
Setelah mengakhiri panggilan dari Mama tirinya, Fatir tanpa penundaan lagi langsung tidur.
Waktu berlalu dan malam berganti pagi.
Ketika Fatir membuka matanya di pagi hari, Dia tidak hanya merasa lelah, tetapi dia merasa segar, dan seluruh tubuhnya seperti memiliki energi yang tak ada habisnya.
Setelah bangun dan membersihkan diri, dia melaku sarapan pagi seperti biasanya.
Dengan duduk bersila dan memejamkan kedua matanya, Fatir tenggelam dalam teknik meditasi. Ini adalah metode kultivasi yang dia dapatkan melalui warisan pertapa agung.
Tentunya, Fatir menerapkannya sejak pertemuannya dengan pertapa agung. Selain itu, penerapan kultivasi memiliki banyak manfaat untuk tubuhnya. Bahkan membuatnya ketagihan ketika tenggelam di dalamnya.
"Titut... titut... titut..." Suara dering ponsel telah mengganggu konsentrasi Fatir.
Masih ada dua hari sebelum Kantor Pelayanan Konseling di resmikan, dan sampai saat itu tiba. Fatir ingin menghabiskan waktunya untuk melakukan meditasi tanpa adanya gangguan.
Namun tidak dengan orang lain yang mengganggunya. Walaupun kesal, namun Fatir tidak marah terhadap dering ponselnya, ataupun seseorang yang melakukan panggilan.
Tetapi, ketika melihat nomor yang tertera. Fatir tidak tahu siapa yang melakukan panggilan, karena nomor tersebut begitu asing untuknya.
"Halo!..." Jawab Fatir secara langsung.
"Tuan, Fatir... Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk menerima panggilan dariku..." Kata seorang pria paruh baya dari sisi lain pemanggil.
"Ini siapa ya!..." Kata Fatir.
"Saya, Jamal manajer rumah sakit kota jakarta. Sebelumnya kita pernah bertemu karena kondisi nona Mawar..." Jawab Jamal dengan sopan.
Fatir akhirnya mengingat sosok pria paruh baya dengan tubuh sedikit gemuk dan berkaca mata.
"Baiklah, Manajer Jamal Mengapa kamu memanggilku?..." Tanya Fatir.
Rumah sakit kota jakarta, masih menjadi milik keluarga irawan, sehingga membuat Fatir tidak nyaman menolaknya. Dia sudah menduga jika Manajer Jamal memiliki permintaan tertentu, namun Fatir tetap bertanya.
"Jadi seperti ini, Rumah sakit ingat mengundang tuan Fatir untuk memberikan pelayanan medis..." Kata Jamal dengan ragu - ragu.
Setelah melihat kemampuan medis Fatir yang begitu ajaib, membuat Jamal memiliki penyembahan terhadap Fatir. Dia terus memikirkan untuk membuat Fatir menjadi dokter di rumah sakit kota jakarta.
Jamal Tahu jika Fatir menjadi putra dokter ajaib yang belum lama ini di temukan. Sehingga dia sangat bersemangat untuk mengundang Fatir.
Walaupun rumah sakit kota, secara tidak langsung menjadi milik Fatir juga, namun Jamal mengharapkan kehadiran kemampuan medis Fatir lebih dari apapun. Dan jika Fatir menolaknya, itu hanya bisa di sesalkan.
Mungkin usia Fatir terbilang muda, namun keahlian medisnya. Tidak perlu di pertanyakan lagi.
"Baiklah, aku menerimanya. Aku akan memberikan pelayanan medis di rumah sakit kota. Tetapi aku yang memutuskan jadwalnya..." Jawab Fatir setelah mempertimbangkannya.
Memberikan pelayanan medis, tidak jauh berbeda dengan pelayanan konseling. Keduanya sama - sama melakukan kebaikan untuk mereka yang membutuhkan. Hal ini, membuat Fatir cukup puas.
Manajer Jamal yang mendengar persetujuan Fatir sangat senang. Bahkan jika Fatir hanya datang sekali dalam sebulan, dia akan sangat bahagia.
"Terima kasih, tuan Fatir... Rumah sakit sangat menyambut kehadiranmu..." Jawab Jamal dengan bersemangat.
"Bukan masalah besar..." Jawab Fatir, sepertinya menjadi dokter tidak terlalu buruk.
"Tuan Fatir, bisakah kamu datang untuk melihat bangsal VVIP No 102. Itu jika tuan Fatir tidak keberatan..." Jamal tidak menyebutkan kondisi pasien. Menurutnya, tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh Fatir.
"Baik, aku akan datang untuk melihat..." Jawab Fatir tanpa menanyakan kondisi pasien, kemudian langsung menutup ponselnya.
