Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
83. Nasehat Yang Penuh Arti



Ketika Maya menarik lengan Fatir dia berkata, "Ayo Fatir, Jangan membuatku malu!..."


Fatir menggeleng kemudian berdiri, ada senyum tipis di bibirnya ketika berkata, "Ya, aku tahu..."


Segera keduanya berjalan berurutan dan mengikuti jejak Ratu keajaiban bisnis dan pergi menuju kelas VVIP.


Ketika Fatir berbalik dan berjalan di hadapan para tamu undangan. Semua orang sekali lagi terdiam. Beberapa diantaranya merasa familiar dengan wajah Fatir.


Segera mereka semua menyadari tentang semua tindakan Ningsih. Dan untuk beberapa diantaranya membuka ponselnya dan menyamakan sosok Fatir dengan foto ketua Angkasa grup yang belum lama menggemparkan banyak tokoh pebisnis besar.


Siapa yang melupakan tentang insiden internet yang terbakar belum lama ini?


Siapa yang mengabaikan divisi baru Angkasa grup di bidang pelayanan konseling?


Semua ini karena satu orang, yaitu Fatir.


Sebelumnya semua orang mendengar Maya memanggil Fatir dengan sebutan suami. Hal ini membuat mereka semua menganggap keduanya sebagai suami istri dan ada keinginan untuk membuat koneksi dengan perusahaan milik Maya.


"Nona Maya, saya dari perusahaan domestik, senang bertemu denganmu..."


"Nona Maya, saya dari perusahaan entertainment, kita bisa melakukan kerjasama bahagia..."


"Nona Maya, kita bisa membuat kontrak kerja sama kapanpun saja..."


"Nona Maya..."


Setidaknya, hampir semua tokoh pebisnis besar langsung berbicara dengan Maya dan memberikan perlakuan terbaik mereka.


Maya yang hendak berjalan mengikuti Ningsih hanya bisa menghentikan langkah kakinya, kemudian dengan bingung berhadapan dengan banyaknya tokoh pebisnis besar yang ingin membuat koneksi dengan dirinya.


Dengan banyaknya antusiasme dari semua orang, Maya tidak tahu harus mengambil tindakan apa, di satu sisi dia ingin memenuhi undangan Ningsih. Di sisi lainnya dia begitu menginginkan untuk membuat koneksi dengan tokoh - tokoh pebisnis besar.


"Sayang, kamu bisa menyelesaikan ini lebih dulu..." Fatir menyentuh bahu istrinya yang lembut kemudian berjalan pergi lebih awal.


Maya yang melihat kepergiannya tidak bisa tenang. Dia dapat merasakan sesuatu yang samar di hatinya. Entah mengapa dirinya sangat yakin jika semua keanehan yang terjadi di depannya, karena keberadaan suaminya.


Segera Maya mengikuti saran dari Fatir dan memberikan tanggapan kepada semua orang yang ingin melakukan kerjasama.


_


_


_


Fatir yang berjalan kearah kelas VVIP langsung di sambut oleh banyaknya tokoh pebisnis besar lainnya. Dia hanya tersenyum sambil tetap berkata, "Jika menginginkan kerjasama, kalian bisa menghubungi istriku..."


Segera mereka semua mengerti maksud dari perkataan Fatir. Secara tidak langsung, Fatir ingin menyenangkan istrinya tersebut melalui koneksi yang didambakan istrinya.


Para tokoh pebisnis besar yang menyambut kehadiran Fatir. Harus kecewa dengan penolakan yang dilakukan Fatir dan memilih untuk berjalan ketempat Maya.


Di kejauhan, Maya masih dengan baik menanggapi begitu banyaknya tamu undangan yang ingin membuat koneksi dengan dirinya. Hal ini membuat Maya terlihat benar - benar sangat bahagia.


Fatir akhirnya duduk di meja yang sama dengan Ningsih dan Mary. Dia melihat kearah ibu tirinya dengan tersenyum kecut. "Maaf, jika sebelumnya membuat masalah dan membuat Mama Ningsih mengambil tindakan..."


Kata - kata Fatir membuat Ningsih tersenyum dan mengangguk dengan puas. Walaupun dia tidak melahirkan Fatir secara pribadi, setidaknya dia menganggap putra suaminya dari wanita lain sebagai putranya sendiri.


"Fatir, apa yang kamu katakan. Orang tua manapun akan membantu putra mereka jika memiliki masalah..." Jawab Ningsih dengan penuh arti. Sudah dua puluh tahun sejak suaminya pergi, dan dia tetap setia menunggu suaminya itu.


