
Anisa merasa kondisinya semakin lemah. apalagi semenjak ia tidak rutin minum obat itu di karenakan kondisi keuangannya yang semakin krisis .
D sisi lain, sikap Aby padanya juga mulai berubah acuh.
Sangat berbalik dengan sikapnya pada Jelita yang mulai ramah. Entah di sengaja atau memang perasaan Aby sudah benar berubah. Kenyataan itu membuat Anisa semakin sedih. tapi ia berusaha menenangkan dirinya.
"Bukankah ini akan lebih baik? aku akan berusaha membuatnya membenciku. Dengan begitu aku pun akan lebih tenang meninggalkannya." batin Anisa menghibur diri.
Seperti pagi itu, Aby berteriak memanggil Jelita.
"Jelita..! Tolong siapkan perlengkapan kerjaku."
Jelita kaget sekaligus gembira. Sebelumnya itu adalah tugas khusus Anisa. Tapi sangat mencengangkan pagi ini Aby meminta padanya.
Anisa yang sedang memilihkan kemeja untuk Aby, seketika menghentikan pekerjaannya.
"Nisa, kau istirahat saja, biar Jelita yang melakukannya untuk ku!" kata Aby sambil melepas kemeja di tangan Anisa. Ucapan Aby memang lembut, tapi bagai belati yang mengiris hati Anisa.
'Benar, Mbak. Kau istirahat saja. Serahkan tugas mengurus Mas Aby padaku. Mbak sudah waktunya pensiun." bisik Jelita di telinga Anisa. Tentu saja Aby tidak mendengarnya.
Anisa menerimanya dengan lapang dada.
Ia pergi kedapur untuk mencoba membuatkan kopi untuk suaminya itu seperti yang selalu ia lakukan setiap paginya.
Tapi saat Anisa lengah, Bu Sari sengaja memasukkan garam ke dalam kopi yang di siapkannya.
Akibatnya, Aby merasa kesal walaupun tidak sampai memarahinya. Aby berpikir kalau Anisa sengaja melakukannya untuk membuat dirinya kesal. Tegurannya memang lembut, tapi sangat menyakitkan buat Anisa.
"Nis, kalau sudah tidak mau melayani ku dengan ikhlas, tidak usah kerjakan. Biar Jelita saja yang melakukannya." kata Aby sambil memandangnya serius.
Jantung Anisa berdenyut nyeri, sekarang Aby selalu mengandalkan Jelita.
"Apa maksudnya Mas Aby berkata seperti itu!"
Anisa mencoba meminum kopi yang ia buatkan untuk Aby.
Saat Anisa mencoba kopi buatannya, ia spontan ia memuntahkannya lagi.
" Asin... Pantas saja Mas Aby merasa kesal."" ucapnya pada diri sendiri.
"Perasaan, garam dan gula masih tetap pada tempatnya, Mbak." ucap Jelita seolah meledeknya.
Anisa tidak menanggapinya lagi.
Tak urung ia merasa heran juga kenapa tiba-tiba. Kopi itu terasa asin.
Benar-benar pagi yang buruk buat Aby, ia terpaksa berangkat ke kantor dengan membawa hati kesal
Kesal karena ia menganggap Anisa sudah banyak berubah.
Anisa menghela nafas berat.
Ia langsung bergegas mandi saat Aby sudah berangkat ke kantor
Tapi ia terhenyak saat menyisir rambutnya.
Banyak sekali rambut yang nyangkut di sisirnya.
"penyakit ini semakin berkembang karena pengobatanku terhambat. Dimana aku harus meminjam uang,? Pada Abah? Tidak mungkin, pada Mas Aby apalagi, dia pasti curiga aku apakan uangnya."
Anisa duduk terpaku. Ia bingung dengan biaya pengobatannya yang tidak sedikit. Di tambah perubahan sikap Aby membuatnya kembali meneteskan air matanya.
Tapi apa boleh buat, hal itu yang dia inginkan sekarang. Ia ingin membuat Aby membenci dan melepaskannya. Ia tidak ingin membuat pria itu bersedih setelah kepergiannya.
"Bukankah pangkal kemarahan Mas Aby adalah ustadz Yahya? Aku akan memanfaatkan keadaan ini." ucapnya pilu.
"Bunda, ayo kita berangkat..!" suara Al mengagetkannya.
Anisa mengusap air matanya agar Al tidak melihatnya.
"Bunda menangis? Kenapa? Apa ayah jahat sama bunda?" pertanyaan Al yang beruntun membuat Anisa kembali menyeka air matanya.
"tidak, Nak. Jangan pernah berpikiran kalau ayahmu jahat. Dia adalah ayah dan suami terbaik yang bunda tau." Al mengangguk mengerti.
Yang membuat Anisa bernafas lega. Bagaimanapun sikap Aby padanya, perhatiannya pada Al tidak pernah berubah.
Saat di sekolah, tiba-tiba badan Anisa menggigil hebat. para guru membawanya ke sebuah ruangan untuk istirahat.
Anisa menolak dengan keras saat mau di bawa ke dokter.
Iapun menolak saat pihak sekolah hendak menghubungi keluarganya.
Apapun yang terjadi, Anisa tidak mau ada yang tau tentang penyakitnya. Termasuk Aby.
