
Tono sangat senang ketika melihat sosok Fatir yang ada di depannya. Terakhir kali keduanya bertemu di bar dan dia tidak sengaja menyinggung Fatir dan semua bawahannya berakhir di rumah sakit.
Awalnya Tono berniat untuk melakukan balas dendam. Karena dia bukan orang yang mudah menyerah ketika berhadapan dengan seseorang. Namun ketika dia menemukan identitas dari Fatir, dia langsung memutuskan untuk membatalkannya.
Dia hanya Bos kecil yang bertempat di kota jakarta. Dia tidak dapat dibandingkan dengan ketua angkasa grup. Dia lebih memilih untuk menyimpan dendam miliknya dalam - dalam dari pada nantinya dia menderita.
Sekarang ketika bertemu dengannya lagi, Tono tidak ingin menyinggung hatinya lagi. Jika dia melakukan hal yang sama, dia tidak jauh berbeda dengan menggali lubang sendiri.
"Tuan Fatir, Nama saya Tono. Kita pernah bertemu di bar kemarin malam..." Tono langsung menjelaskan tanpa berbelit - belit.
"Oh! Jadi itu kamu!..." Segera Fatir mengangguk dengan pengertian.
Keduanya tersenyum, bahkan Tono ingin menjabat tangan Fatir secara langsung. Tentu saja membuat koneksi dengan Fatir tidak akan buruk.
"Jadi Bos Tono, Katakan berapa banyak uang sewa untuk Pak Jamono, aku akan melunasinya. Aku juga memukuli bawahanmu, jadi masukan juga dalam tagihan. Berapapun harganya akan aku bayar, lebih mahal juga lebih baik..." Kata Fatir dengan tersenyum.
Senyuman itu bukan dari Malaikat pembawa keberuntungan. Tetapi senyuman iblis yang membawa malapetaka.
Tono segera berkeringat dingin. Tentunya dia tahu jika bawahannya melakukan kesalahan. Segala dia menjadi sangat marah terhadap bawahannya.
Kemarin malam dia selamat karena Fatir memberikan kesempatan untuk dirinya pergi. Jika Fatir memukulnya, dia akan berakhir di rumah sakit dan yang terburuk berakhir di kantor polisi.
Segera Tono berlutut di bawah kaki Fatir. Dia ingin menyenangkan Fatir, bahkan jika harus menanggung malu di depan bawahannya. "Tidak... Tidak tuan Fatir, tolong jangan memasukkannya ke hati. Semuanya karena kesalahanku karena tidak mendidik bawahanku dengan benar..."
Semua orang yang melihat apa yang terjadi di depannya. Hanya bisa tercengang dengan mulut terbuka. Lalat dapat masuk dengan santai melalui mulut mereka yang terbuka.
Bos Tono yang paling di takuti di seluruh komplek perumahan tersebut, benar - benar berlutut di depan seorang pria muda. Bagaimana orang lain yang melihatnya tidak terdiam.
"Bos Tono, apa yang kamu lakukan, Aku hanya membantu keluarga Pak Jamono agar tidak tinggal di kolong jembatan untuk malam ini, jadi aku ingin melunasinya langsung..." Jawab Fatir.
"Tuan Fatir, Tolong jangan memanggilku Bos. Cukup memanggil namaku saja. Bawahanku pantas menerima pemukulan. Untuk uang sewa kontrakan mari kita anggap lunas..." Jawab Tono dengan tersenyum pahit.
Apa - apaan ini! Sulit mengatakan tentang segala tindakan Bos Tono. Namun semua bawahnya tidak hanya berkeringat dingin. Tetapi memiliki firasat yang sangat buruk.
"Kalian semua, tampar diri kalian masing - masing sebanyak seratus kali..." Teriak Tono dengan mendengus dingin.
"Siap bos!..." Jawab semua bawahannya dengan serentak. Mereka ingin menangis tanpa air mata.
"Plaaakkk!..."
"Pleeekkk!
Dapat membuat Bos mereka yang terkenal galak dan kejam berlutut begitu saja. Jelas pemuda yang mereka singgung kali ini, memilik latar belakang tidak biasa. Hal ini membuat semua bawahannya bergidik ketakutan.
"Baiklah, Pak Tono, aku akan menambahkan sesuatu. Aku ingin besok keluarga Pak Jamono di pindahan ke tempat kontrakan paling elite agar mereka memiliki kehidupan yang lebih layak..." Fatir menambahkan dengan tersenyum.
