
Kata - kata Fatir, hanya penghinaan bagi keempatnya.
Mereka berempat belum pernah bertemu dengan pria muda yang begitu sombong, dan jikapun ada keempatnya akan melumpuhkannya tanpa pikir panjang.
"Aku sangat membenci bocah sombong sepertimu..." Pria besar itu berjalan mendekat dengan mengulurkan tangannya.
"Whooos!..."
Fatir segera menghindarinya. Situasi telah tidak terkendali lagi. Begitu keempatnya memutuskan untuk membawanya dengan paksa, maka Fatir harus memberikan tanggapan yang sesuai.
Cepat!
Pria yang mengulurkan tangannya benar - benar dikejutkan dengan kecepatan pria muda yang ada di depannya. Segera dia bergerak ke arah lain dan terjadilah benturan keras.
"Baaang!..."
Jelas - jelas pria besar itu ingin melumpuhkan Fatir, bagaimana Fatir bisa menurut begitu saja. Sekarang untuk menghadapi pria besar itu, Fatir memberikan sebuah pemukulan dan membuat pria besar itu terdorong oleh sejumlah kekuatan besar, sebelum akhirnya kembali tenang dan berdiri dengan tegak.
"Sepertinya dia memiliki kemampuan..." Pria itu tidak hanya terkejut dengan kecepatan Fatir. Tetapi juga terkejut dengan kekuatan yang Fatir tunjukkan.
"Ini akan menjadi peringatan terakhir, Cepat ikut dengan kami sebelum kami benar - benar serius..." Wajah pria besar itu dipenuhi dengan kebanggaan dan berbicara seolah - olah dia memerintahkan bawahan.
"Apakah aku mengenal kalian sehingga aku harus ikut dengan kalian begitu saja?..." Jawab Fatir dengan datar. Kali ini dia memperhatikan keempatnya dengan serius.
"Hmph... Banyak omong kosong, cepat ikut dengan kami!..." Pria lainnya menambahkan.
Pukulan sebelumnya, walaupun tidak menggunakan semua kekuatannya, seharusnya dapat membuat siapapun terluka. Namun pria besar itu tidak terluka sama sekali dan itu membuat Fatir semakin waspada.
"Siapa kamu untuk memberiku perintah..." Fatir tersenyum dingin, matanya sedingin es.
"Tuan Fatir kamu mungkin kuat, tetapi dihadapan dengan kami. Kekuatanmu tidak berguna sama sekali..." Kata pria itu dengan bangga. Dia sama sekali tidak menghormati Fatir yang lebih muda darinya.
Ya, Fatir mungkin lebih kuat dari manusia biasa, tapi itu semua tidak penting. Sebagai bawahan Dewa Perang, pria besar itu percaya jika dirinya lebih kuat dari Fatir.
Tapi, keempatnya telah memilih kandidat yang salah. Siapakah Fatir? Dia adalah pemuda tidak biasa, yang memiliki warisan dari pertapa agung. Juga memiliki martabat seperti seorang raja, yang tidak akan kalah dalam berurusan dengan lawan kuat.
Kali ini Fatir meningkatkan kekuatannya, bahkan tidak tanggung - tanggung ketika menggunakan energi Qi untuk menyelimuti tangannya.
Selanjutnya, Fatir secara mengejutkan menghilang dari pandangan keempatnya.
"Bagaimana mungkin, dia memiliki gerakan yang lebih cepat dari sebelumnya..." Keempatnya menjadi sangat serius ketika menanggapi serangan dari Fatir.
"Baaammm!..."
Ketika Fatir muncul kembali, satu diantara mereka terlempar sangat jauh dan menghancurkan bangunan yang ada di kejauhan.
"Sialan, jangan lengah..." Pria lainnya dari tadi mengunci pergerakan Fatir dengan matanya, Dan saat Fatir bergerak dan secara tiba - tiba berdiri di belakangnya. pria itu tidak punya waktu untuk bereaksi.
"Baaammm!..."
"Ahhh!..."
"Jangan menggangguku lagi jika tidak aku akan bertindak lebih jauh dari ini..." Kata Fatir dengan acuh tak acuh. Dia memberikan peringatan.
"Tuan Fatir, kamu berani menentang kami, maka jangan salahkan kami bertindak kejam..." Pria lainnya menatap Fatir dengan ekspresi muram.
Fatir mengabaikan perkataanya dan berniat pergi tanpa penundaan. Keempatnya kembali bangkit dengan susah paya.
