Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
116. Kedatangan Yang Tak Terduga



Kedatangan orang - orang gunung dari Perguruan Macan putih mengejutkan Fatir. Dia bertanya - tanya tentang siapa mereka dan dari pakaian mereka, Fatir mengambil kesimpulan kasar.


Mungkinkah mereka adalah orang yang mengasingkan diri dari dunia luar dan tinggal di kedalaman gunung Kawi?


Tetap saja mereka memancarkan permusuhan. Sehingga Fatir mengambil sikap tidak sopan dengan tatapan dingin di wajahnya.


Gatra yang marah menatap kaki Fatir yang ada di atas dada Damar sambil berkata. "Singkirkan kakimu!..."


Fatir mendengus dingin sambil berkata, "Mengapa aku harus mematuhi perkataan kalian? Bagaimana jika aku tidak melakukannya?..."


"Bagus, aku akui kamu memiliki kemampuan karena membuat putraku hingga berakhir seperti ini. Tapi kamu melakukan kesalahan karena tidak mendengarkan peringatanku..." Melihat putranya yang terluka begitu parah, tentunya Gatra tidak bisa tinggal diam.


"Whooosss!..."


Gatra bergerak dengan begitu cepat, dia dalam sekejap sudah berada di belakang Fatir dan melancarkan pukulan yang berbalut energi Qi pada kepalan tangannya.


"Whooosss!..."


Tentunya Fatir tidak akan diam ketika musuhnya mulain menyerang dengan niat membunuh. Detik berikutnya Fatir menghilang di tempat dan berdiri di kejauhan. Tantunya semua orang di kejutkan dengan pergerakan Fatir.


"Hmph!..." Gatra mendengus dingin dan mulai bergerak lagi, kali ini dia menggunakan semua kekuatannya untuk menyerang Fatir.


"Baaammmm!..."


Gatra adalah yang terkuat diantara mereka semua, dan sangat yakin jika melumpuhkan Fatir hanyalah masalah waktu. Mungkin hanya dengan beberapa pukulan Fatir akan mengalami kekalahan.


Setidaknya itu yang semua orang yakini saat ini. Namun ketika pukulan Gatra di hentikan dengan satu tangan oleh Fatir. Semua orang segera terdiam membisu.


"Apa!..." Yang paling terkejut adalah Gatra sendiri. Kapasitas energi Qi miliknya puluhan kali lebih banyak dari milik Damar, namun masih belum sebanding ketika berhadapan dengan Fatir.


Bagaimana mungkin?!


Detik berikutnya, Fatir mulai bergerak dia menekuk sikunya dengan langkah memutar dan seketika itu dia memberikan pukulan fatal terhadap Gatra.


"Baamm!..."


Pukulan Fatir benar - benar mengerikan, Bahkan dapat menerbangkan seseorang yang memiliki tubuh besar dan kekar seperti Gatra.


Puluhan kultivator yang datang bersama dengan Gatra tercengang di tempat. Mereka semua tentunya lebih lemah dari Gatra sehingga ada ketakutan dihatinya ketika melihat Gatra dikalahkan hanya dengan satu pukulan.


Samain itu, semua orang tidak berharap jika seorang pemuda awal dia puluhan akan memiliki tingkat kultivasi yang mengerikan dan keterampilan tempur yang tidak sederhana. Bahkan semua orang tidak yakin apakah mampu bertahan dari serangan kuat milik Fatir.


Damar yang melihat ayahnya yang paling dia kagumi dikalahkan begitu saja membuat dirinya tidak bisa berkata - kata. Dia tersenyum kecut dengan rasa malu yang luar biasa di hatinya.


Sebelumnya Damar berfikir, jika Fatir hanya sedikit lebih kuat darinya dan bukan lawan yang sebanding untuk ayahnya. Namun kenyataannya benar - benar terbalik.


Hal ini membuat Damar mengambil kesimpulan, jika berarti tindakan Fatir saat melawan dirinya tidak sungguh - sungguh. Karena dia mampu mengalahkan Gatra dengan satu pukulan. Tentunya mengalahkan Damar tidak memiliki kesulitan sama sekali.


"Bagaimana mungkin?!..." Gumam Gatra dengan tidak percaya.


Pukulan Fatir dapat dengan mudah membunuhnya, namun pukulan Fatir tidak mengincar titik Vital manusia melainkan sebaliknya.


Tentunya tindakan ini memiliki dua arti. Satu memang tidak ingin membunuh lawannya dan yang kedua, mengasihani lawannya. Dan itu membuat Gatra begitu kesal.


"Semuanya, kelilingi dia, aku tidak percaya jika dia tidak mudah di kalahkan..." Kata Gatra dengan kebencian, dia belum pernah dipermalukan oleh pria muda yang tidak dirinya kenal. Selain tuannya, dia tidak pernah menganggap orang lain sebanding atau lebih kuat darinya.


Semua orang mengangguk dan segera mengambil posisi bertarung untuk melawan Fatir secara habis - habisan. Mereka harus mengakui jika Fatir sangat kuat, tapi mereka memiliki banyak jumlah sehingga sangat mustahil untuk Fatir keluar dari sini hidup - hidup.


