Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
89. Godaan Seorang Pria



Tanpa sadar hari senin lainnya terlalui dengan begitu saja. Tentunya Fatir menggunakan waktunya untuk memberikan pengobatan terhadap ribuan pasien yang sudah mendaftar hingga tahun depan.


"Manda, kerja bagus. Yang lainnya juga..." Kata Fatir dengan sopan kepada semua karyawannya.


"Ketua, kami hanya melakukan tugas kami..." Manda menjawab dengan malu. Entah mengapa dia begitu mengagumi Fatir karena kemampuannya di bidang pengobatan sangat menakjubkan.


"Karena pekerjaan kalian yang baik, aku akan memberikan tambahan gaji untuk bulan ini..." Kata Fatir dengan tersenyum. Tentunya memanjakan karyawan adalah salah satu langkah menjadi atasan yang baik.


Tidak ada yang menolaknya, kini semua karyawan termasuk Manda begitu bersuka cita. Sudah hanya!berkerja seminggu sekali, tapi mendapatkan gaji tambahan. Sungguh pekerjaan yang luar biasa.


Segera Fatir meninggalkan perusahaan divisi baru dan pergi dengan mobilnya. Ketika di persimpangan dia melihat sesosok wanita cantik yang berdiri di tepi jalan dan terlihat cukup familiar.


Tanpa sadar naluri pria muda mulai bangkit. Tetapi Fatir segera ingat jika dia sudah menikah dan hubungan dirinya dengan Maya mulai membaik. Mungkin sudah saatnya Fatir mengabaikan wanita lain agar tidak mengkhianati istrinya.


Tetapi mobil Fatir berhenti di depan wanita itu tanpa dirinya sadari. "Sial, mengapa mobil ini tidak mendengarkan perintahku. Mengapa juga berhenti di sini..."


Fatir menurunkan kaca mobil dan dengan mengangguk melihat kearah wanita yang mengenakan dress pendek dan memperlihatkan paha putih saljunya. Sehingga sedikit menggugah selera pria polos seperti Fatir.


"Ketua!..." Miranda terkejut ketika melihat Fatir di dalam mobil sport yang berhenti di depannya.


"Miranda, mengapa kamu berdiri di sana?..." Tanya Fatir dengan heran dari dalam mobil.


Tatapan Miranda menjadi bersemangat, segera dengan cemberut dia menjelaskan. "Mobilku macet. Dan sekarang berada di bengkel, untuk sementara aku hanya bisa memesan taksi online..."


"Taksi online?!..." Tatapan Fatir menjadi kecewa. Dia segera menambahkan, "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu..."


"Tunggu Ketua, apakah ketua keberatan jika aku ikut denganmu?..." Miranda segera memperbaiki perkataannya.


Tentu saja jawabannya ya. Namun Fatir kembali mengingat jika selingkuh itu tidak baik!


"Bagaimana dengan taksi online yang kamu pesan?..." Tanya Fatir dengan ragu - ragu.


Miranda mulai menjadi tidak sabaran, mengapa Fatir seperti menjaga jarak dengan dirinya?


Apakah dia telah melupakan saat - saat keduanya berbagi kehangatan satu sama lain di hotel?


"Ketua, mengapa tidak membiarkanku masuk lebih dulu agar lebih nyaman ketika menjelaskannya..." Miranda tersenyum lembut ketika menurunkan kepala dan melihat kedalam melalui kaca mobil yang di turunkan.


Fatir hanya bisa membiarkannya masuk dan saat Miranda masuk, Fatir memperhatikan bau yang akrab yang datang dari tubuh wanita cantik ini, udara di dalam mobil segera dipenuhi dengan aroma melati yang samar, hangat namun menyegarkan.


Ini mengingatkan Fatir pada malam - malam keduanya menginap di hotel dan melakukan hubungan seksual. Hal ini begitu menggairahkan dan mulai meninggalkan keinginan tak terbendung di hati Fatir. Dia yang tidak ingin selingkuh sekali lagi harus bertahan dari nalurinya sebagai lelaki.


"Ketua, mengapa kamu menatapku seperti itu!..." Tanya Miranda dengan puas.


Tentunya dia sangat memahami jika Fatir akan menjadi pria yang berbeda ketika berhubungan seksual. Bahkan jika Fatir ingin mengabaikan keindahan, sosok Miranda tentunya akan membuat pria manapun menjadi sangat gelisah ketika duduk bersama.


Tidak terkecuali Fatir yang tatapan matanya terpaku pada paha putih saljunya!


Ingin rasanya menyentuhnya lagi, apakah masih selembut seperti yang terakhir kali. Sial, apa yang aku pikirkan, ayolah kembali kejalan yang lurus. Pikir Fatir dengan mendesah.


