Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
51. Pergi Ke Restoran



Mendengar alas yang Fatir berikan membuat Karina tidak bisa berkata - kata.


Tidak sengaja menjadi anak orang kaya?!


Karena Fatir tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, Karina tidak bertanya lagi. Dia menduga jika Fatir anak orang kaya yang memiliki hubungan kuat dengan keluarga irawan.


"Baiklah Tuan Fatir, kamu telah membantuku. Bagaimana aku harus berterimakasih! Atau bagaimana aku harus memberikan imbalan!..." Karina mengedipkan bulu matanya yang indah, dia menatap Fatir dengan senyuman lembut di bibirnya.


Fatir menelan ludah, Dia melihat Karina yang lebih cantik dari sebelumnya. Belum lagi wanita ini benar - benar iblis penggoda.


Tubuhnya yang seksi, juga begitu menawan. Apa lagi senyumannya yang membuat pria manapun sangat gelisah.


Mendapatkan pertanyaan tentang imbalan. Semua orang pasti akan mengatakan, aku ingin memakanmu. Namun Fatir tidak mungkin mengatakannya melalui mulutnya.


Fatir menggunakan kemampuannya untuk kebaikan, bukan untuk mendapatkan imbalan besar.


Namun, jika harus memilih. Mengapa tidak menghabiskan satu malam yang panas sebagai imbalan.


Sial, apa yang aku pikirkan! Pikir Fatir dengan frustasi dan mengabaikan imajinasi liarnya.


Melihat Fatir yang masih terdiam. Membuat Karina semakin ingin menggodanya. Sebelumnya dia benar - benar tidak berhasil menggoda Fatir. Tapi, bagaimana dengan sekarang!


"Mungkinkah, Tuan Fatir menginginkan imbalan tertentu? Aku tidak keberatan, selama itu tidak sulit dan masih dalam kemampuanku!..." Kata Karina dengan senyuman hangat di wajahnya.


Fatir berusaha untuk tetap tenang.


"Nona, Karina... Apa yang kamu bicarakan. Aku tidak menginginkan imbalan apapun! Aku melakukannya murni untuk membantu rumah sakit karena tidak memiliki solusi untuk kondisimu..." Jawab Fatir dengan tergesa - gesa.


Itu benar, Fatir hanya membantu pihak rumah sakit. Dan dia juga melakukan kebaikan seperti amanah dari pertapa agung.


Karina kesulitan memahami, melihat ketegasan di mata Fatir. Dia hanya bisa menghargai keputusannya.


Awalnya, Karina bisa memberikan uang lebih untuk Fatir. Namun ketika mengetahui Fatir anak orang kaya. Imbalan uang hanya penghinaan untuknya.


"Yakin, tidak menginginkan imbalan?..." Tanya Karina sekali lagi.


"Aku benar - benar tidak menerima imbalan..." Jawab Fatir sekali lagi.


Sekali Fatir menjadi pria bodoh, atau mungkin pria baik. Karena pria baik harus bisa bertahan dari godaan setan. Kecuali setannya memaksa dan membuatnya tidak dapat menolak.


"Kalau begitu, kita bisa menjadi teman!..." Kata Karina dengan mengeluarkan ponselnya, sepertinya tidak buruk menjadi teman Fatir.


Syukurlah setannya tidak memaksa.


"Tidak masalah..." Fatir juga mengeluarkan ponselnya kemudian bertukar nomor.


Melihat Fatir yang masih menggunakan ponsel murah. Karina benar - benar tidak mengerti tentang selera pria yang ada di depannya.


"Nona Karina, kamu harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Aku akan pergi..." Melihat Karina yang menatap heran ponsel murahnya, Fatir benar - benar malu.


Sepertinya, dia harus berganti ponsel baru. Agar sesuai dengan statusnya sebagai orang kaya.


"Aku mengerti..."


Melihat Fatir yang menghilang di kejauhan. Karina menatapnya seperti orang aneh.


_


_


_


Fatir keluar dari bangsal VVIP no 102.


Apa yang aku pikirkan! Lupakan itu semua. Dia tetap kakak iparmu Fatir.


Fatir bingung, antara menyapa kakak iparnya atau tidak. Dan ketika dia berjalan di Koridor rumah sakit, seorang wanita mendekatinya.


"Kak, Terima kasih untuk yang sebelumnya..." Kata Wanita itu dengan sedikit gugup.


