Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
60. Rasa Bersalah



Maya masih kesal dengan perkataan suaminya. Siapa juga yang akan memanggil media masa dan polisi mana yang akan menangani kasus suami memperkosa istrinya.


Yang ada tindakan tersebut akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Mana mungkin Maya akan melakukan tindakan bodoh seperti itu.


Walaupun dia hanya secara samar mengingat, tetapi tubuhnya secara langsung menerima hubungan seksual yang selama ini selalu dirinya benci.


Karena trauma miliknya dengan perlahan menghilang, setidaknya tidak buruk kehilangan keperawanannya di tangan suaminya.


"Mengapa sekarang temanmu bisa berdiri, bukannya kamu impoten? Mungkinkah selama ini kamu berpura - pura menjadi pria impoten!..." Tanya Maya dengan datar.


Fatir akhirnya mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan tentang kondisi yang dirinya miliki.


"Tolong jangan berfikir jika aku berpura - pura..." Jawab Fatir.


"Mungkin kamu sudah menyadarinya, sejak lahir aku memiliki tubuh yang lemah..." Kata Fatir dengan mengingat masa lalunya.


"Yang terburuk, aku benar - benar menjadi pria impoten dan dokter rumah sakit sudah memastikannya..." Fatir berhenti berbicara sambil menatap istrinya.


Maya yang mendengarkannya merasa kasihan dengan kondisi fisik Fatir yang sudah lama dirinya ketahui. Namun dia tidak dapat mengekspresikan melalui tindakan.


Apa yang Fatir katakan menjadi alasan dirinya menikahi Fatir tiga tahun lalu. Namun siapa sangka jika dirinya akan jatuh di pelukan Fatir dan tidur dengannya.


"Suatu ketika, temanku dapat bangkit dengan sendirinya, dan tubuhku secara bertahap menjadi begitu baik..." Fatir tidak mungkin mengatakan tentang pertemuan dirinya dengan pertapa agung.


Alasan yang tidak ilmiah akan membuat Maya tidak puas dan mungkin akan mengatakan jika dirinya telah berbohong.


"Sejak aku meninggalkan kediaman mertua, aku mulai melatih fisikku dan juga berlatih seni bela diri. Hasilnya tubuhku semakin baik dan inilah aku yang sekarang..." Fatir menambahkan kebohongan lainnya.


Maya hanya bisa mengangguk. Dia melihat Fatir yang tidak mengenakan baju dengan selimut menutupi bagian bawahnya.


Apa yang dilihatnya adalah bentuk lekukan tubuh suaminya yang benar - benar sempurna. Jika diperhatikan dengan baik - baik, dari segi otot lengan, bahu hingga ke perutnya, itu begitu menarik di mata wanita.


Maya sekali lagi di kejutkan dengan perubahan tubuh Fatir. Di masa lalu, walaupun dia tidak memperhatikan bentuk tubuh suaminya, setidaknya dalam sekali melihat dia dapat mengatakan jika suaminya sangat kurus. Tapi sekarang, sangat - sangat berbeda.


Apakah suaminya masih orang yang sama?


Selain itu, Maya tidak melupakan di mana Fatir membuat Farhan dan temanya menderita di bawah pukulannya. Itu pukulan yang sangat kuat dan tidak mudah bagi orang lain melakukannya.


Tapi, bagaimana mungkin suaminya akan berubah begitu banyak, hanya dalam waktu satu bulan?


Maya tidak melanjutkan pembicaraan, tetapi di dalam hati nuraninya terasa seperti ada batu menekannya. Dia tidak menyangka suami yang dia nikahi selama tiga tahun dan telah dirinya abaikan, akan begitu luar biasa.


Namun bukan berarti hubungan keduanya akan menjadi suami istri sungguhan. Semalam hanyalah kecelakaan dan Maya harus melupakannya.


Fatir tidak jauh berbeda.


Selama bertahun - tahun dia tidak mengalami rasa bersalah terhadap wanita karena wanita menjadi mahluk yang sangat sulit dipahami.


Berfikir jika dirinya telah melakukan hubungan seksual dengan dua wanita lain selain istrinya, membuat Fatir kesulitan untuk menjelaskannya. Belum lagi dengan pelakor magang yang masih dalam tahap pembinaan.


Lima menit kemudian, Maya sudah selesai berganti. Dia sedikit memperbaiki riasan wajahnya sebelum bergerak ke pintu tanpa mengatakan apapun.


