
Melihat cairan yang mengalir keluar dari lubang daging Miranda, Fatir menebak bahwa jumlah cairan yang menetes di sana hampir sama dengan lelehan es krim.
Akhirnya, Miranda memperbaiki posisinya dengan membelakangi Fatir dengan ujung batang joni agung di antara kedua kakinya. Sedangkan lekukan tubuh yang menggoda itu membuat keinginan Fatir semakin kuat.
"Ennngh!..."
Miranda dengan tenang mengangkat pantatnya, dengan sedikit bergoyang. Lubang daging itu hanya berjarak sehelai rambut dari tongkat daging joni agung yang bersemangat!
Kedua tangan Fatir menyentuh pinggangnya dengan lembut. Hanya dengan menariknya kebawah, Batang menjulang joni agung akan menyelam kedalam tubuh Miranda.
"Ah!..." Bahkan jika keduanya telah berulangkali berhubungan seksual, Miranda masih kesakitan karena ukuran joni agung yang tidak biasa.
"Miranda, Apakah posisi ini menjadi favoritmu? Entah mengapa kamu lebih banyak menggunakan posisi di atas dan membelakangi diriku dari pada posisi yang lainnya..." Kata Fatir dengan posisi seperti memangku tubuh Miranda.
"Tidak juga, hanya saja. Mobil sport memiliki ruang yang cukup sempit. Jadi posisi ini lebih nyaman dari pada yang lainnya..." Jawab Miranda dengan tersenyum ekstasi diwajahnya.
Miranda membungkuk untuk melihat batang tebal joni agung yang belum masuk sepenuhnya. Dia Mengulurkan tangannya diantara kedua kakinya, kemudian mencengkeram tongkat daging Joni agung yang tebal itu perlahan - lahan masuk ke dalam lubang dagingnya yang basah.
"Aaaahhhh!!!..."
Miranda masih menjerit kesakitan seperti sebelumnya walaupun bagian bawahnya sudah sangat basah. Tapi ukuran batang tebal joni agung terlalu abnormal. Sehingga sensasinya seperti merobek selaput keperawanan miliknya lagi.
"Oh!..."
Ketika Fatir sedikit bersandar di kursi mobil, dengan Miranda di atasnya, Joni agung tidak masuk sepenuhnya, Setelah itu Miranda perlahan - lahan menjatuhkan tubuhnya, mengambil tongkat daging joni agung itu sedikit demi sedikit di dalam lubang daging bawahnya yang ketat namun fleksibel!
"Oh!... Ah!..."
Miranda menutup matanya yang menggoda, menggunakan tangannya untuk menenangkan dadanya yang bersalju, memijat kedua payudara miliknya yang montok. Dia tidak bisa menahan erangan dari kenikmatan tongkat daging yang menggosok dinding pada lubang dagingnya.
"Ahhh!..."
Dinding lubang dagingnya menjepit tongkat daging tebal Joni agung, tapi ini tidak menghalanginya untuk menembus jauh ke dalam dirinya. Miranda terus jatuh sampai tongkat daging itu mencapai rahimnya, membuat kepala Joni agung terus - menerus memukulnya.
Fatir mengulurkan tangan kirinya untuk memeluk pinggang rampingnya, tangan lainnya memainkan puncak payudara montok milik Miranda. Dia membuka mulutnya untuk menyedot telinganya dengan kuat, dari belakang.
"Ah!..."
Miranda mengerang saat tubuhnya mulai naik turun, membuat tongkat daging yang tebal dan tegak itu memberikan tusukan kuat di lubang dagingnya. Tanpa sadar, rasa sakit di awal telah tergantikan dengan sensasi yang begitu menyenangkan.
Kenikmatan itu terus meningkat. Fatir menggunakan mulutnya untuk mengisap telinga runcing itu. Juga mencubit puncak payudara miliknya sebagai alternatif. Miranda juga mempercepat ritmenya, membuat tombak daging itu menusuk rahimnya dengan keras.
Hanya saja, yang mengganggu Miranda adalah ujung tongkat daging joni agung membuatnya sulit untuk melanjutkan.
"Uuum... Wuaaa!..."
Miranda mencoba menahan kesenangan yang intens dengan kehilangan dirinya dalam tindakan itu, tetapi tombak daging joni agung tertanam terlalu dalam, dan terlalu erat. Tidak peduli seberapa banyak dia menggerakkan tubuhnya, dia tidak dapat memisahkan dirinya selain terus melanjutkan penetrasi.
"Aaahhh... Sungguh tak tertahankan, ini terlalu menakjubkan..." Teriak Miranda dengan lantang.
Sama seperti lilitan ular besar, semakin dia mencoba melarikan diri, semakin kuat ularnya melilit dirinya. Sodokan Fatir terjepit dengan kuat di dalam tubuh Miranda karena kekuatan hisapan yang besar dari pengetatan lubang dagingnya.
"Aaahhh...Oh... Aaawww...."
Mirabdsa berteriak dengan seluruh kekuatannya. Dia merasakan sakit dan juga gatal yang belum pernah dirinya rasakan. Dia bahkan bisa merasakan batang panjang di dalam dirinya menjadi tidak hanya lebih panjang tetapi juga lebih tebal setiap saat.