"Kamu!..." Fatir melihat wanita yang ada di depannya dari atas kebawah, dia masih ingat dengan jelas. Ketika dirinya menyelamatkan wanita tersebut tenggelam di sungai Ciliwung kemarin yang lalu.


"Bukan masalah besar. Kamu sudah baikan!..." Kata Fatir, bertanya kembali.


"Berkatmu, aku tertolong dan sangat baik. Kemarin aku mendapatkan perawatan lebih lanjut dan sekarang sudah bisa pulang..." Jawab wanita itu dengan sangat senang.


Menurutnya, Fatir tidak hanya menjadi penolongnya. Namun terlihat baik dan sangat ramah berbicara. Selain itu dia tampan dan sangat berpenampilan baik.


"Baguslah, lain kali berhati - hatilah jika berjalan di dekat sungai..." Walaupun Fatir tidak tahu, tentang kronologi bagaimana wanita itu jatuh. Setidaknya dia harus memberikan arahan yang benar.


"Tentu Kak, Lain kali aku akan lebih berhati - hati..." Wanita itu tersenyum dengan begitu menawan. Selain itu dia sedikit lebih muda dari Fatir, dengan gunung kembar yang besar. Dia tipe adek - adek gemes yang tidak boleh di lewatkan.


"Kak, Bisa aku minta nomormu?..." Kata wanita itu dengan malu.


"Nomorku!..." Sekali lagi, Fatir bertukar nomor dengan seorang wanita yang baru ditemuinya.


Entah mengapa kehidupannya mulai berubah. Jika itu di masa lalu, untuk mendapatkan nomor wanita, Itu akan sulit. Dan sekarang, ada dua wanita yang meminta nomor miliknya pada satu hari yang sama.


Fatir tidak terlalu peduli, dia dengan cepat memberikan nomor ponsel miliknya. Tetapi, dia menjadi heran karena wanita itu tidak kunjung pergi setelah mendapatkan nomor miliknya.


"Apakah ada yang lain!..." Tanya Fatir.


"Namaku Nayla, Aku ingin mentraktir kakak untuk makan siang. Jangan salah paham, aku hanya ingin membalas kebaikan kakak karena sudah menolongku..." Jawab wanita itu dengan tergesa - gesa.


"Namaku Fatir, Kamu yang menentukan tempatnya..." Tidak baik menolak permintaan orang lain, Fatir hanya bisa menerima niat baik Nayla, dia juga belum makan siang.


Fatir tidak jadi, untuk menyapa kakak iparnya yang bekerja di rumah sakit kota. Dia langsung pergi ketempat parkir dan mengemudikan Bugatti miliknya.


"Vrrroooomm..."


Mobil Bugatti edisi terbatas keluar berhenti di depan Nayla yang membisu dengan mata melebar. Dia tidak menyangka, jika Fatir generasi kedua kaya raya.


"Ayo masuk, mengapa kamu diam saja..." Kata Fatir dengan membuka pintu mobil.


"Oke..." Nayla mengangguk dan memasuki mobil tersebut tanpa sepatah katapun.


"Kemana kita akan pergi?..." Tanya Fatir yang saat ini, mengemudikan mobilnya.


"Kita bisa pergi ke restoran Nasi goreng ketagihan!..." Kata Nayla menyarankan.


"Oh! Yang itu..." Tentu saja Fatir mengetahuinya, Walaupun dia belum pernah berkunjung di sana, namun Nasi goreng ketagihan telah menjadi salah satu restoran paling terkenal di jakarta.


Keduanya dengan cepat pergi ke sana dan untuk memesan makanan.


Tempat restoran tersebut, benar - benar elite. Jika Fatir memahami asal muasal restoran tersebut, dia pasti akan terkejut.


"Nayla, kamu yakin ingin makan disini?..." Tanya Fatir dengan sedikit mendesah. Itu karena, Sangat banyak orang hingga membuat antrian panjang, padahal tempatnya benar - benar besar dengan puluhan karyawan restoran yang sangat sibuk.


"Nasi goreng di sini, benar - benar enak. Dan sesuai namanya karena dapat membuat seseorang yang memakannya menjadi ketagihan. Bahkan jika kita mengantri, itu akan sepadan..." Nayla menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu kita mengantri..." Jawab Fatir.


Tunggu dulu, bukankah restoran ini masih bagian dari Angkasa Grup. Fatir tidak ingin mengantri sehingga dia menghubungi pihak manajemen restoran untuk memesan tempat.


Bersambung...