"Tunggu, Maya, ada sesuatu yang ingin aku katakan!..." Kata Fatir.


Maya berhenti dan menatap kearah suaminya dengan ekspresi rumit. "Katakan jika kamu ingin mengatakan sesuatu. Jika kamu mengatakan sesuatu yang bodoh lagi, aku akan mengabaikanmu..."


"Aku mengerti, Tapi aku akan jujur kepadamu. Ini berhubungan dengan bagaimana aku membayar semua tagihan di gedung Graha. Juga tentang pekerjaanku di Perusahaan Angkasa Grup..." Kata Fatir dengan ekspresi serius.


Dia tidak akan menyembunyikan identitasnya lagi, Lebih baik memberitahu Maya secepat mungkin, dari pada membiarkan Maya mengetahuinya dari orang lain.


"Ketahuilah, aku sekarang memiliki banyak uang. Aku kapan saja bisa saja membayar denda untuk kontrak pernikahan kita, tetapi aku memilih untuk tidak melakukannya..." Kata Fatir dengan begitu percaya diri.


"Aku juga bukan karyawan di perusahaan Angkasa Grup, melainkan ketua-..." Sebelum Fatir menyelesaikan perkataannya, Maya memotongnya langsung.


"Maksudmu ketua penjaga keamanan?..." Maya menyipitkan matanya dengan heran. Dia pikir Fatir akan mengatakan sesuatu yang penting, ternyata tidak sama sekali.


"Tidak Maya, maaf jika sebelumya aku berbohong, tapi aku bukan ketua penjaga keamanan. Karena ayahku-..." Maya sekali lagi memotong perkataan Fatir.


"Cukup Fatir, Apa sih yang ingin kamu katakan!..." Maya benar - benar heran dengan Suaminya. Dia sudah mengetahui segalanya tentang Fatir, dia terlalu malas untuk mendengarkannya lagi.


"Tong... Ting... Tong..." Ponsel maya berbunyi, dia mengambilnya dan segera menjawabnya.


"Aku mengerti, aku akan ke sana..." Jawab Maya kemudian mematikan ponselnya.


"Aku harus pergi..." Tanpa menunggu Fatir meresponnya, Maya membuka pintu dan meningkatkan kamar hotel.


Dari langkah kakinya, cara berjalannya terlihat begitu aneh. Tentunya setelah berhubungan seksual dengan Suaminya semalam, Rasa sakit itu tidak mungkin menghilang dengan cepat.


Fatir hanya bisa tersenyum kecut. Padahal dia ingin berkata dengan jujur kepada istrinya. Tetapi Maya tidak memberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan sampai akhir.


Sekarang Fatir menatap heran terhadap pintu hotel yang tertutup. Dia tidak pernah tahu apa yang Maya pikiran, Namun istrinya benar - benar gadis yang abnormal.


"Gagal... Lupakan saja, masih ada kesempatan lain di masa depan..." Fatir dengan tenang bangun dari ranjang hotel.


Saat ini dia benar - benar telanjang, Memperlihatkan Joni agung yang bersimbah darah. Segera Fatir berganti pakaian dan kemudian meninggalkan hotel tersebut setelah menyelesaikan pembayaran.


Fatir berjalan kearah tempat parkir. Tetapi dia melihat Maya duduk di kejauhan seorang diri. Dia ingin menawarkan tumpangan sambil berniat untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.


"Tinggu dulu, mengapa Maya di sana. Bukannya dia ada kepentingan mendesak?!..." Kata Fatir dengan bingung.


Tetapi ketika Fatir hendak mendekati istrinya tersebut, dia mendengar beberapa isak tangis dari kejauhan.


Maya tampaknya menangis ketika dia kehilangan kesuciannya, tetapi dia tidak ingin Fatir tahu. Sayang sekali dia tidak tahu telinga Fatir berbeda dari manusia normal, jadi Fatir masih bisa mendengarnya walaupun dia berdiri cukup jauh.


Memikirkan Istrinya yang menahan air matanya selama ini, Fatir merasa lebih bersalah di hatinya.


Tidak lama setelah itu Maya berjalan pergi dan berhenti di tepi jalan sambil menunggu kedatangan Taksi.


Melihat istrinya lagi, Fatir membatalkan niatnya untuk menawarkan tumpangan. Dan berjalan seorang diri kearah tempat parkir. Mungkin Maya membutuhkan ketenangan dan bukan dirinya.


Bersambung...