"Plaakkk!..."
"Miranda yang sebelumnya penuh dengan kepercayaan diri telah menjadi begitu panik, kesenangan itu tidak hilang melainkan tampaknya menjadi lebih intens. Dia tidak tahu betapa lama waktu berlalu ketika penetrasi dilakukan dan gesekan tidak mencapai akhir.
Ketika Miranda hampir kehabisan akal, dia tiba - tiba merasakan tubuh Fatir bergetar hebat. Dia merasakan semburan air mani panas yang membakar jauh di dalam rahimnya.
"Spluuurrrr!..."
Kenikmatan dari air mani hangat yang menyembur di dalam lubang dagingnya membuat tubuhnya bergetar hebat. Hal ajaib terjadi, lubang rahimnya melebar sehingga memungkinkan semprotan Joni agung menembus jauh ke dalam rahimnya.
_
_
_
Dari luar, mobil itu terlihat bergoyang dengan begitu kuat, seolah kekacauan sedangkan terjadi di dalam sana.
Miranda dapat merasakan cairan hangat di dalam perutnya. Dia menggunakan tangannya untuk menyentuh perutnya, kemudian ada kesedihan di raut wajahnya yang cantik.
Fatir yang merasakan perubahan di hati Miranda, mulai bertanya, "Apakah kamu baik - baik saja. Mengapa kamu bersedih?..."
"Ketua, kita melakukannya tanpa menggunakan pengaman, bagaimana jika aku hamil?..." Kata Miranda mencoba bertanya. Dia tahu jika perselingkuhan ini tidak benar dan Fatir sudah memiliki istri sah, itu berarti dirinya tidak jauh dengan pelakor.
Fatir terdiam, mencoba duduk dengan Miranda masih di dalam pangkuan dan joni agung masih tenggelam di dalam tubuhnya. Dia tahu apa yang dikhawatirkan Miranda. Tanpa sadar, Fatir mengingat perkataan ibu tirinya untuk memiliki seratus anak. Selain itu dia juga mengingat tentang Maya yang selaku menjadi istrinya.
Miranda masih menunggu jawaban dari Fatir, jika pria yang beberapa kali tidur dengannya ini tidak bertanggung jawab, mungkin Miranda akan sangat bersedih dan menyesali keputusannya selama ini.
"Miranda, aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjelaskan kepada istriku jika aku memiliki wanita lain..." Jawab Fatir setelah mengambil keputusan.
"Selain itu, aku memiliki beberapa wanita lain, selain kamu..." Fatir mulai jujur dengan perkataannya.
Miranda tersentak, kemudian dia tersenyum kecut. Mungkin dirinya mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mendasar. Pria seperti Fatir tidak akan terikat dengan satu wanita saja. Apa lagi dengan kekayaan yang keluarganya miliki, itu tidak akan habis jika memiliki seribu istri.
Fatir memeluk pinggang lembutnya kemudian berkata, "Apakah kita akan berhenti?..."
Tentunya keluar sekali tidak membuat Hubungan seksual diantara mereka berakhir begitu saja. Joni agung memberikan yang terbaik untuk tugas negara yang dia kerjakan.
"Karena kamu akan bertanggung jawab, ayo lakukan lagi!..." Miranda tersenyum dengan puas.
Pada saat yang sama, Fatir tiba - tiba menyentuh wajah Miranda dan ketika ia melihat kebelakang keduanya berciuman dengan liar. Karena ciuman keduanya begitu intens sehingga membuat Miranda tidak memiliki kesempatan untuk menghirup udara, ketika berciuman itu berlangsung.
"Ketua, Kamu benar - benar tangguh seperti biasanya!..." Setelah keduanya bertukar ciuman, tombak daging besar itu masih tertinggal di dalam lubang daging Miranda, dan membuat perjuangan terakhirnya sangat mengesankan.
Yang membuat Miranda bingung adalah bahwa meskipun tongkat daging joni agung baru saja mengeluarkan air mani, itu segera menjadi keras setelah ciuman mereka terselesaikan.
"Ketua, kamu bisa keluar di dalam diriku lagi..." Mata Miranda dipenuhi dengan nafsu seorang wanita pengantin baru.
Fatir tidak bisa menahan diri untuk tidak bersemangat setelah melihat sosok Miranda yang menggairahkan. Dia memeluknya dan membuat punggung Miranda menempel di dadanya dan kemudian menusukan batang daging joni agung dari posisi belakang lagi dan lagi.
"Paffhh!..."
"Miranda, aku akan keluar banyak di dalam tubuhmu!..." Kata Fatir dengan berbisik di telinganya.
Tangan Fatir meraih payudara montok Miranda saat dia menggerakkan pinggulnya dari tempat duduk itu. Mustahil bagi Miranda untuk berbalik dan menciumnya lagi, sehingga hanya bisa menjilat bibirnya sendiri.
"Ahhh!..."
Dari belakang Fatir mengendus rambut hitamnya yang harum sambil menggerakkan tongkat daging joni agung. Entah berapa kali dia bergerak dan melanggar tubuh Miranda, keduanya tidak akan berhenti sampai terpuaskan.
Mobil itu masih terus bergoyang sampai batas waktu yang tidak di ketahui.
Bersambung...