Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
55. Pelakor Magang



Masih di restoran nasi goreng ketagihan.


Fatir yang mendengar perkataan wanita muda di depannya sedikit linglung sejenak kemudian mengangguk setuju.


Penampilan Nayla tidak buruk, dia hanya memiliki kecantikan natural tanpa tambahan riasan apapun di wajahnya.


Jika dia belajar menggunakan riasan, mungkin akan memiliki kecantikan yang berkali - kali lipat dari yang sekarang. Sebenarnya menambahkan banyak wanita dalam hidupnya tidak terlalu buruk.


Ayahnya saja memiliki banyak istri, mengapa tidak melebihinya!


"Nayla, menurutku. Profesi pelakor tidak terlalu cocok untukmu..." Kata Fatir dengan ragu - ragu.


"Mengapa?..." Tanya Nayla.


"Karena kamu terlalu cantik. Lihat saja di televisi, yang namanya pelakor tidak lebih cantik dari istri sah..." Jawab Fatir.


Segera Nayla menjadi malu, Namun dia mengangguk setuju. Selain itu Fatir benar - benar memujinya, dan hal tersebut membuat Nayla sangat bahagia.


"Kak, Fatir bisa saja. Kalau tidak cocok menjadi pelakor, jadikan istri sah juga tidak masalah..." Kata Nayla dengan tersenyum cerah.


Rasanya setelah badai datanglah sinar mentari yang menghangatkan apapun melalui sinarnya. Nayla baru saja mengalami kesedihan karena kesulitan yang di miliknya, tetapi dengan adanya Fatir. Dia merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Membuatmu menjadi istri sah itu mudah, namun sulit pada waktu yang sama!..." Kata Fatir menghela nafas panjang.


"Mengapa?..." Tanya Nayla.


"Tentu saja sulit, sesulit mengabaikan malam - malam bersamamu..." Jawab Fatir.


"Hehe... Kak Fatir bisa aja..." Kali ini Nayla benar - benar meleleh. Menurutnya, Fatir tidak hanya baik, tetapi memiliki humor yang sesuai dengannya.


Waktu berlalu dan keduanya menghabiskan beberapa hidangan nasi goreng ketagihan lagi.


"Pasti, wanita yang menjadi Istri sah Kak Fatir sangat bahagia karena memiliki seorang suami seperti Kak Fatir..." Nayla hanya memberikan sanjungan untuk Fatir. Tetapi Fatir segera memiliki mood yang buruk.


"Kehidupan rumah tanggaku, tidak sebaik yang kamu pikirkan..." Jawab Fatir dengan sedikit mendesah.


Memikirkan tentang Maya, membuatnya tidak bersedih juga tidak bahagia.


Walaupun keduanya, telah sah dalam pernikahan. Namun Fatir belum pernah menghabiskan satu malampun dengan Maya. Apa lagi, dengan malam - malam lainnya.


"Maaf, Kak Fatir... Aku tidak bermaksud..." Kini Nayla merasa, bersalah, ketika melihat wajah Fatir yang tidak bersemangat.


"Ini bukan salahmu, akhir - akhir ini aku memiliki masalah dengan istriku..." Jawab Fatir kembali tersenyum. Di depannya ada wanita muda yang tidak kalah dengan istrinya, mengapa harus memikirkannya yang tidak peduli dengannya.


Fokus dengan yang ada di depanmu Fatir!


"Kak Fatir, apakah aku di terima sebagai pelakor?..." Tanya Nayla dengan penuh harapan.


"Hmmm... Bagaimana ya..." Jawab Fatir dengan keraguan di hatinya.


Melihat Fatir yang ragu - ragu membuat Nayla menggigit bibirnya.


"Kak Fatir tahu tidak mengapa pelakor lebih menarik dari istri sah?..." Kata Nayla dengan senyuman menggoda.


"Mengapa memangnya?..." Tanya balik Fatir.


"Karena pelakor memiliki goyangan yang lebih baik!..." Nayla terkekeh.


Diam!


Fantasi Fatir segera menjadi liar.


Goyangan!


Sial, apanya yang goyangan! Maya saja belum di goyang bagaimana membedakan hasil akhirnya.


"Haha... Kamu bisa aja..." Fatir hanya bisa memberikan pujian terhadap Nayla.


"Iya dong! Pelakor selalu bisa..." Sekali lagi Nayla terkekeh.


Pembicaraan mulai perlahan mengarah pada tindakan yang menyimpang, sehingga keduanya memilih untuk mengakhiri makan siang bersama.


"Vrrooommm..."


Mobil Bugatti melaju dengan kencang di jalanan kota jakarta. Fatir ingin mengantarkan Nayla pulang ke tempat tinggalnya.