Tono tidak berhenti begitu saja. Dia beralih untuk menatap keluarga Pak Jamono. "Pak Jamono, besok seseorang akan mengunjungimu. dan akan melakukan pembahasan untuk melakukan perpindahan..."
"Ya..." Jawab Pak Jamono dengan linglung.
"Tuan Fatir, Kami akan pergi dulu..." Tono menambahkan sambil berjalan pergi, di ikuti oleh puluhan bawahan yang masing - masing memberikan pemukulan mengenai wajah mereka sendiri.
Setelah kepergian Tono dan bawahannya, Fatir berbalik untuk menatap keluarga Pak Jamono. Kondisi ketiganya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang terkejut. Mereka memiliki mulut terbuka sambil melihat kearah Fatir.
"Pak Jamono, ini sudah malam aku akan pergi..." Kata - kata Fatir membangunkan ketiganya yang terdiam.
"Nak Fatir, mengapa terburu - buru pulang. Masuk dulu dan makan malam bersama kami..." Sikap Istri Pak Jamono telah berubah seratus delapan puluh derajat. Dia benar - benar berbeda dengan dirinya yang lama.
"Tapi..." Fatir ragu - ragu menjawab.
Dia tidak bisa berkata - kata. Bukannya sebelumnya mengatakan harga gula sedang naik? Mengapa sekarang begitu baik?
"Ayo masuk jangan berdiri di sana..." Wanita gemuk itu tersenyum, kemudian memanggil Yeni untuk membantu di dapur, dia juga menyuruh Pak Jamono untuk membujuk Fatir tetap tinggal.
Pak Jamono yang melihat perubahan istrinya hanya bisa menggelengkan kepala. Dia menatap Fatir sambil berkata, "Nak Fatir, ayo masuk. Istriku sudah membuatkan sesuatu untukmu..."
Fatir masih dalam diam, sejak dulu dia begitu sopan kepada Pak Jamono. Mengingat kenangan lamanya, Pria tua di depannya adalah salah satu dari sedikit orang yang baik kepada dirinya.
Fatir adalah tipe orang yang sangat memahami apa itu balas budi. Karena Pak Jamono begitu baik, maka dia harus membalas kebaikannya.
"Baiklah..." Jawab Fatir.
Waktu berlalu, makan malam terlihat begitu mewah disajikan di depan Fatir. Keluarga Pak Jamono secara khusus mengeluarkan bahan makan yang ada di dalam kulkas, dan membuat menu makanan yang sederhana namun sangat lezat.
Ikan, ayam dan lauk pauk juga dibawa keluar, mengingat kondisi keuangan keluarga Pak Jamono, makanan ini bahkan lebih mewah dari pada menu makanan di hari raya tertentu.
"Nak Fatir, kamu harus makan lebih banyak, meskipun sedikit sederhana, itu masih tanda terima kasih keluarga kami..." Wajah keriput wanita gemuk yang penuh kasih sayang menatap Fatir seolah - olah sedang melihat putranya sendiri.
Melihat banyaknya makanan di depannya, Fatir tersenyum getir sambil berkata, "Bibi, aku pikir ini terlalu berlebihan. Tidak mungkin aku bisa menghabiskan semuanya..."
"Sudahlah Nak Fatir, Bibi kan selalu baik kepadamu. Biasanya kamu juga menghabiskannya!..." Jawab Wanita gemuk itu dengan tersenyum, seolah dia melupakan sikap lamanya terhadap Fatir.
Fatir yang mendengarkannya merasa ingin muntah. Sejak kapa istri Pak Jamono begitu baik terhadap dirinya? Ternyata benar, uang dapat mengubah sudut pandang seseorang.
Mungkin jika Fatir memperlihatkan kekayaannya sejak lama. Istri Pak Jamono akan berubah lebih cepat dari yang seharusnya.
Wanita gemuk itu tidak meninggalkan senyum di wajahnya. Dia begitu yakin jika Fatir sangat kaya. Entah sejak kapan kaya dan kekayaannya dari mana. Wanita gemuk itu tidak peduli karena sekarang Fatir kaya maka dia layak diperlukan dengan baik.
Wanita gemuk itu begitu menyesal, mengapa tidak sejak awal mengetahui Fatir yang kaya raya. Sekarang dia tidak meragukan lagi jika Fatir menjalankan perusahaan besar di jakarta pusat.
Bersambung...