
Kata - kata Yeni tidak hanya mengejutkan ayah dan ibunya. Tetapi juga membuat Fatir tidak berdaya. Dia hanya ingin membantu keluarga Pak Jamono dan tidak ada niatan untuk membuat situasi menjadi begitu rumit.
Jika Pak Jamono tersentak ketakutan, tentunya sangat berbeda dengan istrinya yang tergila - gila dengan harta. Segera wanita gemuk itu mengambil kartu ATM itu lagi dari tangan Yeni.
"Buu, mengapa kamu mengambilnya. Kembalikan kartu ATM itu kepada Kak Fatir..." Kaya Yeni dengan tidak senang. Mungkin keluarganya miskin dan sedang kesulitan ekonomi. Tapi dia bukan pengemis yang meminta uang dari orang lain bahkan Fatir sekalipun.
Tentunya wanita gemuk itu melihat kartu ATM itu seperti harta karun. Dia tidak mungkin melepaskan keberadaan uang sebesar satu milyar. Dia menatap putrinya dan berkata, "Yeni, menolak kebaikan orang lain itu tidak baik..."
Kemudian tatapannya beralih ke arah Fatir dengan dengan tersenyum dia berkata, "Nak Fatir, paswordnya apa?..."
"Paswordnya ada di belakangnya..." Fatir langsung menjelaskan.
Wanita itu akhirnya menyadari angka kecil di belakangnya, "Nak Fatir, Terima kasih banyak kami akan menerimanya dengan senang hati. Lain kali jika ingin meminjam Yeni beberapa hari kami tidak keberatan..."
Segera Fatir dan Yeni saling menatap, keduanya memikirkan kejadian di dalam kamar mandi dan segera terdiam.
"Haha... Bibi, bisa aja... Baiklah saya pamit pergi!..." Kata Fatir melihat ketiganya kemudian beranjak pergi.
Setelah kepergian Fatir yang menghilang di kejauhan, "Buu, apa sih yang kamu pikirkan, kami tidak memiliki hubungan seperti itu..." Dengan menyangkalnya, Yeni berlari ke kamarnya dengan malu.
Melihat tindakan putrinya pasangan tua itu hanya tertawa. Mereka tidak lagi mendebatkan masalah kartu ATM, terutama Pak Jamono yang memahami karakter istrinya sendiri. Dia hanya menghela nafas panjang.
_
_
_
Setelah meninggalkan kediaman keluarga Pak Jamono, Fatir langsung pulang tanpa penundaan.
Dia melihat ponselnya yang kehilangan daya, sehingga dia langsung mengisi daya ponselnya terlebih dulu. Tidak lama setelah ponselnya kembali hidup ada banyak panggilan dan pesan masuk.
Fatir segera melakukan banyak panggilan dan menyelesaikan semuanya. Itu hanya panggilan dari perusahaan dan yang terakhir adalah panggilan dari istrinya.
"Mengapa Maya menelpon lagi?..." Fatir bingung, dia segera melakukan panggilan balik.
"Di mana kamu, apa kamu bekerja hari ini?..." Tanya Maya dari sisi lain panggilan.
Fatir terdiam, dia sekarang tidak bekerja sebagai bos yang banyak duduk saja. Dia bekerja suka - suka dan itu hanya di hari senin saja. Dan Fatir belum mengatakan statusnya sebagai ketua baru angkasa grup.
"Sayang, Apa yang kamu pikirkan jika aku memiliki perusahaan dan tidak lagi bekerja sebagai penjaga keamanan..." Fatir takut jika mengakuinya secara langsung akan membuat Maya tidak percaya, sehingga dia memilih untuk bertanya.
"Sudahlah, jangan berhalusinasi. Katakan saja apakah sekarang kamu ada kerjaan atau tidak?..." Kata Maya dengan kesal. Dia memahami kondisi suaminya yang miskin namun dia tidak memperdulikannya.
Sekarang mendengar jika Fatir memiliki perusahaan tentunya dia tidak mungkin mempercayainya.
"Tidak, saat ini pekerjaanku hanya setiap hari senin saja..." Jawab Fatir dengan tidak berdaya, dari respon istrinya, mungkin jika dirinya mengatakan yang sebenarnya. Maya tidak akan percaya.
"....." Kini giliran Maya yang terdiam setelah mendengar jawaban Fatir. Pekerjaan apa yang hanya buka di hari senin saja? Tentunya tidak mungkin ada, Maya Berfikir jika Fatir sekali lagi berhalusinasi.
Jika Fatir bukan suaminya dan yang mengambil kesuciannya, Maya akan langsung mematikan ponselnya.
