
Setelah melakukan pemeriksaan terhadap pelaku terorisme, Fatir tidak menemukan apapun. Tetapi dia masih penasaran tentang kelompok yang ada di belakang pria paruh baya itu.
Masalah ini tentunya tidak sederhana, terlepas keberadaan Bom itu sendiri. Fatir masih tidak memahami apapun tentang masalah perselisihan yang melibatkan ayahnya di masa lalu.
"Sialan!..." Fatir mengutuk dengan kesal.
Di saat ada bahaya yang mengincar kehidupannya, namun Fatir tidak mengetahui siapa musuhnya. Tentunya masalah ini sangat tidak nyaman.
"Wiuu... Wiuuu... Wiuuuuu!..."
Kepolisian anti terorisme bergerak dengan cepat. Mereka menggunakan kendaraan khusus dan juga Helikopter yang di datangkan langsung untuk mencegah terjadinya pelarian tersangka.
Namun, mereka yang datang terlambat tidak mungkin mendahului Fatir yang sudah menyelesaikan masalah terorisme.
"Nyonya Ningsih, kamu baik - baik saja?..." Seorang pria tua datang menyapa. Di sampingnya datang juga seorang wanita yang tidak asing lagi untuk Ningsih.
"Aku baik - baik saja Jendral!..." Jawab Ningsih kemudian menatap wanita paru baya itu, "Yana, aku akan merepotkanmu. Di dalam juga ada Fatir dan pelaku terorisme!..."
"Fatir! Maksudmu putra dari pria itu dengan wanita lain?..." Kata Yana dengan mengerutkan keningnya, dia kemudian memperbaiki perkataannya, "Maaf, maksudku suamimu..."
Ningsih hanya tersenyum tipis, Di masa lalu suaminya memiliki perselisihan dengan Yana, "Yana, jangan mengingat masa lalu lagi..."
Yana tersenyum kecut kemudian melihat pria tua di dekatnya, "Kakek, biarkan aku yang memimpin penyergapan..."
"Yana, lakukan!..." Kata Jendral tua dengan mengangguk.
Segera Yana memimpin puluhan pasukan khusus anti terorisme, mereka semua mengenakan perlengkapan khusus untuk menghadapi tindakan terorisme yang berhubungan langsung dengan bahan peledak.
Hanya saja sebelum para pasukan khusus bergerak masuki aula pertemuan akbar, Sosok pria muda muncul dari pintu kaca yang sudah hancur. Tentunya dia adalah Fatir yang tetap tinggal di dalam untuk menangani tindakan terorisme bom bunuh diri.
"Kamu!..." Tatapan Yana dan semua orang di kejutkan dengan kemunculan Fatir.
Pasukan khusus yang bersenjata lengkap juga menghentikan tindakan mereka dan menunggu keputusan Yana yang menjadi pimpinan mereka.
Melihat sekelilingnya, Fatir memahami apa yang terjadi. Dia tersenyum tipis dan berkata, "Dia ada di dalam..." Fatir segera bergerak menuruni anak tangga dan pergi menuju kearah istrinya.
Yana masih di kejutan dengan sosok Fatir yang mengingatkan dirinya dengan seseorang yang dirinya kenal. Tapi dia langsung berfokus dengan tujuannya dan segera memerintahkan bawahannya untuk bergerak dan memasuki gedung yang menjadi terjadinya terorisme.
"Fatir, kamu baik - baik saja?..." Tanya Maya yang berlari kearahnya. Entah mengapa dia sekarang begitu aktif ketika dekat dengan suaminya. Wajahnya yang cantik juga menunjukkan kekhawatiran penuh.
"Aku baik - baik saja!..." Jawab Fatir dengan tersenyum, kemudian dia menatap Mary, juga kearah Ibu tirinya, dan yang terakhir adalah pria tua yang berada bersama mereka.
Pria tua itu menghela nafas dan menggeleng. "Sepertinya aku harus menunda hari - hari pensiunku!..."
"Pak tua, apakah ada yang salah?..." Tanya Fatir dengan bingung. Padahal ini kali pertama keduanya bertemu, tetapi. Pria tua itu seperti mengalami depresi berat ketika melihat Fatir.
"Fatir, dia adalah Jendral di kepolisian. Kamu harus sopan dengannya..." Ningsih menjelaskan langsung agar Fatir mengubah panggilan sebelumnya.
"Jendral?!..." Fatir di kejutkan dengan identitas pria tua itu. Dia tidak menyangka jika Jendral tertinggi dari kepolisian akan datang secara pribadi.
"Haha, tidak perlu sopan. Sikapmu tidak jauh berbeda dengan ayahmu. Kamu bisa memanggilku dengan sebuah apa saja!..." Jendral tua itu berkata dengan ringan.
Jendral tua merasakan hal yang dejavu. Tentunya Fatir tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Hal ini membuat Jendral tua akan kehilangan kehidupannya yang nyaman. Itu karena, apapun dan di manapun Fatir pergi. Pastinya akan meninggalkan masalah.
