Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
64. Mengambil Sikap



Kantor divisi baru angkasa grup.


Beberapa pengunjung mulai berdatangan, belum lagi fasilitas perusahaan begitu baik. Di tambah simbol angkasa grup di tempatkan di posisi yang mencolok.


Mereka langsung memahami jika di dalam postingan tersebut benar - benar nyata tanpa penipuan. Segera mereka yang memiliki kebutuhan langsung melakukan pendaftaran.


"Apakah ini tempat konsultasi yang terkenal di forum?..." Tanya seseorang dengan gugup.


"Itu benar, kami melakukan apa yang ada di dalam forum?..." Jawab staf karyawan wanita dengan begitu sopan.


"Kalau begitu saya ingin memesan tempat konsultasi..." Pengunjung itu berharap bisa melakukan konsultasi. Entah solusi apa yang dia dapatkan, yang jelas dengan pembayaran suka - suka dia bisa menentukan. Apakah membayar sedikit, banyak atau tidak sama sekali.


"Terima kasih telah memesan tempat konsultasi dengan kami. Tapi anda harus kecewa karena tempat konsultasi sudah penuh hingga tahun depan..." Jawaban petugas pendaftaran dengan lembut.


Namun tidak dengan pelanggan tersebut. "Ini pasti bercanda, masih ada lima bulan lagi sebelum tahun depan. Mengapa tempat konsultasi di pesan sepanjang itu?..."


"Maaf atas ketidak kenyamanannya, kami hanya buka setiap hari senin saja..." Petugas wanita menjalankan dengan bangga, menurutnya Ketua benar - benar beda dari yang lain.


Di mana jika di tempat lain libur kerja satu kali dalam seminggu. Namun Ketua mereka membuat keputusan yang bertentangan. Yaitu kerja satu kali dalam seminggu.


"Tempat ini pasti bercanda. Mengapa hanya buka di hari senin saja? Bukannya akan lebih menguntungkan jika bisa buka setiap hari..." Tanya pengunjung tersebut dengan tidak puas.


"Sekali lagi, kami minta maaf, karena semua ini sudah menjadi keputusan pusat dan tidak mungkin di rubah..." Petugas pendaftaran bersikap profesional ketika memberikan tanggapan.


"Baiklah, aku akan memesan tempat..." Jika bukan karena tempat ini begitu fenomenal, pengunjung tersebut tidak akan pernah datang.


"Baik, tuan mendapatkan nomor pemesanan ke 10.341 dan diharapkan untuk tidak menghilangkannya, silakan datang kembali tahun depan dengan tanggal dan jam yang sudah tertera..." Jawab Petugas pendaftaran.


Pengunjung tersebut terdiam sebelum akhirnya pergi dengan membawa nomor pemesanan tempat konsultasi yang dia dapatkan.


Semua pengunjung lainnya mendapatkan kondisi yang tidak jauh berbeda, namun tidak menolaknya dan lebih memilih untuk menerima dan menunggu tahun depan.


_


_


_


Keesokan harinya, Fatir bangun pagi dengan begitu malas. Layaknya seorang jomblo pada umumnya, dia melakukan rutinitas lama.


Masak sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, apapun sendiri.


Sungguh kehidupan yang menyedihkan!


Hari ini tidak ada kegiatan apapun, sehingga Fatir memilih untuk jalan - jalan di tempat umum untuk membeli kebutuhan.


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Fatir yang hendak menuju toko swalayan. Empat pria paruh baya keluar dari mobil tersebut lalu berdiri di depan Fatir dengan begitu tegak.


Mengenakan setelan jas hitam dan kaca mata hitam. Itu lebih mirip seperti agen mata - mata yang ada di dalam film.


Fatir tidak peduli siapa mereka, tetapi tindakan mereka yang berdiri seperti penghalang jalan membuatnya sangat tidak senang.


"Tuan Fatir, Bisakah ikut dengan kami, Dewa perang, ingin bertemu denganmu..." Keempatnya tidak memiliki ekspresi sama sekali. Seolah - olah mereka dinding yang tidak peduli dengan yang ada di sekitarnya. Mereka memiliki tubuh yang terlihat tangguh, dan memancarkan aura yang sangat kuat.


Dewa perang?!


Fatir benar - benar asing dengan nama tersebut. Namun melihat empat orang yang tidak biasa itu, dia memiliki kewaspadaan yang sangat tinggi.


