
Malam harinya.
Setelah kembali dari tempat tinggal Nayla, Fatir memutuskan untuk pulang ke apartemen elite miliknya.
Beberapa menit kemudian, setelah mandi air dingin, Fatir meninggalkan kamar mandi, memamerkan kulitnya yang terlihat kuat, lekukan tubuh seorang pria yang sempurna dan otot yang kencang.
Jika seseorang melihat dengan hati - hati, dia akan melihat pria tampan yang kuat.
Berjalan menuju kamarnya, Fatir dengan malas menyesuaikan rambutnya yang basah, melihat pakaian mahal di dalam lemari, dia meraih baju yang paling sederhana, celana hitam dan sepatu.
Untuk gaya berpenampilan, Fatir tidak terlalu peduli. Selama yang dia kenakan cukup nyaman, dia akan mengenakannya.
Segera dia berjalan ke tempat parkir dan mengemudikan mobilnya. Melalui daerah paling makmur di kota jakarta dan juga yang paling ramai di daerah yang tersebut. Fatir menghentikan mobilnya di depan bar tertentu.
Bukan berarti Fatir senang pergi ke sana, namun dia ingin melepaskan malam harinya dengan pergi minum. Di masa lalu, dia hanya sesekali mengunjungi tempat - tempat seperti ini, namun sekarang dia bisa datang kapanpun dia mau.
Memang benar Fatir harus melakukan kebaikan, tetapi bukan berarti dia tidak boleh bersenang - senang. Belum lagi dia kaya raya mengapa tidak menghabiskan uang keluarganya!
Tepat ketika dia memasuki bar tersebut, kehidupan di sana benar - benar berbeda dan pada waktu malam dipenuhi dengan cahaya warna - warni.
Banyak wanita malam yang mengenakan rok dan gaun yang berbeda, dan bau alcohol yang berat dapat tercium dari tubuhnya.
Hanya berjalan ke tempat seperti ini, orang bisa mengatakan kesenangan. Di dalam seluruh lingkungan berubah sepenuhnya, kontras dengan bagian yang ada di luar.
Musik bergema dan banyak orang bergembira. Entah pria dan wanita, telah menjadi satu dalam lautan manusia yang menari - nari.
Fatir berbeda dari orang - orang muda lainnya yang secara terbuka tertarik pada gadis - gadis panas dengan kaki panjang dan rok pendek, dia buru - buru berjalan menuju ke tempat duduk di kejauhan.
"Kakak, ingin pesan minuman?..." Seorang bartender wanita muda berpakaian terbuka telah memperhatikan bahwa Fatir masuk di bar.
Dia menyeringai dan menawarkan secangkir minuman beralkohol kepadanya secara langsung. Walaupun dia cantik, namun kecantikannya terlalu standar di mata Fatir. Selain memiliki riasan tebal selebihnya hanya menjual kulit terbuka untuk menarik perhatian orang lain.
"Terimakasih..." Fatir hanya tersenyum sambil menyesap cangkirnya.
Bartender wanita itu dengan perlahan pergi dan tidak memperhatikan Fatir lagi, itu karena Fatir tidak memesan apapun selain minuman beralkohol.
Banyak wanita cantik yang berlalu lalang di sekitar Fatir, namun mereka tidak tertarik kepada Fatir. Menurut mereka, selain Tampan, Fatir terlihat cukup biasa, pasti dia tidak memiliki uang.
Inilah salah satu alasan Fatir mengenakan pakaian sederhana, karena tidak ingin menarik perhatian dari wanita matre. Karena akan terlalu merepotkan jika harus menolaknya setiap kali mereka datang.
"Hai... Mas boy yang tampan..." Dipuji, suara lembut namun serak membuat Fatir melihat kearah sumber suara.
Wanita yang menyapanya, sangat sulit dikatakan wanita. Dia memang memiliki penampilan seorang wanita, namun Fatir dapat melihat dengan jelas jika dia berbatang.
Sial, mengapa ada waria di sini?
Waria itu mulai memerah dan menggigit bibirnya dengan gugup, lalu dia mulai menggerutu, "Aku temani kamu ya, Mas boy..."
Melihat sikap centil dan terlihat feminim namun bukan wanita. Membuat Fatir ingin muntah di tempat. Mengapa dirinya begitu sial karena bertemu dengannya.