"Simpan ini, kita mungkin akan sering bertemu di masa depan!..." Kata Jendral tua memberikan kartu nama yang memiliki nomor ponsel pribadinya. Sekali lagi dia telah siap untuk direpotkan Fatir di masa depan.
"Oke!..." Fatir menerima dan menyimpannya begitu saja, dia tidak tahu apakah akan membutuhkan bantuan Jendral tua atau tidak.
Hanya saja pria tua yang seharusnya pensiun ini, apakah dia masih bisa di andalkan? Sepertinya Fatir harus memberikan resep otot untuk membuat stamina Jendral tua tetap terjaga.
Segera Yana kembali dengan kekecewaan besar di hatinya. Dia masih menatap Fatir dengan sedikit ketidak senang.
"Yana, apa yang terjadi. Mengapa wajahmu begitu kusut seperti itu..." Tanya Jendral tua dengan prihatin, dia tahu jika tempramen cucunya sedikit berapi - api.
Bahkan di usia paruh baya, Yana yang belum menikah ini tidak pernah ramah kepada pria manapun. Jendral tua berpikir jika cucunya ditakdirkan untuk sendiri dalam hidungnya dan tidak memiliki kesempatan untuk memenuhi tugasnya dalam berkembang biak.
"Kacau!..." kata Yana dengan tatapan kesal kepada Fatir, "Tersangka mati keracunan, sedangkan barang bukti berupa Bom waktu tidak dapat di temukan di lokasi kejadian..."
"Sangat baik tidak ada korban jiwa, tetapi aku sangat yakin jika seseorang telah mengambil barang bukti dari tempat kejadian!..." Yana tidak tidak meninggalkan Fatir melalui tatapannya, seolah dia mengatakan jika Fatir bersalah.
Baik Ningsih dan Jendral tua hanya bisa tersenyum kecut. Siapa sangka di usianya yang sekarang, Yana masih belum berubah.
Fatir menatap kembali Yana dengan tidak puas. Tentunya dia sedikit bingung dengan aura permusuhan dari polwan cantik ini. Segera Fatir tersenyum dan berkata, "Tante! Mengapa tidak mengatakan jika aku yang mengambilnya..."
"Kamu!..." Yana merasakan dendam lama yang kembali tersulut, walaupun sudah dua puluh tahun berlalu, dia masih tidak bisa melupakan perseteruan dirinya dengan ayah Fatir.
"Cukup Yana, jangan menggertak yang muda. Fatir ayo kenalkan juga, dia adalah Yana, mungkin kalian akan akrab di masa depan!..." Ningsih langsung menengahi masalah diantara keduanya.
Melihat kembali Yana yang berseragam lengkap, Fatir hanya bisa mengangguk sambil menyapa, "Tante Yana, senang bertemu denganmu!..."
Walaupun Fatir tidak tahu, apa hubungan ayahnya dengan polisi wanita di depannya, namun dia bisa menebaknya, jika mereka di masa lalu bukan kekasih atau teman.
Kekesalan Yana mulai mereda, dia dengan tenang berkata, "Fatir, cepat berikan barang bukti itu kepada kepolisian!..."
"Fatir, apakah bom itu benar - benar ada bersamamu?..." Tanya Jendral tua dengan rasa ingin tahu.
Fatir mengangguk, segera dia memberikan penjelasan, "Itu benar, Bom itu saat ini bersamaku. Hanya saja, apakah kalian yakin ingin memilikinya?..."
Tatapan Fatir segera serius kearah Yana, "Yakinlah, itu bukan hal baik jika aku menunjukkannya sekarang. Bom itu akan meledak dalam waktu lima detik jika aku memperlihatkannya sekarang..."
"....." Yana hanya bisa terdiam ketika mendengarkannya.
Segera semua orang yang ada di sana menjadi panik, mereka tidak meragukan perkataan Fatir. Hanya saja, bagaimana dia menyembunyikan bom waktu sebesar itu.
"Yakin masih ingin melihatnya?..." Fatir mengulangi lagi perkataannya.
"Tidak, Fatir! kamu bisa memilikinya sebagai sovenir..." Jendral tua langsung menjelaskan dengan berkeringat dingin di dahinya.
Jika itu perkataan orang lain, mungkin jendral tua akan mengabaikannya. Tetapi Fatir adalah putra dari orang itu, dia pastinya memiliki hal - hal aneh yang tidak dapat di jelaskan secara ilmiah.
Segera suasana mencair dan Yana hanya bisa melepaskannya begitu saja. Namun dia tidak menghilangkan permusuhan diantara mereka.
Diantara semua orang, hanya Maya yang kesulitan memahami segalanya. Pria itu adalah suaminya, yang dia anggap sampah selama tiga tahun. Mengapa sekarang bisa begitu akrab dengan orang - orang besar?
Bersambung...