Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
93. Menyetujui



Mendengar perkataan Silfi dan senyuman percaya diri di wajahnya. Membuat Fatir ingin tertawa, kemudian dia dengan datar menjawab. "Tidak tertarik..."


Silfi langsung terdiam membisu, dia menduga jika Fatir dari kalangan biasa, mengingat jenis mobil yang dikendarainya beberapa waktu lalu. Namun dia tidak berharap jika Fatir akan akan menolaknya.


Sombong!


Silfi menduga jika Fatir begitu sombong dengan kekayaannya yang tidak seberapa itu. Dia yakin jika Fatir tidak mengetahui tentang keberadaan keluarga Sasongko yang ada di belakangnya.


Lestari yang ada di sana cukup menghargai keputusan Fatir, sehingga dia hanya bisa menyerah dan berkata. "Fatir apakah kamu tidak mempertimbangkan untuk membantunya?..."


Jika di masa lalu, Lestari tidak akan pernah meminta bantuan kepada Fatir. Namun sekarang penilaian Lestari terhadap Fatir mulai berubah. Sosok adik ipar yang tidak berguna dan dia benci, dengan perlahan menjadi luar biasa. Juga hatinya mulai menerima keberadaan Fatir.


Terutama untuk ukuran batang menjulang diantara kakinya yang tidak biasa, Apa yang aku pikiran! Tanpa sadar wajah Lestari menjadi merah ketika memikirkan semua yang terjadi di apartemen tempatnya tinggal.


"Kakak ipar, aku tidak mungkin mengganti pendapatku tenang gadis nakal ini!..." Fatir menjawab.


"Kamu! Keinginan apapun yang kamu miliki, keluarga Sasongko akan memberikannya kepadamu. Jadi pertimbangan lagi, untuk melihat kondisi kakekku..." Kata Silfi dengan lantang, bahkan suaranya dapat terdengar hingga keluar ruangan.


"Apakah seperti ini caranya meminta bantuan? Terakhir kali, kamu belum meminta maaf..." Kata Fatir dengan datar, "Membantu atau tidak bukan urusanku. Kita adalah orang asing, Apakah kamu pikir uang dapat menyelesaikan segalanya?..."


Kali ini Silfi terdiam, dia biasanya menggunakan uang miliknya untuk apapun yang dirinya suka. Sekarang di hadapan Fatir, dia tidak berdaya sama sekali.


Silfi memperlihatkan gigi putihnya dan pipinya mengembung karena kesal. Kemudian dia bertanya, "Katakan saja keinginanmu, aku akan melakukan segalanya..."


"Segalanya!..." Fatir tanpa sadar melihat sosok gadis sekolah di depannya, mungkin perbedaan usia diantara mereka sekitar tiga sampai lima tahun. Namun sosok wanita pelajar benar - benar menggairahkan.


Siapa yang tidak ingin melakukannya dengan gadis SMA tahun ketiga yang memiliki tubuh yang begitu menggoda. Sosok Silfi bisa di bilang seperti apel hijau, dan itu menjadi daya tarik tersendiri.


"Benar, segalanya!..." Silfi menegaskan sekali lagi tentang tawarannya.


Melihat tatap Fatir yang begitu cabul dan penuh dengan imajinasi liar, membuat Lestari sedikit tertekan. Dia begitu yakin jika Fatir memiliki kemampuan untuk melakukannya, namun dia tidak ingin saudara iparnya meminta imbalan yang tidak - tidak terhadap gadis muda seperti Silfi.


"Fatir, apakah kamu tidak bisa memberikan pengecualian?..." Tanya Lestari dengan penuh harapan.


Tatapan Fatir kemudian teralihkan terhadap kakak iparnya tersebut. Dia menghela nafas, dan berkata. "Baiklah, aku akan membantunya, itupun jika dia meminta maaf kepadaku!..."


"Apa! Mengapa aku harus meminta maaf kepadamu?..." Silfi menjawab dengan tidak puas, dia tidak pernah meminta maaf kepada siapapun dan jika dia melakukannya. Maka Fatir akan menjadi yang pertama ketika mendapatkan permintaan darinya.


Fatir kembali menatap Silfi kemudian berkata, "Meminta maaf sekarang atau aku pergi?..."


Silfi memperlihatkan giginya dengan frustasi. Dia mulai kesal terhadap Fatir. Namun kondisi kakeknya membutuhkan pertolongannya sehingga dirinya tidak memiliki pilihan untuk menolaknya.


"Maaf!..." Jawab Silfi dengan suara rendah. Dia cukup malu ketika mengatakannya.


"Apa! aku tidak mendengarnya!..." Fatir berpura - pura tidak mendengarnya.


"Maaf, atas apa yang aku lakukan kemarin lalu..." Kata Silfi dengan lantang.


Fatir mengangguk dengan puas, gadis muda seperti Silfi ini memang harus mendapatkan didikan kesopanan sejak dini. Jika tidak akan mempermalukan orang yang lebih tua, juga akan merugikan orang lain dan dirinya sendiri.


"Karena kamu sudah meminta maaf maka aku akan menemui kakekmu, untuk melihat kondisinya..." Kata Fatir.


Silfi tersenyum dan berkata, "Baiklah, aku akan memesan tiket pesawat atau mungkin melakukan perjalanan dengan berkendara..."


Fatir menjadi bingung, dengan penjelasan Silfi dia dengan buru - buru langsung berkata. "Tunggu dulu, mengapa kamu mengatakan pemesanan tiket pesawat?..."


