Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
72. Tidak Sengaja Melihatnya



Fatir dengan terpaksa menerima tawaran makan malam di kediaman keluarga Pak Jamono.


Banyaknya hidangan di depannya, membuat Fatir tidak banyak bicara saat makan karena ia terus - menerus menelan seteguk daging dan makanan lainnya. Dia tahu betul bahwa ini adalah satu - satunya cara bagi keluarga Pak Jamono untuk membuat dirinya bahagia.


Keluarga Pak Jomono ingin Fatir terpuaskan sekaligus membalas bantuan yang Fatir lakukan sebelumnya.


"Kak Fatir, kamu harus tambah lagi makanannya..." Kata Yeni dengan tersenyum manis.


"Tidak masalah!..." Pada dasarnya seorang kultivator, memiliki nafsu makan yang tinggi. Tetapi sebagai seorang tamu, dia harus menjaga sikap.


Yeni dari waktu ke waktu juga memberi Fatir lebih banyak makanan. Dia bahkan akan diam - diam mengintip Fatir makan sementara orang tuanya tidak memperhatikan.


"Sayur tumis ini adalah masakanku, bagaimana rasanya?..." Tanya Yeni dengan harapan besar di hatinya.


"Umm!... ini enak!..." Jawab Fatir, walaupun masakan tumis itu cukup asin yang mungkin terlalu banyak garam, namun Fatir tidak mengatakannya.


Ketika Yeni mendengar Fatir mengatakan hidangannya enak, dia merasa hatinya dipenuhi madu manis, karena sebagian waktu dia habiskan untuk memasak tumis tersebut.


"Lalu begitu biarkan aku merasakannya..." Yeni segera mengambil sendok, sebelumnya dia lupa mencicipi masakan tersebut dan jika benar - benar enak, dia begitu penasaran dengan rasa masakannya sendiri.


"Tidak, kamu tidak bisa memakannya, bukannya kamu memasaknya hanya untukku..." Fatir langsung menghentikannya. Dia tidak ingin membuat Yeni kecewa dengan masakannya sendiri.


Dengan cepat Fatir menghabiskan masakan tumis tersebut tanpa memperdulikan rasa asin yang mengalir di tenggorokannya. Kemudian Fatir beralih ke menu makanan yang lain dan satu persatu dia habiskan.


"Nak Fatir, jika bukan karena bantuan darimu sebelumnya, keluarga kami akan menghadapi kesulitan yang jauh lebih buruk..." Kata Pak Jamono dengan mendesah.


"Pak Jamono, bukanya mengulurkan bantuan kepada seseorang yang membutuhkan adalah kewajiban bagi mereka memiliki kelebihan. Kebetulan aku mengenal Pak Tono kemarin yang lalu sehingga masalah terselesaikan dengan cepat..." Jawab Fatir dengan rendah hati. Dia tidak menyombongkan apa yang dirinya miliki. Lebih baik mengatakan jika semuanya murni kebetulan saja.


"Nak Fatir, Jangan terlalu di pikirkan. lain kali kamu bisa menjadi tamu kami lebih sering lagi, kami juga akan memasak beberapa makanan yang baik untukmu..." Kata wanita gemuk dengan gembira.


"Ya, aku akan sering mampir kemari jika punya waktu..." Jawab Fatir


Sementara itu, ketika makan malam bersama berakhir, Yeni membantu ibunya membersihkan meja.


Pada saat yang sama, Wanita gemuk itu dengan penuh perhatian menarik lengan Suaminya untuk menjauh dari ruang tamu.


"Buu, Mengapa kamu menarikku di saat kita sedang memiliki tamu?..." Tanya Pak Jamono dengan melepaskan tangannya.


"Yah, kamu tidak tahu anak muda saja! Biarkan Yeni dan Nak Fatir memiliki kesempatan untuk bersama..." Kata wanita gemuk itu dengan tersenyum.


Segera Pak Jamono memahami maksud dari perkataan istrinya. Namun dia tidak memiliki pemikiran yang sama dengan istrinya tersebut. "Buu, Fatir sudah menikah, tidak baik memaksa putri kita ke dalam rumah tangga orang lain. Itu tidak jauh dengan menyuruh putri kita menjadi seorang pelakor..."


"Ayah ini bagaimana sih, Fatir bisa menjadikan Yeni sebagai istri kedua. Aku pikir Yeni akan melakukannya lebih baik dari yang kita duga..." Kata wanita gemuk itu dengan sangat yakin. Dia menatap Fatir dan Yeni sedang asik mengobrol di ruang tamu.


"Tapi..." Pak Jamono terlihat ragu - ragu dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun juga, pilihan ada di tangan putrinya. Bahkan jika dirinya memaksa itu tidak mengubah apapun.


