
Karina sangat bahagia ketika menatap cermin yang ada di tangannya.
Dia sesekali mengusap rambutnya dan mengganti gaya rambut tak beraturan tanpa harus menutupi keningnya lagi. Tetapi dengan kecantikan yang dimilikinya, apapun gaya rambutnya. Karina benar - benar cantik menawan.
"Lukanya menghilang tanpa meninggalkan bekas luka!..." Kata Karina dengan tidak percaya.
Karina seperti berhalusinasi atau berpikir jika semuanya hanya mimpi. Namun mencubit pipinya yang lembut, dia masih bisa merasakan sedikit rasa sakit.
"Ini bukan mimpi, aku juga tidak berhalusinasi..." Kata Karina kemudian menatap Fatir dengan tampilan rumit di wajahnya.
Awalnya dia hanya mengadu nasib. Apakah Fatir bisa menciptakan keajaiban, dan benar - benar tidak tahu antara percaya atau tidak.
Sampai detik sebelumnya, Karina masih memiliki keraguan di hatinya. Namun sekarang, keraguan telah lenyap dan dia benar - benar di kejutkan dengan hasil tersebut.
Saat dia menatap cermin, wajahnya tidak hanya di sembuhkan. Tetapi merasa semakin cantik. Itu pasti kerena pengobatan mistis yang Fatir lakukan terhadap dirinya.
Di bandingkan dengan Karina yang sangat bahagia, Dokter Rio dan perawat sebelumnya. Kesulitan menerima kenyataan.
Mereka berdua seperti melihat hantu di siang bolong. Juga memiliki tatapan terkejut dan tidak percaya.
"Bagaimana mungkin!..." Seru keduanya secara bersama - sama.
"Itu tidak logis dan tidak pernah ada di dalam catatan pengobatan manapun..." Kata dokter Rio untuk menyangkalnya.
Apa yang dirinya lihat adalah keajaiban.
"Itu adalah pengobatan mistis, dan bagi mereka yang tidak memahaminya, akan berfikir seperti itu..." Kata Fatir dengan menggeleng.
Dokter Rio sangat kesal, begitu juga dengan perawat yang ada di belakangnya.
Mengusap kedua mata mereka masing - masing, keduanya berharap semuanya hanya mimpi dan dapat terbangun dari tidur mereka.
Namun tindakan mereka sia - sia. Kemudian keduanya mengingat perkataan diri mereka masing - masing yang akan keluar dari pekerjaan mereka, jika Fatir benar - benar bisa menyembuhkan luka di kening Karina tanpa meninggal bekas luka.
Tidak! Keduanya tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka!
Terutama dokter Rio, rumah sakit tempatnya berada adalah rumah sakit elite dan terbaik di kota Jakarta. Itu di bawah nama besar keluarga Irawan.
Sangat sulit mencapai posisinya yang sekarang. Dengan upah yang sangat - sangat murah hati dan fasilitas terbaik yang pernah ada di indonesia. Jika Dokter Rio pergi ke rumah sakit lainnya, dia tidak akan mendapatkan manfaat yang sama.
"Aku masih ingat dengan perkataan kalian berdua sebelumnya!..." Kata Fatir dengan tersenyum.
"Apa yang kamu bicarakan, tidak ada yang bisa membuatku keluar dari rumah sakit ini!..." Dokter Rio mendengus dingin.
"Itu benar, kami sudah bekerja di sini selama bertahun - tahun..." Perawat itu menambahkan.
Melihat kegigihan keduanya Fatir hanya bisa menggeleng. "Hanya karena kalian bertahun - tahun bekerja di rumah sakit ini, bukan berarti akan selamanya bekerja di sini..."
"Karena sebelumnya kalian ingin berhenti dari pekerjaan kalian, aku akan membantu kalian untuk keluar dari rumah sakit..." Kemudian Fatir mengeluarkan ponselnya, Dan memanggil Manajer Jamal.
"Datang ke bangsal VVIP no 102 sekarang juga..." Kata Fatir kemudian mematikan ponselnya.
"Tuuut..."
Keduanya melihat tindakan Fatir dengan penghinaan. Di mata mereka Fatir hanya berpura - pura keren di depan Karina.
Mari kita lihat siapa yang akan datang dari pintu masuk bangsal.
Karina juga bertanya - tanya tentang siapa Fatir. Dan Mengapa dia begitu percaya diri dengan panggilan telepon miliknya.
Dari pintu masuk sosok pria paruh baya sedikit gemuk mengenakan kaca mata, dia datang dengan tergesa - gesa. Pria itu mengenakan pakaian formal yang sangat bersih.
Ketika Dokter Rio dan Perawat itu melihat kedatangan Manajer Jamal, dia benar - benar bingung. Mengapa manajer rumah sakit datang secara pribadi?
