KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 63


Anisa sudah gelap mata menghadapi keadaan dalam rumah tangganya.


Ia tidak main -main lagi. Ia ingin menggugat cerai Yahya.


"Nis, kau serius dengan ucapanmu itu?"


"Aku serius, kak."


Yahya menghela nafas panjang.


"Maksud Bibi tidak begitu, Nisa.. Maafin Bibi, Ya..?" Rosma memasang wajah memelas nya.


Ia ketakutan sendiri saat Anisa mengancam minta cerai.


Anisa tidak bergeming.


"Iya, Nis. Jangan kau masukin Kehati kata-kata Bibi." bujuk Yahya khawatir.


Anisa merasa jengkel, hanya itu dan itu saja yang bisa di katakan oleh mereka.


"Aku tersinggung, kalau Bibi memang keberatan karna kak Yahya menghidupi Al juga, gampang kok.. Mas Aby ayah yang bertanggung jawab. Dia akan menerima Al dengan senang hati. Tapi kalian juga harus ingat kalau aku adalah ibunya. Seorang ibu tidak bisa di pisahkan dari anaknya dengan alasan apapun!"


Yahya terdiam.


"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak pernah mempermasalahkan Al. dia sudah seperti putraku sendiri." ucap Yahya lagi.


Anisa percaya, Yahya memang sangat menyayangi Al. tapi Rosma? Ia kembali mendesah panjang.


'Aku rasa kita memang tidak di takdirkan bersama." jawab Anisa yakin.


Semua terdiam.


Setelah hening beberapa saat,


"Pikirkan kembali keputusanmu itu. pikirkan juga bagaimana nasib Liza selanjutnya."


Rosma mencoba berkata bijak.


"Bibi mengkhawatirkan nasib cucu, Bibi? Dia akan aman bersamaku. Dia juga tidak akan dapat perlakuan tidak adil." ucap Anisa dengan yakin.


"Aku tau alasanmu sebenarnya meminta cerai, kau malu dan bosan keadaanku yang seperti ini. Al hanya jadi alasanmu saja."


Yahya berkata sambil mengusap wajahnya.


"Jangan mengalihkan masalah, kak. Aku sudah berusaha menjadi istri yang patuh tanpa memperdulikan keadaanmu. Tapi kau selalu curiga dan curiga padaku."


"Kita berpisah baik-baik, tidak akan ada pertengkaran dan pertikaian. Liza ikut denganku, dan kapanpun kau bingin menemuinya aku tidak melarang."


 Yahya tertunduk sedih. Tidak pernah terbayangkan kalau akan menghadapi situasi seperti sekarang ini.


"Tidak! Kalian tidak boleh berpisah." ucap Rosma dan berlalu dari depan Anisa.


"Aku juga tidak mau berpisah Nis. Aku tidak mau kehilangan Liza.. " ucap Yahya pilu.


"Kau tidak bayangkan hancurnya hati seorang ibu saat melihat anaknya di beda-bedakan.


Hanya satu yang bisa menyelamatkan pernikahan kita, persilahkan Bibi pergi dari sini.."


Yahya mendongak menatap mata Anisa.


"Kau tega? Dia sudah tidak punya siapa-siapa, kau mau mengusirnya juga? kadang aku berpikir, kau menimpakan semua kesalahan pada Bibi. Padahal kau hanya mencari alasan untuk berpisah darimu lalu kembali pada pak Aby..."


Anisa semakin naik darah oleh ucapan Yahya.


"Kapan kau bisa dewasa? Kau seorang ustadz, kak. Orang menghormatimu karna ilmu yang kau miliki. tapi pemikiran mu dangkal sekali. Kalau ingin aku tetap di sisimu seharusnya kau buat aku semakin nyaman. Bukan malah sebaliknya."


"Tapi kau mengakui kalau masih ada perasaan padanya , kan?" desak Yahya dengan wajah tidak suka.


Ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Anisa.


"Iya, aku akui belum bisa melupakan semua kenangan tentangnya. Tapi kami tidak pernah


melewati batasan kami. Aku memang salah. Kesalahanku hanyalah belum bisa melupakannya walaupun aku sudah berusaha. harusnya kau bantu aku keluar dari kenangan masa laluku, bukannya malah mencurigai ku."


"Kau hanya mencari alasan untuk pisah dari ku, Nisa.. Cobalah kau pikir, pak Aby sudah pergi dari sini, kau masih juga berharap."


"Stop! Semula aku masih ingin mencoba mempertahankan pernikahan ini, tapi melihat pemikiran mu yang sempit membuatku berubah pikiran


  Keputusan ku sudah bulat, kita akan berpisah." Anisa meninggalkan Yahya yang terlihat putus asa.