"....." Sekali lagi semua orang langsung terdiam, ketika kata - kaya sombong itu keluar dari mulut Fatir.


"Sialan, dia tidak tahu siapa kami!..."


"Bahkan jika dia dapat mengalahkan tuan Damar dan tuan Gatra, apa yang dapat dia lakukan ketika kita bergerak bergsama!..."


"Apa lagi yang kita tunggu, hancurkan dia!..."


"Hmph! Aku akan mematahkan kakinya..."


"Urrrraaaa!..."


Orang - orang gunung dari Perguruan Macan putih tidak pernah memiliki penantang dari dunia luar. Juga hanya sedikit diantara mereka yang berani memasukki kedalaman gunung Kawi, dan kebanyakan diantara mereka sangat lemah.


Tentunya kedalaman pria muda yang kuat seperti Fatir tidaklah biasa. Sehingga sangat marah ketidak ada seseorang dari luar gunung yang begitu sombong dan hendak menantang mereka.


Tepat sebelum mereka semua bergerak untuk mengepung Fatir, Terdengar suara lembut datang dari kejauhan. "Hentikan semuanya!..."


Tiba - tiba, seluruh area terdiam. Orang - orang di sekitar Fatir buru - buru minggir, berpisah untuk mengungkapkan celah saat mereka melihat ke kejauhan.


Beberapa orang dengan gugup menundukkan kepala, tetapi diam - diam melirik di mana sumber suara berada, dan ketika pendatang baru itu berjalan kearah mereka, semua orang terdiam.


Tindakan semua orang adalah salah satu bentuk penghormatan kepada seseorang yang sangat kuat. Gatra yang bingung akhirnya dia mengerti mengapa semua orang bereaksi seperti ini. Dia juga diam sambil membungkuk.


Fatir tanpa sadar menoleh untuk melihat juga. Akhirnya, dia mengerti mengapa semua orang bereaksi seperti ini. Dia hanya menatap datar kearah datangnya sumber suara, sebelum akhirnya menjadi kejutan di matanya.


Seorang wanita berpakaian putih perlahan berjalan diantara mereka, melewati jalan yang sebelumnya di kosongkan oleh semua orang.


Wanita itu memiliki mata yang jernih, dan kulitnya seputih salju. Alisnya begitu indah hingga terlihat dicat, dan angin sepoi - sepoi seakan menyertai setiap langkah kakinya.


Rambut hitamnya yang indah berkibar tertiup angin, dan gaun putihnya juga berkibar. Pinggangnya yang ramping dikelilingi oleh sabuk ungu pucat. Semuanya bersatu untuk membuatnya tampak seperti gadis peri yang fana di tengah - tengah awan.


Pada saat ini, semua orang menyalahkan dan membenci kurangnya pemahaman mereka, karena tidak dapat menggunakan bahasa yang tepat untuk menggambarkan keindahan tersebut.


Tidak ada yang berani menghentikan perjalanan wanita cantik tersebut selain kekaguman dihatinya. Beberapa orang bahkan tidak berani bernafas sampai wanita itu benar - benar pergi melalui kerumunan yang ada di sekeliling Fatir.


"Siapapun yang melakukan pertarungan di kaki gunung Kawi, akan mendapatkan hukuman terlepas dari alasan yang ada!..." Kata wanita cantik itu dengan datar.


"Kami mengerti ketua!..." Kata semua orang termaksud Gatra dengan menunduk. Tidak ada yang membantah perkataan dari wanita cantik itu.


Sedikit senyum melintas di wajah wanita berjubah putih itu. Dia berkata dengan hangat kearah Fatir, "Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi?..."


Momen yang menyisakan keduanya, membuat Fatir tanpa sadar melangkah ke depan. Dia dengan begitu berani menatap wanita cantik di depannya. Tidak ada rasa takut atau hormat di wajahnya. Fatir juga menghilangkan sikap permusuhan dan di gantikan dengan sukacita.


Berjalan - jalan di pegunungan dan bertemu dengan keindahan. Bukankah ini sangat luar biasa?


Bahkan dapat membuat Fatir melupakan tujuan awal dirinya datang ke kaki gunung Kawi dan berjalan mendekati wanita cantik itu.


Alih - alih menjawabnya, Fatir dengan sopan berkata, "Nona, kamu benar - benar cantik bagaikan peri. Tidak ada bahasa yang tepat untuk menggambarkan kecantikanmu. Aku bertanya - tanya apakah masih ada ruang kosong di hatimu. Jika tidak, aku tidak keberatan menjadi satu - satunya pria yang menempati ruang kosong itu..."


"....." Diam! Semua orang yang ada di kerumunan hanya bisa tertegun di tempat.


Mereka tidak pernah menyangka jika Fatir akan merayu wanita peri itu secara langsung. Bukannya kagum, semua orang menjadi marah karena Wanita cantik itu memiliki identitas yang tidak biasa.


Tentu saja Fatir tidak mengenal wanita cantik yang ada di depannya! Dia murni berkata jujur dan kata - kata tersebut hanyalah bentuk kekaguman terhadap kecantikan yang dimiliki wanita itu.


Bersambung...