Entah apa yang suaminya hadapi saat ini, apakah suaminya menemukan wanita lain atau tidak. Ningsih hanya bisa berdoa yang terbaik untuk suaminya. Dan berharap jika suatu saat suaminya dapat kembali untuk bertemu dengannya lagi.


Fatir begitu senang mendengar tanggapan Ningsih, kemudian dia menatap Mary yang diam ketika duduk di sana. "Mary, aku juga meminta maaf kepadamu..."


Mary yang terkejut segera menjawab dengan panik, "Ketua, tolong jangan meminta maaf seperti itu. Kamu tidak bersalah sama sekali..."


"Hehe!..." Ningsih terkekeh dengan lembut kemudian berkata, "Fatir, Mama senang kamu baik - baik saja..."


Ningsih tanpa sadar membandingkan Fatir dengan Candra, keduanya memiliki kondisi yang berbeda. Dia menatap Fatir kemudian berkata, "Jika kamu punya waktu, kamu harus mengunjungi saudaramu Candra..."


"Aku akan Maa..." Fatir mengangguk. Tentunya dia mengetahui tentang kondisi saudaranya itu.


Dalam hidupnya, Fatir tidak memiliki saudara satupun. Sehingga dia begitu senang ketika mengetahui tentang Candra. Tetapi segera depresi ketika mengingat kondisi Candra saat ini.


Ningsih melihat Maya yang berada di kejauhan kemudian berkata, "Bagaimana dengan istrimu, tidakkah kamu mengatakan tentang kondisimu saat ini?..."


Fatir mendesak kemudian berkata, "Aku akan mengatakannya secepat mungkin..."


Ningsih mengangguk, "Mengatakannya lebih awal akan sangat bagus untuk hubunganmu di masa depan. Terlepas dari tanggapan Maya, kamu harus menerimanya!..."


Ningsih tentu saja tahu, jika Fatir tidak bermaksud menyembunyikan identitasnya terhadap Maya. Dia hanya tidak terbiasa dengan identitasnya sebagai anak orang kaya.


"Ini akan menjadi sulit!..." Fatir tersenyum kecut karena dia tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika Maya sudah mengetahui tentang jatidirinya.


"Hmph! Jangan menjadi pria yang ada di dalam novel - novel china. Seorang suami yang menyembunyikan identitasnya sampai ribuan chapter, itu sangat membosankan..." Ningsih langsung mengatakan apa yang tersirat di benaknya.


Fatir dan Mary yang kebetulan ada di sana langsung terdiam. Keduanya tidak menyangka jika Ningsih suka membaca novel online seperti itu.


"Harap tenang Maa, jangan menyamakan karakterku dengan novel yang selalu Mama Ningsih baca!..." Fatir memberikan sangkalan di tempat.


Karena haus, Fatir mengambil minuman yang ada di depannya, dan pada saat yang sama, suara Ningsih kembali terdengar. "Juga, luangkan waktu untuk membuat momongan, jika perlu lakukan setiap hari dan perbanyak anak di masa depan..."


"Bruzzzz!... Uhuk!... Uhuk!..."


Perkataan Ningsih membuat Fatir menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. "Maa, tolong jangan terlalu bersemangat. Hubungan kami baru saja membaik dan akan membutuhkan banyak waktu untuk menjadi lebih dekat..."


"Fatir, kamu adalah putra dari suamiku, seharusnya kamu memiliki sebagian dari sifatnya. Mama tebak, kamu dekat dengan beberapa wanita lain selain dengan Maya..." Ningsih memberikan penjelasan yang mengejutkan dan membuat Fatir begitu malu.


Mary yang ada di dekat mereka hanya bisa menundukkan wajahnya dengan memerah padam. Tentunya karena dia wanita lain yang dimaksudkan.


Ningsih kemudian melihat Mary yang menunduk dengan malu. "Mary, jangan bilang kamu salah satunya?..."


Mendengar ini, Mary hanya mengangguk.


Ningsih menggeleng kemudian berkata ketika melihat Fatir. "Fatir, Sekarang kamu tidak kekurangan uang, jadi jangan takut menghamili anak orang. Entah seberapa banyak wanita yang kamu miliki nantinya. Setidaknya, kamu harus memiliki seratus anak di masa depan..."


Fatir memasang mata melebar dengan kejutan besar di hatinya. Dia tidak pernah berharap jika Mama tirinya akan begitu berambisi dibandingkan dengan dirinya.


"Iya, Maa. Fatir akan melakukan yang terbaik..." Jawab Fatir dengan tidak berdaya.


Bersambung...