Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
113. Skema Sugeng



Pria berpakaian hitam itu kembali ke kediaman Sugeng yang berada dekat di bukit pegunungan Kawi. Dia masih kesal dengan penolakan yang Fatir lakukan. Biasanya seseorang yang mengatakan mereka kuat akan menerima tantangan dari siapapun.


Dia merasa tertarik dan tertantang untuk bertukar keterampilan bela diri dengan Fatir. Sayangnya semua itu tidak mungkin terjadi, karena Fatir tidak tertarik sama sekali dan menolak tantangan darinya.


"Tuan Damar, Senang melihatmu kembali..." Sugeng menyambut kedatangan Damar dengan senyuman di wajahnya.


Rencana yang Sugeng gunakan adalah, meminjam pisau untuk memberikan pelajaran. Dan setelah Fatir benar - benar di lumpuhkan, dia akan bergerak lagi untuk menangkap Lestari dan bersenang - senang dengan tubuhnya.


Tentunya Damar tidak mengetahui rencana terselubung yang Sugeng lakukan. Dia hanya tertarik dengan pertarungan dan karena Sugeng mengatakan tentang Fatir yang kuat, dia langsung pergi untuk membuktikan siapa yang kuat diantara mereka.


Pada dasarnya, Damar bukan orang jahat. Dia hanya dimanfaatkan oleh Sugeng karena kebodohan dalam mempercayai seseorang. Dan juga, gunung yang menjadi tempatnya tumbuh besar, telah melarangnya untuk melakukan kejahatan dan mengharuskan dirinya untuk melakukan hal baik.


Sifat inilah yang membuat Damar jatuh dalam rencana busuk Sugeng.


"Hmph! berhentilah menjadi seseorang penjilat ketika kita bertemu. Aku seharusnya tidak mempercayai kalian karena kami orang - orang gunung tidak akan mempercayai mereka yang lebih lemah dari kami!..." Kata Damar dengan mendengus dingin.


Sugeng segera menjadi panik, dia dapat mengetahui jika Damar mengalami suasana hati yang buruk, sehingga dia harus menyenangkannya. Dia semakin membungkuk dan berkata dengan sopan, "Tuan Damar, Aku mengatakan yang sebenarnya. jadi tolong percayalah!..."


Damar menatap Sugeng dengan tajam, "Kamu mengatakan jika Fatir ini adalah pria kuat, namun dia tidak memiliki jiwa seorang pejuang sejati, dan Dia telah menolak tantangan secara adil begitu saja!..."


Adil!


Mendengar kata adil, membuat Sugeng mengutuk di dalam hatinya. Dia tahu jika orang - orang gunung ini begitu kuat, namun mereka memiliki sisi kenaifan yang mana menjunjung tinggi keadilan dalam mengambil tindakan.


Padahal Sugeng sudah mengharapkan agar Damar dapat melumpuhkan Fatir secepat mungkin, dan membuktikan siapa yang terkuat diantara mereka. Tetapi Alih - alih langsung melumpuhkan Fatir, Damar memilih untuk menggunakan pertarungan yang adil, itu sama dengan bertindak bodoh.


Memang benar jika Fatir tidak memiliki permusuhan dengan Damar dan orang - orang gunung lainnya. Sehingga membuat Sugeng menggunakan metode kambing hitam dalam tindakannya.


Sambil menekan kekecewaan di hatinya, Sugeng tidak memiliki cara lain selain melakukan rencana kedua, dia dengan panik berkata, "Tuan Damar, Fatir ini terlalu licik. Dia berhasil mengelabui anda!..."


Damar mengerutkan keningnya dan berkata, "Apa maksudmu?..."


Sugeng tersenyum getir dan kembali menjelaskan, "Huu! Tidak ada yang akan aku sembunyikan lagi. Fatir ini tidak hanya kuat, tetapi juga sangat sombong. Selain itu dia menindas yang lemah karena dia memiliki kekuatan namun menggunakannya untuk melakukan kejahatan..."


Menindas yang lemah?!


Kekuatan yang di salah gunakan?!


Damar merasa tidak senang, di hatinya. Menurutnya seseorang yang memiliki kekuatan harus membantu yang lemah. Bukan sebaliknya.


Tak lama setelah itu, pengikut Sugeng mendorong kursi roda dengan seseorang, yang memiliki balutan perban di atasnya. Sugeng kembali bersandiwara dan berkata, "Dia adalah korban tidak bersalah dari kejahatan yang telah Fatir lakukan..."


"Auw!..." Pria yang berada di atas kursi roda itu merintih kesakitan. Dia dengan sngaja berpenampilan seperti itu hanya untuk menyakinkan Damar.


"Ini, tidak bisa dibiarkan..." Damar langsung menyimpan kebencian di hatinya. Jiwa keadilan di hatinya telah menyalah dan dia semakin ingin bertarung dengan Fatir untuk memberikan pemukulan.


Sugeng yang melihat perubahan di wajah Damar, menjadi begitu senang. Dia tertawa di hatinya. Sepertinya rencana meminjam pisau ini hanya sedikit tertunda dan Fatir akan berakhir menyedikan di tangan Damar.


"Tapi, dia menolak pertandingan secara adil denganku sehingga aku tidak bisa memberinya pelajaran!..." Kata Damar dengan datar.


