Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
104. Hanya Pengawalnya



Malam itu Fatir dan Lestari berpamitan untuk pergi keluar. Dan ketika berita tersebut terdengar oleh Silfi, tentunya gadis itu ingin ikut dengan mereka.


Sayangnya Fatir langsung menolaknya dengan alasan mobil hanya bisa menampung dua orang saja. Sehingga harus membuat gadis itu menyerah.


Hotel Grand Mercure, sebuah hotel bintang 5 yang ada di kota Malang, terletak di tempat yang rindang dan arsitektur yang kekinian. Seluruh bangunan memiliki romansa alam yang menyegarkan dan sedikit elegan, desain rumah minimalis yang padat dan sentimental membuat banyak pengusaha kelas atas senang datang ke sini untuk menegosiasikan kesepakatan.


Mengikuti alamat yang tertera, Fatir menghentikan mobilnya di tempat parkir yang sudah tersedia. Begitu keduanya turun dari mobil, Lestari berjalan ke sisi Fatir, mengaitkan lengannya di atas siku Fatir, dan menciptakan tampilan sepasang kekasih yang bahagia.


Lestari tersenyum dan berkata, "Ayo pergi..."


Walaupun keduanya berpura - pura namun mereka harus menjaga penampilan dan tindakan agar tidak mengungkapkan kepalsuan diantara mereka. Selain itu, Fatir benar - benar merasa nyaman ketika payudara montok milik Lestari menjepit lengannya.


Sungguh sensasi yang sangat luar biasa. Itu memiliki tekstur kenyal dan lembut secara bersamaan, Pikir Fatir dengan begitu bahagia.


Fatir tersenyum dan menggoda, "Kakak ipar, jika kamu ingin orang lain berpikir hubungan kami intim, kamu setidaknya harus memberikanku ciuman pipi dan yang terbaik ciuman prancis!..."


"Kamu bilang apa?!..." Lestari mengerutkan kening, pada akhirnya dia tidak bisa mengeluarkan senyum.


"Memberikan sedikit ciuman, dan semakin panas semakin baik!..." Fatir menambahkan.


"Hmph! Siapa yang ingin melakukan itu kepada saudara iparnya?..." Kata Lestari dengan dingin.


"Payah, Tidak ada yang mempercayai kita jika tidak ada ciuman panas!..." Jawab Fatir.


Lestari menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini baik - baik saja, selama kita tidak mengungkapkan kekurangan, ini bukan masalah..."


Di jalan masuk hotel, keduanya melalui pintu masuk kayu yang terukir begitu indah. Juga terdapat beberapa ukiran patung selamat datang yang sejajar pada setiap jalan masuk.


Setelah memasuki hotel, sisi - sisinya dipenuhi dengan lukisan berbagai seniman Indonesia dari berbagai pemandangan alam yang menakjubkan.


Dekorasi megah, yang menciptakan perpaduan modis namun klasik, membuat seluruh Hotel Grand Mercure dipenuhi dengan suasana kehormatan, bahkan para tamu yang datang dan pergi berpakaian rapi, dengan ekspresi tersenyum di wajah mereka.


"Lukisan ini tidak terlalu buruk..." Fatir mengangguk sambil melihat sekelilingnya, "Hanya saja, alih - alih menggunakan lukisan, mengapa tidak menggunakan foto, itu bahkan lebih jelas..."


Sambil memegang lengan Fatir, Lestari yang perlahan menghargai karya seni di lorong hotel melirik Fatir dengan jijik, "Jika kamu tidak dapat menilai karya seni, maka diamlah, tidak ada yang akan berpikir kamu bisu jika tidak berbicara..."


"Bukan begitu? Hanya saja aku mampu membuat lukisan yang lebih baik dari yang ada di sini..." Fatir membuat ekspresi puas diri di wajahnya.


Lestari melotot ke arahnya, dan berbisik, "Ingat, ketika kita masuk nanti, jika aku tidak memberi sinyal kepadamu untuk berbicara, kamu tidak boleh berbicara..."


"Kakak ipar kamu bisa tenang. Aku sangat muda di andalkan, dalam hal - hal seperti ini..." Fatir tidak bisa menahan senyum, dan mengangguk.


Jika di perhatikan dengan benar, tempat itu menghadap ke danau, sehingga dapat menikmati pemandangan danau buatan yang begitu indah. Sambil mengangkat kepalanya, Fatir mengangguk dengan puas.


