Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
44. Menolak Niat Baik



Taman dekat sungai Ciliwung.


Walaupun Fatir bertanya - tanya tentang identitas pria tua yang ada di dekatnya, namun dia tidak bertanya.


Menurutnya, pertemuan keduanya murni ketidaksengajaan dan akan terabaikan setelah keduanya berpisah. Namun bahasa china yang pria tua itu gunakan sangat alami, dan tidak terdengar kaku.


Awalnya Fatir ingin mengabaikannya, namun dia memilih untuk melihat lebih dekat pada pria tua itu.


Pria tua itu mengenakan setelan hitam dengan jaket tebal, rambutnya disisir dengan cermat, dan dia mengenakan cincin giok di jari kanannya, dan terlihat tidak biasa.


Adapun pria paruh baya yang menjadi bawahan pria tua itu, wajahnya tegas, matanya galak, dia tidak terlihat seperti orang biasa.


"Namaku, Jian Wu... Anak muda, siapa namamu?..." Pria tua itu bertanya dengan ramah.


Di masa lalu, Jian Wu tidak terlalu peduli dengan pria muda manapun, namun pria muda di depannya sangat misterius dan membuatnya ingin mengenalnya.


"Fatir Li..." Jawab Fatir.


Fatir dengan sengaja menambahkan karakter china pada namanya, karena dia tidak ingin mengambil nama ayahnya secara penuh.


"Tuan Li, aku tidak menyangka jika kamu memiliki karakter china pada namamu..." Kata Jian Wu dengan bahasa china dan berniat ingin menyelidiki.


"Tuan Wu, itu hanya nama, tidak ada yang spesial dari itu. Apa yang penting dari seorang pria adalah perkataan dan perbuatannya..." Jawab Fatir dengan bahasa China yang sama.


"Kata - kata yang bijak..." Jian Wu mengangguk berulang kali, dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria menarik seperti Fatir.


Keduanya terus berbicara untuk beberapa waktu, hingga menjelang sore.


Fatir berkata sambil tersenyum, "Senang mengenalmu tuan Wu, aku harus kembali, selamat tinggal..."


Melihat Fatir Berbalik dan pergi setelah berbicara. Membuat pria tua itu mengerutkan keningnya. Dia sudah bertahun - tahun mengunjungi berbagai tempat di belahan dunia, dan untuk pertama kalinya dia bertemu dengan seseorang yang membuatnya berbicara banyak hal.


"Tolong tetap di sini..." Pria tua itu berkata dengan tergesa - gesa, kemudian mengeluarkan kartu bank, dan menyerahkannya kepada Fatir.


"Apa maksudmu, untuk apa ini?..." Fatir mengerutkan kening.


Jian Wu tersenyum dan berkata, "Tuan Li, terima kasih telah menemani hariku dan berbicara banyak hal. Ada 100 juta di kartu itu. Aku harap kamu bisa menerimanya!..."


Diam!


Fatir sedikit terkejut, Jian Wu memberikan 100 juta hanya karena menemaninya berbicara. Tentunya tindakan ini menunjukkan bahwa pria tua di depannya begitu menghargainya, tetapi Fatir tidak tergerak sama sekali.


Alasan dia bertahan di sana dan memilih untuk berbicara panjang dengan Jian Wu hanya karena pakaiannya yang basah agar cepat mengering.


Dan melalui perbincangan keduanya, Fatir menemukan. Jika Jian Wu adalah sosok yang cukup penting di china, yang kebetulan tinggal di jakarta.


Fatir tahu dengan maksud baik Jian Wu, tetapi dirinya tidak kekurangan uang apapun.


"Aku tidak berbicara dengan seseorang hanya demi uang. Tuan Wu bisa menyimpannya..." Setelah Fatir selesai berbicara, dia menatap tubuh Jian Wu dari atas kebawah.


Melihat perilakunya, pria paruh baya yang tidak jauh di sana, sedikit mencibir didalam hatinya, dan berfikir jika Fatir begitu munafik dan akan mengambil kartu bank itu setelahnya.


Namun, Fatir tidak mengulurkan tangan untuk mengambil kartu bank tersebut. Sebaliknya, dia menatap wajah Jian Wu dan terus menatapnya.


Setelah lima menit, Fatir bertanya pada Jian Wu, "Apakah kamu sakit?..."


Mata Jian Wu sedikit terkejut kemudian kembali tenang, "Aku tidak sakit apapun! Aku baru melakukan pemeriksaan fisik beberapa hari yang lalu dan sekarang dalam keadaan sehat..." Jawab Jian Wu dengan tersenyum.