"Aku akan menjemputmu..." Jawab Maya dengan mengabaikan kata - kata Fatir sebelumnya.
Hari ini Maya membutuhkan pasangan untuk pertemuan dan tentunya dia harus menggunakan Fatir sebagai dinding perisai dari para pria yang menginginkan keindahan seperti dirinya.
"Katakan dimana kamu sekarang..." Mendengar ini, Fatir hanya bisa menjelaskan jika dia berada di Apartemen elite yang ada di jakarta pusat. Kemudian panggilan berakhir.
_
_
_
Mobil putih berhenti di depan pagar besar. Maya yang ada di dalam mobil linglung sejenak. Tidak mungkin dia tidak mengetahui tentang tempat tersebut.
"Mengapa Fatir ingin di jemput di tempat ini, Bukankah ini apartemen elite milik angkasa grup?..." Dari dalam mobil, Maya melihat - lihat bangunan yang sangat megah dengan kecanggihan terbaik.
Hanya mereka yang memiliki identitas tidak biasa yang dapat tinggal di apartemen termewah di jakarta ini. Maya memilih untuk menunggu Fatir di dalam mobil.
Gerbang itu terbuka dengan sendirinya, Maya dapat melihat Fatir keluar dari sana dan dia hanya bisa terkejut. "Tunggu dulu, bukankah dia Fatir! Mengapa dia bisa ada di sana?..."
Setelah berjalan keluar dari Apartemen miliknya, Fatir bergegas berjalan menuju ke mobil milik istrinya. Dia tidak tahu tentang Maya yang terkejut dan langsung masuk kedalam mobil itu begitu saja.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang aneh di wajahku?..." Ketika Fatir memikirkan bagaimana dia harus menghadapi istrinya yang cantik namun dingin, dia tiba - tiba bersikap dengan tenang.
"Tidak ada..." Maya langsung melajukan mobilnya di jalan raya kota jakarta.
Pada saat ini Maya mengambil jalur memutar, karena lalu lintas yang sangat rendah di jalan - jalan pinggiran kota, dan itu juga merupakan jalan dua arah.
"Siapa sih mereka ini?..." Kata Maya dengan tidak puas. Di depannya ada mobil lain yang dengan sengaja melaju dengan kecepatan rendah.
"Ambil jalur kiri..." Fatir memberikan saran. Dia dengan muram menemukan bahwa mobil istrinya telah ditandai oleh klub mengemudi.
"Jangan memerintahkanku..." Maya tidak menurut dan lebih memilih untuk berada di jalur kanan.
Fatir yang melihat keputusan istrinya dalam mengemudikan mobil sangat tidak puas. Dia tahu jika berurusan dengan klub mengemudi tidak akan sederhana. Pastinya hanya masalah yang akan menunggu mereka berdua. Dan ternyata benar seperti dugaan Fatir.
Ada dua mobil yang mengikuti mobil istrinya. Dan mereka seperti tidak ingin melepasnya begitu saja.
Mobil melaju melewati pinggiran jalan dan kembali berada di depan mobil istrinya, lalu ketika mencapai persimpangan jalan raya, Maya tiba - tiba melihat mobil di belakangnya.
"Mereka lagi?..." Maya menjadi kesal. Kedua mobil di depan dan di belakang membuatnya tidak bisa melaju lebih kencang ataupun berhenti. Jika berhenti maka akan tertabrak dari belakang, sedangkan jika ingin lepas dari kedua mobil itu maka Maya harus menabrak mobil yang ada di depannya.
"Biiimmm... Biiimmm..." Maya membunyikan klakson mobil untuk memberikan pertanda kepada mobil di depannya, tetapi hingga beberapa kali mobil itu tidak kunjung memberikan jalan.
"Sayang, percuma melakukannya. Mereka tidak akan melepaskan kita. Aku pikir kamu harus menabraknya..." Fatir memberikan saran. Dia tahu jika itu tujuan mereka, namun dengan Maya duduk di kursi kemudi, tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya.
"Menabraknya? apakah kamu sudah gila?..." Kata Maya dengan tertekan.
Andaikan Fatir yang mengemudikan mobil, tentunya akan memiliki solusi yang berbeda. Mungkin hanya membutuhkan selusin menit untuk Fatir terlepas dari mereka.
Seperti yang diharapkan, tanpa menunggu Maya yang kesulitan untuk menabrak mobil di depannya, terdapat dua mobil yang lainnya telah menyusulnya secara terpisah dari kiri dan kanan mobil istrinya.
Bersambung...