Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
61. Kembali Bekerja



Di dalam mobil Bugatti miliknya, Fatir melihat istrinya dari kejauhan. Dapat di lihat jika Maya telah menghentikan mobil taksi dan bergegas pergi.


Fatir melihatnya dengan tatapan mata rumit. Setelah sedikit mengatur ulang pikirannya, Fatir ingat bahwa ia masih memiliki pekerjaan Divisi baru yang seharusnya selesai sekarang.


"Tilulit... Tiulit..." Ponsel murah yang ada di sampingnya berdering dengan keras dan nama Mary muncul di atasnya.


"Halo!..." Jawab Fatir dengan pelan, dia masih memiliki rasa bersalah dihatinya.


"Ketua, Gedung baru untuk kantor divisi baru sudah terselesaikan, dan ketua bisa memulai pelayanan konsultasi kapan saja..." Kata Mary dengan lembut.


"Baik aku mengerti!..." Jawab Fatir kemudian berniat mematikan ponselnya, tetapi suara Mary kembali terdengar.


"Ketua, aku menginginkan imbalan khusus tapi bukan uang..." Kata Mary dari sisi pemanggilan.


"Mungkinkah kamu menginginkannya lagi?..." Tanya Fatir dengan heran, sepertinya Mary ini lebih agresif dari biasan.


"Benar..." Jawab Mary.


"Tidak masalah, tapi aku yang menentukan waktunya..." Segera Fatir mematikan ponselnya. Dia masih bingung tentang bagaimana mengklarifikasi tentang hubungan dirinya dengan Mary, belum lagi masih ada Miranda yang belum menghubunginya lagi.


"Vroooommm!..."


Melajukan mobilnya di jalan raya kota jakarta. Fatir segera menuju ke alamat yang sudah di tujukan, dia tanpa penundaan langsung pergi ke sana.


Dalam perjalanan, Fatir masih berpikir tentang Maya. Mungkin dia harus menemui istrinya di lain kesempatan untuk meminta maaf dan mengungkapkan identitasnya sebagai anak orang kaya.


Tanpa penundaan, gedung divisi baru terpampang jelas di kejauhan. Fatir cukup akrab dengan jalanan kota jakarta. Dia tidak asing lagi dengan tempat yang cukup menonjol tersebut.


Mary telah melakukan pekerjaan terbaiknya, bakan tidak tanggung - tanggung ketika menggunakan gedung baru. Itu menjadi salah satu gedung tertinggi di kota jakarta.


Mary pantas mendapatkan imbalan khusus.


"Ketua selamat datang..." Kata seorang wanita muda yang terlihat kikuk dengan kacamata besar di wajahnya.


"Jadi kamu manajer baru untuk gedung ini..." Tanya Fatir dengan sopan.


Dia menemukan wanita muda di depannya tidak terlalu buruk sama sekali. Selain kecantikan yang utama, payudara miliknya nampak begitu besar. Itu sangat tidak cocok untuk usianya yang terbilang muda.


"Benar ketua, Namaku Manda walaupun masih baru. Aku terpilih langsung oleh sekertaris Mary..." Jawab Manda dengan patuh.


Jika dia tidak gugup, maka hanya menjadi kebohongan. Manda tidak mengerti sama sekali, mengapa dia terpilih sebagai manajer baru untuk gedung divisi pelayanan konsultasi.


Awalnya dia kesulitan menerima kenyataan jika dirinya terpilih. Bahkan seniornya sendiri yaitu Yunita yang memiliki kecakapan kerja dan kecantikan wanita karir telah di tolak oleh Mary.


Namun Manda tidak ingin melepaskan kesempatan untuk melakukan yang terbaik. Dia tidak memiliki pengalaman dengan seorang pria manapun. Dan jika ketua baru menggunakan aturan tak tertulis dan memintanya untuk menemaninya, maka Manda hanya bisa menurut.


"Baiklah Manda, kembali ketempatmu dan lakukan yang terbaik..." Kata Fatir dengan memberikan arahan langsung.


"Yang lain juga lakukan yang terbaik?!..." Kata Fatir kearah semua karyawan wanita di belakang Manda.


Tetapi Manda tidak meninggalkan tempatnya.


"Ketua, aku masih bingung dengan divisi baru pelayanan konseling!..." Tanya Manda dengan ragu - ragu.


"Biar aku jelaskan. Divisi yang akan aku bangun lebih mirip seperti pelayanan rumah sakit. Dan aku akan menangani setiap pasien yang datang. Tidak hanya orang sakit, bahkan jika memiliki masalah yang rumit dan tidak dapat di mengerti, aku memiliki keyakinan untuk memberikan solusi..." Fatir berhenti sejenak, sedangkan Manda menulis di atas buku catatan miliknya.


