itu karna mengakibatkan istrinya cedera. Ia tidak sempat melihat keributan secara langsung karna kondisinya. Ia hanya bisa ikut merasa prihatin atas kecerobohan pengendara motor itu.
Yahya menelpon Bibinya dan menceritakan tentang musibah yang mereka alami.
Ia juga melarang Rosma untuk menyusul kesana.
Yahya masih setia menunggui istrinya. Ia juga merasa lega karna Anisa hanya mengalami luka di pelipis dan lengannya, anak mereka juga baik-baik saja.
Dua jam kemudian Anisa membuka matanya.
Yahya begitu gembira. Ia langsung memeluk Anisa dan menangis karna menyesal.
"Maaf, Nisa... Karna kelalaianku kau jadi begini..."
Yahya tertegun. Anisa hanya terdiam seperti orang linglung. Tatapan matanya kosong. Ia sama sekali tak merespon ucapan Yahya.
"Mas Aby..." hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Yahya bertambah bingung.
Tiba-tiba Anisa bangkit, kalau mencabut selang infus dengan paksa. Yahya tak sanggup menghalanginya.
Wanita nitu berjalan keluar sempoyongan. Hijabnya sudah tidak beraturan.
"Mas Aby...!" pekiknya beberapa kali.
Seperti orang gila Anisa berlari ke jalanan sambil memanggil nama Aby. Ia tak perduli dengan pandangan aneh orang-orang di sekitarnya.
Yahya berusaha menenangkannya.
'Anisa, ingat kau sedang mengandung.."
"Aku , aku melihat Mas Aby di sana! Antar aku kesana!"
Anisa berteriak sambil memegangi kepalanya. Air matanya sudah seperti anak sungai.
"Aku melihatnya, dia sangat menderita. Dia pasti sedang menunggu kedatanganku saat ini.." ucapnya sambil terus meronta dalam dekapan Yahya.
"Iya, aku pasti akan membawamu pada cinta sejati mu.. Itu pasti aku lakukan, aku janji.." bisik Yahya sambil memeluk Anisa dengan Isak tangis yang tak tertahankan.
Tatapan Anisa masih kosong. Ia terus meronta minta di antar ketempat di mana dia terjatuh.
Saat itu, sebuah mobil datang membawa pasien korban tabrak lari. Semua suster dan perawat terlihat begitu sibuk berlalu lalang.
"Keadaanya sangat parah. Pasien kritis, harus di rujuk kerumah sakit. Peralatan kami disini belum memadai." terdengar suara lamat-lamat di telinga Yahya.
Pada akhirnya Yahya mengantar Anisa ketempat di mana dia terjatuh. Seperti orang gila ia memanggil Aby. Ia bertanya pada setiap orang yang lewat.
"Pak, apakah bapak melihat orang tingginya segini, memakai tongkat, jalannya pincang dan rambutnya agak gondrong?"
"Tidak., Nak.." selalu itu jawaban yang di dapatnya.
Yahya begitu iba melihatnya.
"Nisa, besok kita cari pak Aby lagi, ya! Ini sudah malam." bujuknya dengan suara lembut.
Anisa menggeleng.
"Aku yakin dia akan datang, dua pasti tau aku sudah menunggunya begitu lama.." Mata Anisa berkaca-kaca saat menatap mata Yahya.
Seorang pria datang mendekati mereka.
"Mas, sedang mencari siapa?"
Anisa cepat-cepat menyebutkan ciri-ciri Aby.
"Itu sama dengan ciri-ciri Aby." ucapnya heran.
"Dimana dia sekarang, pak?" tanya Anisa tak sabar.
Baru sejam yang lalu dia di bawa kerumah sakit kita, dia di tabrak pengendara motor yang tidak bertanggung jawab."
Selintas Yahya teringat kejadian di klinik tadi.
"Berarti yang tadi itu...? Astaga!"
"Terima kasih, Pak!" ucap Yahya tergesa.
Ia langsung naik ke motornya.
"Ayo, Nisa..!"
Dengan hati galau Yahya membelah malam, menyusuri jalanan. tekatnya hanya satu. Anisa harus bertemu Aby, tidak boleh sampai terlambat
Anisa hanya duduk diam di boncengan.
Ia tidak bisa menguasai dirinya lagi.
Senang kah ia akan bertemu Aby? sedangkan dirinya sadar sudah ada ikatan dengan Yahya, apalagi sekarang ada nyawa yang sedang berkembang di rahimnya dan itu tanda mata dari Yahya.