Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
85. Bunuh Diri



Lima menit sebelum Bom itu meledak.


Fatir masih bertanya - tanya tentang siapa yang ada di balik tindakan pria paruh baya ini. Ketika dia melihat angka lima menit yang terus berjalan mundur, Fatir tidak memiliki waktu untuk bersantai, dia harus menghentikannya sebelum timer waktu itu mencapai angka nol. Jika tidak, maka yang terburuk semua tempat akan dihancurkan oleh ledakan bom.


"Haha, jika kamu berfikir semua orang akan selamat, maka kamu salah besar..." Pria paruh baya itu menyeringai.


Segera Fatir melihat kearah pintu utama dan menemukan begitu banyaknya tamu undangan tidak bisa membuka pintu. Kamudian Fatir menyadari ada yang salah.


Empat menit sebelum Bom itu meledak.


Semua orang tentunya begitu panik setelah mengetahui tentang keberadaan Bom yang akan segera meledak. Tetapi seberapa baik mereka ingin mendobrak pintu kaca itu, sangat mustahil untuk menghancurkannya, apalagi hanya menggunakan dorongan.


Sebagian diantara mereka mengeluarkan ponsel dan berusaha untuk meminta bantuan dari kepolisian.


"Fatir! Mengapa dia tidak pergi juga?..." Maya berkata dengan panik, dia belum pernah terlibat dengan insiden terorisme atau apapun yang begitu berbahaya.


"Maya, percayalah kepadanya jika semuanya akan baik - baik saja..." Ningsih berkata untuk menenangkan Maya. Kemudian menatap Mary dan bertanya, "Mary, Mengapa pintunya tidak terbuka?..."


Mary, tidak berdaya menjelaskan, "Nyonya Ningsih situasinya sangat buruk. Saat ini pintu utama yang menjadi satu - satunya jalan keluar telah di sabotase, sehingga tidak bisa di buka!..."


"Aku sudah menghubungi para penjaga yang ada di luar namun tidak ada respon. Sedangkan dari pihak kepolisian mereka membutuhkan waktu untuk datang!..." Kata Mary menambahkan.


Maya yang mendengarnya dari samping semakin panik, dia tanpa sadar melihat Fatir dan berharap jika suaminya mampu menangani pria paruh baya itu dengan tepat waktu.


"Kalau begitu, Minggir kalian semua..." Ningsih berteriak, segera semua orang yang ada di depan pintu membuat jalan untuknya.


Di dalam kepanikan, dan menghilangnya harapan, tentunya tidak ada yang dapat mereka lakukan. Segera semua orang bertanya - tanya tentang tindakan yang akan Ningsih lakukan.


Tiga menit sebelum Bom itu meledak.


Ningsih yang berjalan di bawah tatapan semua orang, mulai merobek dress panjang yang dia kenakan dan memperlihatkan paha putih saljunya yang begitu terawat.


Semua orang mengangguk setuju jika Ratu keajaiban bisnis adalah kecantikan nyata. Bahkan Fatir yang melihat Mama tirinya itu tidak dapat menahan kekaguman di hatinya.


Sungguh beruntung ayahnya memiliki istri secantik ini.


"Menjauh dari pintu!..." Ningsih berteriak kearah semua orang, dan semua orang mengikutinya dengan patuh. Kemudian dia mengambil posisi bertarung dan bergerak dengan momentum yang kuat.


"Kacha!..."


"Gyaaarrrrr!..."


Dalam sekejap Ningsih menghancurkan pintu kaca tebal dengan menggunakan kakinya yang begitu indah. Sepatu hak tinggi di kakinya mengalami kerusakan tertentu, namun pecahan kaca tidak melukainya sama sekali.


"Berhasil, Ratu keajaiban bisnis benar - benar luar biasa!..."


"Semuanya, ayo keluar sebelum Bom itu meledak!..."


"Benar, selamatkan diri kalian!..."


Mendengar kata Bom! sekali lagi semua orang menjadi panik dan segera bergegas keluar dengan cepat.


Maya dan Mary adalah dua orang terakhir yang keluar dari aula pertemuan akbar. Sebelum pergi keduanya melihat Fatir yang berdiri di depan pria paruh baya itu.


Dua menit sebelum Bom itu meledak.


Kini menyisakan Fatir dan pria paruh baya itu saja yang ada di dalam ruangan.


Melihat semua orang akhirnya pergi, membuat Fatir merasa lega. Namun masih terlalu dini untuk mengatakan semuanya selesai. Fatir segera menatap kearah pria paruh baya itu dengan datar. Dia tidak lupa untuk melihat angka dua menit yang berjalan mundur.


"Sepertinya rencanamu untuk membunuh para tamu undangan telah gagal. Lebih baik kamu mematikan Bom itu sekarang dan katakan siapa orang yang ada di belakangmu!..." Kata Fatir dengan dingin.