"Jadi kamu tinggal di sini?..." Dari tepi jalan raya, Fatir dapat melihat jalan kecil dengan rumah susun sedikit masuk kedalam.


Jenis rumah yang satu ini mengingatkan Fatir dengan kediaman lamanya.


"Aku ngekos di sini Kak Fatir!..." Jawab Nayla dengan jujur.


Melihat dominasi bangunan yang di bangun dan tersusun dari kayu, membuat Fatir mengurungkan untuk bergoyang bersama dengan Nayla.


Bagaimana jika kos - kosan tersebut mengalami guncangan, bukannya akan mengalami roboh bangunan!


"Nayla, setelah ini carilah apartemen yang layak di kota jakarta pusat..." Tempat itu cukup dekat dengan sungai Ciliwung.


"Aku mengerti Kak Fatir..." Nayla kembali tersenyum kearah Fatir. "Gimana Kak Fatir! Sudah memutuskannya?..."


"Jika Kak Fatir tidak cepat - cepat menerimaku sebagai pelakor magang, Bagaimana jika pria lain memaksaku?..."


"Ingat Kak Fatir, jika terlalu lama berfikir orang lain bisa mendahuluimu..."


Kata - kata Nayla dengan sengaja membuat Fatir tertekan.


"Baik, mulai hari ini kamu akan menjadi pelakor magang..." Fatir memberikan jawaban.


"Benarkah! hehehe..." Nayla kembali terkekeh.


Nayla! Nayla! Jadi pelakor maksa amat!


"Kak Fatir, kamu tidak mampir dulu?..." Tanya Nayla dengan malu - malu.


Tentu saja pertanyaan ini menjadi kode keras, Namun Fatir harus menolaknya. Karena kondisi tempat tersebut benar - benar tidak mendukung sama sekali.


"Mungkin lain kali..." Jawab Fatir.


Ketika keduanya akan berpisah, Nayla memejamkan matanya sambil memberikan bibir lembutnya kearah Fatir.


Tentunya sebagai pelakor magang Nayla ingin melakukan yang terbaik.


Tetapi, di mata Fatir. Wanita muda ini memiliki bahu yang sedikit bergetar, itu pasti keputusan yang berat untuknya.


Memang benar Nayla terlihat ceria dengan terlihat begitu baik. Tetapi tidak ada yang tahu apa yang ada di dalam hatinya.


Bahu kecilnya memikul hutang keluarga yang cukup berat baginya, dan sekarang dia ingin bergantung kepada Fatir. Bertahan hingga sekarang, menunjukkan betapa kuatnya Nayla menjadi seorang wanita muda dengan beban di pundaknya.


Mungkin tindakannya saat ini, tidak jauh berbeda dengan menjual tubuhnya. Tetapi itu lebih baik dari pada harus terjerumus kedalam bisnis prostitusi.


Nayla tidak peduli lagi jika dianggap sebagai wanita yang buruk. Walaupun dia dan Fatir baru saja bertemu, namun dia dengan sepenuh hati melakukannya.


Jikapun Fatir melupakan dirinya di masa depan nanti, Nayla akan menerimanya dengan lapang dada.


Fatir menerimanya sebagai pelakor magang, namun bukan berarti dia ingin memanfaatkan Nayla sebagai pemuas keinginan biologisnya. Di awal di hanya ingin memberikan bantuan, dan tidak mengharapkan imbalan apapun. Tetapi menolak bibir lembut wanita cantik benar - benar sulit.


Fatir mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu kecilnya kemudian mencium Nayla. Kedua bibir mereka saling tumpang tindih dan menghangatkan satu sama lain.


Nayla tersentak di awal, namun kasus tangan Fatir membuatnya lebih tenang dari sebelumnya.


Setelah selusin menit berlalu, keduanya berpisah. Nayla benar - benar kesulitan untuk berfikir, ciuman sebelumnya membuat pikirannya menjadi kosong.


"Mari bersambung lagi di masa depan setelah aku pindah dari tempat lamaku..." Kata Nayla dengan tidak tenang. Dia sudah siap mengambil fakultas pelakor tetapi hatinya belum siap untuk benar - benar melakukannya.


"Aku akan menunggunya..." Jawab Fatir dengan mengangguk.


Hampir saja dia kebablasan, melakukan hubungan seksual di dalam mobil mungkin tidak terlalu buruk, namun tempat tersebut cukup ramai pejalan kaki, jika dia melakukan hal lebih lanjut lainnya.


Maka keberadaan mobil bergoyang di tepi jalan, akan menarik perhatian banyak orang.


Segera Nayla turun dari mobil dan berlari kecil ke tempat tinggalnya. Fatir yang memastikan semuanya berjalan dengan lancar, hanya menggeleng kemudian pergi dengan mobil miliknya.


Bersambung...