"Mengapa aku harus ikut dengan kalian, mengapa tidak Dewa perang kalian sendiri yang datang kepadaku..." Jawab Fatir dengan dingin.


Karena keempatnya tidak sopan, mengapa dirinya harus sopan ketika menangapi mereka.


Bukan karena Fatir tidak ingin bertemu dengan Dewa Perang yang ada di belakang mereka, hanya saja Fatir sangat tidak puas jika dirinya harus datang menemui seseorang yang memiliki kepentingan terhadap dirinya.


Ke empat pria yang ada di depan Fatir jelas bukan orang biasa, namun dirinya tidak peduli. Siapa yang lebih membutuhkan, maka mereka harus mendatangi dirinya.


"Katakan saja kepentingan yang kalian miliki, aku bukan orang yang memiliki waktu luang..." Walaupun sekarang dirinya menganggur, Fatir tidak akan mudah menerima undangan pihak lain.


"Sombong... Kamu hanya katak dalam sumur! Tidak ada yang menolak undangan Dewa Perang, tapi kamu menolaknya. Maka kami akan memaksa..." Salah satu dari keempatnya menambahkan dengan geram.


Menurut mereka, kelebihan Fatir hanya mengenali penyakit lama Dewa Perang. Hanya mengenali penyakitnya bukan berarti dia telah menyembuhkannya.


Keempatnya hanya mendapatkan tugas untuk membawa Fatir ketempat rahasia. Tugas seperti ini cukup umum bagi mereka, di mana menangkap dokter tertentu lalu membawanya untuk bertemu dengan Dewa Perang dan jika tidak dapat memberikan kesembuhan. Maka konsekuensinya adalah kematian.


"Jadi kalian ingin memaksaku?!..." Tatapan Fatir berangsur - angsur menjadi dingin.


Fatir sudah cukup baik menolaknya tanpa melalui kekerasan. Tetapi pihak lain seolah - olah menunjukkan dominasi agar dirinya menurut seperti anak anjing.


Sayang sekali Fatir bukan pria penurut dan tidak mudah di tundukkan ataupun tertindas. Dia dapat menjadi pria kejam juga bisa menjadi pria baik.


"Aku tekankan lagi jika aku tidak tertarik bertemu dengan Dewa Perang yang kalian katakan, dan jika seseorang ingin bertemu denganku. Alangkah lebih baik jika dia menemuiku langsung tanpa melalui orang ketiga, empat atau kelima..."


Pertama, mengapa Fatir harus menolak mereka. Itu karena dirinya tidak mengetahui apapun tentang Dewa Perang yang mereka katakan. Di tambah mereka tidak sederhana, bagaimana jika mereka melakukan tindakan yang tidak baik?


"Bisakah kalian menyingkir dari hadapanku? aku terlalu malas jika harus berbalik arah..." Fatir menambahkan dengan dingin.


"....." Diam! Keempatnya langsung tercengang dengan penolakan Fatir.


Dewa Perang memiliki identitas yang tidak sederhana, memang tidak banyak yang mengetahuinya. Namun keberadaannya dapat mengguncang dunia. Hanya saja karena beberapa alasan dia harus menyembunyikan identitasnya dan bergerak di dalam kegelapan.


Siapapun yang menerima undangannya akan sangat bahagia dan ketakutan pada saat yang sama. Dewa Perang dapat memberikan kemuliaan dan dapat membuat bencana terhadap siapapun yang mendengar namanya.


Jika sebelumnya, mungkin masih bisa tenang, namun tidak dengan sekarang. Karena Fatir menolaknya, pilihan keempatnya hanya satu yaitu memaksa Fatir dengan kekerasan.


"Tuan Fatir, Di dunia ini, yang kuat mengambil segalanya dari yang lemah. Di hadapan kelompok kami kamu hanya semut. Kamu tidak memiliki pilihan lain selain ikut dengan kita..." Salah satu diantara mereka itu mengerutkan alisnya dan dengan dingin berkata.


Sepertinya pemuda di depan mereka tidak memahami seberapa kejam kelompok mereka. Untuk itu mereka harus memberikan Fatir apa itu ketakutan.


"Lakukan jika kalian ingin memaksaku, Jangan bilang jika kalian hanya besar mulut saja..." Kata Fatir dengan dingin.


Kali ini, ketika Fatir melihat mereka, dia tidak hanya tampak acuh tak acuh, tetapi juga tidak peduli sedikit pun. Ini menyebabkan keempatnya tidak puas sama sekali.


Bersambung...