Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
114. Memulai Pertarungan



Mengikuti petunjuk arah dari navigasi yang ada pada mobil. Fatir menghentikan mobilnya di kaki gunung Kawi. Dia segera turun untuk melihat sekelilingnya.


Di kejauhan ada jalan setapak yang menuju ke puncak gunung Kawi. Selain itu terdapat juga sebuah papan peringatan yang tertulis begitu jelas.


Peringatan pertama dilarang melakukan pendakian pada gunung Kawi, juga beberapa peringatan lainnya seperti adanya binatang liar yang sangat berbahaya. Melihat ini membuat Fatir begitu yakin jika gunung Kawi ini tidak biasa.


Jika bahaya dari binatang liar, tentunya tidak menakuti Fatir sedikitpun. Itu karena dia memiliki keyakinan untuk menghadapi segala bahaya dari binatang liar. Selain itu, pelaku penculikan Lestari sudah memintanya untuk mendatangi kaki gunung Kawi, sehingga Fatir harus pergi kesana.


"Sowwssshh!..."


Fatir menyebarkan kemampuan deteksi untuk menjangkau sekelilingnya. Dia melihat rumah tua bergaya jawa kuno yang menjadi satu - satunya rumah yang ada di tempat tersebut.


Segera Fatir berjalan tanpa mengurangi kewaspadaan di hatinya. Kemudian dia merasakan kehadiran seseorang yang ada di depan rumah itu yang terlihat sedang menunggu kedatangannya.


Rumah jenis ini sudah jarang di jumpai di perkotaan dan hanya ada di pedesaan. Fatir berjalan melalui halaman depan rumah tua itu dengan tersulut amarah, dirinya harus memberikan pelajaran setimpal kepada orang yang yang menangkap Lestari.


Saat Fatir melihat pihak lain dirinya melihat pria yang sama yang bertemu dengannya kemarin malam. Dia berdiri dengan kokoh dan tidak di temukan keberadaan Lestari ataupun Sugeng dan pengikutnya.


"Sepertinya kamu benar - benar tidak menghiraukan peringatan dariku!..." Kata Fatir dengan mendengus dingin.


"Itu akan menjadi kesalahanmu sendiri karena tidak menerima tantangan dariku secara adil..." Kata Damar dengan datar, dia masih menganggap Fatir telah menindas yang lemah sehingga dia tidak menyukainya sama sekali.


"Hmph! Kau tahu, kita tidak benar - benar memiliki perselisihan. Jadi cepat katakan di mana Dia?..." Fatir bertanya tentang keberadaan Lestari dengan dingin.


Di bandingkan dengan pria semalam yang kurang jelas, tentunya Damar memiliki postur tubuh yang menjanjikan, Fatir harus mengakui teknik pernapasan yang seorang kultivator gunakan dapat membuat tubuh manusia memiliki tubuh sehat dan sedikit awet mudah.


"Tenanglah, wanita itu tidak ada disini, dia berada di tempat yang aman dan aku tidak akan mengatakannya sebelum kamu menerima tantanganku..." Kata Damar dengan sedikit senyum di wajahnya.


Sebagai otak otot seperti ayahnya, dia hanya memikirkan tentang bertarung dengan mereka yang benar - benar kuat. Perguruan Macan putih dan ayahnya mendidiknya untuk menjadi pejuang yang kuat. Namun menjadi kuat tanpa mengalami pertempuran, itu akan menjadi hal yang sia - sia.


"Kamu melakukan semua ini, hanya untuk memaksaku menerima tantanganmu?..." Tanya Fatir dengan heran, "Apakah sepadan, berbuat sejauh ini hanya untuk membandingkan kekuatan diantara kita?..."


"Jika kamu benar - benar kuat dan tidak mudah di lumpuhkan, maka semuanya akan sepadan. Selain itu kamu terlalu banyak menindas orang lemah sehingga secara tidak langsung membuatku tidak menyukaimu!..." Kata Damar dengan datar.


Fatir kembali bingung karena dia benar - benar tidak menindas yang lemah. Dia merasa jika Damar ini telah di hasut oleh seseorang yang tidak lain adalah Sugeng.


"Berhentilah mengatakan sesuatu yang tidak aku lakukan, terkadang seseorang akan buta dan hanya mempercayai apa yang di dengarnya..." Fatir menjelaskan lagi.


"Sialan, apakah kamu pikir aku buta?!!!..." Damar berkata dengan nada tinggi, dia segera melepaskan aura mengesankan dari tubuhnya.


"Aku tidak mengatakan kamu buta, namun aku mengatakan apa yang sebenarnya aku lihat. Selain itu aku tidak pernah menindas orang yang lemah..." Fatir menambahkan.