"Haaaa!..."
Keempatnya menjerit marah dan melemparkan kepalan tangannya ke arah Fatir dari belakang. Mereka ingin memberi pelajaran kepada pemuda yang sombong ini.
"Sepertinya kalian ingin berakhir lebih buruk dari ini..." Wajah Fatir dipenuhi amarah. Dia bergerak cepat dan menggunakan Teknik Bela Diri acak dari warisan yang di milikinya.
"Ahhhrrghh!..."
Dengan menghadapi lawan yang lebih kuat dari manusia normal, membuat Fatir mulai terbiasa dengan kontrol kekuatannya.
"Menolak undangan Dewa Perang sudah menjadi kejahatan besar, apa lagi jika menjadi musuh kami, kamu mencari kematian..." Pria besar lainnya bergerak kearah Fatir.
Fatir kemudian mulai kehilangan ketenangannya dan berkata sambil menatap musuhnya, "Apakah kalian tahu tipe orang yang paling aku benci?..."
"....." Pria besar itu bingung dan merasa tidak memiliki jawaban. Tapi di saat berikutnya ia menemukan tubuhnya di udara dan rasa sakit tak tertahankan berada di perutnya.
"Aaaahh!..."
Kemudian, dalam sekejap ia mendarat di tumpukan sampah di sisi jalan, dengan pakaian dibasahi dengan air tengik dan bau tidak sedap dari sampah rumah tangga.
"Tipe orang yang paling aku benci adalah mereka yang mengancamku..." Kata Fatir dengan mendengus dingin.
Fatir hanya melakukan satu dorongan sederhana. Namun energi Qi menciptakan daya ledak terhadap lawannya. Dia menarik kembali lengannya saat dia berjalan menuju tempat di mana dua sisa lainnya berdiri.
Melihat dua rekan mereka tak sadarkan diri, membuat dua lainnya sangat marah. Belum lagi karena pukulan Fatir sebelumnya, hidung dan mulutnya dipenuhi dengan darah segar.
"Kamu bocah, kamu berani mengalahkan saudara kita, apakah kamu sudah ingin mati?..." Teriak salah satu yang tersisa.
"Ayo kalahkan dia sampai mati!..." Yang lainnya menambahkan.
Dua dari mereka tidak mengerti apa yang terjadi, atau bagaimana Fatir mencapai kekuatan sebesar itu, tetapi karena mereka melihat bahwa rekan keduanya berakhir begitu menyedihkan, keduanya menjadikan Fatir sebagai target mati.
Fatir tidak repot - repot melihat karena ia hanya menggunakan tangannya dan mendorong mereka semua ke pinggir jalan, mengabaikan pukulan dan tendangan mereka.
"Baammm!..."
"Aaaahhhh!..."
Pria besar itu hanya bisa merasakan tangan atau kaki mereka ditabrak oleh kekuatan yang kuat ketika tubuh mereka terbang mundur dan menabrak jalan yang teraspal. Tidak dapat menahan rasa sakit, dia mulai berteriak keras.
"Aaaaahhhh!..."
Keempatnya yang tak sadarkan diri, tidak bisa menjelaskan tentang Fatir yang tidak terluka dan tak tersentuh. Sehingga hanya satu kesimpulan, mereka memilih target yang salah.
"Menyebalkan!..." Kata Fatir dengan tidak puas, Dia hanya ingin pergi ke toko swalayan, namun harus bertemu dengan keempatnya.
Belum lagi harus terlibat dengan pertarungan. Itu sangat melelahkan sekaligus membuat Fatir yang ingin menikmati waktu luangnya harus tertunda.
Segera Fatir memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut sebelum benar - benar menarik perhatian para pejalan kaki yang berada dekat dengan lokasi kejadian.
Keempatnya adalah seorang kultivator yang memiliki kekuatan di luar pemahaman manusia normal. namun mereka harus kalah di tangan seorang pemuda. Benar - benar kekalahan yang sangat buruk.
Masing - masing dari keempat pria besar dapat menghadapi sepuluh manusia biasa dengan mudah, namun pria muda yang menjadi target utama mereka, benar - benar membuat mereka mengalami kekalahan telak, Bahkan yang terburuk dapat melemparkan mereka semua seolah - olah mereka adalah kotoran.
Hasilnya, mereka berakhir di tempat sampah. Berpikir jika kotoran harus berakhir di tempat sampah, itu sangat pantas untuk keempatnya.
Bersambung...