Miranda semakin tersenyum lebar ketika berkata. "Ketua bisa aja, apakah harus melihat lama - lama jika tidak sengaja?..."


"Nona Miranda, aku sudah melihat tubuh telanjangmu. Apakah salah jika tidak sengaja melihat paha milikmu?..." Kata Fatir dengan sopan. Dia tidak bermaksud menatap, tetapi paha itu terlalu memikat.


Fatir benar - benar dilema. Di masa lalu sudah memutuskan untuk memiliki beberapa wanita dan Miranda adalah salah satunya, namun mengapa sekarang dirinya bimbang.


Apakah karena hubungannya dengan Maya yang sudah membaik?


Wajah Miranda segera memerah, dia kemudian melihat Fatir dan berkata, "Apakah Ketua ingin melihat tubuh telanjangku lagi?..."


"....." Fatir terdiam tanpa kata.


Segera Miranda menambahkan, "Ketua, mengapa kamu tidak mengantarkan aku pulang?..."


"Lalu, bagaimana dengan taksi online yang kamu pesan?..." Jawab Fatir dengan tersenyum.


Miranda dengan penuh kemenangan menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan pembatalan pesanan taksi online yang dirinya pesan. "Ketua, aku sudah membatalkan taksi online. Kamu tidak keberatankan mengantarkan aku pulang?..."


Kali ini Fatir kesulitan untuk menjawabnya. Dia hanya bisa menjawab, "Baiklah, ini hanya mengantarkan kamu pulang..."


"Vrooommm!..."


Fatir menghidupkan mesin dan melajukan mobil dan menjauh dari tempat itu.


Di perjalanan, seperti biasa jalan raya akan mengalami kemacetan panjang, di saat Fatir mengemudi dengan tenang, Siapa sangka pahanya mendapatkan sebuah sentuhan. Sehingga membuatnya tersentak.


Fatir dengan jelas melihat tangan putih salju itu menekan dengan bertahap, kemudian dia melihat Miranda yang tersenyum cerah di wajahnya yang cantik.


"Miranda, apa yang kamu lakukan. Saat ini aku sedang mengemudi..." Kata Fatir dengan tertekan sambil mengemudikan mobilnya. Hanya melalui sentuhan dari Miranda, dia ingin membangkitkan joni agung yang tertidur.


Sambil menggunakan tangannya untuk mengelus, Miranda menjelaskan. "Ketua, begitu lama kamu tidak menghubungiku lagi. Apakah kamu sudah melupakan malam - malam yang kita lalui bersama? Apa lagi semenjak kamu menjalankan divisi baru. Kita hampir tidak pernah bertemu sama sekali..."


Tentunya, Miranda menginginkan jatah seorang pelakor. Tidak mungkin dia mengabaikan sensasi joni agung ketika berada di dalam tubuhnya. Dia bahkan mulai menginginkannya ketika cukup lama tidak bertemu dengan Fatir lagi.


Fatir kesulitan untuk menjawab, Dia masih bertahan dari sentuhan tangan Miranda. Tetapi tangan putih salju Miranda bergerak semakin berani. Itu menyentuh selimut joni agung yang tertidur, kemudian membuka resleting dan membangunkan joni agung dengan paksaan.


"Miranda, bisakah kita menghentikan ini?..." Tanya Fatir dengan tidak bisa tenang.


"Ketua, mengapa harus berhenti ketika temanmu mengatakan sebaliknya..." Jari - jari lembut Miranda mencoba melingkari batang daging joni agung yang menjulang tinggi. Namun tidak mampu mengelilingi sepenuhnya karena ukurannya yang tidak biasa.


"Tapi, kita sedang berada di jalan!..." Kata Fatir dengan frustasi, dia mengemudikan mobil diantara kemacetan panjang. Jika dia tidak fokus, mungkin akan menabrak kendaraan yang ada di depannya.


Miranda sangat bahagia melihat tanggapan Fatir yang tidak lagi menolaknya. Fatir bersandar sambil memperlihatkan batang menjulang joni agung yang ada di antara kedua kakinya dan menjadi lebih besar dari sebelumnya.


"Ketua, senang melihatmu yang tidak menolaknya, tolong fokuslah mengemudi agar tidak menabrak kendaraan lain..." Miranda membungkuk kesamping dengan mendekatkan wajahnya yang cantik ke arah batang daging Joni agung.


Fatir yang mengemudi mulai terengah - engah pada saat Melihat segala tindakan Miranda yang begitu cabul dan memikat muncul di penglihatannya. Paha putih salju itu benar - benar menakjubkan. Sosoknya penuh dengan daya pikat yang tak ada habisnya.


Bersambung...