"Baik karena kamu tidak mengakuinya maka kita selesaikan melalui pertarungan..." Damar mengatur pernafasannya lalu energi Qi secara samar terkumpul di telapak tangannya.


"Duarr!..." Ledakan terjadi ketika Damar melepaskan serangan energi Qi dalam jumlah tertentu dan menargetkan musuh yang ada di depannya.


Sayangnya Fatir memiliki reaksi super cepat. Sehingga dapat dengan mudah menghindarinya. namun tempat dirinya berdiri sebelumnya memiliki bekas bakar dan sedikit asap mengepul diatasnya.


"Di masa lalu Aku tidak pernah tahu jika ada manusia yang memiliki serangan yang kuat seperti ini..." Fatir berdiri di sisi sebrang ledakan. Dia segera meniru apa yang Damar lakukan sebelumnya.


"Duuuaaaarrrrr!..."


Ledakan yang Fatir ciptakan seratus kali lebih besar dari milik Damar dan itu membuat pria muda itu terkejut dan ketakutan tanpa sebab.


Sayangnya Fatir tidak mengarakan serangan itu kearah Damar dan memilih untuk mengarahkannya di kejauhan dan menghancurkan pepohonan yang ada di sana.


Damar yang melihat serangan energi Qi milik Fatir sedang dalam perasaan yang sangat kacau. Dia hanya mampu membuat ledakan sekecil. Mengapa lawannya dapat membuat kawah yang cukup besar.


Perbedaan kapasitas energi Qi diantara keduanya bagaikan langit dan bumi. Siapapun dapat melihat perbedaan diantara keduanya dapat dengan jelas mengetahui siapa yang lebih unggul, dan dapat dipastikan jika Damar benar - benar menerima serangan energi Qi sebesar itu, dia pasti tidak akan selamat.


Fatir yang melihat kawah yang terbentuk pada permukaan tanah yang awalnya datar. Sangat terheran - heran, apakah itu dirinya yang melakukanya?


Jika dia secara tidak sengaja menyerang musuhnya dengan serangan itu, dia akan membunuh musuhnya secara instan.


Di bandingkan dengan hasil serangan energi Qi dari Damar, jelas keduanya tidak dapat dibandingkan.


Fatir menatap Damar yang tercengang kemudian berkata, "Apakah sudah cukup jika aku menjadi pemenangnya?..."


"Sialan, masih terlalu dini mengatakan kamu pemenangnya!..." Damar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Jumlah energi Qi setiap kultivator sangat berbeda, semua itu tergantung seberapa lama seseorang melakukan pelatihan kultivasi mereka.


Ambil contoh seperti Damar sendiri, dia telah memulai jalur kultivasi sejak usia 10 tahun dan hanya bisa menguasai energi Qi di usia 15 tahun.


Bahkan ayahnya sendiri tidak dapat membuat kawah sebesar itu, bagaimana pihak lain bisa begitu kuat?


Berapa lama dia melakukan kultivasi?


Di lihat dari usia Fatir pasti tidak lebih tua dengan dirinya, namun yang mengherankan. Mengapa Fatir memiliki kapasitas energi Qi lebih besar yang setara dengan kultivator ribuan tahun.


Damar harus mengakui jika lawannya sangat kuat, pantas saja Sugeng meminta bantuan dirinya dan tidak memiliki kemampuan untuk menghadapinya.


Sekarang Damar hanya bisa menggunakan teknik - teknik beladiri dari aliran Perguruan macan putih, yang telah dia pelajari sejak lama. Setidaknya dia memiliki keyakinan untuk bersaing demgan lawan kuat seperti Fatir.


Menggunakan kedua kakinya Damar mengambil posisi kuda - kuda bela diri, kakinya sedikit terbuka dengan pinggang sedikit di turunkan. kedua tangannya di silangkan untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggerakkan ke depan.


"Whooosss!..."


Fatir melihat Damar mulai mengerti jika tidak boleh menganggap remeh lawannya. Segera dengan kenangan dari warisan pertapa agung, dia dengan spontan membentuk gerakan santai dalam menghadapi serangan lawannya.


"Bammm!..."


Pada dasarnya kenangan teknik bela diri yang Fatir miliki sangat banyak, namun dia belum pernah menggunakannya dalam pertarungannya selama ini. Namun ketika dia memiliki lawan yang begitu kuat, dia tidak mungkin mengabaikannya begitu saja.


Segera pertarungan intens diatas keduanya berlangsung dan Tentunya Fatir bergerak di atas angin. Semua gerakan dan pukulan benar - benar sangat menghancurkan. Namun Fatir tidak menunjukkan keinginan untuk membunuh musuhnya selain ingin melihat sejauh mana kekuatan yang Damar miliki.


Bersambung...