Kehidupan Menantu Hebat

Kehidupan Menantu Hebat
81. Undangan Dari Ningsih



Aura mengesankan sebelumnya telah mengaduk rasa ingin tahu setiap orang yang menghadiri acara pertemuan akbar. Sehingga tempat duduk keempatnya telah menjadi perhatian semua tamu undangan.


Ketika Fatir menekan kembali aura mengerikan sebelumnya, Santika dan Samon kembali bernafas dengan lega. Ada rasa takut di hati keduanya. Namun mereka tidak ingin percaya aura tersebut datang dari Fatir. Keduanya lebih percaya jika semuanya murni kebetulan saja.


"Hmph!... Ingin membuat perusahaan milikku bangkrut, sungguh lelucon..." Kata Samon dengan mendengus dingin.


Segera Samon melihat sekelilingnya dan dia sadar jika telah menjadi pusat perhatian. Namun Samon memiliki banyak cara untuk menangani segalanya. Kemudian dia menatap Santika dan keduanya saling mengangguk, seolah - olah memiliki pemikiran yang sama.


Samon berdiri dan menatap Fatir dengan dingin. Dari awal dirinya membenci Fatir karena lebih tampan dibandingkan dengan dirinya. Dia sangat yakin jika Fatir sangat miskin, untuk itu dia ingin mempermalukannya di acara pertemuan akbar.


Dengan senyuman mekar di wajahnya, Samon berkata. "Tuan - tuan dan nyonya - nyonya sekalian. Maaf jika kami menggangu waktu kalian semua. Tapi, dua orang ini tidak seharusnya ada disini. Untuk itu, keduanya harus pergi dari sini agar tidak menganggu yang lainnya..."


Santika juga berdiri, dan menjelaskan dengan sopan, "Itu benar, keduanya telah mengganggu kami. Jika mereka terus di biarkan disini, pastinya akan mengganggu tamu yang lainnya..."


Di masa lalu, Maya selalu unggul di bandingkan dengan dirinya, mungkin inilah kesempatan untuk melakukan pembalasan. Santika dan Samon meminta bantuan beberapa koneksinya untuk mendukung tindakannya, agar Maya dan Fatir cepat terusir dari acara pertemuan akbar.


"Benar, keduanya harus pergi. Aku melihatnya tidak memiliki etika sama sekali..."


"Hmph! Mungkin saja dia mengambil kartu undangan orang lain untuk datang ke acara pertemuan akbar..."


"Tuan penyelenggara harus menindaklanjuti keduanya agar acara pertemuan akbar berlangsung tanpa adanya masalah..."


Satu persatu dari koneksi Samon langsung memahami niatnya dan dengan cepat memberikan respon untuk menekan Fatir dan Maya.


Acara pertemuan akbar dihadiri oleh tokoh - tokoh penting, dan tidak sembarangan orang yang mendapatkan surat undangan. Jika sampai ada yang membuat masalah, maka mereka akan di usir dan di masukan ke dalam daftar hitam dan juga akan kehilangan kesempatan untuk menghadiri acara pertemuan akbar di tahun berikutnya.


Di tempat kelas VVIP. Ningsih melihat semua yang terjadi dengan jelas. Dia menduga jika Fatir memiliki perselisihan dengan seseorang.


Entah mengapa melihat kondisi Fatir saat ini mengingat dirinya dengan sosok suaminya yang telah pergi cukup lama. Di masa lalu hal klasik seperti ini selalu menimpa suaminya dan sekarang menimpa putranya.


"Ternyata benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya..." Ningsih menghela nafas. Dia juga cukup bingung dengan kondisi Fatir yang terlihat sangat baik. Dan berbanding terbalik dengan saudaranya yaitu Candra.


"Mary, apakah kamu tahu, dengan siapa Fatir berdebat?..." Ningsih bertanya sambil melihat Fatir dan Samon.


"Nyonya, pria itu bernama Samon, dia mewakili perusahaan yang memasuki daftar terendah pada tahun ini. Yang jelas dia hanya karakter yang tidak penting dan sangat mudah untuk menghancurkannya..." Mary menjelaskan dengan hati - hati. Dia tidak ingin mengecewakan Ningsih lagi.


Walaupun dia tidak mengetahui dan tidak ingin mengenal Samon, namun dia harus mengingat semua daftar tamu undangan untuk acara pertemuan akbar. Itu karena penyelenggara acara tersebut adalah Angkasa Grup.


