
Ketika semua orang melihat tisu berada di tangan Seno, mereka tidak terkejut melainkan menjadi bingung. Bahkan Fatir yang sudah siap dengan segala trik dari Ki Belung, tidak memahami kegunaan dari tisu tersebut.
Hanya Ki Belung yang tersenyum ketika dan berkata, "Kalian pasti bertanya - tanya tentang tisu ini. Perlu kalian ketahui, tisu inilah yang menjadi keberadaan santet itu sendiri..."
Melihat tatapan semua orang yang bingung, Ki Belung menjelaskan, "Tuan Sasongko, Apakah kamu meletakkan tisu ini di bawah ranjang tempat tidur?..."
"Tidak, aku tidak pernah melakukannya..." Pak Tua Sasongko langsung memberikan penjelasan.
Ki Belung tersenyum sambil berkata, "Kalian dengar, Tuan Sasongko tidak merasa meletakkan tisu tersebut di bawah ranjang tempat tidurnya, itu berarti. Tisu ini bisa berada di sana, melalui cara yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah..."
Semua orang mengangguk setuju, Bahkan Lestari mulai goyah, Sebagai dokter tentunya dia tidak percaya dengan hal mistis seperti itu, namun tidak ada hal logis yang dapat menjelaskannya.
Fatir kembali menduga jika tidak ada orang lain yang dapat meletakkan tisu tersebut selain Ki Belung sendiri, mengingat dialah orang yang ada di dalam kamar lebih awal di bandingkan dengan siapapun.
Namun tidak ada yang berpikir ke sana selain Fatir. Fatir melihat ke langit - langit yang ada di kamar tersebut, kemudian dia menemukan kamera pengintai yang masih menyalah.
Kemudian Fatir tersenyum, sepertinya Ki Belung terlalu percaya dengan aksinya sehingga melupakan. Jika setiap rumah besar milik orang kaya memiliki kamera CCTV yang menyala setiap hari. Dan tentunya segala tindakan Ki Belung sebelumnya, sudah terekam dengan sempurna.
Melihat semua orang, Ki Belung mengangguk dengan pelan, "Ayo kembali, Langkah selanjutnya, adalah pemurnian terhadap tisu yang memiliki santet di dalamnya..."
Dengan memimpin jalan, Ki Belung kembali di ikuti oleh semua orang. Kemudian dia mengambil sebuah piring yang sudah diolesi dengan sesuatu, langkah selanjutnya mengambil tisu itu dari tangan Seno. Kemudian tanpa sepengetahuan orang lain dia meletakkan taburan bubuk tertentu di dalamnya lalu meletakkannya di atas piring.
"Buuuzzz!..."
Segera tisu tersebut mengeluarkan asap putih dan segera terbakar setelahnya. Itu terlihat begitu menakjubkan di mata orang awam karena Ki Belung terlihat membakar tisu tanpa pemicu api apapun.
"Tisunya terbakar!..."
"Apa! Bagaimana bisa terbakar? Kan tidak ada korek api ataupun sesuatu yang dapat membuat nyala api..."
"Ini keajaiban!..."
"Terbakar tanpa api!..."
Beberapa orang berkata dengan takjub. Sepertinya hanya Anjas yang sangat bahagia dengan keputusannya untuk mendatangkan Ki Belung.
Fatir sekali lagi menggeleng, membuat Api dengan tangan kosong, akan terlihat seperti permainan anak kecil baginya. Namun dia tidak merasakan energi Api dari tubuh Ki Belung dan itu membuat Fatir sangat yakin jika Ki Belung sekali lagi menggunakan Trik tertentu.
"Ok semuanya, harap tenang sekarang tisunya sudah habis terbakar. Itu berarti pembersihan rumah bisa di katakan selesai dan santetnya telah menghilang..." kata Ki Belung dengan bahagia.
Semua anggota keluarga sasongko mengangguk dengan bahagia. Akhirnya pengusiran santet melalui proses pembersihan rumah telah berakhir dan terselesaikan sebagaimana mestinya.
"Tuan Sasongko, bagaimana kondisimu sekarang?..." Tanya Ki Belung dengan penuh percaya diri.
Pak tua sasongko mulai melihat kondisi tumbuhnya sendiri, kemudian bertanya dengan bingung, "Sama saja, aku tidak merasakan perubahan apapun di tubuhku!..."
Dalam praktiknya, Ki Belung memiliki keyakinan jika setiap pasien yang sudah diyakinkan dengan trik yang selama ini dia gunakan, pasti akan merasa lebih baik tanpa terkecuali.
Itu karena setiap orang yang merasa putus asa akan menyakini penjelasan yang berhubungan dengan santet, dan setelah memahami santet tersebut telah pergi, biasanya akan dengan sendirinya menyakini diri mereka telah sembuh.