"Tidak ada tapi, Yeni pastinya akan bahagia jika bersama dengan Fatir. Dia juga tidak memiliki pacar, mungkin dia masih memiliki kesempatan untuk menjadi istri yang kedua..." Wanita gemuk itu langsung memotong perkataan suaminya.


Sayang sekali keduanya tidak tahu, jika telinga Fatir berbeda dari manusia normal pada umumnya, jadi Fatir masih bisa mendengarnya walaupun dia duduk cukup jauh.


"Baiklah, ini sudah malam. Tidak baik jika tetap tinggal tanpa melapor ke pak RT..." Kata Fatir dengan berat, tentu saja sangat nyaman jika harus terus bersama dengan Yeni yang begitu cantik dan menggoda. Tetapi Fatir harus puas jika hubungan keduanya hanya sebatas adik kakak saja.


Wanita gemuk itu tentunya tidak puas ketika mendengar perkataan Fatir yang hendak pulang. Dalam hatinya dia sudah menganggap Fatir layaknya menantu dan lebih dari itu seperti putranya sendiri. Mengapa harus pulang cepat jika bisa tinggal untuk satu malam.


"Nak Fatir, jangan keburu pergi. Setidaknya kamu harus menginap walau hanya satu malam saja..." Wanita gemuk itu membujuk.


Sekali lagi Fatir terdiam, mengapa jadi seperti ini? Mengapa juga dia harus menginap. Dia benar - benar ingin pulang dan mengakhiri malam yang begitu melelahkan ini.


Di masa lalu, Istri Pak Jamono tidak menginginkan Fatir bertamu dengan begitu lama. Siapa sangka jika sekarang dia menawarkan Fatir untuk menginap?


Tentunya Fatir harus menolak. Tetapi melihat Pak Jamono dan Yeni membuat Fatir memikirkan pilihan lain. "Baiklah, sepertinya jika hanya satu malam saja tidak masalah..."


Fatir hanya bisa berdoa agar tidak ada kecelakaan yang terjadi. Mengingat Pak Jamono memiliki seorang putri yang begitu menawan dan sangat cantik.


Fatir juga harus menjaga Joni agung agar tidak bertindak liar dan lepas kendala dari kandangnya.


_


_


_


Keesokan harinya.


Malam berlalu begitu saja, akhirnya Fatir benar - benar menginap. Dia tidur di kamar tamu sedangkan keluarga Pak Jamono tidur di kamar mereka Masing - masing.


Membuka matanya, Fatir di bangunkan oleh perutnya yang sakit dan kantung kemihnya penuh. Jadi dia berlari menuju toilet karena tidak tahan lagi. Sepertinya karena makan terlalu banyak membuat perutnya begitu buruk.


Toilet rumah Pak Jamono berada di belakang rumah di tempat terpisah. Setelah berjalan melalui lorong rumah kecil, Fatir yang tidak tahan lagi mendorong pintu kayu toilet hingga terbuka.


"KYYAAA!!!..."


Suara yang tajam dan panik memasuki telinga Fatir dan itu terdengar seperti teriakan seorang wanita. Segera dia mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang ada di balik pintu.


Fatir secara tiba - tiba tercengang di tempat.


Di depan matanya adalah Yeni yang tampaknya selesai mandi, dan pada saat ini putri Pak Jamono itu tidak menutupi tubuhnya yang terlihat begitu indah dan luar biasa.


Meskipun itu di pagi hari, tetapi di luar masih petang. Dan hanya bola lampu 15 watt dan tidak terlalu terang, yang menjadi penerangan.


Tapi penerangan kecil itu sudah cukup untuk membiarkan Fatir melihat dengan jelas sosok wanita muda yang begitu mengagumkan dan garis pinggang yang penuh dengan lekukan tubuh yang tidak terukur cantiknya.


Sebuah leher halus putih salju kemudian perut rata dan pinggang sedikit lebih lebar, Tidak ada daging tambahan yang merusak kesempurnaan. Payudara panas Yeni yang seperti semangka juga terlihat begitu lembut dan menyejukkan mata. Yeni dengan buru - buru menutup payudara montok itu dengan tangannya, namun sulit untuk menutupinya karena kekenyalannya seperti balon air.


Fatir benar - benar beruntung karena menjadi pria pertama yang melihat tubuh telanjang Yani yang masih tahap berkembang.


Bersambung...


*Terimakasih untuk yang masih setia dengan perjalanan Fatir. Walaupun upnya tidak menentu. Namun autor akan menyelesaikan hingga akhir. Untuk yang bertanya mengapa? karena autor harus lebih fokus dengan novel supreme kultivasi. Yang bertanya kapan novel ini up banyak? mungkin setelah supreme kultivasi tamat. Kapan? mungkin satu bulan, dua bulan hingga tiga bulan lagi. Mengapa novel ini tidak di prioritaskan? Pertama Novel ini baru saja ke kontrak pendapatannya sangat rendah, alasan inilah mengapa autor lebih fokus dengan Novel Supreme kultivasi.