"Haha! siapa yang bilang jika para tamu undangan yang menjadi targetku! Dari awal target balas dendam kami adalah kamu..." Pria itu tertawa dengan penuh kemenangan.


Satu menit sebelum Bom itu meledak.


Tiga puluh detik sebelum Bom itu meledak.


"Tantu saja karena kamu anak dari orang itu dan kami harus membalaskan dendam ini kepadamu!..." Pria itu menambahkan, dia sudah siap untuk mati dengan bom di tubuhnya.


Sepuluh detik sebelum Bom itu meledak.


Sekali lagi pria paruh baya itu mengatakan kami!


Kata - kata pria paruh baya itu membuat Fatir menyadari jika ada kelompok tertentu yang menyimpan dendam terhadap ayahnya.


Tapi siapa dan perselisihan apa yang terjadi di masa lalu!


Lima detik sebelum Bom itu meledak.


Fatir masih ingin menggali lebih banyak informasi dari pria itu. Tetapi Bom yang ada di tubuh pria itu akan segera meledak. Dengan cepat Fatir bergerak dan menghilang dari posisinya.


_


_


_


Di luar gedung, terdapat banyak orang yang melihat gedung megah itu dari kejauhan. Aksi terorisme selalu menjadi hal yang ditakuti oleh semua orang. Tentunya akan meninggalkan bekas memori yang membuat trauma bagi sebagian orang.


Ningsih, Mary dan Maya berada diantara mereka semua. Ketiganya tentunya berharap agar Fatir baik - baik saja.


Lima menit sudah berlalu, namun ledakan tidak kunjung terjadi, hal ini membuat semua orang bertanya - tanya.


Apakah mereka semua terkena Prank dari konten youtuber?


Ataukah semuanya karena Bom palsu?


Saat ini di dalam aula pertemuan akbar, senyuman di wajah pria itu menghilang dan digantikan dengan tatapan tidak percaya. Dia melihat di sekujur tubuhnya dan tidak lagi memiliki Bom yang seharusnya meledak.


"Tidak mungkin! Mengapa tidak meledak?..." Sebaik apapun dia mencarinya, namun tidak dapat menemukan keberadaan bom yang ada di tubuhnya. "Sial, di mana bom itu?!..."


Pada saat dimana ledakan kurang dari Lima detik, Fatir bergerak dengan cepat kemudian mengambil dan menyimpan bom tersebut di dalam cincin batu akik miliknya.


Cincin spasial yang memiliki kegunaan untuk menyimpan apapun tidak hanya sebatas itu. Tetapi juga dapat membuat benda yang tersimpan di dalamnya tidak terpengaruh oleh berlalunya waktu.


Itu berarti, Bom telah berhasil di amankan. Dan jika Fatir mengeluarkannya lagi, maka ledakan akan benar - benar terjadi.


Tepat saat ini, Fatir bergerak lagi dan memberikan sebuah pukulan ke wajah pria paruh baya itu.


"Aaaahhhh!..."


"Baaammm!..."


Pria itu terhempas di kejauhan dan menghancurkan beberapa properti acara pertemuan akbar. Meja dan kursi berhamburan dengan posisi tak beraturan. Dari jeritan itu seharusnya dia merasakan rasa sakit yang luar biasa di wajahnya.


"Ahh!... Sialan..." Pria paruh baya itu memiliki wajah yang buruk, hidungnya patah dan darah mengalir di sudut mulutnya tanpa henti.


Fatir berjalan dengan perlahan kearah pria paruh baya itu dan berkata, "Jika kamu mencari Bom itu lagi, kamu tidak mungkin menemukannya!..."


"Kamu!..." Pria paruh baya itu merasakan jejak ketakutan di hatinya. Fatir yang ada di depannya memancarkan niat membunuh yang begitu meluap dan tak terbendung.


"Katakan siapa kalian?..." Kata - kata Fatir sedingin es. Walaupun dia belum pernah membunuh secara pribadi, namun dia memiliki banyak cara untuk membunuh musuhnya.


"Haha, Jangan berpikir kamu akan mengetahui banyak hal dariku. Kami tidak akan berhenti sebelum melakukan balas dendam. Kematianku bukanlah akhir ingatlah itu..." Pria paruh baya itu memperlihatkan giginya dan seperti menggigit sesuatu kemudian mengeluarkan busa dari mulutnya. Tubuhnya bergetar hebat dengan mata terbuka lebar, sebelum akhirnya terdiam kaku.


"Sial, dia bunuh diri!..." Fatir hanya bisa berkata dengan kesal. Dia terlambat untuk menghentikan tindakan pria paruh baya itu dari mengkonsumsi kapsul racun yang tersimpan di dalam mulutnya.


Bersambung...