Namun pak tua Sasongko mengatakan sebaliknya, dan itu membuat Ki Belung mulai panik. Ada keringat dingin di keningnya yang berkerut. Dia berusaha untuk menenangkan diri agar semua orang tetap mempercayai kemampuannya.
"Tetap saja seperti sebelumnya!..." Jawab Pak tua Sasongko.
"Bukankah santetnya sudah pergi?! Mengapa masih sama?..." Tanya Seno kearah Ki Belung.
Fatir yang melihat perubahan pada mimik wajah Ki Belung, begitu yakin jika Dukun penipu ini mulai panik di tempat. Dia Ingin tertawa namun akan terlihat malukan. Fatir tetap diam sambil bertanya - tanya tentang trik apa lagi yang dimiliki lelaki tua ini!
Ki Belung yang panik, mulai tenang dan berkata, "Tuan Seno, tolong tenang. Terkadang pada kasus tertentu santet tidak akan pergi begitu saja. Dan beberapa beberapa orang tertentu membutuhkan waktu sampai santetnya benar - benar hilang..."
Kata - kata Ki Belung cukup masuk akal sehingga Sono kembali mempercayainya. Kemudian dia mulai berkata, "Ki Belung, apakah tidak ada metode lain untuk menghilangkan santet lebih cepat?..."
Ki Belung terdiam sesaat kemudian menjelaskan, "Tentu saja aku memilikinya..."
"Kalau begitu, mengapa tidak langsung melakukannya agar penyakit yang ayahku miliki cepat menghilang!..." Kata Seno dengan tidak sabaran.
"Ehm! Tuan Seno, metode berikutnya tidak sederhana. Aku membutuhkan alat media tertentu. Itu adalah kelapa muda yang di petik langsung dari pohonnya..." Jawab Ki Belung dengan tidak berdaya.
"Kelapa?..." Semua orang bertanya - tanya tentang penggunaan kelapa dalam pengobatan alternatif.
"Ki Belung, aku akan menyuruh seseorang untuk mendapatkannya secepat mungkin!..." Jawab Seno dengan tegas.
Namun bukan itu yang Ki Belung inginkan. Kemudahan dia dengan terburu - buru berkata. "Tunggu Tuan Seno, Pemilihan kelapa muda memiliki metode tersendiri dan tidak jika salah dalam memilihnya, maka metode penyembuhan tidak akan efektif..."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?..." Tanya Seno.
Ki Belung mulai mengendalikan situasi, dia dengan sopan berkata, "Muridku memiliki kemampuan untuk mendapatkannya dengan cepat!..."
"Kalau begitu, mengapa tidak menyuruhnya saja?..." Sono Cukup terbantu jika perkataan Ki Belung benar.
Ki Belung mengangguk dan salah satu muridnya terpanggil untuk datang dan menyapa, "Guru, ada yang bisa saya bantu!..."
"Muridku, bisakah kamu melakukan tugas untuk memetik kelapa dari pohonnya langsung!..." Ki Belung todak langsung memerintahkan, seolah bertanya dengan sikap lemah lembut terhadap muridnya.
"Guru bisa tenang, aku akan mendapatkannya untukmu..." pria itu langsung berjalan kebelakang dan berbalik kemudian menghilang di balik pintu.
Fatir yang melihatnya hanya bisa menggeleng, dia dapat melihat semuanya. Ki Belung tidak menginginkan kelapa muda dari orang lain selain dari muridnya. Hal ini membuat Fatir sangat yakin jika Ki Belung akan melakukan trik lainnya menggunakan kelapa muda sebagai mediasi.
Sambil menunggu muridnya membawakan kelapa muda yang diinginkannya, Ki Belung tidak berhenti untuk memberikan penjelasan tentang penggunaan kelapa muda dalam metode penyembuhan yang akan segera dia lakukan.
"Jadi, santetnya bisa di pindahan di dalam kelapa muda?..." Tanya Seno dengan tidak percaya, namun setelah melihat tisu yang terbakar tanpa api, dia menjadi yakin jika Ki Belung bukan orang sembarangan.
"Tentu saja, karena aku memiliki keyakinan untuk melakukannya. Menurut tuan Sasongko, Jika santetnya di pindahkan kedalam kelapa muda?..." Tanya Ki Belung dengan tersenyum cerah, seolah semuanya berada di atas telapak tangannya.
"Jika metode tersebut benar - benar terjadi. Maka kondisiku akan membaik..." Jawab Pat tua sasongko dengan bersemangat. Kali ini dia begitu yakin jika kondisinya akan benar - benar membaik.
"Benar!..." Ki Belung mengangguk sambil tertawa.
Bersambung...