Satu-satunya orang yang bisa di mintai bantuan hanyalah ustadz Yahya.
Karna ustadz Yahya satu-satunya orang yang sudah mengetahui rahasianya.
"Apa yang terjadi?" Yahya datang dengan tergopoh.
"Ustadz, maaf, karna sudah merepotkan mu. Aku minta tolong carikan obat ini." ucap Anisa dengan suara lemah.
Yahya menerima resep dari tangan Anisa dengan tangan gemetar.
Ia menatap Anisa dengan iba.
'Aku akan memberitau Aby!" ucapnya bergegas pergi.
"Ustadz..." Anisa menggeleng.
"Aku tidak bisa melihat keadaan mu seperti ini! Suami dan Abahmu berhak tau!" kali ini suara Yahya terdengar tegas.
Yahya terduduk kembali, ia tidak mampu menolak saat Anisa memintanya bersumpah.
Yahya tak berdaya saat Anisa memintanya bersumpah. Ia bergegas mencarikan obat yang di pesan Anisa.
setelah minum obat, ia merasa sedikit baikan.
"Kau harus dapat perawatan yang serius..Obat-obatan ini hanya menghilangkan rasa sakit mu untuk sementara saja."
"Tidak usah khawatir kan aku, ustadz.. Hanya satu pintaku, tolong rahasiakan keadaanku."
Yahya tidak bisa berbuat apa-apa dengan keteguhan Anisa.
"Maaf, sekali lagi ustadz, mau kah ustadz menolongku?"
Yahya mengangguk. Ia bersedia melakukan apa saja untuk wanita yang pernah mengisi hatinya itu, dan sampai saat ini pun getaran itu masih ia rasakan.
"Bersikaplah di depan Mas Aby seolah kita punya hubungan khusus."
Yahya tercengang. ia menatap Anisa tak percaya.
"Benar, aku ingin dia membenciku. Aku ingin meninggalkannya tanpa beban."
"Bisa, kan?"
Yahya mengangguk dengan terpaksa.
Hari itu, Anisa sengaja pulang minta di antar Ustadz Yahya.
Jelita dan Bu Sari merasa heran dan mengintip dari balik pintu.
Anisa tidak perduli saat ibu dan anak itu berhimpitan mengintipnya dari balik pintu.
"Terima kasih, ustadz. Kau sudah banyak menolongku."
Yahya tersenyum manis.
"Apapun yang kau minta, aku akan berusaha melakukannya. Itu janjiku."
Hingga ustadz Yahya pamit undur diri, Bu Sari dan Jelita belum beranjak dari balik pintu.
Anisa masuk dan bersikap seperti biasa.
"Kalian sedang apa?"
"Eeh kami sedang mencari sesuatu..." jawab Bu Sari gugup.
"Iya, Mbak. Cincin ibu tadi jatuh di sini." timpal Jelita.
"Owh, ya sudah. kalian teruskan saja mencarinya. Aku mau ke kamar."
Anisa melenggang pergi.
Tepat seperti dugaan Anisa. Malamnya Jelita mengadu pada Aby.
Dengan wajah penuh amarah Aby mendekatinya.
"Apa maksudmu, Nis? Semakin aku diamkan tingkahmu semakin menjadi."
"Tenang dulu, Mas. Kita bisa bicara baik-baik, kan?" Anisa berusaha menenangkan hatinya.
"Kau pulang di antar Ustadz Yahya, benar, kan?"
"Iya, betul." jawabannya yang singkat semakin membuat Aby geram.
"Aku semakin tidak mengenali dirimu, dimana Anisa yang aku kenal? Anisa yang bijak dan penuh kebaikan."
"Di dunia ini semuanya bisa saja berubah, Mas. Tak terkecuali aku. Lagipula kau yang memulai perubahan ini." Anisa semakin berani menjawab setiap kalimat suaminya.
Jelita yang menyimak perdebatan itu ikut tercengang dengan keberanian Anisa.
"Apa benar itu Mbak Anisa? Berani sekali dia menyangkal setiap perkataan Mas Aby."
"Nisa, aku minta maaf Kalau sudah membuat hatimu terluka, mari kita saling berbenah diri.
Kita mulai dari awal lagi..." pinta Aby dengan suara lembut.
Anisa memalingkan wajahnya.
"Aku mau saja, Mas. Asal itu untuk kebaikan kita semua." jawab Anisa.
"Hanya satu yang Mas, mohon. Jauhi ustadz Yahya, bisa, kan?" suara Aby seperti membujuk.
"Aku tidak bisa. dia sahabatku, murid kesayangan Abah ku. Apa salahnya aku bersahabat dengannya? Hanya sahabat."
"Tapi yang kalian lakukan bukan sekedar sahabat, Anisa...!"
"Tapi kenyataannya di antara kami tidak ada apa-apa, Mas. Aku mau menuruti permintaan Mas Aby, tapi untuk yang satu itu, Aku tidak bisa !" jawab Anisa tegas.
Rahang Aby mengeras mendengar jawaban itu.
Dengan marah ia meninggalkan kamar Anisa sambil membanting pintu.
Setelah Aby pergi dari kamarnya,
Anisa menangis sesenggukan.
"Apa kau kira ini mudah buatku, Mas? Sangat menyakitkan!"