Fatir langsung terdiam, kemudian dia bertanya kepada Lestari dengan penuh harapan. "Kakak ipar, kamu akan ikut juga kan?..."


"Tidak, aku banyak pekerjaan yang belum terselesaikan..." Lestari menjawab.


Tentu saja Fatir tidak puas dengan jawaban tersebut. "Kakak ipar, kamu yang memintaku untuk datang. Jika kamu tidak ikut, aku tidak akan pergi..."


Tentu saja Fatir menginginkan teman perjalanan seperti Lestari dan tidak mungkin dia pergi bersama wanita belum berkembang seperti Silfi. Perjalanan akan lebih baik jika memiliki teman seperti Lestari yang cantik dan mempesona.


"Kamu, apakah kamu tidak puas melakukan perjalanan denganku?..." Kata Silfi dengan tertekan. Dirinya merasa terhina.


Biasanya semua orang akan menyenangkan dirinya dan siapapun akan merasa bersyukur jika melakukan perjalanan dengannya. Di masa lalu banyak orang yang akan memperlakukan dirinya seperti putri ketika dalam perjalanan.


Tapi sekarang ada orang lain yang tidak ingin melakukan perjalanan dengannya, bagaimana Silfi tidak kesal?


"Tidak juga, hanya saja aku tidak ingin melakukan perjalanan dengan anak kecil. Itu akan merepotkan..." Jawab Fatir dengan mengangkat tangan dan menggeleng.


"Kamu!..." Tatapan Silfi begitu tajam kemudian berkata, "Jangan menganggap diriku sebagai anak kecil. Aku sudah dewasa, mengerti!..."


"Oh!... Dari mananya kamu terlihat dewasa. Biarkan aku tebak, kamu pasti belum tumbuh rambut itu di bagian bawah..." Kata Fatir dengan kemenangan. Dia cukup puas untuk menggoda gadis nakal seperti Silfi.


"Cabul!..." Memikirkan miliknya benar - benar belum tumbuh rambut, Silfi tertekan dan malu. Mengapa pria tidak malu ini menggunakan patokan belum tumbuh rambut di area itu, sebagai alasan kedewasaan seorang wanita.


"....." Alis Lestari berkedut, dia mulai tidak bisa tenang ketika melihat keduanya berdebat.


"Sudah cukup..." Lestari berdiri dan berteriak untuk menegur keduanya. "Sampai kapan kalian akan bertengkar?..."


Melihat keduanya terdiam, Lestari menambahkan, "Baik, aku akan pergi. Hanya saja, aku tidak ingin menggunakan pesawat ketika melakukan perjalan?..." Walaupun Lestari tidak takut ketinggian, namun dia tidak nyaman jika harus melakukan penerbangan.


"Kakak ipar kita bisa menggunakan mobilku untuk melakukan perjalanan. Hanya saja, mobilku hanya memiliki dua kursi. Sehingga tidak mungkin membawa anak kecil ini..." Fatir langsung menjelaskan dan tidak lupa menyindir Silfi.


"Hmph, kalau begitu aku akan melakukan penerbangan sendiri dan menunggu kalian lebih awal..." Silfi benar - benar tidak tahan lagi. Jika dia tetap bersama Fatir, mungkin dia tidak dapat menahan kemarahan di hatinya.


"Baguslah jika begitu, hanya saja. Kota mana yang akan kita tuju?..." Tanya Fatir dengan bingung.


"Kota malang..." Silfi berdiri dan hendak pergi, tidak lupa dia menyapa Lestari dengan sopan. "Dokter Tari, tolong langsung menghubungiku setelah sampai di kota malang..."


"Oh! Tentu Silfi! Aku pasti langsung melakukannya?..." Jawab Lestari dengan tersenyum.


Silfi dengan kesal pergi ke tempat parkir, dan pergi lebih awal untuk melakukan persiapan sebelum melakukan penerbangan. Dia juga harus meminta ijin dari pihak sekolah dengan alasan kepentingan keluarga.


Tepat ketika Silfi yang kesal pergi ke tempat parkir, dia di kejutkan dengan mobil Bugatti edisi terbatas yang parkir di dekat mobil miliknya. Kedua matanya berbinar, dia langsung jatuh cinta dengan mobil milik Fatir itu.


"Woaaawww!... Mobil ini, aku sangat menyukainya. Andaikan papa mengizinkanku untuk membelinya!..." Segera Silfi menjadi frustasi ketika melihat mobilnya yang berada di samping mobil Bugatti.


Saat ini Silfi mengemudikan mobil Audi Hitam milik keluarganya, dia tidak berani mengendarai mobil Ferrari miliknya ketika tidak mengenakan wig hijau. Tetap saja, mobil Ferrari miliknya itu tidak dapat di bandingkan dengan mobil Bugatti edisi terbatas.


"Tut... tut..." Mobil Bugatti itu berbunyi, dengan keempat lampu sein menyala. Ini menandakan pemilik mobil telah menekan remote mekanisme pengendali jarak jauh.


Silfi tersenyum, dia begitu senang ketika pemilik mobil Bugatti itu datang, Dia tentunya ingin bertamu dan berkenalan dengan pemiliknya.


Jika pemiliknya seorang wanita, maka layak dijadikan teman atau saudari. Dan jika pemiliknya seorang pria muda dan memiliki penampilan keren, maka layak dijadikan pacar.


Tentunya, Silfi sangat yakin. Jika pemiliknya anak orang kaya seperti dirinya. Namun ketika dia melihat pemilik mobil Bugatti itu, dia langsung terdiam di tempat.


Bersambung...