"Maaf... Aku sudah memiliki pasangan..." Tanpa sadar Fatir mendorong tempat duduknya kebelakang.
"Oh! Mas boy alasan deh! Aku dari tadi melihat Mas boy datang sendiri dan minum sendiri..." Waria itu secara naluri ingin lebih dekat dengan Fatir.
"Mas boy, jangan panggil mbak dong... Panggil saja aku Gisel!..." Dengan sikap centil dia semakin mendekati Fatir.
"Mbak Gisel, tolong jangan terlalu mendekat ok..." Keringat dingin mengalir di kening Fatir.
Entah kemarin mimpi apa! yang jelas, kedatangan mbak Gisel benar - benar tidak terduga. Selain itu, diantara sekian banyaknya pria yang datang sendiri, mengapa harus dirinya yang menjadi target Mbak Gisel.
"Mas boy, menghabiskan malam denganku membuat hidupmu menjadi lebih berbeda!..." Mbak Gisel mencoba untuk membujuk.
"Aku lebih berpengalaman dari seorang janda, juga sangat ketat seperti gadis perawan. Mas boy bisa lakukan gaya apa saja, dari belakang bisa, dari depan juga bisa, dan gaya baling - baling juga bisa, pokoknya komplit..." Kata Mbak Gisel dengan sangat bersemangat.
Diam!
Fatir hanya bisa membeku dengan kaki gemetar.
Mencoba mengabaikannya, Fatir diam - diam minum secangkir minumannya menyiratkan bahwa dia tidak ingin membicarakan hal ini lebih jauh lagi.
Mbak Gisel yang melihat keras kepala Fatir bergumam dengan lantang, "Aku benar - benar ingin kamu menjadi kekasihku..."
"Buuz..." Fatir menyemprotkan minuman beralkohol yang ada di mulutnya ke wajah Mbak Gisel.
"Uhuk... Uhuk..." Dan batuk beberapa kali.
Walaupun Fatir merasa bersalah karena membasahi wajahnya, namun dia berpura - pura tidak mendengar apa - apa.
Bahkan jika wajahnya dan sosoknya anggun dan halus di bawah lampu berkedip di bar, selama pertama kali Mbak Gisel menunjukkan wajahnya di bar ini, tidak ada yang berani menatap langsung padanya.
Beberapa tamu yang datang sendiri berdoa dan berharap, agar Mbak Gisel tidak mendekati mereka. Mungkin karena Fatir tidak berdoa sehingga dia menjadi incaran Mbak Gisel yang kesepian.
"Mbak Gisel... Di sana ada pria tampan!..." Kata Fatir sambil menunjukkan lengannya.
"Mana... Mana woi..." Mbak Gisel berusaha menemukan siapa yang di tunjuk Fatir sebelumnya. Tetapi dia tidak menemukan siapapun sejauh mata memandang.
"Mas boy, kamu berbohong-..." Tepat ketika Mbak Gisel melihat Fatir lagi, dia tidak menemukan siapapun selain kursi kosong.
"Tega sekali Mas boy meninggalkan ku seorang diri, bagaimana jika aku di culik dan di perkosa..." Mbak Gisel hanya bisa pergi dan menemukan mangsa lainnya lagi.
Di manapun Mbak Gisel mendekati pria yang sendiri, mereka pasti akan berhamburan. Sehingga menciptakan kekacauan di dalam bar dan akhirnya di usir oleh penjaga keamanan.
"Akhirnya, bisa tenang juga..." Kata Fatir dengan sangat bahagia.
Melihat para penjaga mengusir Mbak Gisel meninggalkan bar, Fatir secara diam - diam menghela nafas dan mengangkat bahu.
Dia sendiri hanya ingin menenangkan hati dan pikirannya. Dan tidak peduli dengan wanita cantik yang mengunjungi bar tersebut. Namun kedatangan Mbak Gisel telah merusak suasana hatinya.
Karena itu, Fatir memutuskan untuk bertemu dengan seorang wanita yang menurutnya tepat untuk berbagai malam yang sama.
Keluar dari bar, Fatir segera memindai sekelilingnya lalu dengan cepat berjalan ke bar lain. Di sini jumlah wanita tidak pernah kurang, tetapi Fatir tidak cukup dengan wanita biasa.
Dalam kehidupan orang normal, seorang pria harus memiliki uang untuk menemukan seorang wanita! dan karena Fatir kaya, maka temukan wanita terbaik.
Bersambung...