_
_
_
Rumah Sakit Kota Jakarta. Ada lebih dari ratusan bangsal, baik itu bangsal umum ataupun bangsal VVIP.
Menjadi salah satu rumah sakit ternama, juga menjadi tujuan banyak orang untuk melakukan pemeriksaan medis secara berkala.
Dari kejauhan, Mobil Bugatti edisi terbatas milik Fatir datang. Dia dengan aman memarkirkan mobilnya.
Fatir memilihnya hanya karena nyaman dan suka. Bukan untuk bergaya - gaya. Bahkan ketika orang lain menggunakan mobilnya untuk foto selfie, dia tidak perduli sama sekali.
Fatir mengabaikan beberapa orang yang memuji mobilnya. Dia memilih untuk pergi ke bangsal VVIP No 102.
Begitu dia tiba di sana, Fatir melihat seorang dokter keluar dari ruangan dengan kesedihan di wajahnya.
Di susul dengan dua dokter lainnya dengan kondisi yang sama. Fatir merasa, jika pasien di ruangan VVIP No 102. tidaklah sederhana.
Fatir menghentikan seseorang perawat yang kebetulan berjalan di depannya. "Bro, bisakah aku bertanya sesuatu kepadamu?..."
"Apakah kamu keluarga pasien?!..." Perawat itu bertanya.
"Bukan, aku datang untuk memberikan pelayanan medis untuk pasien yang tinggal di bangsal VVIP No 102..." Jawab Fatir.
Awalnya perawat itu begitu sopan, namun segera menambahkan tatapan menghina di wajahnya, Setelah mendengar jawaban Fatir.
Berapa usia Fatir?
Paling tidak, awal dua puluhan dan dia mengaku akan memberikan pelayanan medis!
Apakah dia dokter termuda di dunia?
"Bro, bercanda kamu tidak lucu..." Perawat itu sedikit tertawa.
"Kamu lihat, tiga dokter dimarahi oleh pasien..." Perawat itu berkata, "Seorang pasien dirawat di bangsal VVIP No 102 kemarin. Dia memiliki temperamen yang buruk. Dokter ahli saja tidak memiliki kemampuan, apa lagi pria muda sepertimu?..." Perawat itu mencibir, dia merasa baru saja mendengar sebuah lelucon.
"Bro, jaga bicara kamu. Seseorang yang bisa memberikan pelayanan medis, tidak harus seorang dokter..." Memang benar, Fatir bukan dokter secara resmi dan tidak memiliki lisensi kedokteran.
Namun dia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan pasien. Belum lagi, manajer Rumah sakit secara langsung mengundang Fatir.
Tidak ada alasan khusus untuk berhadapan dengan seorang Perawat tidak penting dan sombong. Yang perlu Fatir lakukan, datang dan sembuhkan pasien.
"Bro... Apakah kamu tuli!..." Perawat itu sangat tidak puas ketika melihat Fatir yang masuk kedalam bangsal VVIP No 102. dan tidak memperdulikan peringatan darinya.
Pada saat ini, Fatir mendengar ejekan perawat yang sangat kesal. Perawat tersebut tidak langsung mengusir Fatir dan memilih untuk menemukan Dokter ahli untuk membantunya mengusir Fatir.
"Aku akan membuatnya menyesal..." Kata perawat tersebut kemudian berbalik dan pergi.
_
_
_
Di dalam Bangsal VVIP No 102.
Ketika Fatir melihat seorang wanita duduk di tempat tidur. Kilatan kejutan melintas di matanya.
Karena wanita ini benar - benar sangat seksi!
Dia mengenakan kemeja putih dengan lengan tiga perempat, dan garis leher rendah, memperlihatkan kulit putih salju yang luas, wajahnya benar - benar cantik.
Jelas salah satu keindahan yang dapat mengikat pria manapun, ketika melihatnya. Tidak terkecuali Fatir yang polos.
Apalagi pinggangnya sempit, bahkan jika dia duduk di tempat tidur, Fatir bisa melihat lekuk tubuh yang sempurna dari samping.
Yang paling mengerikan adalah kakinya panjang dan lurus di luar seprai. Kaki putih salju dan lembut, membuat Fatir tanpa sadar bermimpi tentang kecantikan seseorang peri.
Fatir tidak bisa membantu selain menatap wajah wanita itu dengan penuh arti.
Pada saat ini, wanita itu juga menemukannya.
Mata keduanya saling berhadapan.
Fatir berhenti bernapas di detik ini.
Hanya ada satu pemikiran di benaknya, bagaimana mungkin ada wanita yang begitu menawan di dunia ini?
Bersambung...