Mendengar ini, Sugeng kembali berdiri dan menyarankan, "Tuan Damar, Fatir ini sangat jahat sehingga kamu harus membuat keadilan untuk kita semua..."


Damar mengangguk, "Tentu saja, kekuatan yang tidak digunakan untuk kebaikan adalah kekuatan sesat dan sudah menjadi tugasku untuk diluruskannya..."


"Taun Damar, sebenarnya ada cara untuk membuat Fatir bisa menerima tantangan darimu!..." Kata Sugeng dengan kemenangan.


Penghasutan jelas - jelas berhasil, dan Sugeng sudah memikirkan rencana selanjutnya, "Kami, akan menangkap Lestari yang menjadi wanita terdekatnya, dan aku sangat yakin Fatir akan menerima tantangan Tuan Damar dengan segera..."


"Tidak, penculikan adalah tindak kejahatan, aku tidak ingin melakukan cara tercelah seperti ini..." Tentunya Damar akan menolaknya tanpa memikirkannya.


Sugeng sudah menebak jika Damar akan mengatakan hal seperti itu, dia dengan sopan menjelaskan, "Tuan Damar, Fatir ini adalah pria jahat dan jika kita melakukan penculikan terhadap orang jahat, itu tidak salah sama sekali. Kita juga tidak akan menyakiti siapapun dan akan melepaskan Lestari setelah pertarungan yang adil!..."


Damar akhirnya mengangguk, "Baik, selama tidak menyakiti siapapun, aku tidak mempermasalahkan..."


Mendengar persetujuan dari Damar, tentunya Sugeng mengangguk dengan puas. Dirinya mungkin tidak kuat namun dia sangat pintar. Sedangkan orang - orang gunung ini sangat mudah diperdaya karena mereka bodoh.


Sugeng mungkin mengatakan tidak akan menyakiti Lestari. Namun siapa yang tahu tentang apa yang akan dia lakukan kepadanya nanti.


_


_


_


Pagi harinya.


Fatir dan Lestari akan kembali ke kota jakarta setelah melakukan banyak persiapan. Keluarga sasongko juga memberikan banyak oleh - oleh khas kota Malang untuk mereka.


Hanya saja, Fatir harus menolaknya mengingat jenis kendaraan miliknya tidak memiliki banyak ruang. Namun keluarga Sasongko yang sangat berterimakasih itu memilih untuk mengirimkannya melalui jasa pengiriman barang.


"Paman seno, aku tidak melihat Lestari dan Silfi, kemana mereka pergi?..." Tanya Fatir dengan penasaran.


Sebenarnya dia tidak terlalu memikirkan tentang oleh - oleh untuk perjalanan pulang. Namun tidak bagi Lestari yang memilih untuk berbelanja dengan Silfi.


Seno yang mendengar pertanyaan itu, langsung menjawab, "Jika tidak salah, Silfi menemaninya pergi untuk membeli sesuatu!..."


Fatir mengangguk dengan tidak berdaya. Dia memilih untuk menunggu sambil mendesah dengan bosan. Tepat pada saat itu, ponselnya berbunyi dan itu dari nomor tak di kenal.


"Halo!..." Fatir mengangkatnya dengan dingin, dia merasakan firasat yang begitu buruk yang mungkin melibatkan kakak iparnya.


"Datanglah ke kaki gunung Kawi dan terimalah tantangan dari Tuan Damar. jika ingin Lestari kembali dengan selamat..." Panggilan berakhir begitu saja. Tanpa membiarkan Fatir berbicara sedikitpun.


"Tuttt... Tuuttttt!..."


Fatir mengerutkan keningnya dengan marah. Dia dapat mengenali pemilik suara itu yang tidak lain adalah Sugeng sendiri.


Terakhir kali dia melepaskan seorang pengintai, sudah membuatnya berbaik hati. Namun jika perngintai itu menginginkan kematian, dia tidak akan segan untuk mengabulkannya.


Tepat setelah panggilan berakhir, telpon selanjutnya datang dari Silfi. "Kak Fatir, aku tidak menemukan keberadaan Dokter Tari padahal aku sudah mencarinya di seluruh tempat yang ada di pusat perbelanjaan!..."


Penjelasan dari Silfi yang panik semakin memperburuk suasana hati Fatir dan memperjelas jika panggilan sebelumnya bukanlah candaan.


"Silfi kamu harus tenang, Ok!... Semuanya akan baik - baik saja. Mungkin kakak ipar pergi lebih awal dengan kenalannya, jadi jangan lagi khawatir..." Jawab Fatir dengan mencoba menenangkan Silfi.


"Ummm! aku mengerti!..." Setelah Silfi tenang, panggilan tersebut segera berakhir.


Fatir yang begitu marah, langsung pergi menggunakan mobilnya untuk menuju ke kaki gunung Kawi. Dia dengan dingin berkata, "Sugeng, dan siapapun dia yang sebut Damar, Aku akan membuat kalian menyesal karena membuatku marah!..."


"Vrooommmm!..."


Dengan kecepatan yang melebihi batas ketentuan lalu lintas, Mobil yang dikendarai Fatir menghilang di kejauhan.


Bersambung...