Keduanya tidak berfikir kedatangan Jamal karena panggilan telepon dari Fatir sebelumnya. Menurutnya, ini terlalu kebetulan dan tidak mungkin Fatir memiliki hubungan dengan manajer rumah sakit.
Merasa semuanya tidak mungkin, hanya satu kemungkinan yang tersisa. Kedatangan Jamal karena keberadaan Karina yang ada di bangsal VVIP no 102.
Dokter Rio dan perawat itu bernafas dengan lega.
Rio tersenyum dan mengulurkan tangannya, dia ingin menyenangkan Manajer Jamal karena menjadi orang kepercayaan keluarga Irawan.
"Manajer Jamal, senang bertemu denganmu. Terakhir kali kita berpapasan di acara tahunan-..." Sayangnya, Rio harus kecewa. Sebelum menyelesaikan perkataannya, Jamal tidak melihatnya sama sekali.
Jamal benar - benar mengabaikannya dan lebih memilih untuk berjalan menuju kearah Fatir.
"Tuan Fatir, aku benar - benar menyesal karena tidak menyambut kedatanganmu..." Kata Jamal dengan sedikit membungkuk kearah Fatir.
Melihat pemandangan ini, membuat siapapun yang ada di dalam ruangan tersebut tercengang. Bagaimanapun, identitas Manajer Jamal cukup berpengaruh di bidang kedokteran.
Menjadi Manajer rumah sakit besar, tidak sederhana. Jamal sendiri memiliki keahlian medis yang cukup tinggi sehingga dia mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan rumah sakit milik keluarga Irawan.
Di mata publik, Sosok Jamal adalah tokoh besar yang sangat di hormati banyak orang.
Sekarang sosok besar tersebut harus membungkuk kearah Fatir yang jauh lebih muda darinya.
Mereka yang ada di dalam ruangan, bertanya - tanya tentang latar belakang yang dimiliki Fatir.
Segera, Dokter Rio dan perawat itu memiliki keringat dingin di punggungnya. Mereka menebak - nebak identitas Fatir namun tidak pernah mendengar tentangnya.
Fatir begitu muda dengan keterampilan medis yang luar biasa. Jika keberadaan dokter jenius seperti ini di ketahui publik, Tentunya akan menjadi terkenal dalam satu malam.
"Manajer Jamal, tolong jangan terlalu formal. Kamu adalah tokoh besar di dunia kedokteran. Banyak anak muda yang mengidolakanmu..." Kata Fatir dengan tersenyum.
Jamal menghela nafas lega karena Fatir tidak marah sama sekali, Kemudian dia dengan terburu - buru menyangkal perkataan Fatir. "Aist... Itu tidak benar. Kemampuan medisku tidak dapat di bandingkan dengan tuan Fatir..."
"Manajer Jamal, keduanya ingin keluar dari pekerjaan mereka. Aku ingin kamu membantunya..." Kata Fatir dengan dingin sambil melihat kearah dokter Rio dan perawat itu.
Jamal berpaling kearah Keduanya. Dia bukan orang bodoh dan sudah berkecimpung dengan kehidupan masyarakat.
Tentunya dia menyimpulkan jika Rio dan perawat itu telah menyinggung Fatir. Segera kemarahan memenuhi wajah Jamal.
Sebelumnya, dia sangat bersyukur karena Fatir menerima undangannya untuk memberikan pelayanan medis di rumah sakit kota Jakarta.
Namun dua orang yang tidak memahami niatnya telah menyinggung Fatir. Nasib baik Fatir tidak pergi. Jika tidak, Jamal akan kehilangan kesempatan untuk membuat Fatir memberikan pelayanan medis.
Mendapatkan tatapan ganas dari Manajer Jamal, membuat keduanya ingin menangis. Mengapa mereka tidak pernah tahu tentang Fatir.
"Tuan Fatir, harap tenang! Mereka berdua akan aku bantu untuk mengurus surat pengunduran diri, secepatnya. Jika perlu aku akan menambahkan daftar hitam pada nama mereka..." Kata Jamal dengan penuh hormat.
Mendengar ini, keduanya seperti ingin menangis di tempat. "Manajer Jamal, aku... Aku bersalah..."
"Hmph! Terlambat, Kalian berdua ikut denganku!..." Keduanya hanya bisa mengikuti kepergian Jamal untuk mengurus surat pengunduran diri.
Sekarang menyisakan Fatir dengan Karina di dalam bangsal VVIP no 102.
"Kamu! Siapa kamu sebenarnya?..." Karina tidak sanggup lagi untuk bertanya.
"Namaku Fatir, Aku tidak sengaja menjadi anak orang kaya..." Kata Fatir dengan santai.
Selain kepada istrinya, Fatir tidak akan menyembunyikan identitas miliknya.
Bersambung...