"Cukup aneh..." Fatir mengerutkan keningnya, dia tidak mungkin salah menilai kesehatan orang lain.


"Apa yang aneh?..." Tanya Jian Wu dengan rasa ingin tahu.


"Aku merasakan jika kamu sakit, dan tampaknya sangat serius, tetapi kamu mengatakan baik - baik saja..."


"Aku tidak keberatan..." Jian Wu tersenyum.


"Kalau begitu aku akan pergi dulu, sampai jumpa..." Fatir melambaikan tangannya dan berjalan pergi dengan cepat.


Pakaiannya sedikit mengering dan dia pergi menggunakan mobil Bugatti edisi terbatas miliknya.


_


_


_


Begitu Fatir pergi, ekspresi wajah Jian Wu benar - benar berubah.


Jika Fatir melihat Jian Wu yang sekarang, dia akan menemukan dua orang yang berbeda. Jika sebelumnya dia begitu ramah dan murah tersenyum. Maka pada saat ini, dia lebih seperti tuan yang memegang kekuatan tak terbatas, dan wajahnya penuh keagungan.


"Selama bertahun - tahun, Aku telah mengunjungi dokter terkenal dan tidak ada dari mereka yang tahu bahwa aku sakit parah, bahkan berulang kali mengunjungi Indonesia untuk bertemu dengan dokter ajaib..." Jian Wu mendesah.


"Sayangnya dokter ajaib sangat sulit untuk di temukan dan menghilangkan harapan kesembuhanku, tetapi sekarang seorang pemuda acak mampu melihatnya..." Jian Wu melihat kearah pria paruh baya di kejauhan.


Pria paruh baya itu bertanya dengan hormat, "Dewa Perang, apa pesananmu?..."


"Selidiki Fatir Li segera, aku ingin tahu segalanya tentang dia..." Kata Jian Wu dengan datar.


"Ya!..." Jawab Pria paruh baya itu dengan kejutan. Sudah bertahun - tahun dan ini pertama kalinya, tuanya ingin mengetahui identitas pria muda yang baru saja dia temui.


_


_


_


Fatir tidak memahami tentang Jian Wu yang ingin menyelidikinya.


Dia saat ini berada di dalam apartemen elite miliknya dan menikmati kehidupannya yang sangat nyaman.


Sayang sekali, tidak ada wanita yang menemani kesepiannya. Memiliki istri namun mengabaikannya, sedangkan pacar dia tidak memilikinya sama sekali.


Selingkuhan tentu ada, namun status hubungan tidak jelas. Sungguh penderitaan yang lengkap, kehidupannya layaknya jomblo yang malang.


"Titut... titut... titut..." Ponselnya berdering, Fatir langsung mengangkatnya.


"Mama Nagisa..." Jawab Fatir.


Sekarang Fatir harus menerima takdirnya jika dia memiliki banyak Mama tiri. Untuk saat ini, hanya Nagisa yang dia tahu. Sedangkan yang lainnya, Fatir belum bertemu dengan mereka.


"Fatir, apakah perusahaan membuatmu lelah? Jika iya, lebih baik kamu tidak bekerja dan nikmati kekayaan ayahmu, seperti menghambur - hamburkan uang tanpa perlu bekerja..." Kata Nagisa di sisi lain panggilan.


Diam!


Berapa banyak orang tua sambung yang begitu baik seperti ini, Perhatian Nagisa terlalu berlebihan. Apakah ada, orang tua yang menyuruh anaknya tidak bekerja dan harus menghamburkan kekayaan orang tuanya?


Siapapun akan senang, jika tidak harus bekerja dan menghabiskan harta orang tua. Namun Fatir harus menolaknya dan tetap pada rencana miliknya.


"Mama Nagisa, terima kasih atas kepeduliannya. Fatir baru saja membuka divisi baru untuk perusahaan cabang dan di masa depan akan fokus dengan itu..." Jawab Fatir dengan tulus.


Dari pada menjadi penikmat harta orang tua, Fatir memilih untuk melakukan kebaikan sesuai dengan amanah sang pertapa agung.


Nagisa sedikit terdiam, tentunya dia memahami semua kesulitan Fatir selama ini. Untuk itu dia ingin menebus segalanya dengan memberikan kecukupan dan kepeduliannya.


Tentunya Nagisa sudah memahami, divisi baru pelayanan konseling. Bahkan ikut andil untuk membuat lisensi perizinan konseling melalui koneksinya. Sehingga pembentukan kantor baru dapat terselesaikan dengan cepat.


Bersambung...