Anisa menghubungi temannya yang kebetulan seorang pengacara. Ia menceritakan masalah dan keinginannya untuk menggugat cerai Yahya.


Rosma termenung di kamarnya.


ia berpikir bagaimana caranya agar Anisa dan Yahya tidak bercerai.


Tiba-tiba dia ingat Lyra.


"Lyra, kau masih mencintai Aby, kan? Sekarang jangan banyak berpikir. Kesempatannya tidak banyak. Kau harus meyakinkan Aby untuk menikahi mu. Lakukan secepatnya, karena Anisa juga sedang mengajukan gugatan cerai pada suaminya. Kau paham maksudku, kan?"


"Caranya bagaimana?" jawab Lyra merasa ragu.


Lyra termenung di kamarnya. Ia memikirkan kata-kata Rosma barusan.


"Aku memang mencintai Mas Aby, tapi apa dia juga mencintaiku? aku tidak mau kecewa suatu saat nanti."


Hati Lyra menjadi bimbang.


ia kembali teringat bagaimana Arman menyesal atas perbuatannya, diapun mau bertanggung jawab sekalipun benih yang di perut Lyra bukan lah miliknya.


Namun Lyra menolaknya mentah-mentah.


Bahkan ia sampai menghina Arman dengan kata-kata yang menyakitkan.


"Kalau aku tidak mendekati Mas Aby sekarang, kesempatan untuk mereka dekat lagi semakin besar. Aku tidak mau itu terjadi."


Lyra memutuskan untuk menerima usul Rosma.


"Lyra, tumben kau datang, gimana kondisi pak Sofyan?"


"Papa sudah pulang dari rumah sakit."


Aby duduk di depan Lyra.


Melihat wajah Lyra yang gelisah membuat Aby bertanya.


"Masih tentang masalah yang kemarin?"


Lyra menatapnya


"Aku bingung, Mas. Semakin hari perutku akan semakin membesar.. Aku takut kalau papa sampai tau." keluh Lyra.


"Arman? Soalnya aku telpon nomor yang kau berikan itu sudah tidak aktif."


Lyra menggeleng.


"Aku sudah tidak tau kabarnya. Lagipula seandainya pun dia mau bertanggung jawab, papa tidak akan pernah setuju "


"Dimana biasanya Arman nongkrong, biar aku coba menemuinya."


"Masalahnya ada di papa, Mas. Meluluhkan hati papa itu sangat lah tidak mungkin."


Mereka terdiam sejenak.


"Mas, boleh aku minta bantuanmu?" ucap Lyra memecah kesunyian.


"Bantuan apa? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu." jawab Aby cepat.


Lyra menatapnya lekat.


"Tolong nikahi aku..!"


Aby terdiam, ia tidak menduga dengan permintaan Lyra.


"Aku tau ini tidak pantas, tapi ini hanya sampai anak yang ku kandung ini lahir saja, Mas. Aku tidak mau dia lahir tanpa ayah dan di cap anak haram!"


Aby masih terdiam. Pikirannya galau.


Haruskah ia mengulang kejadian masa lalu yang akhirnya merenggut kebahagiaannya dengan Anisa.


"Mas keberatan?" tanya Lyra dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak tau lagi harus minta tolong pada siapa? Hanya Mas Aby pria baik yang aku kenal. Papa juga akan akan senang hati menerimanya kalau Mas Aby yang jadi pasanganku."


"Aku, aku tidak bisa menjawabnya sekarang.


Kau tau sendiri, masalahku saja dengan keluarga Anisa belum selesai."


Lyra mengangguk. Ia mohon diri untuk pulang.


Aby memandang langkahnya yang gontai.


"Kasihan juga gadis itu, tapi kalau aku menolongnya apakah tidak akan menjadi bumerang buatku di kemudian hari? Tapi kalau tidak? Siapa lagi yang mau menolongnya?" hatinya menjadi bimbang.


Ia kembali teringat dengan kemelut yang terjadi di rumah tangga Anisa.


"Mungkin dengan menolong Lyra, aku bisa membantu Anisa untuk melupakan ku. Dengan begitu tuduhan. Bu Rosma yang selalu menyudutkan Anisa bisa terbantahkan. Yah.. Mungkin ini sudah jalannya. aku akan menikahi Lyra." keputusannya kini sudah bulat. Ia akan menolong Lyra dengan menikahinya.


Aby segera menghubungi Lyra. Gadis itu sangat bersuka cita saat mendengar Aby bersedia menikahinya.


Rosma ikut senang saat Lyra mengabarinya.


Dia tidak sadar kalau Anisa sedang memperhatikannya.


"Menikah? Siapa yang akan menikah? Anaknya Bi Rosma? tidak mungkin.. lalu siapa?"


Diam-diam dia mencari tau tentang rahasia Rosma.


.