"Kedua untuk masalah pembayaran, aku tidak menarik nominal tertentu. Pasien bebas membayar semampu mereka, ini berlaku untuk semua orang dan jangan memperlakukan pasien berdasarkan status..." Kata Fatir sambil memikirkan apa lagi yang perlu di tambahkan.


"Ketiga, kita hanya buka setiap hari senin dan selebihnya kita akan libur..." Fatir menambahkan.


Diam!


Tangan Manda bergetar, dia berhenti menulis. Kata - kata Fatir mengejutkannya. Perusahaan mana yang memiliki jam kerja hanya satu hari dalam seminggu.


Sekarang Manda menemukan sesuatu yang baru tentang Fatir yaitu terlalu luar biasa.


"Keempat, kita hanya menunggu pasien datang. dan jangan memaksa orang lain yang tidak ingin datang. Mengerti?..." Tanya Fatir dengan tersenyum.


Fatir memang melakukan kebaikan, namun bukan memaksa untuk berbuat baik. Jika tidak ada yang datang ke tempatnya, maka tidak ada yang bisa dilakukan selain bersantai.


"Baik ketua..." Sekali lagi, Manda mengeluarkan catatan kecil dan menuliskan sesuatu di atasnya.


Tindakan tersebut tidak luput dari penglihatan Fatir yang melihatnya berulang kali.


"Maaf ketua, ini hanya kebiasaan lamaku saja..." Kata Manda dengan malu.


"Oh! Bukan masalah, setidaknya kamu adalah karyawan paling teliti yang pernah bertemu denganku..." Jawab Fatir dengan tersenyum lembut.


Pantas saja Mary memilih Manda secara langsung, ternyata tidak hanya bentuk tubuhnya yang bagus tetapi karena tingkat pekerjaannya yang baik. Selain kikuk dan sikapnya yang pemalu, Manda akan menjadi lebih baik dari yang terbaik.


Pelayanan konseling yang Fatir jalankan secara pribadi hanya membuka jadwal senin dari jam delapan hingga jam tiga sore. Tidak ada penambahan waktu dan selebihnya akan menjadi hari libur.


Sungguh pekerjaan yang sangat nyaman di mana hanya bekerja dalam satu hari dalam satu minggu.


Waktu berlalu, karena tidak melakukan promosi baik melalui online atau media cetak dan lainnya. Gedung divisi baru benar - benar sepi pengunjung.


Fatir tidak memperdulikannya, walaupun dia tidak lebih dari kata menganggur namun dia tetap santai. Bahkan jika gedung divisi baru tidak dapat penghasilan sama sekali, dia tidak peduli.


Prinsipnya adalah melakukan kebaikan, dan tidak ada kebaikan yang menginginkan imbalan. Namun karena untuk prosedur yang berlaku, maka harus di tetapkan pembayaran. dan memutuskan untuk menarik setiap pasien seikhlasnya saja.


Selain itu dia tidak melakukan propaganda apapun untuk menarik pengunjung. Dia juga tidak melakukan upaya lain selain bermain puzzle di layar komputer miliknya ketika tidak memiliki pasien sama sekali.


Tinggal menunggu dan siapapun yang datang akan di layani. Pikir Fatir dengan suasana santai.


Di ruangan lain.


"Tidak ada yang datang sama sekali?!..." Kata Manda dengan panik ketika dia duduk di tempatnya.


Bahkan hingga tengah hari, tidak ada satupun pengunjung yang berdatangan. Manda yang cemas mencoba berbagai cara untuk menemukan pelanggan namun tidak ada yang tertarik sama sekali.


"Tidak, aku tidak boleh menyerah! Aku sudah terpilih sebagai manajer divisi baru. Benar, gunakan media sosial untuk menarik pengunjung..." Kata Manda dengan bertekad.


Segera dia membuka komputer untuk membuka forum obrolan di media sosial. Dia memposting propaganda tentang pelayanan konseling dan tidak lupa menyertakan nama Angkasa Grup.


Dalam postingan, Visinya tidak membedakan kaya atau miskin. Juga tidak menentukan tarif pembayaran selain pembayaran seikhlasnya, yang jelas akan melayani sebaik mungkin demi setiap masalah pasien yang datang.


Setidaknya itulah yang Fatir tekankan terhadap dirinya.


"Mari kita tunggu..." Manda menatap komputer sambil menunggu respon dari pengguna media sosial lainnya.


Bersambung...