Pintu kayu cantik dihiasi tanaman merambat pada saat itu terbuka, seorang pria mengenakan jas hitam berjalan keluar. Pria ini memiliki rambut keriting, janggut kasar dan dia tersenyum sederhana. Tentunya dia pengikut Sugeng yang ditugaskan untuk menyambut kedatangan Lestari.


Pria itu tidak melihat Fatir sama sekali selain, dia tersenyum kearah Lestari dan berkata, "Selamat datang, Nona Lestari, tuan muda keluarga kami telah menunggu..."


Dari isyarat penyambutannya, dan bahkan tidak memandangnya. Jelas bahwa pria itu mengabaikan Fatir yang memegang tangan Lestari, atas perintah Sugeng.


Lestari mengangguk dengan acuh tak acuh mengangguk, dia membimbing Fatir ke tempat pribadi yang luas, aroma lavender yang tersebar di seluruh tempat itu cukup untuk membangkitkan semangat siapapun, tidak terkecuali Lestari yang berjalan di dekat Fatir.


"Tari, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi..." Suara magnetik berasal dari tempat duduk yang ada di dekat danau.


Pembicara itu mengenakan kemeja putih, memiliki gaya rambut pendek, dan wajah sedikit tampan. Dia adalah Sugeng yang memiliki temperamen pria terhormat dan langka dari dalam ke luar, tipe temperamen ini tidak dapat dimiliki oleh pria biasa.


Tanpa ekspresi, Lestari mengangguk, "Tuan Sugeng, entah berapa kali aku mengatakan untuk tidak memanggilku dengan sebutan itu..."


Menghadapi ketidakpedulian dingin dari Lestari, tentunya Sugeng tidak terganggu. Masih melengkapi penampilan pria dewasa, dia memakai wajah yang penuh senyum. "Kalau begitu Nona Tari, senang melihatmu lagi, dan senang kamu datang memenuhi undangan dariku..."


"Andaikan kamu datang seorang diri, pastinya makan malam ini akan menjadi momen kebersamaan kita yang terbaik!..." Kata Sugeng menambahkan.


Jika itu wanita lain, tentunya sangat bahagia. Namun berbeda dengan Lestari yang tidak sama dengan kebanyakan wanita lainnya. Dia justru menatap Sugeng dengan jijik. Dia datang untuk mengatakan kepada Sugeng agar melupakan dirinya dan di masa depan dan tidak menemukan dirinya lagi.


Sugeng juga tidak merasa ada yang salah. Kemudian dia secara pribadi berkata, "Ayo, silakan duduk Nona Tari..."


Dari awal hingga akhir, tindakan Sugeng seolah - olah tidak melihat Fatir yang memegang tangan Lestari, seolah - olah pria. pria itu tidak ada sama sekali, mirip dengan udara tipis.


Lestari merasa bahwa dia telah meremehkan kecerdasan Sugeng. Caranya menangani kehadiran Fatir yang menjadi suaminya, adalah dengan mengabaikannya. Sepertinya dia sudah benar - benar siap untuk menjatuhkan Fatir tanpa ada niatan untuk menyapanya.


Selanjutnya Lestari tidak punya pilihan selain melepaskan tangan Fatir, dan duduk di satu satunya kursi yang ada di sana. Fatir tidak memiliki masalah dengan itu kemudian dia pergi mencari kursi untuk memindahkannya dan duduk di sebelahnya.


Tepat pada saat itu, seorang pria pengikut Sugeng tersenyum dan muncul tepat di depan Fatir dan dalam satu gerakan, dia mendorong kursi itu kembali. Sambil terkekeh, dia berkata, "Aku tidak mengenalmu, siapa tuan ini? Tuan muda saya hanya mengundang Nona Lestari dalam pertemuan ini..."


Tidak menunggu Fatir atau Lestari merespon, Sugeng dengan wajah penuh senyum berkata, "Kamu harus sopan dengannya. Aku yakin orang ini pastilah pengawalnya, atau kalau tidak, bagaimana mereka bisa datang bersama ke tempat ini!..."


Hanya pengawalnya? Fatir sedikit terkejut dengan keterampilan sandiwara Sugeng dan pengikutnya dalam berakting, dia tersenyum kemudian berkata. "Wow... Luar biasa, kalian semua menyadari fakta bahwa aku menjadi pengawalnya dan aku setiap malam tidur bersamanya di ranjang yang sama tentunya!..."


"....." Diam! Semua orang terdiam seolah lupa bernapas!


Bersambung...