"Nyonya Ningsih, aku akan mengusir Samon itu bersama dengan koneksinya..." Kata Mary menambahkan.


Membuat ketua baru angkasa grup di rendahkan di depan umum tentunya mencari kematian sendiri. Selama Maya mengeluarkan pernyataan di tempat, maka perusahaan milik Samon akan mengalami kebangkrutan dengan cepat.


Semua orang akhirnya melihat Ratu Keajaiban Bisnis berdiri. Hal ini benar - benar mengejutkan semua orang yang menghadiri acara pertemuan akbar. Mereka semua mengira jika Ningsih sangat marah terhadap tamu yang membuat kekacauan itu.


Maya segera menjadi panik, dia tidak menyangka situasinya akan menjadi seperti ini. Dia memberi tatapan kebencian kepada Santika dan Samon.


Hancur sudah keinginannya untuk berdiri di puncak bisnis, Maya tidak berdaya ketika melihat sekelilingnya terutama dengan kedatangan Ningsih secara pribadi.


Samon dan Santika begitu antusias ketika melihat Ratu Keajaiban Bisnis datang kearah mereka. Perlu di ketahui, tidak banyak orang yang dapat berbicara langsung dengan Ningsih.


Bahkan tokoh pebisnis besar sangat sulit untuk bertemu ataupun berbicara dengannya. Selain itu Ningsih memiliki sosok yang luar biasa. Dia terlihat di usia awal dua puluhan, bahkan jika dia memiliki usia berkepala empat, orang yang melihatnya tidak akan percaya.


Beberapa orang melihat Ningsih yang berjalan, mulai menjadi begitu gugup. Kadang mereka akan menahan nafas agar tidak memberikan gangguan.


Fatir yang melihat Ningsih semakin mendekat hanya bisa menggeleng. Mengapa dunia begitu sempit, dia tidak berharap akan bertemu dengan mama tirinya yang lain di acara pertemuan akbar. Selain itu Fatir dapat melihat Mary di kejauhan, dia akhirnya menyadari jika Mary mengundang dirinya untuk menghadiri acara ini.


"Kita dalam masalah, Apa yang harus aku lakukan..." Kata Maya dengan tidak bisa tenang.


Fatir yang melihat istrinya gelisah langsung menyentuh tangannya dan berkata, "Sayang, kamu harus tenang. Semuanya akan baik - baik saja..."


Maya melihat kearah suaminya, entah mengapa dia kembali tenang dan kegelisahan di hatinya dengan perlahan menghilang.


Samon yang melihat tindakan Fatir langsung mencemoohnya. "Hehe... Kalian tidak mungkin lepas dari masalah ini..."


Santika yang ada di sampingnya benar - benar bahagia. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membuat Maya menderita secara pribadi. Dia menambahkan, "Itu benar, sudah terlambat untuk merenungi nasib kalian. Setelah ini kalian hanya akan pergi dari sini dan tidak ada kesempatan untuk datang lagi..."


Ningsih berdiri di depan keempatnya tanpa perubahan apapun di wajahnya. Dia bahkan tidak melihat kearah Samon dan Santika selain menatap kearah Fatir yang memegang tangan istrinya.


"Nyonya Ningsih, senang melihatmu. Aku-..." Tepat sebelum Samon menyelesaikan perkataannya, Ningsih langsung memotongnya.


"Aku tidak menyuruhmu untuk bicara. Jadi jangan berani berbicara kepadaku..." Kata Ningsih dengan dingin kearah Samon dan Santika.


Keduanya hanya bisa terdiam. Begitu juga dengan para tamu undangan lainnya. Mereka bertanya - tanya untuk siapa Ningsih datang secara pribadi?


Segera tatapan semua orang menatap sosok Fatir yang tidak banyak berbicara. Itu karena tatapan lembut dari Ningsih hanya tertuju kepadanya saja.


Maya sendiri tercengang dan bingung, dia tanpa sadar semakin panik dan menyentuh tangan suaminya dengan semakin mencengkramnya.


"Nona Maya, mengapa kamu tidak duduk bersamaku di kelas VVIP dari pada duduk di sini..." Kata Ningsih datang sopan. Tentunya dia memahami Fatir yang sudah menikah dengan Maya.


Segera Samon dan Santika memiliki rahang menyentuh lantai. Para koneksinya tidak jauh berbeda. Begitu juga dengan tokoh pebisnis besar lainnya. Mereka semua tentunya bertanya - tanya. Mengapa Ratu Keajaiban Bisnis akan begitu sopan terhadap Maya.


Bersambung...